Anda di halaman 1dari 61

PONSKESDES

SARANA PELAYANAN KESEHATAN DI JAWA TIMUR

Pusk : 944
(Pusk Rawat jalan : 524
Pusk Rawat Inap : 420
Pusk Poned : 247)
Pustu : 2.297
Polindes : 5.800 MUTU ?
Posyandu : 44.355

RSU Pemrth : 48
RSK UPT Dinkes: 5
RSJ : 2
RS TNI/POLRI : 26
RS BUMN : 12
RS. Swasta : 187
KEADAAN UMUM DI JAWA TIMUR TH 2007
Luas wilayah daratan: 47.157,70 KM2

Luas wilayah lautan: 110.000,00 KM2

Jumlah Pulau : 229 buah

Jumlah Kabupaten: 29 AKSES ?


Jumlah Kota: 9

Jumlah Kecamatan: 661

Jumlah Desa/ kelurahan: 8.497

Jumlah penduduk Jatim: 37.794.003 jiwa

Sumber: BPN, Sekprop, BPS 2007,


ISU KESEHATAN:
 Menjamurnya fasilitas pelayanan kesehatan Medis (BP, Klinik, RS, dll)
dengan mutu yang beragam.-> berdiri PKMI (Perhimpunan Klinik Medis
Indonesia) bagaimana perannya?

 Menjamurnya fasilitas pelayanan kesehatan Non Medis (ramuan, tindakan,


supranatural dll) dengan iklan yang sering menyesatkan -> bagaimana
masyarakat bisa difilter?

 Perdagangan bebas menjadikan persaingan ketat disemua bidang,


termasuk bidang kesehatan -> jangan sampai terjadi fasilitas kesehatan
asing berkuasa di jatim.

 Pembinaan sekolah kesehatan bukan lagi dibawah Depkes, tetapi Diknas ->
Strategi untuk bisa memantau kwalitas lulusan?

 Mulai terjadi kerjasama yang tidak sehat dalam sistem rujukan, bukan atas
dasar indikasi medis -> perlu sebuah regulasi yang mantap.

 Target yang menjadi komitmen Global, Nasional, Regional, masih banyak


yang belum dicapai ( MDG’s, RPJMN, RPJMD, SPM dll) -> Puskesmas
sebagai ujung tombak pelayanan memegang posisi yang strategis.
 96,6 % RT berada kurang atau sama dg 5 km dari fasilitas pelayanan
kesehatan (RS, Pusk, Pustu, Dokter praktek, Bidan Praktek)

 92,9 % RT dapat mencapai fasilitas kesh kurang dari 30 menit

-------------------------------------------------------------------------------------------

 83,2 % RT berjarak kurang atau sama dg 1 km dari UKBM (Posyandu,


Polindes, Poskesdes), 17,1 % berjarak 1-5 km

 89,7 % RT dpt mencapai ke fasilitas UKBM kurang dari 15 menit, 8,2 %


antara 15 – 30 menit.

 25,6 % RT telah memanfaatkan keberadaan Polindes, 21,8 % tidak


memanfaatkan dan 52,5 % merasa tdk membutuhkan keberadaan
Polindes.
Lanjutan hasil Riskesdas

 Tempat rawat inap yg dimanfaatkan RT: RS pemerintah


2,9% , RS Swasta 2,7 %, Puskesmas 1,5 %

 Pengobatan Rawat Jalan yg dimanfaatkan RT 1 th terahir:


RS Pemerintah 1,3 %, RS Swasta 1 %, RSB 9,2%,
Puskesmas 1 %, Nakes 18,8 %.

 Prosentase perokok tiap hari : 24,3 %, dengan penduduk


perokok terbesar pd kelompok 10 – 14 th : 73, 8 %

 RT yang berperilaku bersih dan sehat (PHBS) dengan baik


:33,5 %

 Penduduk yang BAB di jamban : 67,8 %, Cuci tangan dg


sabun: 26,3%
PERUBAHAN STRUKTUR PENDUDUK DI Jatim -> struktur penduduk TUA

Perkembangan Penduduk LANSIA di Jatim :

Tahun Penduduk Lanjut %


Usia
1990 32.500.000 2.595.002 7,99%

2004 36.535.527 3.741.811 10,24%

2005 37.070.731 3.832.295 10,34%

2006 37.478.237 3.942.419 10,62% Balita : 8,3 %

2007 37.794.003 4.209.817 11,14%


USILA di Indonesia naik 3,96% / th sdg anak dibawah 15 th naik 0,49/ th
KLASIFIKASI PENDUDUK LANSIA
Analisa Situasi Masyarakat Jawa Timur dengan
Jaminan Kesehatan Tahun 2008
NO KEPESERTAAN JUMLAH JIWA
1 Jamkesmas (Maskin Kuota) 10.710.051
2 Dijamin Kab/Kota ( Maskin Non Kuota) 1.411.742
3 Askes PNS 1.778.714
4 Askes Sukarela 546.416
5 Jamsostek 390.819
6 ASABRI 5.335
7 Asuransi Komersial 8.907
Jmlh pddk yg tercover Jaminan 14.851.984
Kesehatan
8 Belum tercover Jaminan Kesehatan 22.894.501
JUMLAH TOTAL PENDUDUK 37.746.485
Landasan Hukum Penyusunan Renstra
 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan
Daerah.
 Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
 Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit:
 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 331/Menkes/SK/V/ 2006 tentang Rencana
Strategis Departemen Kesehatan
 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Nomor Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan
Daerah Kabupaten/Kota;
 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah;
 Perda Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa
Timur;
 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 741/Menkes/SK/V/ 2008 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota;
 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 828/Menkes/SK/V/ 2008 tentang Juknis SPM;
 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 457/Menkes/SK/V/ 2008 tentang 17 Sasaran
Departemen Kesehatan;
 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 922/Menkes/SK/V/ 2008 tentang Juknis PP 38
Tahun 2007;
 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 189/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional;
 Peraturan Gubernur Nomor 79 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas Sekretariat, Bidang,
Sub Bagian dan Seksi Dinas Kesehatan;
 Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2009 tentang RPJMD 2009-2014
 Keputusan Gubernur Jatim Nomor 188/23/KPTS/013/2007 tentang Sistem Kesehatan
Provinsi
 Pasal 5 ayat 2 :
Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan
yang aman, bermutu, dan terjangakau.

 Pasal 6 :
Setiap orang barhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian
derajat kesehatan

 Pasal 19 :
Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya
kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau.

 Pasal 58 ayat 1:
Setiap orang barhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang tenaga
kesehatan dan/ atau penyelenggara kesehatan yg menimbulkan kerugian
akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang
diterimanya.
 Pasal 2
Undang- undang tentang pelayanan Publik dimaksudkan untuk
memberikan kepastian hukum dalam hubungan antara masy dan
penyelenggara dalam pelayanan publik

 Pasal 25 ayat 1
Penyelenggara dan pelaksana berkewajiban mengelola sarana,
prasarana, dan / atau fasilitas pelayanan Publik secara efektuf,
efisien, transparan, akuntabel, dan berkesinambungan serta
bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan / atau penggantian
sarana, prasaran, dan /atau fasilitas pelayanan publik

 Pasal 55 ayat 1
Penyelenggara atau pelaksana yg tdk melakukan kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam pasal 25, 28, 29, dan atas perbuatan
tsb mengakibatkan timbulnya luka, cacat tetap, atau hilangnya
nyawa bagi pihak lain dikenai sanksi pidana sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang - undangan
PERATURAN MENKES RI
NOMOR : 741/MENKES/PER/VII/2008
TENTANG SPM BIDANG KESEHATAN DI KAB/KOTA TH 2008

KEPUTUSAN MENKES RI
NOMOR : 828/MENKES/SK/IX/2008
TENTANG JUKNIS SPM BIDANG KESEHATAN DI KAB/KOTA TH 2008

Capaian SPM
menjadi
Indikator Kinerja Kunci (IKK)
untuk evaluasi penyelenggaraan
PEMERINTAH DAERAH
SPM KABUPATEN/KOTA TAHUN 2008
1. Cakupan kunjungan bumil K-4 95 % tahun 2015
2. Cakupan komplikasi kebidanan yg ditangani 80% tahun 2015
3. Cakupan pertolongan persalinan oleh Nakes yg memiliki kompetensi kebidanan
90% th 2015
4. Cakupan pelayanan nifas 90% thn 2015
5. Cakupan neonatus dg komplikasi yg ditangani 80% thn 2010
6. Cakupan kunjungan bayi 90% thn 2010
7. Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 100% thn 2010
8. Cakupan Pelayanan anak balita 90% thn 2010
9. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bln
keluarga miskin 100% thn 2010
10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100% thn 2010
11. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 100% thn 2010
12. Cakupan peserta KB aktif 70% pd thn 2010
13. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit 100% pd thn 2010
14. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masy miskin 100% pd thn 2015
15. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masy miskin 100% pd thn 2015
16. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yg hrs diberikan sarana kesehatan
(RS) di Kab/Kota 100% pd thn 2015
17. Cakupan Desa/kelurahan mengalami KLB yg dilakukan penyelidikan
epidemiologi kurang 24 jam 100% pd thn 2015
18. Cakupan Desa siaga aktif 80% pd thn 21015
(SKN 2009)

Berkesinambungan, Terpadu, Paripurna


melalui sistem Rujukan (Rujukan medik maupun rujukan kesehatan)

Yankes Masyarakat Yankes Perorangan

PKMT: PKPT :
Tersier:
RS Prop / Pusat atau klinik
Dinkes Prov, Depkes, Upaya kesh rujukan khusus sub spesialistik
Unit kerja terkait unggulan/ sub spesialistik

PKMS: PKPS :
Dinkes Kab/ Kota, swasta
Sekunder:
Upaya Kesh rujukan lanjutan RS Kab/Kota, fas kesh
sesuai aturan yg ada swasta yg setara

PKPP :
PKMP : Primer : Puskesmas, Fas
kesh swasta setara
Puskesmas ,Masy &
swasta sesuai aturan yg Upaya Kesh dimana terjadi kontak Pustu
ada. UKBM pertama. Polindes, Poskedes
Visi Dinkes Provinsi Jatim :
”Masyarakat Jawa Timur Mandiri untuk
Hidup Sehat”

 Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat adalah


suatu kondisi dimana masyarakat Jawa Timur
menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali,
mencegah, dan mengatasi permasalahan kesehatan
yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan
kesehatan, baik yang disebabkan karena penyakit,
bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak
mendukung untuk hidup sehat.
Misi Pembangunan Kesh di Jatim:
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan

2. Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat


untuk hidup sehat

3. Mewujudkan, memelihara dan meningkatkan


pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan
terjangkau

4. Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan


penanggulangan masalah kesehatan

5. Meningkatkan dan mendayagunakan sumberdaya


kesehatan
Dalam mewujutkan Misi no 3:

 Tujuan :
 Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas
pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit,Balai
pengobatan, Puskesmas dan jaringannya.
 Meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya
meningkatkan status gizi masyarakat.
 Menjamin ketersediaan, pemerataan, pemanfaatan,
mutu, keterjangkauan obat dan perbekalan
kesehatan serta pembinaan mutu makanan.
 Mengembangkan kebijakan, sistem pembiayaan
dan manajemen pembangunan Kesehatan
SASARAN RENSTRA 2010 - 2014
1. Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan
ibu ,bayi, anak, remaja dan lanjut usia serta kesehatan
reproduksi,Dengan indikator keberhasilan pencapaian
sasaran :

 100% Kabupaten/Kota melaksanakan pemeriksaan


penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh
tenaga kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS /
dokter kecil.
 Minimal 70% Kabupaten/Kota melaksanakan
pelayanan kesehatan peduli remaja sesuai standar.
 Minimal 30% Kabupaten/Kota, melaksanakan
pelayanan kesehatan pralansia dan lansia sesuai
target provinsi.
 Minimal 90% Kabupaten/Kota cakupan persalinan
oleh tenaga kesehatan mencapai target SPM.
 Minimal 84% Kabupaten/Kota cakupan Kunjungan
Neonatal (KN) lengkap mencapai target provinsi.
1. Meningkatkan akses dan mutu pelayanan
kesehatan ibu ,bayi, anak, remaja dan lanjut usia serta
kesehatan reproduksi,Dengan indikator keberhasilan
pencapaian sasaran :

 Minimal 65% Kabupaten/Kota cakupan kunjungan


bayi mencapai target provinsi.
 Minimal 50% Kabupaten/Kota mencapai cakupan
pelayanan kesehatan pada anak balita sesuai
target provinsi.
 Minimal 50% Kabupaten/Kota mencapai cakupan
pelayanan KB aktif sesuai SPM.
 Minimal 25% Kabupaten/Kota melakukan
pelayanan konseling PMTCT/HIV pada ibu hamil
yang ANC sesuai target provinsi.
2. Meningkatkan akses dan mutu pelayanan
kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya
serta pelayanan kesehatan penunjang, dengan
indikator keberhasilan pencapaian sasaran:
 Minimal 45% Puskesmas yang ada menjadi
puskesmas rawat inap standar.
 Minimal 25% Puskesmas Rawat Inap yang ada
menjadi Puskesmas Plus.
 Minimal 10% Puskesmas Pembantu yang ada
menjadi Puskesmas Pembantu Layani Gawat
Darurat dan Observasi.
 Minimal 50% Puskesmas yang menyelenggarakan
PONED memenuhi standar mutu.
 Minimal 60 % Puskesmas mempunyai UGD 24 jam.
 Minimal 20% Kabupaten/Kota menerapkan sistem
keuangan di Puskesmas berdasarkan kapitasi
berbasis kinerja.
2. Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar
di Puskesmas dan jaringannya serta pelayanan
kesehatan penunjang, dengan indikator keberhasilan
pencapaian sasaran:
 Minimal 30% Kabupaten/Kota menerapkan standar
pelayanan minimal berdasarkan citizens charter atau
kontrak pelayanan.
 50% Polindes berkembang menjadi Pondok kesehatan
desa (Ponkesdes).
 Minimal 25% Puskesmas terlayani mobil bengkel
service kesehatan.
 Minimal 25% Unit Transfusi Darah (UTD) memenuhi
standar mutu.
 Minimal 80% keluhan masyarakat miskin yang berobat
gratis di Puskesmas seluruh Kabupaten/Kota
tertangani.
 Minimal 50% puskesmas di daerah tertinggal dan
terpencil melakukan pembinaan keluarga rawan.
3. Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan dengan
kemampuan pelayanan kesehatan gawat darurat yang bisa diakses
masyarakat dan prasarana kesehatan di rumah sakit, rumah sakit khusus,
dan balai kesehatan dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran:
 Minimal 80% keluhan masyarakat miskin yang berobat
gratis di Rumah Sakit Pemerintah seluruh Kabupaten/Kota
tertangani.
 Minimal 75% Rumah Sakit Pemerintah terakreditasi 5
pelayanan dasar.
 80% RSUD Kabupaten/Kota menyelenggarakan
Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif
(PONEK) 24 jam.
 Minimal 80% Rumah Sakit Provinsi memiliki tenaga dokter
sub spesialis.
 Minimal 90% Rumah Sakit Kabupaten/Kota memiliki
jejaring dengan Puskesmas untuk penanggulangan
masalah kesehatan.
 Minimal 10% Rumah Sakit Kabupaten/Kota menyusun
standar pelayanan minimal berdasarkan citizens charter
atau kontrak pelayanan.
3. Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan
kesehatan dengan kemampuan pelayanan
kesehatan gawat darurat yang bisa diakses
masyarakat dan prasarana kesehatan di rumah
sakit, rumah sakit khusus, dan balai kesehatan
dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran:
 Minimal 15% Rumah Sakit pelaksana program DOTS
mencapai angka kesembuhan 85%.
 Minimal 70 % Rumah Sakit Pemerintah yang memberikan
pelayanan, dukungan dan pengobatan bagi penderita
HIV/AIDS.
 Minimal 25 % Rumah Sakit Pemerintah mampu melayani
kasus pandemi influenza sesuai standar.
 Minimal 90% Rumah Sakit Kabupaten/Kota mampu dalam
penatalaksanaan gizi buruk sesuai standar.
 90% RSUD Kabupaten/Kota menyelenggarakan
pelayanan gawat darurat level 1 sesuai standar.
 Minimal 80% Rumah Sakit Pemerintah memiliki sarana
penunjang medis sesuai standar.
3. Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan
kesehatan dengan kemampuan pelayanan kesehatan gawat
darurat yang bisa diakses masyarakat dan prasarana
kesehatan di rumah sakit, rumah sakit khusus, dan balai
kesehatan dengan indikator keberhasilan pencapaian
sasaran:
 Angka kematian penderita DBD di Rumah Sakit
Pemerintah maksimal 1%.
 Minimal 90% success rate bagi penderita TB yang berobat
di Rumah Sakit Paru.
 Minimal 80 % tercapai angka konversi kenderita TB yang
berobat di Rumah Sakit Paru.
 Maksimal 5 % error rate dari spesimen penderita TB yang
berobat di Rumah Sakit Paru.
 100% pasien kusta mendapat Multi Drug Therapi (MDT)
dan Prevention of disability (POD) di Rumah Sakit Khusus
Kusta.
 Minimal 80% penderita kusta dengan reaksi Erytematus
Nodusum Leprosum (ENL) di Rumah Sakit khusus
terhindar dari cacat.
DEFENISI OPERASIONAL
PUSK. PLUS
 Puskesmas Penyedia Layanan Unggulan
Spesialistik yang selanjutnya disebut
Puskesmas PLUS adalah puskesmas
dengan pelayanan minimal oleh satu
dokter spesialistik baik kunjungan periodik
maupun pelayanan tetap, yang diatur dan
ditetapkan oleh Bupati/ Walikota.
MANLAK PUSK. PLUS
 KRITERIA PENGEMBANGAN PUSKESMAS PLUS
Puskesmas PLUS dikembangkan dari puskesmas diutamakan
puskesmas rawat inap yang telah memenuhi analisa kebutuhan
masyarakat akan pelayanan kesehatan spesialistik di puskesmas.
Adapun beberapa dasar pertimbangan pengembangan puskesmas
menjadi puskesmas PLUS adalah :
1. Diutamakan bagi puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri
Neonatal Emergency Dasar)
2. Data penyakit yang menunjukkan bahwa diperlukannya
penanganan oleh dokter spesialis terkait
3. Data kunjungan pasien rawat jalan yang tinggi minimal 50
kunjungan per hari selam satu tahun terakhir
4. Data kepadatan penduduk di wilayah kerja puskesmas yang padat
5. Tingkat sosial ekonomi masyarakat di wilayah kerja puskesmas
rendah.
 PERAN & TANGGUNG JAWAB DINKES PROV, DINKES KAB/KO,
PUSK. PLUS
 TUGAS POKOK DAN FUNGSI DR. SPESIALIS
 KETENTUAN UMUM & JENIS PELAYANAN SPESIALISTIK
 PEMBIAYAAN
DEFENISI OPERASIONAL
PUSK. R.INAP STANDAR
 Puskesmas Rawat Inap Standar adalah
puskesmas dengan tempat perawatan
yang memenuhi kriteria standar peralatan
puskesmas rawat inap minimal 75% dan
standar SDM puskesmas rawat inap
minimal 75% serta ditetapkan oleh Bupati/
Walikota dalam kurun waktu tertentu.
DEFENISI OPERASIONAL
PUSTU GADAR & OBSERVASI
 Puskesmas Pembantu Layani Gawat Darurat
dan Observasi yang selanjutnya disebut Pustu
Gadar dan Observasi adalah Puskesmas
Pembantu yang mampu menangani kasus –
kasus kegawatdaruratan untuk observasi dan
penatalaksanaan pra rujukan dengan petugas
minimal seorang perawat terlatih PPGD dan
seorang bidan terlatih PPGDON yang bertugas
bergantian sehingga terlaksananya pelayanan
24 jam dan ditetapkan oleh Bupati/ Walikota.
DRAFT MANLAK PUSTU GADAR
& OBSERVASI
 KRITERIA PENGEMBANGAN PUSTU GADAR &
OBSERVASI
Puskesmas Pembantu Layani Gawat Darurat dan
Observasi yang selanjutnya disebut Pustu Gadar dan
Observasi adalah Puskesmas Pembantu yang mampu
menangani kasus – kasus kegawatdaruratan untuk
observasi dan penatalaksanaan pra rujukan dengan
petugas minimal seorang perawat terlatih PPGD dan
seorang bidan terlatih PPGDON yang bertugas bergantian
sehingga terlaksananya pelayanan 24 jam dan ditetapkan
oleh Bupati/ Walikota.
 PERAN & TANGGUNG JAWAB DINKES PROV,
DINKES KAB/KO, PUSK. PLUS
 KETENTUAN UMUM & JENIS PELAYANAN PUSTU
GADAR & OBSERVASI
 PEMBIAYAAN
Untuk th 2010, Puskesmas yang dibantu:

 RAWAT INAP PLUS : 10

 PUSK RAWAT INAP STANDAR : 10

 PUSTU YG MAMPU MELAKSANAKAN


PEN ANGANAN KASUS EMERGENCY
DAN OBSERVASI : 50
PENENTUAN SASARAN PROGRAM DAN
PAKET PERALATAN YANG DIBERIKAN
UNTUK TAHUN 2010
1. Memperhatikan sangat beragamnya
usulan yg ada dan terbatasnya dana yg
tersedia, maka bantuan peralatan u/
pengembangan Puskesmas dibuat
PAKET

2. Sedangkan u/ Pusk Rawat Inap PLUS


diprioritaskan pada PUSKESMAS
PONED -> krn masih sangat tingginya
AKI dan AKB.
PAKET PERALATAN PUSK. R.INAP PLUS
TAHUN 2010

Tiap paket terdiri :


 USG Set : 1 buah
 Bedpasien 3 Crank : 1 buah
 ECG : 1 buah
 Minor Surgery Set : 1 buah
 Doppler Portable : 1 buah
PAKET PERALATAN PUSK. R.INAP
STANDAR TAHUN 2010
Tiap paket terdiri :
 Bed pasien 1 crank : 10 buah
 Bedside cabinet : 5 buah
 Minor Surgery Set : 1 buah
 Suction pump : 1 buah
 Urine analyzer : 1 buah
 Sterilisator : 1 buah
PAKET PERALATAN PUSTU GADAR &
OBSERVASI TAHUN 2010
Tiap paket sebesar terdiri :
 Oksigen set : 1buah
 Minor Surgery Set : 1 buah
 Nebuliser set : 1 buah
 Scoop stretcher : 1 buah
 Bed periksa : 2 buah
 Resusitator : 1 buah
 Operating lamp : 1 buah
 Oven kassa : 1 buah
 Tensi meter air raksa berdiri : 1 buah
DATA PUSK PENGEMBANGAN TH. 2010
(Berdasarkan surat yang diterima s/d 9 -2 – 2010)

NO KAB/ KOTA ∑ PUSK ∑ PUSK RI ∑ PUSTU SK SK USULA


PLUS STANDAR GADAR BUPATI KADINKES N ALAT
1 BANGKALAN 1 1 3 - + +
2 SAMPANG 1 1 3 - + +
3 PAMEKASAN 1 1 2 + + -
4 SUMENEP 1 1 3 + - -
5 SIDOARJO 1 1 1 - - +
6 LAMONGAN 1 1 3 - - -
7 BLITAR 1 1 3 - + +
8 JOMBANG 1 1 3 - - +
9 NGAWI 1 1 4 - + +
10 KO MJKTO 1 1 - - + -
DATA PUSK PENGEMBANGAN TH. 2010
(Berdasarkan surat yang diterima s/d 9 -2 – 2010)
NO KAB/ KOTA ∑ PUSK ∑ PUSK RI ∑ PUSTU SK SK USULA
PLUS STANDAR GADAR BUPATI KADINKES N ALAT
11 KEDIRI - - 3 - + +
12 PACITAN - - 3 - - -
13 TRENGGALEK - - 4 - + -
14 PASURUAN - - 2 - - +
15 PROBOLINGGO - - 4 - + +
16 SITUBONDO - - 3 - - -
17 BONDOWOSO - - 4 - - -
18 BANYUWANGI - - 1 - + +
19 KO - - 1 - - -
PROBOLINGGO
DAFTAR NAMA PUSK
Pusk Rawat Inap PLUS 2010
10 PUSK RI PLUS TERDIRI DARI :
 BANGKALAN : Pusk AROSBAYA
 SAMPANG : Pusk KETAPANG
 PAMEKASAN : Pusk PASEAN
 SUMENEP : Pusk AMBUNTEN
 SIDOARJO : Pusk KRIAN
 LAMONGAN : Pusk PACIRAN
 BLITAR : Pusk SUTOJAYAN
 JOMBANG : Pusk TAPEN
 NGAWI : Pusk KARANG JATI
 KOTA MOJOKERTO : Pusk KEDUNDUNG
DAFTAR NAMA PUSK
PUSK R.INAP STANDAR TH. 2010
10 PUSK RI PLUS TERDIRI DARI :
 BANGKALAN : Pusk BLEGA
 SAMPANG : Pusk KEDUNDUNG
 PAMEKASAN : Pusk PAKONG
 SUMENEP : Pusk PRAGA’AN
 SIDOARJO : Pusk SUKODONO
 LAMONGAN : Pusk PUCUK
 BLITAR : Pusk SRENGAT
 JOMBANG : Pusk KEBOAN
 NGAWI : Pusk BRINGIN
 KOTA MOJOKERTO : Pusk BLOOTO
DAFTAR NAMA
PUSTU GADAR & OBSERVASI TH. 2010
50 PUSTU GADAR & OBSERVASI TERDIRI DARI :
 BANGKALAN : Pustu POTER, BANCARAN,SUMURKONENG
 SAMPANG : Pustu KAMONENG, PULO MANDANGIN I & SOKOBANAH
DAYA
 PAMEKASAN : Pustu BUJUR TENGAH , LARANGAN, BADUNG
 SUMENEP : Pustu KAPEDI , PEWRANCAK, CANDI
 SIDOARJO : Pustu BALUNG TUMENGGUNGAN
 LAMONGAN : Pustu MADE, DUKU TUNGGAL, SUNGAI LEBAK
 BLITAR : Pustu SELOREJO, POPOH, SURUH WADAN
 JOMBANG: Pustu TANGGUNGAN, TINGGAR, PERAK
 NGAWI : Pustu MANTINGAN, CAMPUR ASRI, GEDORA, PANDEAN
 KEDIRI : Pustu GADUNGAN , BOGO, TEGALAN
 PACITAN : Pustu NGLARAN, NGAMBAN, KLEPU
DAFTAR NAMA
PUSTU GADAR & OBSERVASI TH. 2010

50 PUSTU GADAR & OBSERVASI TERDIRI DARI :


 TRENGGALEK : Pustu TIMAHAN, NGULUNG
KULON,SIDOMULYO,KARANG TENGAH
 PASURUAN : Pustu GERBO, KEMIRI SEWU
 PROBOLINGGO : Pustu KALIBUNTU, LEMAH KEMBAR, SUMBER
BULU,BHINOR
 SITUBONDO : Pustu KLAMPOKAN, WONOREJO, WIDORO
PAYUNG
 BONDOWOSO : Pustu CERME, GRUJUKAN KULON, SUMBER
PANDAN, PANCORAN
 BANYUWANGI : Pustu BAYU
 PROBOLINGGO Kota : Pustu KEDUNG ASEM
Bantuan Tenaga Kesehatan
Untuk Pusk PLUS & R.Inap Standar
Th. 2010
 Puskesmas Plus:
1. Dokter Umum yang di kontrak mulai bulan
April 2010
2. Dokter Spesialis Kandungan dan atau Dokter
Spesialis Anak untuk pembinaan dan visitasi
ke Puskesmas PLUS, seminggu 1X

 Puskesmas Rawat Inap :


Dokter Umum yang di kontrak mulai bulan
April 2010
Apabila Puskesmas yg diusulkan sudah
mempunyai paket peralatan tsb, maka usulan
bisa dialihkan ke Puskesmas lain yg
dikembangkan tetapi belum mempunyai
peralatan seperti dalam paket tsb.

Untuk tahun 2011, mohon Kab/Kota segera


mengusulkan bantuan peralatan untuk
pengembangan Puskesmas PLUS,
Puskesmas rawat inap dan Pustu, agar dapat
direncanakan dan dikelompokkan dengan
lebih tepat.
KEGIATAN TAHUN 2010 YG TERKAIT DG
PENGEMBANGAN PUSKESMAS DAN PUSTU

1. Koordinasi Pelaksanaan CHN


2. Koordinasi UGD Puskesmas & Pustu Layani
Kegawatdaruratan
3. Peningkatan Kompetensi Gadar bagi Petugas Pustu
4. Workshop Kalibrasi Peralatan bagi Petugas Puskesmas
5. Penyelenggaraan Rekam Medik Pusk berdasarkan ICD X
9. Pengadaan Alat Kesehatan
10. Monitoring Pengembangan Pelayanan Puskesmas dan
Pustu
11. Pelatihan PONED
12. Fasilitasi dan Evaluasi Pelaksanaan PONED – PPGDON
PENGEMBANGAN
POLINDES
MENJADI
PONKESDES
Tujuan
Meningkatkan akses pelayanan kesehatan
pada masyarakat dengan menempatkan
tenaga bidan dan perawat di desa/kelurahan.
Sasaran
Desa atau kelurahan yang sudah ada
polindesnya dan belum ada puskesmas/
puskesmas pembantu.
PELAKSANAAN PROGRAM PRIORITAS
PONKESDES TAHUN 2010
 Telah dilakukan PKS antara Prov dengan 26
Kab/Kota

 Kesediaan Kab/Kota : 1814 PONKESDES


( HR utk 1814 org perawat, Mebelair dan
Ponkesdes Kit utk 1813 PONKESDES )

 Alokasi dana untuk honor perawat sebesar


Rp. 500.000/bln selama 11 bulan dengan
sharing sebesar 50 : 50 antara Prov dan
Kab/Kota.
FORMASI PERAWAT
NO KAB/KOTA
PONKESDES
1 Kab. Bangkalan 38
2 Kota Batu 13
3 Kab. Blitar 82
4 Kab. Bojonegoro 100
5 Kab. Bondowoso 130
6 Kab. Gresik 150
7 Kab. Jombang 30
8 Kab. Lamongan 77
9 Kab. Lumajang 111
10 Kab. Madiun 20
11 Kab. Magetan 70
12 Kab. Malang 120
13 Kab. Mojokerto 40
FORMASI PERAWAT
NO KAB/KOTA
PONKESDES
14 Kab. Nganjuk 50
15 Kab. Ngawi 20
16 Kab. Pacitan 45
17 Kab. Pamekasan 58
18 Kab. Pasuruan 65
19 Kab. Ponorogo 90
20 Kab. Probolinggo 50
21 Kab. Sampang 64
22 Kab. Sidoarjo 125
23 Kab. Situbondo 60
24 Kab. Sumenep 125
25 Kab. Trenggalek 69
26 Kota Kediri 12
JUMLAH 1,814
PELAKSANAAN PROGRAM PRIORITAS
PONKESDES TAHUN 2010

 Provinsi menyediakan dana (BK) :


1. Honor perawat sebesar Rp. 5,5 M
2. Meubelar sebesar Rp. 4 M( @PONKESDES Rp 2 Jt )
3. Ponkesdes kit sebesar Rp. 5 M ( @ PONKESDES
Rp 2,5 Jt )
 Fisik bangunan ponkesdes, operasional dan
rekrutmen perawat dilaksanakan Kab/Kota
PENGANGKATAN, PEMINDAHAN DAN
PEMBERHENTIAN BIDAN DAN PERAWAT
1. Kebutuhan Bidan dan Perawat di PONKESDES
ditentukan oleh Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
2. Pelaksanaan seleksi Bidan dan Perawat dilakukan
oleh Bupati/ Walikota.
3. Pengangkatan, Pemindahan dan pemberhentian Bidan
di wilayah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Bupati/
Walikota
4. Pemindahan Bidan antar Kabupaten/Kota dilakukan
oleh Gubernur
5. Perawat PONKESDES dalam masa penugasan tidak
diijinkan pindah.
KEWAJIBAN BIDAN DAN PERAWAT DI
PONKESDES
a. Mentaati dan melaksanakan segala peraturan
Perundang-Undangan dan ketentuan yg berlaku
b. Dalam melaksanakan tugas dan praktek, Bidan harus
memiliki Surat Izin Bidan (SIB) dan Surat Izin Praktek
Bidan (SIPB) sesuai masa berlakunya.
c. Dalam melaksanakan tugas dan praktek, Perawat harus
memiliki Surat Izin Perawat (SIP), Surat Izin Kerja (SIK)
dan Surat Izin Praktek Perawat (SIPP) sesuai masa
berlakunya.
d. Melaksanakan tugas sebagaimana diatur dalam Pasal 6
dan 7
Hak Bidan dan Perawat di
PONKESDES
a. Mendapatkan perlindungan hukum selama
melaksanakan tugas sesuai dengan kewajiban dan
Kompetensinya.
b. Mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan
serta kompetensinya melalui pendidikan dan pelatihan
yg sesuai dengan bidangnya
c. Mendapatkan gaji sesuai dengan kemampuan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan
Kabupaten /Kota.
d. Mendapatkan Cuti
e. Mendapat bimbingan dan perlindungan Kepala
puskesmas , sama seperti Perawat dan Bidan yg ada
di Puskesmas Induk dan Puskesmas Pembantu.
PEDOMAN PELAKSANAAN
PONKESDES DI JAWA
TIMUR
BIDANG BINA YANKES
DINKES PROPINSI JAWA TIMUR
 PENGERTIAN PONKESDES :
Pondok Kesehatan Desa ( PONKESDES ) adalah
sarana pelayanan kesehatan yang berada di desa
atau kelurahan yang merupakan pengembangan
dari Pondok Bersalin Desa (POLINDES) sebagai
jaringan puskesmas dalam rangka mendekatkan
akses dan meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan di desa/ kelurahan

 Visi PONKESDES :
terwujudnya desa/ kelurahan sehat menuju
kecamatan sehat. Visi tersebut merupakan
pengembangan dari visi Puskesmas yakni
terwujudnya kecamatan sehat.
C. MISI PONKESDES
Untuk mewujudkan visi tersebut diatas , maka misi
yang dilaksanakan adalah :
1. Menggerakkan masyarakat desa/ kelurahan,
agar menciptakan lingkungan desa/ kelurahan
yang sehat
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi
keluarga dan masyarakat di desa/ kelurahan
3. Memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan di PONKESDES
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan
perorangan, keluarga, masyarakat desa/
kelurahan
TUJUAN PONSKESDES
 menyelenggarakan pelayanan kesehatan
yang berkualitas serta meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang yang
bertempat tinggal di desa/ kelurahan, agar
terwujud derajat kesehatan masyarakat di
desa/ kelurahan yang setinggi – tingginya.
Jaringan Pelayanan Kesehatan di
Puskemas
PUSKESMAS :
Melayani Tingkat Kecamatan

Pusling :
Melayani Keliling
Tkt.Kecamatan

PUSK PEMBANTU : PONKESDES :


Melayani beberapa Melayani 1 wilayah desa
Desa
 Upaya Kesehatan Wajib adalah Upaya yang ditetapkan
berdasarkan komitmen Nasional, Regional dan Global yang
mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajad
kesehatan Masyarakat.
 Upaya Kesehatan Wajib, meliputi enam (6) elayanan kesehatan
dasar, yaitu :
 Promosi Kesehatan
 Kesehatan Lingkungan
 Kesehatan Ibu & Anak serta KB
 Perbaikan Gizi Masyarakat
 Pencegahan & Pemberantasan Penyakit menular
 Pengobatan
 Upaya Kesehatan Pengembangan adalah Upaya kesehatan
yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan
dimasyarakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa /
kelurahan dan kemampuan PONKESDES setempat.
 Upaya Kesehatan Wajib & Pengembangan yang dilakukan di
PONKESDES dilaksanakan sesuai dgn kewenangan tenaga di
PONKESDES.
NO KEGIATAN TRIBULAN
I II III IV
1 PEMBUATAN PERGUB X
PONKESDES
2 CETAK BUKU MANLAK X

3 PEMBEKALAN TENAGA PERAWAT X X


DI PONKESDES
4 EVALUASI PELAKSANAAN X X
PONKESDES