Anda di halaman 1dari 117

IMUNOLOGI

dr. Riswahyuni Widhawati, M.Si (Riris)


TOPIK

1. Konsep imunitas
2. Patofisiologi
3. Penatalaksanaan medis
1. Prosedur diagnostik
2. Derajat dan stadium kanker
3. Nomenklatur
SEJARAH

• Mereka yang sembuh terhadap infeksi menjadi


terlindung
• Wabah di Athen, Yunani 430 SM
• Louis Pasteur  the father of immunology  studi
vaksinasi dini
SEJARAH

Edward Jenner dan Smallpox (1796)


DEFINISI

• Immunology (Latin): Immunis + Logos


• Imunologi (Immunology): Studi tentang mekanisme
biologis dari Seluler, Molekular serta fungsional
Sistim Imun.
• Sistim Imun (Immune System): Sistim yang terdiri
dari Molekuler, Seluler, Jaringan dan Organ yang
berperan dalam proteksi/ kekebalan tubuh
• Imunitas (Immunity): Proteksi dari Penyakit Infeksi
Learning outcomes

• SISTEM IMUN
• SEL-SEL SISTEM IMUN
• KOMPLEMEN
• ANTIGEN – ANTIBODI
• SITOKIN
• REAKSI HIPERSENSIVITAS
• INFLAMASI
• AUTOIMUNITAS DAN DEFISIENSI IMUN
SEL-SEL SISTEM IMUN
SEL-SEL SISTEM IMUN NON SPESIFIK
1. Sel Fagosit
• Fagosit mononuklier
– Sel monosit
– Sel makrofag  hasil differensiasi sel monosit di
berbagai jaringan  fagosit profesional dan sel
APC (Antigen Presenting Cell)
• Fagosit polimorfonuklier
– Neutrofil  Soldiers of the body  7-10 jam
– Eosinofil  melawan inf parasit
– Basofil  bagian terkecil  mediator
• Fagosit frustasi  pelepasan lisozim keluar sel
Kandungan sel fagosit
Lanjutan...
• Lisosom : enzim yang mencerna dan merusak bahan yang
dimakan
• Fagolisosom : gabungan fagosom + lisosom 
menurunkan pH dan mengaktifkan protease
• Granul : lisosom khusus dari granulosit  berisikan
berbagai protein bakterisidal
• Lisozim : enzim yang mencerna ikatan proteoglikan
dalam dinding bakteri Gram Positif
• Protein kationik : merusak lapisan lipid bagian luar
bakteri Gram Negatif
• Defensin : sitotoksik dan bersifat antibakterial luas dan
antimikotik
• Laktoferin : mengikat zat besi yang esensial untuk bakteri
2. Sel Nol
• Sel-sel limfoid yang tidak mengandung petanda seperti yang
ditemukan pada sel T dan B
• Berupa Large Granular Lymphocyte (LGL)
• Dibagi menjadi 2 yaitu : Sel NK (Natural Killer) dan Sel K
(Killer)
• Sel NK : membunuh sel tumor dan sel yang mengandung virus
dengan cara non spesifik tanpa bantuan antibodi
• Sel K : merupakan efektor dari ADCC (Antibody Dependent
Cellular Cytotoxicity) yg dapat membunuh sel secara non
spesifik  hanya terjadi bila sel sasaran dilapisi antibodi
3. Sel Mediator
• Basofil dan mastosit : mediator yang dapat
meningkatkan permeabilitas kapiler dan respon
inflamasi serta mengerutkan otot polos bronkus
• Trombosit : agregasi dinding vaskuler yang rusak,
respon inflamasi, dan sitotoksik
4. Sel assesori
• Eosinofil, basofil, sel mastosit, trombosit, dan sel APC
SEL-SEL SISTEM IMUN SPESIFIK
1. Sel T
• Sel asal sel T adalah dari sumsum tulang  memasuki timus 
berproliferasi di regio subkapsuler
• Sel asal itu adalah dari CD4 dan CD 8
• Terdiri dari berbagai subset :
– Sel Th (T helper)
– Sel Ts (T suppressor)
– Sel Tdh/Td (delayed hypersensitivity)
– Sel Tc (cytotoxic)
– Sel limfosit naif (virgin)
– Sel Th0
– Sel Regulator dan efektor
• Fungsi Sel T umumnya :
– Membantu sel B dalam memproduksi antibodi
– Mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi
virus
– Mengaktifkan makrofag dalam fagositosis
– Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun
2. Sel B
• Perkembangan Sel B dalam sumsum tulang adalah antigen
independen tetapi perkembangan selanjutnya
memerlukan rangsangan dari antigen
• Fungsi utama sel B adalah memproduksi antibodi
• Atas pengaruh Sel T  sel B berberploriferasi dan
berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mampu
membentuk Ig yang spesifik
SISTEM IMUN
Pada dasarnya sistem imun dibagi menjadi 2 :
– Sistem Imun Non Spesifik (SIN) :
• Fisik/mekanik : kulit, selaput lendir, silia, batuk bersin
• Larut : Biokimia (asam lambung, lisozim, laktoferin,
asam neuraminik, dll), Humoral (komplemen,
Interferon, C Reactive Protein (CRP))
• Seluler : Fagosit (Mono Nuklear, PMN), Sel Nol (Sel NK,
Sel K), Sel Mediator (Basofil dan mastosit, trombosit)
– Sistem Imun Spesifik (SIS) :
• Humoral/Sel B
• Seluler/Sel T
Perbedaaan Sifat Respon Imun Spesifik dan Non Spesifik
NON-SPESIFIK SPESIFIK
RESISTENSI Tidak Berubah oleh infeksi Membaik oleh infeksi berulang
(memori)

SPESIFITAS Umumnya efektif terhadap semua Spesifik utk mikroorganisme


mikroorganisme yang sudah mensensitisasi
sebelumnya
SEL YANG Fogosit Limfosit
PENTING Sel NK
Sel K
MOLEKUL YANG Lizosim Antibodi
PENTING Komplemen Sitokin
Interferon
Komponen yg Peptida antimikrobal dan protein antibodi
larut
Respon Time Menit/jam Hari (lambat)
Selalu siap Tidak siap sampai terpajan
alergen
Harus ada pajanan sebelumnya
Sistem Imun Non Spesifik

• Pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi


serangan mikroorganisme
• Respon langsung terhadap antigen
• Disebut non spesifik karena tidak ditujukan terhadap
mikroorganisme tertentu, telah ada dan siap
berfungsi sejak lahir.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Sistem
Imun Non Spesifik

1. Spesies
2. Perbedaan individu dan pengaruh usia
3. Suhu
4. Pengaruh hormon
5. Faktor nutrisi
6. Flora bakteri normal
Pertahanan Fisik/Mekanik

• Kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan


bersin, akan mencegah masuknya berbagai kuman
patogen ke dalam tubuh.
• Kulit yang rusak, misal karena luka bakar, akan
meningkatkan resiko infeksi
Pertahanan Biokimia

• pH asam dari keringat dan sekresi sebaseus  efek


antimikrobal
• Sekresi mukosa saluran napas dan telinga (sekresi lilin)
• Lisozim dalam keringat, ludah, air mata dan air susu 
melindungi dari berbagai kuman Gram Positif 
menghancurkan dinding sel
• Air susu ibu  laktoferin dan asam neuraminik  sifat
antibakterial terhadap E. Coli dan Staphylococcus
• Asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik dan
empedu dalam usus halus  menciptakan lingkungan anti
bakteri
Pertahanan Humoral

A. Komplemen
a. Fungsi komplemen
1. Menghancurkan sel membran banyak bakteri (lisis)
2. Melepas bahan kemotaktik yang mengerahkan makrofag ke
tempat bakteri (kemotaksis)
3. Mengendap pada permukaan bakteri  memudahkan
makrofag untuk mengenal (opsonisasi)  lalu
memakannya
b. Larut dalam keadaan non aktif  diaktivasi oleh
antigen, kompleks imun, dsb  mediator (biologik
aktif ataupun mjd enzim untuk reaksi selanjutnya)
c. Jalur aktivasi ini sering pula disertai dengan
kerusakan jaringan
Lanjutan komplemen...

• Berbagai mediator yang dilepas pada waktu komplemen


diaktifkan :
– C1qrs meningkatkan permeabilitas kapiler
– C2 mengaktifkan kinin
– C3a dan C5a bersifat kemotaksis  mengerahkan
leukosit dan sebagai anafilatoksin yang dapat
mempengaruhi mastosit sehingga dapat melepaskan
histamin dan lisosom
– C3b berfungsi sebagai opsonin dan adherens imun
– C4b berfungsi sebagai opsonin
– C5-6-7 bersifat kemotaksis
– C8-9 ikut diaktifkan melepas sitolisin, yang dapat
menghancurkan sel
Lanjutan komplemen...
Anafilatoksin

• Anafilatoksin adalah bahan dengan berat molekul


kecil yang dapat menimbulkan degranulasi mastosit
dan atau basofil dan pelepasan histamin
• Histamin me ↑ kan permeabilitas vaskular &
kontraksi otot polos dan menimbulkan gejala-gejala
yang ditemukan pada reaksi alergi
• Pe ↑ kan permeabilitas vaskular menimbulkan edema
yaitu akumulasi cairan (antibodi dan komponen
komplemen) dalam jaringan  me ↑ kan lagi
pelepasan anafilatoksin dan memperluas reaksi
• C3a dan C5a adalah anafilatoksin
Lanjutan komplemen...
Kemotaksin

• Kemotaksin adalah bahan-bahan yang dapat menarik


dan mengerahkan sel-sel fagosit
• C3a, C5a, dan C5-6-7 adalah kemotaksin
Lanjutan komplemen...

Adherens Imun

• Adherens imun merupakan fenomen dari partikel


antigen yang dilapisi antibodi dan atas pengaruh
komplemen melekat pada berbagai permukaan 
mudah dimakan fagosit
• C3b adalah Adherens Imun
Lanjutan komplemen...
Opsonisasi

• Opsonisasi adalah proses melapisi partikel antigen


oleh antibodi dan/atau oleh komponen komplemen
 lebih mudah dan cepat dimakan fagosit
• Opsonin adalah molekul yang dapat diikat oleh
partikel yang harus difagositir dan oleh reseptor
fagosit sehingga merupakan jembatan antara dua
protein reaktif tersebut
• C3b dan C4b adalah opsonin/reseptor fagosit
Lanjutan komplemen...
Aktivasi Komplemen
• C1q adalah komplemen yang
diaktifkan pertama kali,
membutuhkan IgG1, IgG2, IgG3,
dan IgM
• C1q selanjutnya mengaktifkan C1r
dan yang akhir mengaktifkan C1s
• C1s yang aktif mempunyai sifat
esterolitik dan proteolitik
• Selanjutnya C1s mengaktifkan C4
Lanjutan komplemen...
• C4 adalah glikoprotein yang diaktifkan
mengakibatkan : berikatan dengan membran sel
yang diikat oleh epitop antigen dan C1q, dan
berinteraksi dengan C1s lalu mengaktifkan C2
• C2 yang diaktifkan tetap berikatan dengan C4 
membentuk enzim C42 (konvertase C3) 
mengaktifkan C3
• C3 dipecah menjadi fragmen-fragmen C3a yang
kecil dan C3b yang lebih besar
• C3a/C3b dapat berikatan dengan C42 dan
membentuk C423 (konvertase C5)
• C5 dipecah (oleh konvertase C5) menjadi C5a dan
C5b yang mengikat C6 dan C7 untuk membentuk
C567  mengaktifkan C8 dan C9
• Bila C5b diendapkan di membran sel dan
berikatan dengan C6, C7, C8, dan C9  terbentuk
C5C678 dan polimerik C9  membrane attack
complex (MAC)  lisis
Aktivasi kompelen melalui jalur klasik

• IgM dan IgG1, IgG2, IgG3  membentuk komplek


imun dengan antigen
• Jalur klasik melibatkan C1-C9 dan diaktifkan secara
beruntun
• Produk yang dihasilkan menjadi katalisator dalam
reaksi berikutnya
Aktivasi kompelen melalui jalur alternatif
• Tanpa melalui 3 reaksi pertama pada jalur klasik (C1,
C4, C2)
• IgA1, IgA2, dan IgG4, faktor nefritik  mengaktifkan
komplemen melalui jalur alternatif
• Dalam jalur ini C3b mengikat faktor B  C3bB 
C3bB mengikat faktor D  C3bBD
• C3bBD distabilkan oleh properdin
Ab - Ag JALUR KLASIK
Agregat Ig
Protease
C1qrs Urat
Polinukleotide
CRP
C14

C142 = konvertase C3
C356789

C3 C3a

C3b + faktor B
+ faktor B C3b
Membantu
C3bB + faktor D
+ faktor D C3bB

JALUR ALTERNATIF
Agregat IgA, IgG4
C3bBD Virus, jamur
Parasit
Faktor nefritik
B. Interferon
• Interferon (IFN) adalah suatu glikoprotein yang
dihasilkan oleh berbagai sel tubuh yang mengandung
nukleus dan dilepas sebagai respon terhadap infeksi
virus  sifat antivirus  menginduksi sel-sel sekitar
sel yang terinfeksi menjadi resisten terhadap virus
• Selain itu IFN juga dapat mengaktifkan sel NK
(Natural Killer)
C. CRP (C-Reactive Protein)

• Merupakan protein fase akut  berbagai protein


kadarnya meningkat pada infeksi akut
• Mengikat komplemen melalui mekanisme opsonin
Pertahanan Seluler
1. Fagosit
– Pada dasarnya semua sel bersifat fagositosis
– Non spesifik  mononuklier (monosit & makrofag) dan polimorfonuklier
atau granulosit
– Alur : kemotaksis (aktivasi komplemen)  menelan  memakan
(fagositosis)  membunuh  mencerna (lisis)
2. Makrofag
– Dapat hidup lama
– Mempunyai beberapa granul dan melepaskan berbagai bahan : lisozim,
komplemen, interferon, dan sitokin  kontribusi dalam SIN dan SIS
3. LGL (Large Granular Lymphocyte)
– Mengandung banyak sitoplasma, granul sitoplasma azurofilik, pseudopodia,
dan nukleus eksentris
– Bersifat seperti sel NK
SISTEM IMUN SPESIFIK

• SPESIFIK HUMORAL
– Benda asing  sel B berproliferasi dan berkembang
menjadi sel plasma  membentuk antibodi 
mentetralisir toksin infeksi ekstraseluler
• SPESIFIK SELULER
– Sel T  Pertahanan terhadap infeksi intraseluler
• SISTEM LIMFOID
– Tempat pematangan sel T dan sel B
ANTIGEN

• Antigen (imunogen) adalah bahan yang dapat


merangsang respon imun atau bahan yang dapat
bereaksi dengan antibodi yang sudah ada
• Epitop atau determinan antigen adalah bagian antigen
yang dapat merangsang sistem imun dengan sangat kuat.
Satu antigen dapat memiliki satu atau lebih determinan
antigen.
• Hapten adalah antigen yang molekulnya berukuran kecil
yang tidak dapat menginduksi respon imun jika sendirian,
tetapi menjadi imunogenik jika bersatu dengan carrier
ANTIGEN-ANTIBODI KOMPLEK

HAPTEN-CARRIER KOMPLEK
ANTIBODI
• Antibodi (imunoglobulin) merupakan kelas molekul yang
dihasilkan oleh sel plasma (proliferasi dari limfosit B) dan
dibantu oleh limfosit T dan makrofag yang dirangsang
oleh antigen asing
• Semua molekul imunoglobulin mempunyai 4 rantai
polipeptida dasar : 2 rantai berat (heavy chain/H) dan 2
rantai ringan (light chain/L), serta 2 regio : variabel (V)
dan constant (C)
• Enzim papain memecah molekul antibodi dalam fragmen
masing-masing. Fab : Fragmen Antigen Binding . Fc :
Fragmen crystallizable
• Ada 5 imunoglobulin : IgG, IgA, IgM, IgD, dan IgE
Rumus Bangun Dasar Imunoglobulin

Menentukan
spesifitas Ab
thd Ag
Ig A
• Imunoglobulin sekretori (mencegah perlekatan)
• Ditemukan dalam kolostrum, saliva, air mata, cairan
hidung, dan sekret respiratorius, GI serta urogenital
• 15-20% merupakan imunoglobulin dalam serum
darah
Ig D

• Dalam serum darah dan limfe relatif sedikit, tetapi


banyak ditemukan dalam limfosit B
• Membantu memicu respon imun
Ig E

• Ditemukan dalam konsentrasi darah sangat rendah


• Kadar meningkat saat alergi dan parasitik tertentu
• Molekul ini terikat pada reseptor sel mast dan basofil
serta menyebabkan pelepasan histamin dan
mediator kimia lainnya
Ig G

• Mencapai 80% - 85% dari keseluruhan antibodi yang


bersirkulasi dan merupakan satu2nya antibodi yg
menembus plasenta dan memberikan imunitas pada bayi
baru lahir
• Molekul ini akan diproduksi besar2an pada pajanan
kedua dan berikutnya thd antigen spesifik
• Molekul ini berfungsi sebagai pelindung terhadap
organisme dan toksin yang bersirkulasi, mengaktifkan
komplemen dan meningkatkan keefektifan sel fagositik
Ig M

• Ab pertama yang tiba di tempat infeksi pada pajanan


awal thd antigen
• Pajanan kedua peningkatan IgG
• Mengaktivasi komplemen dan memperbanyak
fagositosis, tetapi umur relatif pendek
• Karena ukurannya molekul ini menetap dalam
pembuluh darah dan tidak keluar ke jaringan
Interaksi Ab-Ag
Sisi pengikat Ag pada regio variabel (V) Ab berikatan dengan sisi
penghubung determinan pada Ag  komplek imun

1. Fiksasi komplemen :
– Ab mengikat komplemen  diaktivasi melalui
“jalur klasik” :
• Opsonisasi : Ag diselubungi Ab/komplemen 
fagositosis
• Sitolisis : ruptur membran plasma  isi seluser keluar
• Inflamasi : produk komplemen melalui aktivasi sel mast,
basofil, dan trombosit
Lanjutan interaksi...
2. Netralisasi
– Ab menutup sisi toksik antigen  no danger
3. Aglutinasi (penggumpalan)
– Terjadi jika antigen adalah materi partikulat,
seperti bakteri atau sel-sel merah
4. Presipitasi
– Terjadi jika antigen dapat larut
SITOKIN
• Sitokin adalah messenger kimia atau perantara dalam
komunikasi interseluler yang sangat poten
• Sitokin adalah protein yang berfungsi memberikan
isyarat antar sel untuk berkomunikasi dalam respon
imun
• Autokrin : berefek pada sel yang menghasilkannya
• Parakrin : berefek pada sel yang berdekatan
SITOKIN (lanjutan)
• Peran sitokin dalam aktivasi Sel T
– Ag diproses APC  dipresentasikan ke Th dan Tc  APC
melepas IL-1 yg merangsang sel T berproliferasi dan
berdeferensiasi  sel T memproduksi sitokin untuk reaksi
selanjutnya
• Peran sitokin dalam aktivitas Sel B
– Th yang dirangsang melepas sitokin (IL 1)  mengaktifkan sel B
menjadi sel plasma  produksi Ig
• Peran sitokin dalam aktivitas makrofag dan monosit
– Endotoksin bakteri dan IFN-y yg dilepas sel T  merangsang
makrofag memproduksi bahan aktif lainnya : IFN-a, IL-1, GM-
CSF, dan M-CSF
REAKSI HIPERSENSITIVITAS

• Merupakan reaksi imun yang patologik  respon


imun yang berlebihan  kerusakan jaringan

Tipe Manifestasi Mekanisme

I Reaksi hipersensitivitas cepat Biasanya IgE


II Antibodi terhadap sel IgG atau IgM
III Kompleks Ab-Ag IgG (Terbanyak) atau IgM
IV Reaksi hipersensitivitas lambat Sel T yang disensitasi
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE I
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE I
• Sifatnya segera
• Juga disebut Reaksi Anafilaktik
• Patofis : pengikatan Ag dengan IgE pada permukaan
sel mast  melepaskan mediator alergi 
vasodilatasi, peningkatan permeabilitas kapiler,
kontraksi otot polos, dan eosinofilia
• Contoh klinis : asma ekstrinsik, rinitis alergika, reaksi
sengatan serangga, reaksi alergi obat/makanan,
urtikaria, eczema
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE II
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE II
• Dependen komplemen
• Disebut juga Reaksi Sitotoksik
• Patofis : pengikatan IgG atau IgM dengan Ag seluler
mengaktifkan rangkaian komplemen 
fagositosis/sitolisis
• Contoh klinis : anemia pernisiosa, anemia hemolitik
autoimun, trombositopenia, reaksi obat (sebagian),
reaksi tranfusi, dan myasthenia gravis
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE III
• Disebut juga Reaksi Kompleks
Imun
• Patofis : kompleks imun (Ab-
Ag) beredar dalam darah 
mengendap dalam jaringan
(paling sering : ginjal,
persendian, kulit, pembuluh
darah) respon imun 
kerusakan jaringan sekitar
• Contoh klinis : SLE, RA,
poliarteritis
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV
REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV
• Disebut juga Reaksi Lambat
• Patofis : antigen diproses makrofag  dihantarkan
pada sel T  sel T melepaskan berbagai sitokin 
akumulasi sel-sel radang
• Contoh klinis : dermatitis kontak, penolakan alograft,
sensitivitas obat
DEFISIENSI IMUN
No Defisiensi sistem Penyakit yang menyertai
imun
1. Sel B atau Antibodi Infeksi bakteri rekuren seperti otitis media, pneumonia
rekuren
2. Sel T Kerentanan meningkat terhadap virus, jamur, dan protozoa
3. Fagosit Infeksi sistemik oleh bakteri yang dalam keadaan biasa
mempunyai virulensi rendah, infeksi bakteri piogenik
4. Komplemen Infeksi bakteri, autoimunitas
AUTOIMUNITAS
• Autoimunitas (hilangnya toleransi) adalah reaksi sistem imun
terhadap antigen jaringan sendiri
• Contoh : SLE, SJS, RHD
• Ada beberapa teori autoimunitas :
a. Teori forbidden clones  eliminasi klon yang tidak lengkap 
klon yang meloloskan diri kembali dan bermutasi
b. Reaksi silang dengan antigen bakteri  epitop bakteri sama
dengan sel sendiri  reaksi silang
c. Rangsangan molekul poliklonal  stimulasi bakteri/virus
kepada sek B untuk menyerang sel sendiri
d. Kegagalan autoregulasi  pengawasan sel autoreaktif oleh
sel T suppresor yang gagal
INFLAMASI
INFLAMASI (lanjutan)

• Inflamasi adalah respon jaringan terhadap cidera akibat


infeksi, pungsi, abrasi, terbakar, objek asing, atau toksin
• Ditandai dengan kemerahan, panas, pembengkakan, dan
nyeri. Gejala kelima kadang terjadi adalah hilangnya fungsi
INFLAMASI (lanjutan)

• Rangkaian peristiwa inflamasi :


1. Produksi faktor-faktor kimia vasoaktif meliputi
histamin, serotonin, derivatif asam arakidonat
(leukotrien, prostlagandin, dan tromboksan),
dan kinin (protein plasma teraktivasi). Faktor-
faktor ini mengakibatkan efek :
a. Vasodilatasi  eritema, nyeri berdenyut, panas
b. Peningkatan permeabilitas kapiler  bengkak
c. Pembatasan area cidera  bekuan fibrin
INFLAMASI (lanjutan)
2. Kemotaksis (gerakan fagosit ke arah cidera)  1 jam setelah
permulaan inflamasi
a. Marginasi : perlekatan fagosit ke dinding endotelial
b. Diapedesis : migrasi fagosit ke area cidera
3. Fagositosis agens berbahaya
a. Neutrofil & makrofag  terurai dan mati setelah
menelan bakteri
b. Membentuk pus terus menerus sampai infeksi teratasi
 pus bergerak ke permukaan tubuh/rongga internal
untuk diuraikan/diabsorbsi
c. Abses/granuloma akan terbentuk jika respon inflamasi
tdk dapat mengatasi cidera
a. Abses :kantong pus terbatas dikelilingi jaringan terinflamasi
b. Granuloma : proses inflamasi kronik karena iritasi berulang  dikelilingi
kapsul fibrosa
INFLAMASI (lanjutan)

4. Pemulihan
a. Regenerasi jaringan  mitosis sel-sel sehat
b. Pembentukan jaringan parut  respon alternatif
c. Regenerasi atau pembentukan parut ditentukan
oleh sifat jaringan yang rusak dan luasnya cidera.
Kulit  kemampuan regenerasi yang tinggi 
regenerasi lengkap, kecuali jika cidera terlalu
dalam
NEOPLASMA

68
I. Biomolekuler
II. Klinis-Fisiology

69
Data epidemologi
Tahun 2000, 10 juta kase baru dan 6 juta yang meninggal.
ACS, 2003, 556.000 kematian karena Cancer , 1500 per hari, (23%)

Neoplasm : “ New Growth “ = “ Tumor “

Oncology :

70
I.Biomolekular

Mutasi protooncogen
Oncogen

Tumor supressor gen

Cyle Cell

Apoptois
Doubling

71
72
Robbin kumar, 2010

Transmembran (R) Transduksi signaling pathway

Sitosilik(2nd messeger)

Siti,2012 Nuclei activated 73


P53
mutant

P21

MDM2

74
Robbins kumar,2010
75
Siti ,2012
76
Down regulated Protoonkogen , Gen supresor Tumor
x
Back

(Brenna et al, 2003).


.Telomerase & p 53

( Artandi et al, 2010)

P53 mutan
Sifat neoplasma:
2 komponen dasar :

Sifat biologik :

Nomenklatur (tata nama)


80
Papiloma
Adenoma

Fibroma Chordoma, Hepatoma,


Leiomyoma Mesenchymoma( Hamartoma
Rhabdomioma Choriostoma)
Neurofibroma Hemangio/Hepato/Neuroblastoma
Hemangioma Basalioma
Lipoma Limfoma
Tu Neuroglia

Chondroma GCT , CaSa


Osteoma Anaplastik Ca
PNET
GIST
Dediferentiated.
81
Chordoma :

82
83
Perbedaan sifat tumor “ Malignant”

Ax PF PA

Cepat/ lambat Nampak/ Tidak nampak


Kapsul
Tanda2 penekanan Rapuh
Akibat tumor ? Nekrosis, Perdarahan
Hipervaskularisasi
Masa yang besar
Rapuh 3S
Berdarah ? Nekrosis
Tidak nyeri ? Perdarahan
Deformitas ? Mitosis >>
Benjolan di lain tempat ? Pola infiltratif
Metastasis
84
PF :

85
PA : Gross 86
Sifat nya ?
Jenisnya ?

87
2. Perbedaan Ca dan Sa

Gross

Pola metastasis

Tiroid T Vena Cava: paru


Prostat
Breast , Renal LOT Vena porta: Liver
Colon LLT
Hepar L
Ovarium L
Buli
Penis, Cx
88
Histopathology

3S

Mitosis

Polaritas

89
Invasiv ?

90
91
Fungsi :

Differensiasi : Well - Poorly

Fungsi Lainnya ?

Paraneoplastik Sindroma

Paru, Renal

92
Well- poorly

93
Rates of growth

3 factors:
1. doubling time of tumor
2. fraksi tumor yang masuk dalam
pola replikatif/proliferatif .
3. kemampuan sel untuk lepas dan
hilangnya kemampuan untuk
tumbuh.

94
95
96
Metastasis.
• Anak sebar ; jaringan tumor tidak hubungan langsung dg.
tumor primer.
• Benigna tidak metastasis.
• Maligna umumnya metastasis; kecuali basalioma, glioma.

97
Cara penyebaran.

 Rongga tubuh.
 Transplantasi (jarang).
 Pembuluh limfatik (carcinoma).
Skip metastasis; reaktif hyperplasia; sinus histiocytosis
 Pembuluh darah (sarcoma).Hematogen
Vena - vena porta -> hati.
- vena cava -> paru.

Limpa, otot bergaris jarang metastasis.


Predileksi untuk organ tertentu:
o .Bronchogenic Ca - > gld. Suprarenalis.
o Renal cell Ca, Mamma Ca -> paru, otak, tulang..

98
Grading & Staging.

 Grade I -> IV. : mengacu pada differensiasi sel..

 Stagin I -> IV : mengacu pada phisik diagnositik.


T.N.M sistem
Stage I -> IV (A.J.C)

99
Data Epidemologi :

100
Karsinogenesis.
Faktor intrinsik:
•Keturunan : polyposis coli, neurofibromatosis, retinoblastoma.
•Suku bangsa
•Umur
•Jenis kelamin

101
Extrinsic Factors: Genetics damage
Chemical Agent

Radiation

Oncogen Vi

102
Chemical Agent
Inisiator : jejas karsinogenikmenyebabkan sel normal mengalami
perubahan (transformas), hingga dapat timbul neoplasma.

Karsinogen kimiawi.
•Direct (complete karsinogen )
•Indirect (procarcinogen) metabolit

103
Direct karsinogen. (umumnya carcinogenik lemah)
Alkylating agens : cyclophosphamida , corambucil, dll
Acylating agens : Acetylimidasole, dll.

Indirect karsinogen.

Proses Detox : P450


Light smoker : CYP1-A Ca paru
Detox PAH : Gluthatione S transferase Ca buli, Ca paru

104
o Vinylchloride – haemangioma hati
o Chromium, nikkel – dihirup – Ca paru.
o Arsen – kanker kulit.
Sebagian besar agens kimiawi adalah procarcinogen – metabolik
transformasi – ultimate carcinogen..
Direct maupun indirect carcinogen kimiawi bekerja melalui
interaksi dengan DNA – mutasi.

105
Promotor : jejas yang memperkuat respons
tumorigenik , bila di
berikan setelah inisiator.

Contoh promotor:
• ester phorbol (minyak bijo croton)
• phenol (tembakau)
• phenobarbital
• saccharin, cyclomat – kanker buli2 (tikus)
• hormon (estrogen) – tumor hati (hewan).
• diethylstilbisterol – adenocarcinoma vagina bayi

106
o Radiasi
Pegawai tambang radioaktif – Ca paru.
Bom atom Japan – leukemia.
Radiasi leher anak – kanker thyroid.

o Sinar ultraviolet
Australia, Selandia Baru.

Oncogen Virus.
• HPV – carcinoma cervix.
• EBV - Burkitt lymphoma, nasopharyn ca
• HBC – RNA
• HBV - DNA
107
o Helicobacter pylori. 90% dan 20%
ulkus pepticum
lymphoma lambung & carcinoma

108
oLain-lain carcinogen a.l.
Infeksi chronik: Schistosoma haematobium  Ca buli2
(Mesir)
Scar cancer.
Ca rongga mulut.

109
Cachexia

Paraneoplastic syndromes
Predisposing disorders:
hiperplasia, displasia, metaplasia.
fibrosis, cirrhosis.

Precancerous lesions:
chronic atrophic gastritis, solar keratosis, colitis ulcerosa,
leukoplakia.

110
Bagaimana imunosurvillance terhadap sel kanker ?

Proliferasi
Infeksi Anti apoptosis
Respond radang
Iritasi Angiogenik

NFK-B Imunologic Rx
Sitokin
Chemokin
Bakteri TLR MAPK
Kerusakan jar
Sel tumor
TNF A CD147 MMPi
Makrofag

111
CTL, NK cell
Sel asing
Treg

Th1/CD4 IFN g

Th2/CD8

112
1. Yang termasuk Neoplasma Ganas :
A. Hemangioma
B. PNET
C. Chordoma
D. Limfoma
E. Melanoma
F. Polip

2. Keganasan pada pria terbanyak adalah


A. Ca testis
B. Ca Paru
C. Ca lambung
D. Ca Tiroid
E. Limfoma

113
3. Biomolekuler : terjadi peningkatan ekspresi p 53 berarti :
1. Tanda ada kerusakan DNA
2. merupakan Check point dari Siklus Sel
3. Pada kondisi Mutant p53: terjadi hambatan pada MDM2
4. berhubungan dengan peningkatan ekspresi p 16

4. Beda Sarkoma dan Karsinoma


1. Metastasis Limfogen
2. Irisan seperti Daging ikan
3. Prognosis lebih buruk pada Karsinoma

114
5. Dibawah ini termasuk pengaruh Chemical Agent yang menyebabkan
kerusakan Gene secara langsung ?
1. Helicobacter Pylori
2. Schisoctoma
3. Sinar Radio Aktif
4. Minyak kroton
5. Phenobarbital
6. CYPA-1, P450
7. Alkilating agent

6. Yang mempengaruhi patogenesa terjadinya keganasan


1. rusaknya DNA repair
2. Proto oncogen
3. Oncogen
4. Tumor supressor gene

115
7. Beda grading dan staging ?
8. Beda Jinak dan Ganas secara Histo pa , Ax, PF ?
9. Apa beda displasi dan anaplasia ?
10. Apa itu paraneoplastik sindroma ?

116
TERIMA KASIH