Anda di halaman 1dari 52

TRAUMA PERSALINAN PADA BAYI

BARU LAHIR

Disusun oleh :
Muh. Fachreza pratama goma
1102130042
Pengertian trauma

 Trauma kelahiran adalah kelahiran pada bayi baru lahir


yang terjadi karena trauma kelainan akibat tindakan,
cara persalinan / gangguan yang diakibatkan oleh
kelainan fisiologik persalinan (Sarwono Prawirohardjo,
2001 :229)
 Trauma persalinan adalah kelainan bayi baru lahir yang
terjadi karena trauma lahir akibat tindakan, cara
persalinan atau gangguan persalinan yang diakibatkan
kelainan fisiologis persalinan.
Etiologi

Penyebab terjadinya trauma persalinan yaitu sebagai berikut:


1. Makrosomia (Berat bayi baru lahir lebih dari 4000 gram)
2. Mal presentasi (bagian terendah janin yang tidak sesuai)
3. Presentasi ganda (bagian terendah janin lebih dari 1 bagian)
4.  Disproporsi sephalo pelvik (ketidak sesuaian panggul dan kepala janin)
Kelahiran dan tindakan (proses persalinan yang tidak spontan tapi dengan
menggunakan alat)
5. Persalinan lama (persalinan yang lebih dari 24 jam)
6. Persalinan presipitatus (persalinan dimana gejala Kala I tidak dirasakan sakit dan
berakhir dengan lahirnya bayi)
7.  Bayi kurang bulan (bayi lahir dengan usia kehamilan 22 – 26 minggu)
8.  Distosia bahu (kemacetan bahu).
1. Caput succedaneum
Caput succedaneum adalah edema kulit kepala anak yang terjadi
karena tekanan dari jalan lahir kepada kepala anak. Atau
pembengkakan difus, kadang-kadang bersifat ekimotik atau
edematosa, pada jaringan lunak kulit kepala, yang mengenai bagian
kepala terbawah, yang terjadi pada kelahiran verteks. Karena
tekanan ini vena tertutup, tekanan dalam vena kapiler meninggi
hingga cairan masuk ke dalam jaringan longgar dibawah lingkaran
tekanan dan pada tempat yang terendah. Dan merupakan benjolan
yang difus kepala, dan melampaui sutura garis tengah.
 Caput succedaneum: Pembengkakan pada suatu tempat dan
kepala / adanya timbunan getah bening bawah lapisan
apenorose di luar periostium.
 Caput succedaneum ini ditemukan biasanya pada presentasi
kepala, sesuai dengan posisi bagian yang bersangkutan. Pada
bagian tersebut terjadi oedema sebagai akibat pengeluaran
serum dari pembuluh darah. Caput succedaneum tidak
memerlukan pengobatan khusus dan biasanya menghilang
setelah 2-5 hari. (Sarwono Prawiroharjo.2002)
Etiologi

 Banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya caput succedaneum pada


bayi baru lahir (Obstetri fisiologi,UNPAD, 1985, hal 254), yaitu :
 Persalinan lama

Dapat menyebabkan caput succedaneum karena terjadi tekanan pada jalan


lahir yang terlalu lama, menyebabkan pembuluh darah vena tertutup,
tekanan dalam vena kapiler meninggi hingga cairan masuk kedalam cairan
longgar dibawah lingkaran tekanan dan pada tempat yang terendah.
 Persalinan dengan ekstraksi vakum

Pada bayi yang dilahirkan vakum yang cukup berat, sering terlihat adanya
caput vakum sebagai edema sirkulasi berbatas dengan sebesar alat
penyedot vakum yang digunakan.
 His cukup kuat, makin kuat his, makin besar caput suksedaneum
Manifestasi Klinis

Menurut Nelson dalam Ilmu Kesehatan Anak (Richard E,


Behrman.dkk.2000), tanda dan gejala yang dapat ditemui pada anak
dengan caput succedaneum adalah sebagi berikut :
1. Adanya edema dikepala berwarna kemerahan
2. Pada perabaan teraba lembut dan lunak
3. Edema melampaui sela-sela tengkorak
4. Batas yang tidak jelas
5. Biasanya menghilang 2-3 hari tanpa pengobatan
Patofisiologi
Menurut Sarwono Prawiraharjo dalam Ilmu Kebidanan 2002, proses perjalanan
penyakit caput succedaneum adalah sebagi berikut :
 Pembengkakan yang terjadi pada kasus caput succadeneum merupakan

 pembengkakan difus jaringan otak, yang dapat melampaui sutura garis


tengah.
 Adanya edema dikepala terjadi akibat pembendungan sirkulasi kapiler

dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh. Benjolan biasanya ditemukan


didaerah presentasi lahir dan terletak periosteum hingga dapat melampaui
sutura.
Penatalaksanaan caput succedaneum :
penatalaksanaan secara umum yang bisa diberikan pada anak dengan Bayi dengan caput
succedaneum diberi ASI langsung dari ibu tanpa makanan tambahan apapun, maka dari itu perlu
diperhatikan penatalaksanaan pemberian
 ASI yang adekuat dan teratur.
 Bayi jangan sering diangkat karena dapat memperluas daerah edema kepala.

 Atur posisi tidur bayi tanpa menggunakan bantal

 Mencegah terjadinya infeksi dengan :

- Perawatan tali pusat


- Personal hygiene baik
 Berikan penyuluhan pada orang tua tentang :

- Perawatan bayi sehari-hari, bayi dirawat seperti perawatan bayi normal.


- Keadaan trauma pada bayi , agar tidak usah khawatir karena benjolan akan menghilang 2-3
hari
 Berikan lingkungan yang nyaman dan hangat pada bayi.

 Awasi keadaan umum bayi.


Komplikasi
2)  Ikterus
1) Infeksi Pada bayi yang terkena caput
succedanieum dapat
Infeksi pada caput succedaneum
menyebabkan ikterus karena
bisa terjadi karena kulit kepala
inkompatibilitas faktor Rh atau
terluka.
golongan darah A, B, O antara ibu
. dan bayi.

3) Anemia
Anemia bisa terjadi pada bayi
yang terkena caput succedanieum
karena pada benjolan terjadi
perdarahan yang hebat atau
perdarahan yang banyak
2. Sephal Hematom

Sefalo hematoma merupakan suatu perdarahan subperiostal tulang


tengkorak berbatas tegas pada tulang yang bersangkutan dan tidak
melewati sutura.
Sefalohematoma timbul pada persalinan dengan tindakan seperti
tarikan vakum atau cunam, bahkan dapat pula terjadi pada
kelahiran sungsang yang mengalami kesukaran melahirkan kepala
bayi. Akibatnya timbul timbunan darah di daerah subperiost yang
dari luar terlihat sebagian benjolan
Etiologi

Cephalhematoma dapat terjadi karena :


 Persalinan lama

 Persalinan yang lama dan sukar, dapat menyebab kan adanya tekanan

tulang pelvis ibu terhadap tulang kepala bayi, yang menyebabkan


robeknya pembuluh darah. 
 Tarikan vakum atau cunam

 Persalinan yang dibantu dengan vacum atau cunam yang kuat dapat

menyebabakan penumpukan darah akibat robeknya pembuluh darah


yang melintasi tulang kepala ke jaringan periosteum.
 Kelahiran sungsang yang mengalami kesukaran melahirkan kepala

bayi.
Gejala terjadinya Cephalhematoma

gejala terjadinya cephalhematom antara lain :


1. Adanya fluktuasi
2. Adanya benjolan, biasanya baru tampak jelas setelah 2 jam setelah bayi lahir
3. Adanya chepal hematoma timbul di daerah tulang parietal, berupa benjolan
timbunan kalsium dan sisa jaringan fibrosa yang masih teraba. Sebagian benjolan
keras sampai umur 1-2 tahun.
4. Kepala tampak bengkak dan berwarna merah.
5. Tampak benjolan dengan batas yang tegas dan tidak melampaui tulang tengkorak
6. Pada perabaan terasa mula – mula keras kemudian menjadi lunak.
7. Benjolan tampak jelas lebih kurang 6 – 8 jam setelah lahir
8. Benjolan membesar pada hari kedua atau ketiga
9. Benjolan akan menghilang dalam beberapa minggu.
Patofisiologi
Cephal hematoma terjadi akibat robeknya pembuluh darah yang
melintasi tulang kepala ke jaringan poriosteum. Robeknya
pembuluh darah ini dapat terjadi pada persalinan lama. Akibat
pembuluh darah ini, timbul timbunan darah di daerah subperiosteal
yang dari luar terlihat benjolan. Bagian kepala yang hematoma
bisanya berwarna merah akibat adanya penumpukan daerah yang
perdarahan sub periosteum.
Penanganan :
 Cephal hematoma umumnya tidak memerlukan perawatan khusus.
Biasanya akan mengalami resolusi khusus sendiri dalam 2-8 minggu
tergantung dari besar kecilnya benjolan. Namun apabila dicurigai
adanya fraktur, kelainan ini akan agak lama menghilang (1-3 bulan)
dibutuhkan penatalaksanaan khusus antara lain :
1. Menjaga kebersihan luka

2. Tidak boleh melakukan massase luka/benjolan Cephal hematoma

3. Pemberian vitamin K Bayi dengan Cephal hematoma tidak boleh


langsung disusui oleh ibunya karena Pergerakan dapat
mengganggu pembuluh darah yang mulai pulih.
Perbedaan Caput Succedaneum dan
Cephalhematoma
Caput Succedaneum Chepalhematoma
Muncul waktu lahir dan Muncul atau ada pada waktu
mengecil setelah lahir lahir atau sesudah lahir dan
dapat membesar setelah lahir
Lunak dan tidak berfluktuasi Lunak dan tidak berfluktuasi
Melewati batas sutura dan Batas tidak melampaui sutura
teraba moulase
Bisa hilang dalam beberapa Hilang lama (beberapa minggu
jam atau 2-5 hari atau bulan)
Berisi cairan getah bening Berisi darah
3. Perdarahan Intrakranial

a) Perdarahan subdural
Kelainan terjadi akibat tekanan mekanik pada tengkorak yang
dapat menimbulkan robekan falks cerebri atau tentorium
cerebelli, sehingga terjadi perdarahan.
b) Perdarahan subependimal dan intraventrikuler
Kejadian ini lebih sering disebabkan oleh hipoksia dan
biasanya terdapat pada bayi-bayi prematur.
c) Perdarahan subarakhnoidal
Perdarahan ini juga ditemukan pada bayi-bayi premmatur dan
mempunyai hubungan erat dengan hipoksia pada saat lahir.
Tindakan pada perdarahan intra kranial
kelainan yang
membawa trauma
harus dilakukan bayi dirawat dalam temperatur harus
harus dihindari dan
sectio caesaria incubator dikontrol
kalau ada
disproporsi

bayi jangan
kalau ada sekret dalam kalau perlu
terlampau banyak
indikasinya, vitamin tenggorokan diisap diberikan tambahan
digerakkan dan
K dapat diberikan keluar oksigen
dipegang

jika pengumpulan
kepala jangan
darah subdural
konvulsi direndahkan, karena
dicurigai, pungsi diberikan antibiotik
dikendalikan tindakan ini bisa
lumbal harus sebagai profilaktik.
dengan sedative menambah
dikerjakan untuk
perdarahan
mengurangi tekanan
4. Hemangioma
Tumor jinak vaskuler yang sering terjadi dan tampak pada
bulan-bulan pertama setelah kelahiran. Hemangioma merupakan
suatu proliferasi yang sifatnya jinak dari sel-sel endothelium
pembuluh darah yang lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak.
Hemangioma merupakan jenis kelainan pembuluh darah. Orang
mengenalnya sebagai tanda lahir atau birthmark.
4. Hemangioma
ETIOLOGI PATOFISIOLOGI
PATOFISIOLOGI
Hemangioma
Hemangiomaterjadi
terjadikarena
karenaadanya
adanya Ada
Adabeberapa
beberapahipotesis
hipotesisyang
yang
proliferasi
proliferasi(pertumbuhan
(pertumbuhanyangyang dikemukakan
dikemukakandiantaranya
diantaranyamenyatakan
menyatakan
berlebih) bahwa
bahwaproses
prosesini
inidiawali
diawalidengan
dengansuatu
berlebih)dari
daripembuluh
pembuluhdarah
darahyang
yang suatu
tidak proliferasi
proliferasidari
darisel-sel
sel-selendothelium
endothelium
tidaknormal,
normal,dan
danbisa
bisaterjadi
terjadi
disetiap yang
yangbelum
belumteratur
teraturdan
dandengan
dengan
disetiapjaringan
jaringanpembuluh
pembuluhdarah.
darah. perjalanan
Penyebab perjalananwaktu
waktumenjadi
menjaditeratur
teratur
Penyebabhemangioma
hemangiomasampai
sampaisaat
saat dengan
ini denganmembentuk
membentukpembuluh
pembuluhdarah
darah
inimasih
masihbelum
belumjelas.
jelas.Angiogenesis
Angiogenesis yang
sepertinya yangberbentuk
berbentuklobus
lobusdengan
denganlumen
lumen
sepertinyamemiliki
memilikiperanan
peranandalam
dalam yang
yangberisi
berisisel-sel
sel-seldarah.
darah.Hemangioma
Hemangioma
kelebihan
kelebihanpembuluh
pembuluhdarah.
darah. superficial
superficialdan
dandalam,
dalam,mengalami
mengalamifasefase
pertumbuhan
pertumbuhancepatcepatdimana
dimanaukuran
ukuran
dan
danvolume
volumebertambah
bertambahsecara
secaracepat.
cepat.
Klasifikasi Hemangioma

HEMANGIOMA KAPILER
HEMANGIOMA KAVERNOSUM
(HEMANGIOMA SIMPLEK).
 terjadi
terjadipada
padakulit
kulitbagian
bagianatas.
atas.Hemangioma
Hemangioma  Terjadi
Terjadipada
padakulit
kulityang
yanglebih
lebihdalam,
dalam,
kapiler
kapilerterdapat
terdapatpada
padawaktu
waktulahir
lahiratau
atau biasanya
biasanyapada
padabagian
bagiandermis
dermisdandansub
sub
beberapa
beberapahari
harisesudah
sesudahlahir.
lahir.Lebih
Lebihsering
sering cutis.
cutis.Lesi
Lesiini
initidak
tidakberbatas
berbatastegas,
tegas,dapat
dapat
terjadi
terjadipada
padabayi
bayipremature
prematuredan danakan
akan berupa
berupamacula
maculaerimatosa
erimatosaatau
ataunodus
nodusyang
yang
menghilang
menghilangdalam
dalambeberapa
beberapahari
hariatau
atau berwarna
berwarnamerah
merahsampai
sampaiungu.Bila
ungu.Bila
beberapa
beberapaminggu.
minggu. ditekan
ditekanakan
akanmengempis
mengempisdan dancepat
cepat
 Tampak
Tampaksebagai
sebagaibercak
bercakmerah
merahyang
yangmakin
makin mengembung
mengembunglagi lagiapabila
apabiladilepas.
dilepas.Lesi
Lesi
lama
lamamakin
makinbesar.
besar.Warnanya
Warnanyamenjadi
menjadi terdiri
terdiridari
darielemen
elemenvaskuler
vaskuleryang
yangmatang.
matang.
merah
merahmenyala,
menyala,tegang
tegangdan
danberbentuk
berbentuk Bentuk
Bentukkavernosum
kavernosumjarang
jarangmengadakan
mengadakan
lobular,berbatas
lobular,berbatastegas,
tegas,dan
dankeras
keraspada
pada involusi
involusispontan
spontan(Coheen,2004;
(Coheen,2004;
perabaan.
perabaan. Involusi
 Involusispontan
spontanditandai
ditandaioleh
oleh Anonim,2005).
Anonim,2005).Hemangioma
Hemangiomakavernosum
kavernosum
memucatnya
memucatnyawarnawarnadidaerah
didaerahsentral,
sentral,lesi
lesi kadang-kadang
kadang-kadangterdapat
terdapatpada
padalapisan
lapisan
menjadi
menjadikurang
kurangtegang
tegangdan
danlebih
lebihmendatar.
mendatar. jaringan
jaringanyang
yangdalam,
dalam,pada
padaotot
ototatau
atauorgan
organ
dalam
dalam(Hall.2005).
(Hall.2005).
Komplikasi
PERDARAHAN ULKUS Gangguan Masalah psikososial
Trombositopenia
penglihatan
Komplikasi ini paling Ulkus menimbulkan Jarang terjadi, biasanya Akan menimbulkan
rasa nyeri dan
Kebanyakan
sering terjadi pada hemangioma
meningkatkan resiko komplikasi yang kecemasan bagi
dibandingkan dengan yang berukuran besar.
komplikasi lainnya. infeksi, perdarahan, dan Dahulu dikira bahwa terjadi adalah orang tua terutama
sikatrik. Ulkus astigmatisma
Penyebabnya adalah trombositopenia jika hemangioma
merupakan hasil dari yang disebabkan
trauma dari luar atau disebabkan oleh limpa
nekrosis. Ulkus dapat muncul pada
rupture spontan yang hiperaktif. tekanan
juga terjadi akibat
dinding pembuluh Ternyata kemudian tersembunyi bagian muka.
rupture .Hemangioma
darah karena tipisnya kavernosa yang besar
bahwa dalam jaringan dalam bola mata
kulit di atas dapat diikuti dengan hemangioma terdapat atau desakan
permukaan ulserasi dan infeksi pengumpulan
tumor keruang
hemangioma, sekunder (Kantor, trombosit yang
rettrobul
sedangkan pembuluh 2004). mengalami
darah dibawahnya sekuenterisasi
terus tumbuh.
Penanganan

CARA KONSERVATIF CARA AKTIF


Pada perjalanan alamiahnya lesi  Hemangioma yang memerlukan
hemangioma akan mengalami terapi secara aktif, antara lain
pembesaran dalam bulan-bulan adalah hemangioma yang tumbuh
pertama, kemudian mencapai pada organ vital, seperti pada
besar maksimun dan sesudah itu mata, telinga, dan tenggorokan;
terjadi regresi spontan sekitar Cara-cara aktif dapat dilakukan
umur 12 bulan, lesi terus antara lain pembedahan, radiasi,
mengadakan regresi sampai corticosteroid, obat sklerotik,
umur 5 tahun . eletrokoagulansi, pembekuan, dan
antibiotic.
Fraktur Klavikula

Fraktur adalah retaknya
Fraktur adalah retaknya tulang,
tulang, biasanya
biasanya disertai
disertai
dengan
dengan cedera
cedera di
di jaringan
jaringan sekitarnya.
sekitarnya. Kebanyakan
Kebanyakan
fraktur
fraktur disebabkan
disebabkan oleh
oleh trauma
trauma dimana
dimana terdapat
terdapat
tekanan
tekanan yang
yang berlebihan
berlebihan pada
pada tulang.
tulang.
Etiologi Fraktur Clavicula
trauma pada bahu akibat trauma jalan lahir dengan gejala:
Faktor predisposisi
Diagnosis Fraktur Clavicula

Hasil pemeriksaan
1.   Adanya pembengkakan pada sektor daerah fractur.
2.   Krepitasi (suara yang ditimbulkan dari gesekan tulang)
3.   Pergerakan lengan berkurang.
4.   Iritable(kepekaan abnormal terhadap rangsangan) selama
pergerakan lengan.
Penatalaksanaan Fraktur Clavicula
1. Bayi jangan banyak digerakkan
2.  Immobilisasi (tindakan yang membuat tidak dapat digerakkan)
lengan dan bahu pada sisi yang sakit dengan memasang ransel
verband
3.  Rawat bayi dengan hati-hati
4.  Nutrisi yang adekuat (pemberian asi yang adekuat dengan cara
mengajarkan pada ibu agar pemberian asi dengan posisi tidur,
dengan sendok atau pipet)
5.  Rujuk bayi kerumah sakit
Fraktur Humerus
Fraktur Humerus menurut (Mansjoer, Arif, 2000) yaitu
diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang humerus.
Sedangkan menurut ( Sjamsuhidayat 2004 ) Fraktur humerus
adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan oleh
benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung. 
Etiologi Fraktur Humerus

 Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak


sungsang dengan tangan menjungkit ke atas. Kesukaran
melahirkan tangan yang menjungkit merupakan penyebab
terjadinya tulang humerus yang fraktur.
Patofisiologi Fraktur Humerus

Gejala Fraktur Humerus


•   Berkurangnya gerakan tangan yang sakit
•   Refleks moro asimetris
•   Terabanya deformitas (pergeseran kepingan pada fraktur) dan
krepitasi di daerah fraktur disertai rasa sakit
•   Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan radiologik.
Penanganan Fraktur Humerus

•   Imobilisasi lengan pada sisi bayi dengan siku fleksi 90 derajat


selama 10 sampai 14 hari serta control nyeri.
•   Daya penyembuhan fraktur tulang bagi yang berupa fraktur
tulang tumpang tindih ringan dengan deformitas, umumnya
akan baik.
•   Dalam masa pertumbuhan dan pembentukkan tulang pada
bayi, maka tulang yang fraktur tersebut akan tumbuh dan
akhirnya mempunyai bentuk panjang yang normal
Fraktur flexus brachialis
Fleksus brakialis adalah sebuah jaringan saraf tulang belakang
yang berasal dari belakang leher, meluas melalui aksila (ketiak),
dan menimbulkan saraf untuk ekstremitas atas. Pleksus brakialis
dibentuk oleh penyatuan bagian dari kelima melalui saraf
servikal kedelapan dan saraf dada pertama, yang semuanya
berasal dari sumsum tulang belakang.
Gejala klinis trauma lahir pleksus brakialis berupa gangguan
fungsi dan posisi otot ekstremitas atas. Gangguan otot tersebut
tergantung dari tinggi rendahnya serabut syaraf pleksus
braklialis yang rusak dan tergantung pula dari berat ringannya
kerusakan serabut syaraf tersebut.
Etiologi Fleksus Brakhialis

 Etiologi trauma fleksus brakhialis pada bayi baru lahir. Trauma


fleksus brakhialis pada bayi dapat terjadi karena beberapa faktor
antara lain:
 1) Faktor bayi sendiri : makrosomia, presentasi ganda, letak
sunsang, distosia bahu, malpresentasi.
 2) Faktor ibu : ibu sefalo pelvic disease (panggul ibu yang
sempit), adanya penyulit saat persalinan.
 3) Faktor penolong persalinan : tarikan yang berlebihan pada
kepala dan leher saat menolong kelahiran bahu pada presentasi
kepala, tarikan yang berlebihan pada bahu pada presentasi
bokong.
Patofisiologis Fleksus Brakhialis

 Bagian cord akar saraf dapat terjadi avulsi (robeknya suatu


bagian struktur secara tidak sengaja atau pembedahan) atau
pleksus mengalami traksi(tarikan) atau kompresi (tekanan).
Traksi dan kompresi dapat juga menyebabkan iskemi
(berkurangnya aliran darah) yang akan merusak pembuluh
darah. Cedera pleksus brakialis dianggap disebabkan oleh
traksi yang berlebihan diterapkan pada saraf.
Tanda dan Gejala Fleksus Brakhialis
a.  Gangguan gerak pada lengan atas
b.  Paralisis atau kelumpuhan pada lengan atas dan lengan bawah
c.  Lengan atas dalam keadaan ekstensi(gerakan meluruskan) dan
abduksi (gerakan menjauhi tubuh)
d.  Jika anak diangkat maka lengan akan lemas dan tergantung
e.  Reflex moro negative
f.  Tangan tidak bisa menggenggam
g.  Reflex meraih dengan tangan tidak ada
Komplikasi Trauma fleksus brakhialis

a.  Kontraksi otot yang abnormal (kontraktur) atau pengencangan


otot-otot, yang mungkin menjadi permanen pada bahu, siku
atau pergelangan tangan
b.  Permanen, parsial (bagian dari keseluruhan), atau total
hilangnya fungsi saraf yang terkena, menyebabkan kelumpuhan
lengan atau kelemahan lengan.
 
Penanganan Terhadap Trauma Fleksus
Brakhialis
Penanganan atau penatalaksanaan kebidanan meliputi rujukan
untuk membebat yang terkena dekat dengan tubuh dan
konsultasi dengan tim pediatric. 
Upaya ini dilakukan antara lain dengan cara:

1) Pada trauma yang ringan yang hanya berupa edema atau


perdarahan ringan pada pangkal saraf, fiksasi hanya dilakukan
beberapa hari atau 1 – 2 minggu untuk memberi kesempatan
penyembuhan yang kemudian diikuti program mobilisasi atau
latihan.
2) Immobilisasi lengan yang lumpuh dalam posisi lengan atas
abduksi 90 derajat, siku fleksi 90 derajat  disertai
supine(terlentang dengan menghadap ke atas). lengan bawah
dan pergelangan tangan dalam keadaan ekstensi
3) Beri penguat atau bidai selama 1 – 2 minggu pertama
kehidupannya dengan cara meletakkan tangan bayi yang
lumpuh disebelah kepalanya.
4) Rujuk ke rumah sakit jika tidak bisa ditangani.
referensi
 Abzug JM, Kozin SH. 2010. Current Concepts: Neonatal Brachial Plexus Palsy. Orthopedics. 3 (6): 430-5.
 Angoules AG, Eleni CB, Eleni PL. 2013. Congenital Muscullar Torticollis : An Overview. General Practice Vol.1:
105.
 Arifin MZ, et al. 2015. Spontaneous Depressed Skull Fracture during Vaginal Delivery: A Report of Two Cases
and Literature Review. The Indian Journal of Neurotrauma. 10. 33-37.
 Bahm J, et al. 2009. Obstetric Brachial Plexus Palsy. DtschArztebl Intl.. 106 (6). 83-90.
 Bano S., et al. Intracranial Hemorrhage in the Newborn. 2014. Available in URL:
http://dx.doi.org/10.5772/58476. Access date: October 6th, 2015.
 Behrman R, Vaughan V. 2005. Trauma Lahir. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Edisi XIV. JakartaL EGC.
 Cunningham W. 2009. Cedera Jaringan pada Neonatus. Ringkasan Obstetri Williams Edisi 22. Jakarta: EGC.
317-318.
 Hameed NN, Izzet KQ. 2010. Neonatal Birth Traumas: Risk Factors and Types. J Fac Med Baghdad. 52 (3). 241.
 Moczygemba CK, et al. 2010. Route of Delivery and Neonatal Birth Trauma. Am J Obstet Gynecol. 202 (361). 1-6.
 Ogunlade, et al. 2004. Skeletal Birth Injuries: Presentation, Management, and Outcome at the University
College Hospital, Ibadan. Nigerian Journal of Pediatrics. 2004. 32 (1). 12-14.
 Oxorn, Harry dan William R. Forte. 2010. Ilmu Kebidanan: Fisiologi dan Patologi Persalinan. Editor Dr.
Mohammad Hakimi, Ph. D. Jakarta: Yayasan Essentia Medika.
 Ozmen O., et al. 2010. Congenital Facial Paralysis: Facial Nerve Hypoplasia. Int. Adv. Otl. 6 (2). 282-284.
 Patel RR, Murphy DJ. 2004. Forceps delivery in modern obstetric practice. BMJ. May 29. 328(7451):1302-5
 Ruschelsman DE, Petrone S, Price A, Grossman J. 2009. Brachial Plexus Birth Palsy An Overview of Earlu
Treatment Considerations. Bull NYU HospJt Dis. 2009. 67 (1). 83-9.
 Talebian A, et al. 2015. Incidence of Neonatal Birth Injuries and Related Factors in Kashan, Iran. Arch
Trauma Res. 4 (1). 1.
 Terzis JK, Anesti K. 2011. Developmental facial paralysis: a review. J PlastReconstrAesthet Surg. 64 (10).
1318-33.
 Warke C, Malik S, Chokhandre M, Saboo A. 2012. Birth Injuries: A Review of Incidence, Perinatal Risk
Factors and Outcome. Bombay Hospital Journal. 54 (2). 202.
 Wiknjosastro H. 2005. Perlukaan Persalinan. Ilmu Kebidanan. 2005. Jakarta: Yayasan Bina Pustakan
Sarwono Prawirohardjo.
TERIMA KASIH