Anda di halaman 1dari 28

Akuntansi Perpajakan Aset Lancar

Anggota Kelompok

- Karina Magris Arjuna ( 1810536029 )


- Rola Adris ( 1810536031 )
- Alifiany Mardhiah ( 1810536043 )
- Shabira Revinsky Putri ( 1810536045 )
Kas dan Setara Kas
KAS adalah uang tunai yang paling likuid dan ditempatkan pada urutan teratas dari
aset.
 Transaksi – transaksi yang membentuk kas dan pencatatannya
1. Kas Besar
Umumnya dipakai oleh perusahaan untuk pengeluaran tertentu dengan
jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah pengeluaran pada kas kecil
dan biasanya uang tunai kas besar disimpan di dalam brangkas.
2. Kas Kecil
Umumnya dipakai untuk pengeluaran yang sifatnya rutin dan tidak besar
jumlahnya.
Pada kas kecil terdapat 2 sistem pencatatan :
a. Sistem Dana Tetap
b. Sistem Dana Tidak Tetap
 Aspek pajak atas transaksi – transaksi dan pengaruh terhadap pencatatan
Pada akun kas dan setara kas Pph yang dipakai adalah Pph pasal 4 ayat
(2),pemotong wajib melaporkannya paling lambat 20 hari setelah masa pajak
berakhir.
dikecualikan dari pemotongan pph terhadap :
a. Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI sepanjang jumlah deposito
dan tabungan serta SBI tersebut tidak melebihi 7.500.000 dan bukan
merupakan jumlah yg dipecah-pecah.
b. Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di
Indonesia atau cabang bank luarnegeri di Indonesia.
c. Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI yang diterima atau
diperoleh Dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh MK, sepanjang
dananya diperoleh dari sumber pendapatan sebagaimana dimaksud pada pasal
29 UU Nomor 11 tahun 1992 tentang dana Pensiun.
d. Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk pemerintah dalam rangka
pemilikan rumah sederhana dan rumah sangat sederhana, tanah kaveling siap
bangun untuk rumah sederhana dan sangat sederhana, atau susun sederhana
sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untuk dihuni sendiri.
 Tata cara penyajian kas dan setara kas berdasarkan PSAK terkait
1. Kas dan setara kas disajikan di neraca sebagai harta lancar
2. kas dan setara kas yang penggunaannya dibatasi dapat
dimasukkan dalam aktiva lancar hanya jika pembatasan tersebut
dilakukan untuk menyisihkan dana untuk melunasi kewajiban
jangka pendek atau jika pembatasan tersebut hanya berlaku
selama satu tahun.
3. Saldo kredit pada perkiraan bank disajikan pada kelompok
kewajiban sebagai kewajiban jangka pendek dan saldo kredit dan
debit rekening giro pada bank yang sama dapat digabung dan
disajikan pada neraca sebagai satu kesatuan.
 Perbedaan penyajian kas dan setara kas pada perundang-
undangan perpajakan dan pengaruh terhadap penyajian laporan
keluangan
Pada dasarnya pelaporan atas pendapatan bunga secara
fiskal disajikan pada jumlah neto pendapatan bunga yang
diterima yaitu pendapatan bunga dikurangi dengan pph final atas
bunga dengan jumlah 800.000.Hal tersebut sesuai dengan Buku
Petunjuk Pengisian SPT Tahunan Pph badan.
Untuk jasa giro dan bunga deposit,perlakuan akuntansi
perpajakannya sama seperti perlakuan akuntansi perpajakan
untuk bunga tabungan. Karena penghasilan ini terkena Pph final,
maka harus dikoreksi negatif dalam rekonsliasi fiskal pada akhir
tahun.
Dapat disimpulkan penyajian kas dan setara kas tidak terdapat
perbedaan dengan perundang-undangan perpajakan.
Sekuritas
Merupakan surat berharga yang mudah diperjualbelikan sebagai investasi
sementara dalam rangka memanfaatkan dana yang tidak digunakan.

Jenis Sekuritas :
a. Saham Biasa & Saham Preferen
Penghasilan dari saham : deviden, saham bonus, hak membeli
emisi saham & capital gains. Penghasilan deviden tidak dikenakan pajak.
- Prakter Komersial
Mencatat nilai sekuritas berdasarkan Cost Method & Lower or
Market
- Prakter Fiskal
Mencatat nilai sekuritas berdasarkan Cost Method
b. Obligasi
Bunga Obligasi dihitung sebagai penghasilan Pph yang
dipungut atas bunga obligasi tidak boleh dikapitalisasi, tetapi harus
dicatat sebagai pajak yang dibayar dimuka

c. Sekuritas yang lain


- Commercial paper, promissory notes, bill of exchange, bankers
acceptance, sertifikat deposito, repurchase agreement.
- Selisih nilai beli dan nilai jual / pelunasan merupakan
penghasilan bagi pemegang sekuritas dan biaya bagi penerbit
sekuritas.
d. Deposito
Merupakan satuan mata uang rupiah atau valas, jangka pendek
atau jangka panjang di dalam atau di luar.
Untuk tujuan perpajakan termasuk deposito on call, Bunga deposito
dikenakan pajak 20% dan final. Bunga deposito merupakan penghasilan
kena pajak yang bersifat final dan pajaknya tidak dapat dikreditkan.

e. Wesel Tagih
Wesel tagih timbul dari utang piutang penyerahan barang atau
jasa.
Bunga yang diterima pada saat pelunasan merupakan penghasilan
pemegang wesel dan biaya bagi penerbit promes.
Penghasilan bunga diskonto merupakan obyek potongan Pph pasal 23 (
WP Dalam Negeri ) atau Pph 26 ( WP luar negeri ).
Piutang
Pengertian Piutang Usaha
Yaitu piutang yang timbul karena adanya penjualan produk atau penyerahan jasa
dalam rangka kegiatan usaha normal perusahaan. Piutang ini seluruhnya dapat
dimasukkan ke dalam aset lancar, dengan syarat jangka waktu penagihannya kurang
dari satu tahun atau satu siklus usaha normal.
Akuntansi Atas Piutang
Perlakuan akuntansi atas piutang tetap mendasarkan pada Standar Akuntansi
Keuangan (SAK). Umumnya sering memberikan potongan kepada para pelanggan
karena membar tunai atau pelanggan membeli barang dalam jumlah besar. Dalam
transaksi penjualan biasanya juga terdapat syarat jual beli yang menujukkan unsur
penjualan kredit. Contoh :
1. Tuan abadi menjual barang yang senilai Rp 20.000.000 secara kredit. Ayat jurnalnya
:
Piutang usaha 20.000.000
Penjualan 20.000.000
2. Pelanggan Tuan abadi mengembalikan barang yang senilai Rp 10.000.000. Ayat
jurnalnya :
Retur dan Potongan Penjualan 10.000.000
Piutang Usaha 10.000.000
Metode Penghapusan Piutang

A. Metode Penghapusan Langsung ( Direct Write-off


Method )
Yaitu piutang yang tidak dapat ditaguh, maka
pada saat itu dilakukan pencatatan.

B. Metode Penyisihan/Pencadangan ( Allowance


Method )
Yaitu piutang yang diperkirakan tidak dapat
ditagih dicatat melalui ayat jurnal.
Dalam Akuntansi Pajak

Dalam pasal 6 ayat (1) huruf h Undang-Undang Pajak Penghasilan telah


mengatur pembebanan sebagai biaya atas piutang yang nyata-nyata tidak dapat
ditagih atau lebih dikenal dengan penghapusan piutang dengan syarat :
1. Telah dibebankan sebagai biaya pada laporan laba rugi komersial
2. Wajib pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih
kepada Direktorat Jenderal Pajak
3. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau
adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang
antara kreditur dan debitur yang bersangkutan atau telah dipublikasikan
dalam penerbitan umum atau khusus, atau adanya pengakuan dari debitur
bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 130/kmk.04/1998 tentang penghapusan


piutang tidak tertagih yang oleh dikurangkan sebagai biaya yaitu :
1. Piutang tidak tertagih yang dapat dibebankan sebagai biaya dalam
menghitung penghasilan kena pajak
2. Piutang tidak tertagih yang dapat dihapuskan
3. Terdapat persyarat dalam mengelompokkan sebagai piutabf tidak tertagih
Pembentukan Cadangan Piutang Tidak Tertagih Usaha
Bank

Sesuai Keputusan Menteri Keuangan No. 235/KMK.01/1998


Tanggal 14 April 1998 tentang perubahan keputusan Menteri
Keuangn No. 80/KMK.04/1995 tentang Besarnya Dana
Cadangan yang boleh dikenakan sebagai Biaya yang
Menyatakan bahwa bank dapat membentuk dana cadangan
piutang tidak tertagih. Besarnya dana cadangan piutang tidak
tertagih yang diperkenankan sebagai biaya usaha bank
tersebut adalah :
1. 5% dari kredit yang digolongkan perhatian khusus
2. 15% dari kredit yang digolongkan kurang lancar
3. 50% dari kredit yang digolongkan diragukan
4. 100% dari kredit yang digolongkan macet
Persediaan
Pengertian Persediaan ( PSAK No. 14 )
1. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
2. Dalam proses produksi atau dalam perjalanan
3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan ( Supplies
) untuk digunakan dalam proses produksi atau
pemberian jasa
Pengakuan Sebagai Beban
SAK ETAP menyatakan bila persediaan dijual,
maka jumlah tercatatnya diakui sebagai beban
periode saat pendapatan yang terkait diakui.
Pencatatan Persediaan
Penilaian Persediaan
 Metode FIFO
 Metode LIFO
 Metode Average
 Metode Identifikasi Khusus
 Dalam Akuntansi Pajak
Sebagaimana dijelaskan, berfluktuasinya barang jadi atau bahan baku sebagai
arus masuk dan arus keluar menimbulkan harga juga yang berfluktuasi, sehingga
menimbulkan juga persoalan penilaian persediaan di dalam harga pokok penjualan.
Dari sisi pratik akuntansi komersial dan akuntansi pajak, tidak ada perbedaan prinsip
dalam metode pencatatannya, sehingga metode pencatatan yang dapat digunakan adalah
sistem perpertual, baik rata-rata maupun FIFO atau metode pencatatan fiskal (Kolektif)
yang telah dijelaskan dalam penjelasan Pasal 10 ayat (6) Undang-Undang Pajak
Penghasilan tersebut bahwa persediaan dan pemakaian persediaan untuk menghiung
harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan :
1. Dilakukan secara rata-rata
2. Dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama
Menetapkan besarnya nilai persediaan atau nilai pemakaian persediaan
menurut pratik akuntansi pajak dengan tegas hanya dua pilihan yang diperkenankan
dibandingkan dengan pratik akuntansi komersial yang mempunyai lebih banyak pilihan.
Dalam hal penggunaan metode penilaian persediaan juga disyaratkan adanya taat asas.
Perhiutungan menggunakan metode rata-rata atau FIFO dapat dipelajari pada
contoh perhitungan sebagaimana telah disampaikan pada Pratik Akuntansi Komersial.
Masalah pelaporan persediaan, sebagaimana diatur dalam PSAK No. 14 Tahun 2008
bahwa persediaan dalam neraca/laporam posisi keuangan dinyatakan sebesar harga
pokok atau perolehan (at cost) atau dinyatakan berdasarkan :
1. Harga terendah antara harga pokok dan harga pasar
2. Harga Jual
Beban Dibayar Dimuka
Menurut Wild dan Kwok (2011: 118), beban
dibayar di muka adalah pos-pos (items)yang pada awalnya
dicatat sebagai harta tetapi diharapkan menjadi beban di
kemudianhari setelah melampui kegiataan normal
perusahaan. Beban dibayar di muka biasanya
dikelompokan ke dalam aset lancer. Beban dibayar di
muka ini dapat berupa beban dibayar di muka atas
asuransi,sewa, dan pajak.Untuk akuntasi komersial,
pencatatan beban dibayar di muka dapat dilakukan
dengan dua pendekatan yaitu pendekatan harta dan
pendekatan beban
PENCATATAN BEBAN DIBAYAR DIMUKA

 Dicatat sebagai Harta


Beban dibayar dimuka XXX
Kas/Bank XXX
• Dicatat Jurnal Penyesuaian
Beban ... XXX
Beban dibayar dimuka XXX
• Dicatat Jurnal Penutup
Iktisar Laba/Rugi XXX
Beban ... XXX
• Dicatat Jurnal Pembalik
Tidak ada Jurnal
PENCATATAN BEBAN DIBAYAR DIMUKA

 Dicatat sebagai beban


Beban ... XXX
Kas/Bank XXX
• Dicatat Jurnal Penyesuaian
Beban dibayar dimuka XXX
Beban ... XXX
• Dicatat Jurnal Penutup
Iktisar Laba Rugi XXX
Beban .... XXX
• Dicatat Jurnal Pembalik
Beban.... XXX
Beban dibayar dimuka XXX
Sewa Dibayar Dimuka
 Penghasilan yang diterima oleh OP atau badan dari sewa
tanah dan/atau bangunan berupa tanah, rusun, apartemen,
kondominium, gedung perkantoran, ruko, toko, gudang dan
industri
• Dikenakan Pph Final disebut PPh Pasal 4 ayat (2)
• Tarif 10% dari jumlah bruto
• PP No. 5/2002, KMK-120/2002 dan KEP-227/2002
Asuransi Dibayar Dimuka
 adalah bagian dari premi asuransi yang telah dibayar
tetapibelum berlaku pada saat pelaporan Neraca.
Pengeluaran tersebut dilaporkan dalambagian Aktiva Lancar
yaitu dalam perkiraan Asuransi Dibayar Dimuka.Jika
sejumlah asuransi telah berlaku maka biaya tersebut
dipindahkan dari perkiraan aktiva Asuransi Dibayar Dimuka
ke perkiraan Beban Asuransi. Pencatatan tersebutdilakukan
pada setiap akhir periode akuntansi melalui Ayat Jurnal
Penyesuaian. Pada asuransi dibayar dimuka memakai Pph
pasal 23.
Pajak di bayar di muka
 Merupakan pembayaran pajak yang dilakukan pemotongan
dan / atau pemungutan oleh pihak lain serta pembayaran
pajak yang dilakukan sendiri oleh WP, yang didapat
diperhitungkan dengan pajak terhutang PPh Badan atau pajak
Keluaran WP. Pajak dbayar di muka berupa PPh 22, 23,24, 25
dan pajak masukkan
Aset Lancar Lainnya
 Transaksi – transaksi terkait aset lancar lainnya dan pencatatannya
transaksi yang terkait yaitu pada saat :
1. Gedung dalam pembangunan
2. Mesin yang tidak digunakan
Pencatatan aset lancar lainnya :
Pencatatan debet atas akun aktiva lain-lain dilakukan pada
saat pembayaran atau penerimaannya atau pada saat dialihkan menjadi
aktiva lain-lain.
Pencatatan kredit atas akun aktiva lain-lain dilakukan bila
terjadi pelepasan atau berkurangnya nilai aktiva tersebut.
Pencatatan ini merupakan pengurangan PenyaluranTerakumulasi
dalam Aktiva.
 SALDO NORMAL
Saldo normal aktiva lain – lain adalah Debet.

 JURNAL STANDAR
A. Jurnal pembayaran jaminan sewa
 Pembayaran jaminan sewa
 Kas
 Aktiva lain – lain dan jaminan sewa
 Penyaluran akumulasi dalam aktiva lain – lain

B. Jurnal re-klafikasi aktiva tetap menjadi aktiva lain – lain


 Aktiva lain – lain dan aktiva tetap tidak digunakan
 Akumulasi penyusutan
 Aktiva tetap
 Penyaluran terakumulasi dalam aktiva tetap
 Penyaluran terakumulasi dalam aktiva lain - lain
 Aspek pajak atas transaksi-transaksi terkait dan pengaruh terhadap
pencatatan
1. Pada saat penjualan aset lancar lainnya aspek pajak yang digunakan
pph pasal 4 ayat (2)
2. Pada saat sewa atas aset lancar lainnya aspek pajak yang digunakan pph
pasal 23.
 Tata cara penyajian aset lancar lainnya berdasarkan PSAK
PSAK yang digunakan adalah PSAK 16 :
“Pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan dalam aktiva
tetap, dan juga tidak dapat digolongkan dalam aktiva lancar,
investasi/penyertaan maupun aktiva tak berwujud, seperti: aktiva tetap
yang tidak digunakan, piutang kepada pemegang saham, beban yang
ditangguhkan dan aktiva lancar lainnya disajikan dalam kelompok aktiva
lain-lain.”