Anda di halaman 1dari 73

PEMERIKSAAN FISIK SISTEM

NEUROLOGI
Supriliyah P
PEMERIKSAAN SISTEM NEUROLOGI

Pemeriksaan kesadaran

Pmrksaan fungsi serebri( status mental, fungsi


intelektual,status emosional,kemampuan
bahasa,

Pmrksaan saraf kranial ( saraf 1-12)

Pmrksaan sistem motorik ( gerakan anggota


badan, pmrksaan kekuatan otot, ppmrksaan
keseimbanga dan koordinasi)

Ppemeriksaan respon refleks

Sistem sensorik
TINGKAT KESADARAN/ PEMERIKSAAN
KESADARAN

 Kesadaran adalah keadaan yang mencerminkan


pengintegrasian impuls eferen dan aferen.
1. Terjaga/
adekuat/ waspada
: adalah keadaan
normal ( aksi dan
reaksi terhadap
apa yang diserap
bersifat tepat atau
sesuai), dimana
score gcs :15.

Responsivi
tas tingkat
3. Delirium : kesadaran:
gelisah, 2. Apatis :
disorientasi keadaan
(orang, tempat, kesadaran yang
waktu), segan untuk
memberontak, berhubungan
berteriak-teriak, dengan sekitar,
berhalusinasi sikap acuh tak
kadang acuh
berhayal.
4. Letargi/ somnolen :
mengantuk tetapi
dapat mengikuti
perintah sederhana
ketika dirangsang
suara keras, kemudian
tertidur lagi.

5. Stupor :
sangat sulit
dibangunkan, tidak
7. Koma : tidak
Responsivi konsisten dapat
mengikuti perintah
berespon terhadap
setiap stimulus,
tas tingkat sederhana atau
kesadaran: berbicara satu kata
atau frase pendek
saat terdapat
rangsaangan nyeri.

6. Semikoma/ sporo
koma : gerakan
bertujuan ketika
dirangsang, tidak
mengikuti perintah atau
berbicara koheren.
PENILAIAN TINGKAT KESADARAN
KUANTITATIF
 Compos mentis: 15-14
 Apatis: 13-12

 Somnolen : 11-10

 Delirium: 9-7

 Sporo coma 6-4

 Coma: 3
TINGKAT KESADARAN BERDASARKAN AVPU
(ALERT VERBAL PAIN UNRESPON) :

 Alert : respon spontan


 Verbal : berespon setelah dipanggil

 Pain : berespon setelah diberi rangsangan nyeri

 Unrespon : tidak berespon dengan rangsangan


apapun
 (Penilaian berdasarkan respon yang ditunjukkan
oleh pasien saat itu)
DERAJAT KESADARAN DI UKUR DENGAN GLASGOW
COMA SCALA ( GCS) :
1. Score
•Nilai 4 : bila klien dapat membuka mata secara spontan/ tanpa
untuk disuruh.
reaksi •Nilai 3 : bila klien dapat membuka mata sesuai dengan perintah.
membuka •Nilai 2 : bila klien dapat membuka mata dengan rangsangan nyeri
mata (E/ •Nilai 1 : bila klien tidak ada reaksi sama sekali
eye):

•Nilai 5 : bila klien mempunyai orientasi yang baik.


2. Score •Nilai 4 : bila klien dapat bicara tetapi membingungkan (kalimat dan kata-
kata baik tapi hubungan dengan pertanyaan tidak baik)
untuk
•Nilai 3 :bila klien dapat bicara tapi lebih membingungkan (kata-kata
reaksi terbaca tapi kalimat tidak tersusun)
bicara •Nilai 2 : bila klien hanya dapat menggumam saja (masih keluar suara dan
(V/verbal) nada)
•Nilai 1 : bila klien tidak ada suara

•Nilai 6 : klien dapat mengikuti perintah dgn baik


3. Score •Nilai 5 : klien dapat menjalankan perintah, dan gerakan hanya melokalisir
untuk rangsangan.
reaksi •Nilai 4 : diberi rangsangan klien hannya menghindar / tanpa penolakan
motorik •Nilai 3: gerakan fleksi abnormal
(M/Motorik) •Nilai 2 : gerakan ekstensi abnormal
•Nilai 1 : tidak ada gerakan sama sekali
PEMERIKSAAN FUNGSI SEREBRI
STATUS MENTAL

1. Observsi penampilan (kebersihan,


kerapian atau berpakaian).

2. Observasi ekspresi, sikap dan


gerakan tubuh atau aktivitas motorik.

3. Observasi gaya bicara dan


kesadaran.
FUNGSI INTELEKTUAL

Daya ingat jangka panjang dan jangka pendek.

Perasaan/ afektif: diskripsi verbal atau non verbal, ekspresi


atau status emosi.

Bahasa: isi dan kualitas spontan, pengulangan kalimat,


kemampuan membaca dan menulis, disfasia/ afasia (efisiensi
fungsi bahasa), disartria ( kesulitan artikulasi), disfonia
(kualitas suara berubah)

Pikiran : pengetahuan, orientasi waktu, tempat dan orang,


emampuan menghitug.

Persepsi: menggambar, menunjuk arah, meperagakan.


TATA PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
penilaian respon
Perhatian Rentang perhatian
Daya ingat Jangka pendek: mengingat kembali 3 item setelah 5 menit
Jangka panjang: mengingat nama depan ibunya,
mengingat kejadian hari sebelumnya.
Perasaan/ afektif Ekspresi tubuh
Deskripsi verbal
Verbal kongruen, indikator tubuh pada suasana hati
Bahasa Isi dan kualitas ucapan spontan
Menyebut benda-benda yg umum
Pengulangan kalimat
Kemampuan membaca dan menjelaskan pada majalah dll
Kemampuan menulis didekte
Pikiran Informasi dasar ( nama presiden 3 periode)
Pengetahuan kejadian2 terbaru
Orientasi tempat, orang dan waktu
Menghitung, menambah 2 angka, mengurangi
persepsi Menyalin gambar, menggambar, membuat peta, menunjuk
ke suatu arah, memperagakan
KEMAMPUAN BAHASA

Disfasia : gangguan perkembangan bahasa yang


tidak sesuai dengan perkembangan
kemampuannya.
Disfasia reseptif/ posterior: tdk mampu bahsa lisan
atau tertulis.

Disfasia ekspresif: klien tdk mengerti tpi mampu


menjawab dgn tepat dan lancar.

Disfasia nominal: tidak bisa menyebutkan nama


benda.
Disfasia kondusif: tidak dapat mengulangi kalimat
dan sulit menyebut nama benda, tapi dapat
mengikuti perintah.
Tanda Rangsang Meningeal
Kaku Kuduk (menekuk kepala ke dagu)
Tanda Brudzinski I
Stimulasi :
kepala pasien difleksikan sampai dagu
menyentuh dada
Respon :
fleksi bilateral di sendi lutut dan panggul
Gambar :
Tanda Burdzinski II

Stimulasi :

pengangkatan kaki secara lurus

Respon :

fleksi pada sendi lutut dan panggul pada


kaki kontralateral
Gambar :
Tanda Brudzinski III
Stimulasi :
penekanan pada kedua pipi atau tepat
dibawah os zigomatikus
Respon :
fleksi pada kedua tungkai pada sendi lutut
dan tungkai
Tanda Brudzinski IV

Stimulasi :

penekanan pada simphisis pubis

Respon :

fleksi pada kedua tungkai pada sendi lutut


dan tungkai
Tanda Kernig

Stimulasi :

memfleksikan salah satu tungkai di sendi


panggul kemudian tungkai diluruskan ke
atas

Respon :

fleksi di sendi panggul dan lutut pada


tungkai kontralateral
Gambar :
PEMERIKSAAN SYARAF KRANIAL
Tujuan : mengetahui integritas sistem persyarafan
yang meliputi fungsi syaraf kranial, fungsi
sensorik, motorik dan reflek.
Persiapan alat :
o Sudip lidah

o Botol air panas dan dingin

 Garpu tala

 Bahan bacaan

 Botol kecil berisi aroma

 Jarum

 Senter

 Reflek hammer

 Kapas
Terdapat 12 pemeriksaan :
1. Uji nervus I olfaktorius ( pembau)
Dengan menggunakan bau-bauan ( minyak kayu
putih, alkohol), dengan cara : anjurkan klien
menutup mata dan uji satu persatu lubang
hidung klien dan anjurkan klien untuk
membedakan bau-bauan tersebut.
 Normal : klien mampu membedakan aroma.
 Abnormal : kehilangan kemampuan
membedakan aroma : anosmia ( tidak dapat
membau) atau parosmia ( kemampuan membau
secara partial yaitu penciuman tidak sesuai dgn
yg sebenarnya ).
2. Uji nervus II opticus ( penglihatan)
 Pemeriksaan tajam penglihatan, luas lapang
pandang dan ts konfrontasi, dan pemeriksaan
funduskopi dgn oftalmoskop.
 Nilai normal : visus normal, lapang pandang
normal, mampu melihat jari-jari yg bergerak
pada jarak yang sama dgn pemeriksa dan
keadaan lensa, retina dan iris tidak ada
kelainan.
3. Uji nervus III oculomotorius , IV toklearis dan
VI abdusen :
 Diperiksa bersam-sama karena sama-sama
mengatur otot-otot ekstraokuler.
 Pemeriksaan :tatap mata klien dan anjurkan
klien menggerakkan mata dari dalam ke luar.
Observasin kelopak mata, gerakan bola mata,
bentuk pupil dan dengan lampu senter uji reaksi
pupil dengan memberi rangsangan sinar.
 Hasil abnormal :
Miosis : pupil menyempit ( dalam keadaan tidur, koma,
peningkatan TIK, lesi lobus frontalis, pecandu
narkotika).
Medriasis : pupil melebar ( pada nyeri, ketakutan,
cemas, trauma kapitis ).
Anisokor lebih dari 1 mm.
Nistagmus : gerakan bola mata yang cepat akibat lesi di
serebellum.
Strabismus atau diplopia.
4. Nervus V trigeminus ( sensasi kulit wajah)
- Cabang dari optalmikus dengan cara : anjurkan
klien melihat ke atas, dgn menggunakan kapas
halus sentuhkan kornea samping untuk melihat
reflek kornea ( perhatikan reflek kedip) dan
sensasi kulit wajah gunakan kapas usapkan
pada dahi dan paranasalis klien.
- Pemeriksaan reflek masester : klien diminta
membuka mulut dan bersuara “aaaa”, pemeriksa
menempatkan jari telunjuk tangan kiri di garis
tengah dagu klien dgn palu reflek mengetukan
pda jari telunjuk pemeriksa.
- Normalnya klien menutupkan mulut tiba-tiba.
- Pemeriksaan dgn menggigit kuat kuat.
5. Uji nervus VII facialis dgn cara : anjurkan klien
untuk merengut, menggembungkan pipi, dan
menaikkan dan menurunkan alis mata lihat
adanya kesimetrisan.
- Menguji indra pengecap : manis, asin asam,pahit.
6. Nervus VIII auditorius/AKUSTIKUS : kaji
kemampuan klien mendengarkan kata-kata yang
diucapkan. Kalau perlu gunakan garpu tala. Tes
rinne, weber, schwabach.
7. Nervus IX glosoparingeal dan X nervus vagus:
untuk menguji gerakan lidah, menelan, sensasi
farings dan laring, dan gerakan pita suara.
Anjurkan klien untuk mengatakan “ah”
observasi palatum dan gerakan faring. Reflek
muntah.
 8. nervus aksesoris : gerakan kepala dan bahu.
Anjurkan klien menggeleng dan menoleh kekiri
kanan, dan anjurkan mengangkat bahu dan beri
tekanan pada bahu untuk mengetahui kekuatannya.
 9. nervus hypoglosal/ hipoglosum : minta klien
untuk menjulurkan lidah ke garis tengah dan
menggerakkannya ke samping ke samping.
PEMERIKSAAN SARAF SENSORI
1. Klien menutup mata.
2. Memberikan rangsangan secara acak :
- Nyeri superfisial : rangsangan untuk
membedakan sensasi tumpul dan tajam (
mendeteksi rasa baal dan peningkatan
kepekaan pasien) dengan ujunng dan pangkal
jarum.
- Suhu : sentuh kulit dengan botol berisi air
panas dan berisi air dingin, minta pasien untuk
membedakan sensasi tersebut dan area sensasi.
- Sensasi taktil: sentuh lembut dgn kapas pd
masing masing sisi tubuh.
- Vibrasi : menggetarka batang garputala di area
sendi, distal jari tangan, ibu jari kaki, siku dan
pergelangan tangan, minta klien untuk
mengatakan area yang dirasakan.

- Stereognosis : beri benda ( koin atau staples)


pada klien, biarkan memegang beberapa detik
dan klien di minta untuk mengidentifikasi benda
tersebut.
TES FUNGSI REFLEK
 Merupakan respon motorik involunter yang
timbul karena rangsangan sensorik. Terdapat 2
reflek :
1. Fisiologis
2. patologis
REFLEK FISIOLOGIS :

Refleks Periosteum Triceps

Sikap :

lengan bawah difleksikan di sendi siku dan tangan


sedikit dipronasikan

Stimulasi :

ketukan pada tendon otot triseps

Respon :

ekstensi lengan bawah sendi siku


Gambar triceps :
Refleks Tendon Biceps

Sikap :
lengan setengah duduk di sendi siku

Stimulasi :

ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan


pada tendon otot biceps

Respon normal :

fleksi lengan di siku


Gambar
biseps:
Refleks Pektoralis

Sikap :

pasien berbaring terlentang dengan kedua lengan


lurus disamping badan

Stimulasi :

ketukan pada jari si pemeriksa yang ditempatkan pada


tepi lateral otot pektoralis

Respon normal:

kontraksi m. pektoralis
Gambar reflek pektoralis :
Refleks Tendon Achilles

Sikap :

tungkai ditekuk di sendi lutut dan kaki didorsofleksikan

Stimulasi :

ketukan pada tendon achilles

Respon :

plantarfleksi kaki
Gambar rerflek achiles:
Refleks Cremaster

Stimulasi :

penggoresan pada kulit paha bagian


medial

Respon :

elevasi testis ipsilateral


Gambar reflek cremaster:
Reflek Tendon Lutut/ patella
Sikap :
pasien duduk dengan kedua kakinya digantung
Stimulasi :
ketukan pada tendon patela
Respon:
ekstensi pada tungkai bawah
Gambar reflek pattela :
2. Refleks Patologis :
Refleks Tromner

Sikap :
tangan pasien dan tangan si pemeriksa
seperti pada gambar

Stimulasi :
mencolek-colek ujung jari tengah

Respon :
jari telunjuk, terutama ibu jari dan jari-jari
lainnya fleksi
Gambar reflek tromner :
Refleks Hoffman

Sikap :

tangan pasien dan tangan pemeriksa seperti pada


gambar

Stimulasi :

tekanan pada kuku jari tengah pasien dengan ujung kuku


ibu jari pemeriksa

Respon :

ibu jari, jari telunjuk serta jari-jari lainnya fleksi


Gambar reflek hoffman :
Refleks Plantaris Babinski

Stimulasi :

penggoresan telapak kaki bagian lateral dari


tumit ke bawah jari-jari

Respon :

ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan


(abduksi) jari-jari kaki
Gambar reflek plantaris babinski:
Refleks Chaddock

Stimulasi :

penggoresan pada kulit dorsum pedis bagian


lateral

Respon :

ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan


(abduksi) jari-jari kaki
Gambar reflek chaddock :
Refleks Oppenheim

Stimulasi :

pengurutan dari proksimal ke distal secara kleras


dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan pada kulit
di os tibia

Respon :

ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan


(abduksi) jari-jari kaki
Gambar reflek oppenheim:
Respon Gordon

Stimulasi :

memencet betis secara keras

Respon :

ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan


(abduksi)
jari-jari kaki
Gambar reflek gordon :
Refleks Rossolimo

Stimulasi :

rangsang sentuhan atau goresan pada


seluruh
telapak kaki

Respon :

ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan


(abduksi) jari-jari kaki
Gambar reflek rossolimo:
Refleks Gonda

Stimulasi :

penekukan (plantar fleksi) maksimal dari jari


kaki
keempat

Respon :

ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan


(abduksi) jari-jari kaki
Gambar reflek gonda:
PEMERIKSAAN TIK
 Peningkatan tekanan intrakranial dapat
merupakan dampak lesi massa fokal atau suatu
proses difus.
 Perhatikan dan observasi tanda peningkatan
TIK : nyeri kepala, mual dan muntah, letargi,
diplopia, penglihatan kabur sementara dan
papiledema.
 Observasi lagi jika semakin meningkat bisa
terjadi bradikardi, peningkatan sistole dan
penurunan diastole dan pernafasan melambat.
Pada pemeriksaan TIK yang harus dikaji meliputi :
1. Perubahan kesadaran : dimana penurunan kesadaran
dapat merupakan tanda dini herniasi otak yang
mengakibatkan eningkatan TIK.
2. Perubahan pupil : bila terjadi herniasi otak nervus III
akan terjepit dan reaksi pupil terhadap rangsangan
cahaya menjadi lambat dan bahkan hilang dan pupil
membesar/ dilatasi.
3. Gangguan penglihatan : bila terjadi herniasi
otak akan terjadi perubahan/ gangguan nervus II
sehingga akan dijumpai diplopia/ penglihatan
ganda.
4. Perubahan TTV : peningkatan TIK pada fase
awal nadi lambat, hipertermi dan TD sedikit
meningkat. Fase lanjut nadi cepat tidak teratur
dan TD menurun.
5. Kekuatan otot
 0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot,
lumpuh total.
 1 : Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak
didapatkan gerakan pada persendiaan yang
harus digerakkan oleh otot tersebut.
 2 : Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak
mampu melawan gaya berat (gravitasi).
 3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya
berat.
 4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia
dapat pula mengatasi sedikit tahanan yang
diberikan.
 5 : Tidak ada kelumpuhan (normal)
PEMERIKSAAN MOTORIK
1. Gaya berjalan.
2. Kelumpuhan anggota badan
3. Gerakan volunter : fleksi dan ekstensi anggota
gerak.
4. Palpasi otot (Pengukuran besar otot, Nyeri
tekan, kontraktur, konsistensi ( meningkat pada
meningitis, kontraktur otot, kelumpuhan
UMN/ekstrapiramidal. Menurun pada kasus
kelumpuhan LMN).
TES KOORDINASI
 Bicara : berbicara spontan, pemahaman,
mengulang, menamai.
 Percobaan apraksia : ketidakmampuan dalam
melakukan tindakan yang terampil : mengancing
baju, menyisir rambut, dan mengikat tali sepatu.
 Tes telunjuk : pasien merentangkan kedua
lengannya ke samping sambil menutup mata.
Lalu mempertemukan jari-jarinya di tengah
badan.
 Tes telunjuk-hidung : pasien menunjuk telunjuk
pemeriksa, lalu menunjuk hidungnya.
 Disdiadokokinesis : kemampuan melakukan
gerakan yang bergantian secara cepat dan
teratur.
 Tes tumit-lutut : pasien berbaring dan kedua
tungkai diluruskan, lalu pasien menempatkan
tumit pada lutut kaki yang lain/kontralateral
 Tes Romberg : pasien diminta untuk berdiri
dengan kedua tungkai rapat atau saling
menempel. Kemudian pasien disuruh untuk
menutup matanya. Pemeriksa harus berada di
dekat pasien untuk mengawasi bila pasien tiba –
tiba terjatuh. Hasil romberg positif bila pasien
terjatuh.
TERIMAKASIH