Anda di halaman 1dari 38

 Santri Adzti 110 213 0002

 Nusrini Rahma Nasir 110 213 0014


 Irma Rahmayani 110 213 0027
 Titin Suhartina 110 213 0039
 Syamsiah Syamsuddin 110 213 0051
 Zulfa Madfuzah 110 213 0063
 Ghea Anisah 110 213 0075
 Rahmawati, S 110 213 0087
 Sitti Shahrina T A 110 213 0099
 Syahnaz Mardiah Alkatiri 110 213 0111
 Andy Billa Vini Fauziah 110 213 0123
 Azkiah Wahidah 110 213 0135
 Nabila Alamudi 110 213 0147
 Faathi Maruf C 110 213 0159
Secara harfiah Terminologi islam Sinonim sunnah
• "berbicara", • melaporkan, • segala perkataan,
"perkataan" atau mencatat sebuah perbuatan,
"percakapan" pernyataan dan ketetapan maupun
tingkah laku dari persetujuan
Nabi Muhammad dari Nabi
SAW. Muhammad
SAW yang
dijadikan
ketetapan
ataupun hukum.
Hadits Hadits
Hadits Dhoif
Shohih Hasan
• hadits yang • hadits yang • hadits yang
cukup sanadnya tidak
sanadnya dari bersambung, memenuhi
awal sampai diriwayatkan syarat shohih
akhir dan oleh perawi dan hasan.
oleh orang- yang adil,
orang yang namun tidak
sempurna sempurna
hafalannya. hafalannya.
• hadits yang shohih dengan sendirinya tanpa diperkuat
dengan keterangan lainnya
Shohih • Contohnya adalah sabda Nabi Muhammad saw.,
lizatihi "Tangan di atas (yang memberi) lebih baik dari
tangan di baivah (yang menerima). " (HR. Bukhori
dan Muslim)

• yakni hadits yang keshohihannya diperkuat dengan


keterangan lainnya
Shohih • . Contohnya sabda Nabi Muhammad saw., "Kalau
lighoirihi sekiranya tidak terlalu menyusahkan umatku untuk
mengerjakannya, maka aku perintahkan bersiwak
(gosok gigi) setiap akan sholat' (HR. Hasan)

Dilihat dari sanadnya, semata-mata hadits Hasan Lizatihi, namun


karena dikuatkan dengan riwayat Bukhori, maka jadilah ia shohih
lighoirihi.
Hasan Hasan
Lizatihi Lighoirihi hadits yang
hadits yang derajat hasannya
dengan dibantu dengan
sendirinya keterangan
dikatakan hasan. lainnya.
Hadits ini ada
yang sampai
Contoh sabda
ke tingkat
Nabi Muhammad
lighoirihi
saw., "Sembelihan
bagi bayi hezvan
yang berada
dalam perut
ibunya, cukuplah
dengan
sembelihan
ibunya saja(HR.
Tirmidzi, Hakim,
dan Darimi)
hadits mursal, yaitu hadits yang diriwayatkan
oleh tab’in dengan menyebutkan ia
menerimanya langsung dari Nabi Muhammad
saw, padahal tab’in (generasi setelah sahabat)
tidaklah mungkin bertemu dengannya
Hadits munqothk yaitu hadits yang salah
seorang rawinya gugur (tidak disebutkan
namanya) tidak saja pada sahabat, namun bisa
terjadi pada rawi yang di tengah atau di akhir;
Hadits al-imf adhdhol, yaitu hadits yang dua orang
atau lebih dari perawinya setelah sahabat secara
berurutan tidak disebutkan dalam rangkaian sanad;
Hadits mudallas, yaitu hadits yang rawinya
meriwayatkan hadits tersebut dari orang yang sezaman
dengannya, tetapi tidak menerimanya secara langsung
dari yang bersangkutan;
Hadits mu'allal, yaitu hadits yang kelihatannya
selamat tetapi sesungguhnya memiliki cacat yang
tersembunyi, baik pada sanad maupun pada matannya.
Pada dasarnya hadits Nabi SAW adalah sejalan dengan Al-
Qu’ran, karena keduanya bersumber dari wahyu. Menurut
Al-Syathibi, tidak ada satu pun permasalahan yang
dibicarakan oleh hadits kecuali maknanya telah ditunjukkan
oleh Al-Qu’ran, baik secara umum (ijmali) atau secara
trperinci (tafshili), dalam firman Allah surat AL-Qalam ayat 4
telah menjelaskan tentang kepribadian Rasul SAW sebagai
berikut:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi
pekerti yang agung.”
Dalam menafsirkan ayat diatas, ‘A’isyah r. a.
Mengatakan
“Sesungguhnya ahklaknya (Nabi SAW) adalah Al-
Qur’an.”
Atas dasar itu, menurut Al-Syathibi, dapat
disimpulkan bahwa seluruh perkataan, dan taqrir
Rasul SAW adalah merujuk dan bersumber dari Al-
Qur’an .
Meskipun demikian , sebahagian besar hadits
adalah lebih bersifat operasional , karena fungsi
utama hadits Nabi SAW adalah sebagai penjelas (Al-
bayan) terhadap Al-Qur’an .
Penjelasan atau bayan tersebut dalam pandangan
sekian banyak ulama beraneka ragam, diantaranya:

Abdul Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar,


dalam bukunya Al-Sunnah Fi Makanatiha Wa Fi
Tarikhiha menulis bahwa sunnah mempunyai fungsi
yang berhubungan dengan Al-Qur’an dan fungsi
sehubungan dengan pembinaan hukum syara’. Abdul
Halim Mahmud menegaskan bahwa, dalam kaitannya
dengan Al-Qur’an, ada dua fungsi Al-Sunnah yang
tidak di perselisihkan, yaitu sebagai bayan Ta’kid dan
bayan Tafsir.
 Imam malik bin Annas, menyebutkan ada
lima macam fungsi hadits terhadap Al-
qur’an, yaitu: Bayan Al-Taqrir, Bayan Al-
Tafsir, Bayan Al-Tafshil, Bayan Al-Ba’ts,
Bayan Al-Tasyri’. Sedangkan imam Syafi’i
menyebutkan ada lima fungsi yaitu: Bayan
Al-Tafshil, Bayan At-Takhshish, Bayan Al-
Ta’yin, Bayan Al-Tasyri’, Bayan Al-Nasakh.
Contoh :

Yang dimaksud dengan “Apabila kalian melihat (ru’yah)


bulan, maka berpuasalah, juga
bayan ini adalah apabila melihat (ru’yah) itu maka
menetapkan dan berbukalah.” (HR. Muslim)
memperkuat apa yang
Hadist ini mentaqrirkan surah Al-
telah diterangkan dalam baqarah: 185
Al-qur’an. Fungsi hadis
dalam hal ini hanya Artinya: “..................... Karena itu,
barangsiapa di antara kamu hadir (di
memperkokoh isi negeri tempat tinggalnya) di bulan
kandungan Al-qur’an. itu, maka hendaklah ia berpuasa
pada bulan itu,...................” (QS. Al-
Baqarah:185)
1) Menjelaskan secara rinci
terhadap ayat Al-qur’an:
memberi penjelasan “Shalatlah sebagaimana engkau
secara rinci terhadap ayat- melihat aku shalat” (HR.
Bukhari)
ayat Al-qur’an yang masih
bersifat global (mujmal), Hadist ini menjelaskan
memberikan bagaimana mendirikan shalat.
batasan(taqyid) ayat-ayat Sebab dalam Al-qur’an tidak
menjelaskan secara rinci tentang
Al-qur’an yang bersifat pendirikan shalat. Salah satu
mutlak, dan ayat yang memerintahkan shalat
mengkhususkan(takhsish) adalah:
ayat-ayat Al-qur’an yang
“Dan dirikanlah shalat,
bersifat umum. tunaikanlah zakat dan ruku'lah
beserta orang-orang yang
ruku'.”(Al-Baqarah:43)
2) Memberi batasan Hadist ini menberi batasan
terhadap ayat Al- terhadap ayat:
qur’an:
“Laki-laki yang mencuri
dan perempuan yang
“Rasulullah SAW mencuri, potonglah tangan
didatangi seseorang keduanya (sebagai)
dengan membawa pembalasan bagi apa
pencuri, maka beliau yang mereka kerjakan dan
memotong tangan sebagai siksaan dari Allah.
pencuri dari Dan Allah Maha Perkasa
pergelangan tangan.” lagi Maha Bijaksana.” (QS.
Al-Maidah:38)
Hadis ini mengkhususkan
3) Mengkhususkan Ayat:
keumuman ayat Al-
“Allah mensyari'atkan
qur’an: bagimu tentang
(pembagian pusaka
“Kami kelompok para untuk) anak-anakmu.
nabi tidak Yaitu : bahagian seorang
meninggalkan harta anak lelaki sama dengan
waris, apa yang kami bagahian dua orang anak
tinggalkan adalah perempuan ..................”
(QS. An-Nisa’: 11)
sebagai sedekah.”
Dimaksud dengan bayan  Hadits bayan at-tasyri’ ini
at-tasyri’ adalah merupakan hadits yang
mewujudkan sesuatu diamalkan sebagaimana
hukum atau ajaran-ajaran dengan hadits-hadits
yang tidak didapati dalam lainnya. Ibnu Al-Qayyim
al-Qur’an. Bayan ini jugaa pernah berkata bahwa
disebut dengan bayan
zaid ‘ala Al-Kitab Al- hadits-hadits Rasulullah
Karim. hadits merupakan Saw itu yang berupa
sebagai ketentuan hukum tambahan setelah al-
dalam berbagai persoalan Qur’an merupakan
yang tidak ada dalam Al ketentuan hukum yang
Qur’an. patut ditaati dan tidak
boleh kitaa tolak sebagai
umat Islam.
Suatu contoh dari hadits dalam kelompok ini adalah
tentang hadits zakat fitrah yang berbunyi:

Artinya: “Rasulullah Saw telah mewajibkan zakat


fitrah kepada umat Islam pada bulam Ramadhan satu
sukat (sha’) Kurma atau gandum untuk setiap orang,
baik merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan.”

Hadits yang termasuk bayan Tasyri’ ini wajib


diamalkan sebagaimana dengan hadits-hadits yang
lainnya.
Kata An-Nasakh dari segi bahasa adalah
al-itbal (membatalkan), Al-ijalah
(menghilangkan), atau at-tahwil
(memindahkan).
 Menurut ulama mutaqoddimin
mengartikan bayan an-nasakh ini adalah
dalil syara’ yang dapat menghapuskan
ketentuan yang telah ada, karena datangnya
kemudian.
Imam Hanafi membatasi fungsi bayan ini
hanya terhadap hadits-hadits muawatir dan
masyhur saja. Sedangkan terhadap hadits
ahad ia menolaknya.
Salah satu contoh hadits yang biasa diajukan oleh
para ulama adalah hadits:

Artinya; “Tidak ada wasiat bagi ahli waris”.

Hadits ini menurut mereka me-nasakh isi Al-


Qur’an surat Al-Baqarah ayat 180:

Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang


di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut,
jika ia meninggalkan harta yang banyak,
berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya
secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-
orang yang bertakwa.”(QS:Al-Baqarah:180)
Seluruh umat Islam, telah sepakat bahwa
hadits merupakan salah satu sumber ajaran
Islam. Hadits menempati kedudukan ke2 setelah
Al-Qur`an. Keharusan mengikuti hadits bagi
umat Islam baik yang berupa perintah maupun
larangannya, sama halnya dengan kewajiban
mengikuti Al-Qur`an.
Hal ini karena, hadits merupakan mubayyin
bagi Al-Qur`an, yang karenanya siapapun yang
tidak bisa memahami Al-Qur`an tanpa dengan
memahami dan menguasai hadits. Begitu pula
halnya menggunakan Hadist tanpa Al-Qur`an.
Karena Al-qur`an merupakan dasar hukum
pertama, yang di dalamnya berisi garis besar
syari`at.
Dengan demikian, antara Hadits dengan
Al-Qur`an memiliki kaitan erat, yang untuk
mengimami dan mengamalkannya tidak bisa
terpisahkan atau berjalan dengan sendiri
Keberlakuan hadits sebagai
sumber hukum diperkuat pula dengan
kenyataan bahwa Al-Qur`an hanya
memberikan garis-garis besar dan
petunjuk umum yang memerlukan
penjelasan dan rincian lebih lanjut
untuk dapat dilaksanakan dalam
kehidupan manusia. Karena itu,
keabsahan hadits sebagai sumber
kedua secara logika dapat diterima.

Hadits merupakan sumber hukum


dalam Islam adalah firman Allah SWT
dalam Al-Qur’an Surah An- Nisa’: 80

‫ل َف َق ْد‬
َ ‫سو‬ُ ‫طعِ ال َّر‬ ِ ‫َن ُي‬
ْ ‫م‬
)80( … ‫َّللا‬َ َّ ‫ع‬ َ ‫أَطَا‬
Artinya: “Barangsiapa yang mentaati
Rasul, maka
sesungguhnya dia telah mentaati
Sejak masa sahabat sampai hari ini para
ulama telah bersepakat dalam penetapan
hukum didasarkan juga kepada Hadits Nabi,
terutama yang berkaitan dengan petunjuk
operasional.
Dalam ayat lain Allah berfirman QS. Al-Hasyr : 7

‫م َع ْن ُه‬ ُ ‫خ ُذو ُه َومَا نَه‬


ْ ‫َاك‬ ُ ‫ول َف‬
ُ ‫س‬ُ ‫م ال َّر‬ ُ َ‫َومَا آَت‬
ُ ‫اك‬
‫َفا ْنت َُهوا‬
Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah
dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…”

Dalam Q.S An-Nisa’ 59, Allah berfirman :


ُ َ ُ َّ
‫ل وَأولِي‬‫طي ُعوا الرسو‬ ِ َ‫َّللا وَأ‬
َ َّ ‫طي ُعوا‬ِ َ‫يَا أَيُّهَا ال َّ ِذينَ آَ َم ُنوا أ‬
ِ َّ ‫ي ٍء َف ُر ُّدو ُه إِلَى‬
‫َّللا‬ ْ ‫ش‬ َ ‫م فِي‬ ْ ‫اْلَ ْم ِر ِم ْن ُك‬
ْ ‫م َف ِإ ْن تَنَاز َْع ُت‬ ْ
…‫ل‬ ِ ‫سو‬ ُ ‫وَال َّر‬
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, maka kembali kanlah ia kepada Allah (Al-
Quran) dan Rasul (sunnahnya)…”
Dari beberapa ayat di atas dapat
disimpulkan bahwa seseorang tidak cukup
hanya berpedoman pada Al-Qur’an dalam
melaksanakan ajaran Islam, tapi juga wajib
berpedoman kepada Hadits Rasulullah Saw.
 Secara garis besar Hadist berperan untuk
memperkuat hukum-hukum yang telah
ditentukan oleh Al-Quran, sehingga
keduanya (AL-Quran dan Hadist) menjadi
sumber hukum untuk hal yang sama
 Namun dari pada itu untuk lebih
memperinci bagaimana peranan Hadist itu
sebagai salah satu sumber hukum yang
mengatur segala aspek kehidupan
manusia di samping Al-Quran dan sebagai
penguat dari Al-Quran, diantaranya :
1. Memberikan penjelasan dan perincian
terhadap ayat-ayat suci Al-Quran yang
masih bersifat umum.
Misalnya ialah ayat suci Al-Quran yang
memerintahkan untuk shalat, membayar
zakat, dan menunaikan ibadah haji,
semuanya itu bersifat garis besar. Tidak
dijelaskan jumlah rakaat dan bagaimana
cara melaksanakan shalat, tidak merinci
batas mulai wajib zakat, serta tidak
memaparkan cara-cara melaksanakan haji.
Namun semua itu dijelaskan di dalam Hadist
Nabi.
Contoh
* Al-Quran surat An-Nisa ayat 77 dan Al-Baqarah ayat 183
“…Dan dirikanlah Shalat dan bayarlah zakat…”. (QS. An-
Nisa:77)
“ Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah:183)
*Sabda Rasulullah SAW:
“Tanya malaikat Jibril, “Hai Muhammad, terangkan
kepadaku tentang Islam”.Muhammad menjawab, “ Islam itu
ialah persaksianmu bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
Muhammad itu pesuruh Allah, tindakanmu mendirikan
shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan
pergi haji ke Baitullah bila kamu mampu melaksanakan
perjalanan ke tempat itu”. (HR.Muslim).
2. Menetapkan hukum atau aturan-aturan yang
tidak didapati di dalam Al-Quran.
Misalnya cara mensucikan bejana yang dijilat
Anjing, dengan membasuhnya tujuh kali, salah
satunya dicampur dengan tanah, sebagaimana
sabda Rasulullah SAW:
“Menyucikan bejanamu yang dijilat anjing adlah
dengan cara membasuh sebanyak tujuh kali salah
satunya dicampur dengan tanah” (HR Muslim,
Ahmad, Abu Daud, dan Baihaqi).
Contoh lain dari Hadist nabi yang tidak menjelaskan
isi Al-Quran tetapi berdiri sendiri untuk menjelaskan
dan mengatur aspek kehidupan manusia adalah
diwajibkannya oleh Nabi Muhammad SAW adanya
saksi-saksi dalam suatu pernikahan.
3. Memberi pembatasan bagi ayat-ayat yang mutlak.
Misalnya, ayat mengenai pemotongan tangan
bagi pencuri laki-laki dan perempuan. Kemudian
Rasulullah memberikan nisab atau minimal
pencurian dan syarat-syarat pemotongan, sehingga
aturan untuk masalah itu dapat terkontrol dengan
baik, tidak sewenang-wenang.
4. Memberikan keterangan atas ayat-ayat suci Al-
Quran yang Mujmal atau yang belum terang.
Misalnya:
“Dirikanlah Shalat. Sesungguhnya Shalat itu bagi
orang-orang mukmin adalah kewajiban yang
sudah ditentukan waktunya” (QS. An-Nisa:103).
Kemudian Rasulullah akan menjelaskan atau
menerangkan waktu-waktu shalat, jumlah rakaat,
syarat-syarat, dan rukun-rukunnya dengan
mempraktekkan shalat, lalu setelah itu beliau
berkata:
“ Bersembahyanglah kamu seperti yang kamu lihat
bagaimana aku mengerjakan sembahyang
(shalat).“ (HR.Bukhari).