Anda di halaman 1dari 31

 Pertumbuhan  perubahan bentuk dalam besar,

jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, yang dapat


diukur
 Perkembangan  pertambahan kemampuan dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks
dengan pola yang teratur dan dapat diprediksi
sebagai hasil dari proses pematangan. -
diferensiasi sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-
organ dan sistem organ sehingga dapat memenuhi
fungsinya, termasuk perkembangan emosional,
intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi
dengan lingkungan.
Neurokranium • Rongga kranium
atau tulang • Basis kranium
cranial

viserokranium • Nasomaxillari
atau tulang-tulang complex
yang memben-
tuk wajah • mandibula
 Perbandingan ukuran antara tulang kranial dan
tulang wajah pada waktu dilahirkan adalah 8:1,
pada usia 2 tahun 6:1, sedangkan saat dewasa
adalah 2,5:1.
 Wajah berkembang lebih lambat dibandingkan
kranium pada periode intra uterin, sehingga
pada awal kelahiran ukuran wajah terlihat lebih
kecil daripada ukuran total kepala.
 Wajah terus tumbuh setelah masa kelahiran,
sedangkan pertumbuhan kranium menjadi lebih
lambat, sehingga pada usia dewasa
perbandingan ukuran kepala dan wajah menjadi
lebih proporsional
Daerah pertumbuhan kraniofasial :
 kranial vault,
 basis kranium,
 maksila
 mandibula.
 bagian kranium yang membentuk tutup kepala atau
menutupi otak, fungsi utamanya adalah melindungi otak.
 Pertumbuhan ruang kranial akan sejalan dan seiring dengan
pertumbuhan otak itu sendiri.
 sejumlah tulang pipih yg dibentuk langsung pada
pembentukan tulang intramembranous,
 Pertumbuhannya hasil aktivitas periosteal di permukaan
tulang.
 Remodeling dan pertumbuhan terjadi terutama pada area
kontak periosteum
 Saat lahir tulang pipih dipisahkan oleh jaringan ikat longgar
 fontanel setelah lahir terjadi aposisi tulang sehingga
rongganya menipis dan akan menutup sampai dewasa
 Pertumbuhan utama rongga kranium:
sutura
 Remodelling permukaan periosteal dan
endosteal.
 merupakan dasar kranium terletak dibawah otak
dan merupakan batas antara kranium dan wajah.
 Fungsinya selain mendukung dan melindungi
otak dan tulang spinal, juga menegakkan tubuh,
melindungi persendian tengkorak , kolumna
vertebra, mandibula dan sebagian maksila.
 Perkembangan tulang nya berasal dari kartilago
khondrokranium
 Pusat pertumbuhan awal : pada bagian tulang
spheno-osipital sinkhondrosis
 Bagian tulang spheno-etmoid sinkhodrosis aktif
sekitar umur 7 tahun.
 Basis kranium terbagi dua yaitu :
• basis kranial anterior dimulai dari sela tursika
sampai nasion,
• basis kranial posterior dimulai dari basis osipital
sampai sela tursika.
Pertumbuhan basis kranium anterior lebih cepat
selesai dibandingkan posterior.
 Bagian dari tulang wajah.
 Pertumbuhan post natal maksila seluruhnya terjadi
dengan osifikasi intramembran karena tidak terdapat
kartilago.
 Pertumbuhan maksila terjadi melalui dua cara yaitu
aposisi sutura-sutura yang menghubungkan maksila
dengan kranium dan basis kranial serta remodeling
tulang sutura frontomaksilaris, sutura
zigomatikomaksilaris, sutura zigomatikotemporalis,
dan sutura palatinus.
 Pertumbuhan pada sutura yang terjadi,
menyebabkan rahang atas mengalami pertumbuhan
ke arah transversal serta bergerak ke anteroinferior
terhadap kranium
 Daerah tuberositas merupakan salah satu
pusat pertumbuhan rahang atas.
 Pertambahan panjang ke arah posterior
terjadi karena proses aposisi pada
permukaan luar tuberositas bagian
posterior lengkung gigi rahang atas
menjadi lebar.
 Pertumbuhan rahang atas dalam arah
vertikal (ke bawah) terjadi karena proses
aposisi tulang pada sisi lateral tuberositas
dan sepanjang tulang alveolar
 Membentuk rangka wajah bagian bawah.
 Mandibula merupakan tulang kraniofasial yang sangat
mobil dan sangat penting karena terlibat dalam fungsi-
fungsi vital, antara lain: pengunyahan, pemeliharaan jalan
udara, berbicara dan ekspresi wajah
 Rahang bawah memiliki daerah kartilago sebagai pusat
pertumbuhan, yaitu pada simfisis dan kondilus
 Pertumbuhan kondilus bersamaan dengan pertumbuhan
alveolus, menyebabkan rahang bawah bertambah tinggi
 Proses resorbsi pada sisi anterior dan aposisi tepi posterior
ramus, menghasilkan pertambahan panjang korpus.
 Secara normal arah pertumbuhan rahang bawah adalah ke
posterior dan superior, serta mengalami transposisi ke
anterior dan inferior
 Pertumbuhan wajah ke arah transversal dan
sagital adalah untuk menyediakan tempat
bagi erupsi gigi-geligi.
 Pertumbuhan kedua rahang ke arah
transversal dapat terjadi karena adanya
sutura palatine mediana pada rahang atas,
dan jaringan kartilago pada simfisis rahang
bawah.
 Perkembangan sinus maksilaris, erupsi
gigi-geligi, aktivitas otot wajah dan otot
mastikasi, memungkinkan wajah tumbuh ke
arah vertikal
 Suatu penyimpangan morfologi dari
keadaan normal pada kompleks
kraniofasial akibat gangguan tumbh
kembang
 Dapat berupa kongenital atau dapatan
 Berdasarkan patogenesisnya terdapat 3
tipe anomali: malformasi, deformasi dan
disruption
 Defek morfologik suatu organ atau bagian dari
organ akibat gangguan pada proses
perkembangan secara intrinsik
 Gangguan terjadi saat pembentukan organ,
merupakan defek primer struktural akibat
kesalahan morfogenesis yang mempengaruhi
pembentukan struktur organ.
 Gangguan pembentuka dapat tunggal atau
ganda seperti peg shaped pada insisisf lateral,
atau microtia, yaitu displasia bentuk telinga atau
clefting orofasial.

 Malformasi di regio kraniofasial pada
umumnya kelainan kongenital berupa
cacat bawaan yang sudah tampak sejak
lahir.
 Sebagian besar dari cacat bawaan ini
merupakan suatu sindroma.
 Sindrom suatu kumpulan gejala khas,
akibat satu etiologi yang menyebabkan
gangguan morfogenesis pada lebih dari
satu lokasi; sindrom down
 Malformasiyang paling sering :
morfogenesis yang tidak sempurna, yaitu
celah langit-langit
 Suatu perubahan bentuk atau dismorfologi.
 Merupakan defek struktural disebabkan
bentuk atau posisi abnormal dari bagian
tubuh yang sebelumnya mempunyai bentuk
normal
 Disebabkan tekanan intrauterin yang
abnormal
 Deformasi cenderung mengenai organ yg
utuh.
 Clubfoot, dislokasi pinggul, scoliosis
postural kongenital
 Defek morfologi organ atau bagian
organ, atau sebagian besar dari tubuh
akibat dari destruksi atau hambatan
perkembangan yang tadinya normal.
 akibat gangguan vaskularisasi infeksi
atau penyebab fisik
 Ex: ketulian akibat rubella
 Genetik
• Kelainan kromosom
• Kelainan gen tunggal
• Kelainan multifaktorial: poligenetik dan
lingkungan
 Non genetik
• Infeksi
• Gangguan metabolik
• Penggunaan obat-obatan atau substansi toksis
• Radiasi
 Sindroma oto-kranio-fasial yang banyak dijumpai:
Sindroma Treacher Collins (mandibulofacial
disostosis), Sindrome Goldenhar (oculo-auriculo-
vertebral displasia), hemifasial microsomia
 Sindroma kranio-sinostosis
 Sindroma midfasial mencakup 2 sub kelompok
malformasi: holoprosencefalik dan displasia
 Celah kraniofasial

 Celah bibir dan celah langitan banyak ditemui


 Basis kranial:
• Mikrosefali, hidrosefali,kraniostenosis
 Midfasial
• Malformasi: celah bibir, celah langitan dan celah fasial
• Gangguan perkembangan: achondroplasia, thallassemia,
hypothiroidism, mongolism
 Mandibula
• Prosesus alveolar dan gigi: anodontia, defisiensi muskular
pengunyahan, leher,lidah yang mempengaruhi
mandibula,myotonic muscular dystrophy
• Kondilus: anomali kongenital, defisiensi nutrisi, pengaruh
endokrin,arthtritis
 displasia serebro-kanial. a l
anencephaly dan microcephaly
 Displasia serebro-fasia, meliputi plasia rhinencephalik dan
okullo orbital
 Displasia kaniofasial: clefting, disostosis, sinostosis,
dyschondrosis
 Displasi craniofasial akibat kelainan yang berasal dari:
a) jaringai tulang: osteopetrosis. displasia kanio-tubular,
displasiafibrosa
b) kutan: ectodermal dis-plasia neurokutan: ncuofibromatosis
d) neuromuskular: sindroma Robin, sindroma Mobius
e) muskular: glossoschizis
f) vaskular: haemangioma, haemolymphangiona dan
lymphangioma
Rehabilitasi anomali kraniofasial dilakukan
oleh tim dari berbagai bidang
spesialisasi.
Dokter gigi berperan mengupayakan gigi
sehat, berfungsi dan mempertahankan
integritas lengkung gigi yang stabil
sebelum dilakukan tindakan rehabilitatif
bedah
Terima kasih

Anda mungkin juga menyukai