Anda di halaman 1dari 37

KEDARURATAN PSIKIATRY

KARTIKA R.L SAMAPATI, S.Ked


• Kedaruratan psikiatri merupakan cabang Ilmu
Kedokteran jiwa dan Kedokteran Kedaruratan, yang
dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang
memerlukan intervensi psikiatri.
• Kasus kedaruratan psikiatri meliputi gangguan pikiran,
perasaan dan perilaku yang memerlukan intervensi
terpeutik segera, antara lain : kondisi gaduh gelisah,
dampak tindakan kekerasan, suicide (tindakan bunuh
diri), gejala ekstrapiramidal akibat penggunaan obat,
delirium.
• Tempat pelayanan kedaruratan psikiatri yaitu RSU, RSJ,
Klinik dan sentra primer.
• Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan
tempat pelayanan kedaruratan psikiatri yaitu :
1. Keamanan
2. Pemisahanan ruang secara spesifik
3. Akses langsung dan mudah
4. Obat-obat psikofarma harus lengkap
5. Tim yang bertugas harus mempunyai kepakaran yang
spesifik dan bertindak segera pada saat yang tepat
6. Seluruh staf harus mengerti dengan keadaan pasien
7. Sikap, perilaku staf dan pasien, harus dijaga dan
dipahami
• Tujuan utama dalam melakukan kedaruratan
psikiatri adalah menilai kondisi pasien yang
sedang dalam krisis secara cepat dan tepat.
• Dalam proses evaluasi, dilakukan :
- Wawancara kedaruratan psikiatri
- Pemeriksaan fisik
• 5 hal yang harus ditentukan sebelum
menangani pasien selanjutnya :
- Keamanan pasien
- Medik atau psikiatrik
- Psikosis
- Suicidal (bunuh diri) atau homicidal
(pembunuhan)
- Kemampuan merawat diri sendiri
• Indikasi rawat inap adalah :
1. Bila pasien membahayakan diri sendiri atau
orang lain
2. Bila perawatan dirumah tidak memadai
3. Perlu observasi lebih lanjut
Beberapa keadaan yang sering
dihadapi dokter difasilitas gawat-
darurat psikiatri

1. Tindak kekerasan (violence)


adalah agresi fisik yang dilakukan seseorang
terhadap orang lain.
Jika hal itu diarahkan kedirinya sendiri
disebut disebut mutilasi diri atau tindakan
bunuh diri.
Gangguan psikiatri yang sering
berkaitan dengan tindak kekerasan
adalah
• Gg. Psikotik, seperti skiofrenia dan manik, terutama bila
penderita paranoid dan mengalami halusinasi yang bersifat
suruhan
• Intoksikasi alkohol atau zat lain
• Gejala putus zat akibat alkohol atau obat2 hipnotik-sedatif
• Katatonik furor
• Depresi agitatif
• Gg. Keperibadian yang ditandai dengan kemarahan dan
gangguan pengendalian impuls (misalnya gg.kepribadian
ambang dan anti sosial)
• GG. Mental organik
Faktor resiko
• Adanya pernyataan seseorang bahwa ia berniat
melakukan tindak kekerasan
• Adanya rencana spesifik
• Adanya kesempatan atau suatu cara untuk
terjadinya kekerasan
• Laki-laki
• Usia muda (15-24 tahun)
• Status ekonomi rendah
• Sistem dukungan sosial yang buruk
Lanjutan..
• Adanya riwayat melakukan tindak kekerasan
• Tindakan anti sosial lainnya
• Pengendalian impuls yang buruk
• Riwayat percobaan bunuh diri
• Adanya stresor yang baru saja terjadi
• Riwayat tindak kekerasan
Faktor tambahan lain
• Adanya riwayat bahwa yang bersangkutan
pernah menjadi korban kekerasan
• Mempunyai catatan kriminal
• Pernah berdinas militer/polisi
• Mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan
• Riwayat tindak kekerasan dalam keluarga
Evaluasi dan Penatalaksanaan
1. Lindungi diri anda
• Jangan pernah mewawancarai pasien yang bersenjata
• Jangan pernah mewawancarai pasien yang bersifat
bringas seorang diri atau didalam ruang tertutup
• Jangan melakukan pengikatan pasien sendiri
• Jangan biarkan pasien mempunyai akses terhadap
ruangan yang berisi barang2 yang dapat dijadikan
senjata
• jangan duduk disamping pasien paranoid
• duduklah dengan jarak paling tidak sepanjang lengan
• Waspada terhadap tanda-tanda munculnya kekerasan
2. Waspada terhadap tanda-tanda munculnya
kekerasan, antara lain :
• Adanya kekerasan terhadap orang atau benda yag
terjadi belum lama ini, gigi yang dikatupkan dan
tangan yang dikepalkan
• Ancaman verbal
• Benda-benda yang dapat digunakan sebagai
senjata (garpu, asbak)
• Agitasi psikomotor (merupakan indikaor kuat)
• Intoksikasi alkohol atau obat atau zat lain
• Waham kejar
• Halusinasi yang menyuruh
3. Pastikan bahwa terdapat jumlah staf yang cukup
untuk mengikat pasien secara aman
4. Pengikatan pasien hanya mereka yang sudah
terlatih
5. Lakukan evaluasi diagnostik yang tepat (nda vital,
pem.fisik, dan wawancara psikiatri)
6. Eksplorasi kemungkinan dilakukan intervensi
psikososial untuk mengurangi tindakan kekerasan
7. Mungkin pasien perlu dirawat untuk
mencegahnya melakukan tindak kekerasan
8. Libatkan polisi atau aparat hukum jika kasus
tersebut tidak sesuai dengan penganan psikiatri
Calon korban harus diperingatkan
Terapi psikofarma
• Flufenazin, trifluoperazin atau haloperidol
diberikaan 5 mg per-oral atau IM
• Olanzapine 2,5-10 mg per IM, maksimal 4
injeksi sehari dengan dosis rata2 perhari 13-14
mg
• Atau lorazepam 2 mg, diazepam 5-10 mg per
IV secara perlahan ( dalam 2 menit)
2. Bunuh Diri
• Adalah kematian yang diniatkan yang dilakukan
seseorang terhadap dirinya sendiri
• Resiko tinggi terjadinya tindak bunuh diri (Penelitian di
AS) :
- laki-laki
- Usia makin tua
- Isolasi sosial/hidup seorang diri
- Riwayat bunuh diri atau percobaan bunuh diri dalam
keluarga
- Riwayat menderita sakit atau nyeri kronik
- Baru menjalani operasi
- Tidak mempunyai pekerjaan
Terapi Psikofarmaka
• Gol. Benzodiasepin, misalnya Lorazepam 3 x 1
mg/hari selama 2 minggu
3. Sindroma Neuroleptik Maligna
• Adalah suatu sindrom toksik yang berhubungan dengan
penggunaan obat antipsikotik
• GK :
- Demam tinggi (dapat mencapai 41,5°C)
- Kekakuan otot
- Instabilitas otonomik (takikardi, TD yang labil, keringat
berlebihan)
- Gangguan kesadaran
• Umumnya terjadi dalam 10 hari pertama pengobatan
anntipsikotik dan pada pasien yang menggunakan
antipsikotik dosis tinggi atau dosis yg meningkat cepat
• Faktor resiko : Dehidrasi, Usia muda (20-40
tahun), Laki-laki, Malnutrisi
• Pasien sering datang karena keadaan yang
disebabkan oleh efek samping obat2
antipsikosis seperti parkinson, distonia akut,
akatisia, diskinesia tardif
Terapi Psikofarmaka

• Amantadine 200-400 mg PO/ hari dalam dosis


terbagi
• Bromocriptine 2, mg PO 2 atau 3 kali/hari, dapat
dinaikkan samapai 45 mg/hari
• Levodopa 50-100 mg/hari IV dalam infus terus
menerus
• Dantrolene 1 mg/kg/hari IV selama 8 hari,
kemudian dilanjutkan PO selama 7 hari setelah
itu
• Benzodiazepines atau Ect dapat diberikan apabila
obat-obatan lain tidak berhasil
4. Delirium
GK :
• Prodromal (lelah, cemas, iritable, gg. Tidur)
• Gg. Kesadaran
• Kewaspadaan (hieraktifitas dan hipoaktifitas)
• Gg. Pemusatan perhatian
• Orientasi (ringan : waktu, berat : tempat dan orang)
• Bahasa dan kognitif
• Persepsi ( halusinasi audiovisual)
• Mood (marah, mengamuk, ketakutan yang tidak beralasan)
• Gg. Siklus tidur bangun
• Gejala neurologi (tremor, dll)
Terapi psikofarmako:

ada gangguan psikiatrik yang sebetulnya tidak


membahayakan nyawa pasien tetapi dirasakan
sangat menakutkan bagi pasien yaitu serangan
panik yang mirip serangan jantung, serta
gangguan konversi yang mirip gangguan
neurologik (kejang, pingsan, lumpuh, hilang
ingatan dan keluhan sensomotorik)
PSIKIATRY FORENSIK
• Merupakan sub-spesialisasi ilmu kedokteran
yang menelaah mental manusia dan berfungsi
membantu hukum dan peradilan.
Visum et Repertum (VER)
• Adalah hasil pemerikaan medis yang dilakukan
oleh seorang dokter atau sebuah tim dokter dan
ditujukan untuk kepentingan peradilan sebagai
saran pembuktian.
• Alat bukti yang sah :
- Pengakuan terdakwa
- Keterangan saksi/saksi ahli
- Alat bukti surat
- Alat bukti petunjuk
- Alat bukti terdakwa
• VER dibuat oleh dokter yang mempunyai hak
untuk menerbitkan yaitu dokter yang
mempunyai wewenang atau ijin yang
berpraktek diwilayah Indonesia
• VER untuk bidang psikiatri adalah visum et
repertum psikiatri
Posisi Dokter
• Posisi medis:
Hubungan dokter dengan orang yang
diperiksa merupakan hubungan dokter-
pasien. Hubungan dokter-pasien ini
terikat oleh etika profesi. Pasien adalah
orang bebas, tidak mempunyai status
hukum tertentu dan ikatannya dengan
dokter berdasarkan saling percaya.
Lanj..
• Posisi legal:
Dokter mendapatkan posisi legal melalui
surat dari lembaga hukum (yaitu
Pengadilan, Kejaksaan, dan Polisi) yang
meminta dokter untuk memeriksa
seseorang yang telah mempunyai status
hukum tertentu: terdakwa, saksi,
penggugat, dsb. Dokumen yang dihasilkan
merupakan dokumen hukum, yang
seharusnya disimpan oleh lembaga hukum
yang meminta
Saksi ahli adalah seseorang yang sebenarnya
tidak terlibat dalam satu perkara, tetapi
mempunyai ilmu yang dapat dipakai untuk
menganalisis perkara dan mengemukakan
kepada hakim sebagai bahan untuk
pengambilan keputusan.
Kesaksian ahli psikiatri akan dimintakan
apabila pada salah satu pihak yang
berperkara diduga terdapat gangguan
jiwa.
Pemeriksaan klinis pada pasien psikiatri
terdiri atas: wawancara psikiatri,
riwayat penyakit dan pemeriksaan status
mental.
Visum Et Repertum Psychiatricum
Keterangan ahli ada 2 jenis yaitu lisan yang
disampaikan saat sidang pengadilan dan
keterangan tulis yang disebut Visum Et
Repertum
Visum Et Repertum berisi panduan antara
fakta dan pendapat dokter terhadap fakta.
Visum Et Repertum untuk bidang psikiatri
disebut Visum Et Repertum Psychiatricum
Persyaratan pembuatan VERP
Surat permintaan pembuatan VERP dan
berita acara. Setelah memenuhi
persyaratan pasien dimasukkan dalam
ruang perawatan untuk diobservasi.
Pedoman pembuatan VERP dari
Direktorat Kesehatan Jiwa menyebutkan
jangka waktu observasi adalah 14 hari.
Bentuk Baku VER Psikiatri
• Visum et Repertum Psychiatricum Pro Justitia
• Identitas pemeriksa
• Identitas terperiksa
• Laporan hasil pemeriksaan
• Anamnesis
• Status Internistik
• Status neurologi
• Status psikiatri
• Pemeriksaan tambahan
• Diagnosis
• Kesimpulan
• Dalam menentukan kemampuan bertanggung
jawab seseorang (menjawab pertanyaan
dalam surat pembuatan VER psikiatri) kita
harus menetukan hal-hal berikut :
- Diagnosis : adanya gangguan jiwa pada saat
pemeriksaan
- Diagnosis : dugaan adanya gangguan jiwa
pada saat pelanggaran hukum
- Dugaan bahwa tindakan pelanggaran hukum
merupakan bagian atau gejala dari gangguan
jiwanya
Penentuan kemampuan tanggung
jawab :
• Tingkat kesadaran pada saat melakukan
pelanggaan hukum
• Kemampuan memahami nilai perbuatannya
• Kemampuan memahami nilai risiko
perbuatannya
• Kemampuan memilih dan mengarahkan
kemampuannya
Tingkat-tingkat kemampuan
bertanggung jawab, antara lain :
• Yang tidak mampu bertanggung jawab :
- Yang tidak menyadari
- Tidak memahami
- Tidak dapat memilih dan mengarahkan
kemauannya
• Yang menyadari, tetapi tidak memahami dan
tidak mampu memilih dan mengarahkan
kemauannya, seperti penderita psikosis
• Yang bertanggung jawab sebagian : yang
menyadari, memahami tetapi tidak mampu
memilih dan mengarahkan kemauannya
• Yang mampu bertanggung jawab penuh
Terima Kasih