Anda di halaman 1dari 16

KANKER USUS/ CA COLON

Tugas Keperawatan Paliatif


Anggota kelompok :
1. Aprilia

2. Dana Lestari

3. Dilla Lutfia

4. Maftuh Fiiha Fakihatun

5. Rizkia Dwi Oktaviani

6. Sivi Amiati Maryadi


DEFINISI
 Neoplasma/Kanker adalah pertumbuhan baru (atau tumor) massa
yang tidak normal akibat proliferasi sel-sel yang beradaptasi tanpa
memiliki keuntungan dan tujuan. Neoplasma terbagi atas jinak atau
ganas. Neoplasma ganas disebut juga sebagai kanker (cancer).
(SylviaA Price, 2005).
 Kanker kolon suatu bentuk keganasan dari masa
abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan ephitel dari kolon
(Haryono, 2010).
 Kanker kolon adalah pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang
tumbuh pada kolon dan menginvasi jaringan sekitarnya
(Tambayong, 2000 : 143).
GAMBAR KANKER USUS
ETIOLOGI
 Usia : Kebanyakan kasus terjadi pada orang yang berusia 60 - 70
tahun.
 Polip : Adanya polip pada kolon, khususnya polip jenis
adenomatosa.
 Riwayat kanker
 Faktor keturunan/genetika : Orang yang keluarganya punya riwayat
penyakit FAP (Familial Adenomatous Polyposis) atau polip
adenomatosa familial memiliki risiko 100% untuk terkena kanker
kolon sebelum usia 40 tahun bila FPA-nya tidak diobati.
 Kebiasaan merokok : Perokok memiliki risiko jauh lebih besar untuk
terkena kanker kolon dibandingkan dengan yang bukan perokok.
LANJUTAN.....
 Kebiasan makan : Terlalu banyak mengonsumsi makanan makanan
yang mengandung bahan pengawet.
 Kurangnya aktivitas fisik : Orang yang beraktivitas lebih banyak
memiliki risiko lebih rendah untuk terkena kanker kolon. Berat
badan yang berlebihan (obesitas).
 Kontak dengan zat-zat kimia tertentu : Kebiasaan mengonsumsi
minuman beralkohol, khususnya bir. Usus mengubah alkohol
menjadi asetilaldehida yang meningkatkan risiko terkena kanker
kolon.

(Soebachman, 2011)
PATOFISIOLOGI
 Penyebab jelas kanker usus besar belum diketahui secara pasti, namun makanan merupakan
faktor yang penting dalam kejadian kanker tersebut. Yaitu berkorelasi dengan faktor
makanan yang mengandung kolesterol dan lemak hewan tinggi, kadar serat yang rendah,
serta adanya interaksi antara bakteri di dalam usus besar dengan asam empedu dan makanan,
selain itu dapat juga dipengaruhi oleh minuman yang beralkohol, khususnya bir. Kanker
kolon dan rektum terutama berjenis histopatologis (95%) adenokarsinoma (muncul dari
lapisan epitel dalam usus = endotel). Munculnya tumor biasanya dimulai sebagai polip jinak,
yang kemudian dapat menjadi ganas dan menyusup, serta merusak; jaringan normal dan
meluas ke dalam struktur sekitarnya. Tumor dapat berupa masa polipoid, besar, tumbuh ke
dalam lumen, dan dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai striktura annular (mirip
cincin). Lesi annular lebih sering terjadi pada bagi rektosigmoid, sedangkan lesi polipoid
yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon asendens. Tumor dapat menyebar
melalui :
1. Infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih (vesika
urinaria).
2. Penyebaran lewat pembuluh limfe limfogen ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon.
3. Melalui aliran darah, hematogen biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah balik
ke sistem portal.
4. Penyebaran secara transperitoneal
5. Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain. Pertumbuhan kanker
menghasilkan efek sekunder, meliputi penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan
ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. Penetrasi kanker dapat menyebabkan
perforasi dan abses, serta timbulnya metastase pada jaringan lain (Gale, 2000 :177).
MANIFESTASI KLINIS
Keluhan utama pasien pasien dengan kanker kolorektal berhubungan
dengan besar dan lokasi dari tumor.
 Tumor yang berada pada kolon kanan, dimana isi kolon berupa cairan,
cenderung tetap tersamar hingga lanjut sekali sedikit kecenderungan
menyebabkan obstruksi karena lumen usus lebih besar dari feses masih
encer. Gejala klinis sering brupa rasa penuh, nyeri abdomen, perdarahan dan
symptomatik anemia (menyebabkan kelemahan, pusing dan penurunan
berat badan).
 Tumor yang berada pada kolon kiri cenderung mengakibatkan perubahan
pola defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks, perdarahan,
mengecilnya ukuran feses, dan komplikasi karena lesi kolon kiri yang
cenderung melingkar mengakibatkan obstruksi. Tumor pada rektum atau
sigmoid bersifat lebih infiltratif pada waktu diagnosis dari leksi proksimal,
maka prognosisnya lebih jelek.

(Kumar dkk, 2010).


PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Biopsi
 Carsinoembrionik Antigen (CEA) Screening

 Digital Rectal Examination

 Barium Enema

 Endoskopi

 Kolonoskopi
KOMPLIKASI
 Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau lengkap.
 Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan penyebaran
langsung.
 Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah sekitar
kolon yang .menyebabkan hemorragi.
 Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses.
 Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok.
 Pembentukan abses.
PENATALAKSANAAN MEDIS
a) Pembedahan (operasi)
b) Penyinaran (Radioterapi)
c) Kemotherapy
d) Kolostomi
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
 Data Demografi
 Riwayat kesehatan dahulu
 Riwayat kesehatan keluarga
 Riwayat kesehatan sekarang
 Pemeriksaan fisik :
 Mata : konjungtiva subanemis / anemis.
 Leher : distensi vena jugularis (JVP).
 Mulut : mukosa mulut kering dan pucat, lidah pecah – pecah dan bau
yang tidak enak.
 Abdomen : distensi abdomen, adanya teraba massa, penurunan
bising usus dan kembung.
 Kulit : turgor kulit buruk, kering (dehidrasi / malnutrisi).
B. Diagnosis Keperawatan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
secara berlebihan.
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan kompresi
jaringan sekunder akibat obstruksi.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan
absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses
keganasan usus.
4. Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi.
5. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan diagnosis
kanker.
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosis Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi dan Rasional

Defisit volume Setelah dilakukan tindakan 1. Awasi masukan dan haluaran dengan
cairan berhubungan keperawatan selama 1x24 jam cermat, ukur feses cair. R/
dengan kehilangan diharapkan dapat mempertahan Memberikan indikator langsung
cairan secara hidrasi adekuat. keseimbangan cairan.
berlebihan. Kriteria Hasil : 2. Kaji tanda vital. R/ Hipotensi,
• membran mukosa lembab takikardi, demam dapat menunjukkan
• turgor kulit baik respons terhadap dan/atau efek
• tanda vital stabil dan kehilangan cairan.
• secara individual mengeluarkan 3. Observasi perdarahan dan tes feses
urine dengan tepat tiap hari untuk adanya darah samar. R/
Diet tak adekuat dan penurunan
absorbsi dapat menimbulkan
defisiensi vit. K dan merusak
koagulasi, potensial resiko
pendarahan.
4. Kolaborasi pemberian cairan
paranteral, transfusi darah sesuai
indikasi, R/ Mempertahankan
istirahat usus akan memerlukan
penggantian cairan untuk
memperbaiki kehilangan/ anemia
5. Kalaborasi pemberian obat sesuai
indikasi.
Diagnosis Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi dan Rasional

Gangguan rasa Setelah dilakukan tindakan 1. Dorong pasien untuk melaporkan nyeri. R/
nyaman : nyeri keperawatan selama 2x24 jam Mencoba untuk mentoleransi nyeri, daripada
berhubungan diharapkan nyeri hilang atau skala meminta analgesic.
dengan kompresi nyeri berkurang. 2. Dorong penggunaan tekhnik relaksasi, mis,
jaringan sekunder Kriteria Hasil : bimbingan imajinasi, visualisasi. R/
akibat obstruksi. • Melaporkan nyeri hilang/terkontrol Menurukan tegangan abdomen.
• tampak rileks dan 3. Berikan obat sesuai indikasi, mis, analgesik.
• mampu tidur/istirahat dengan tepat. R/ Menurunkan nyeri, meningkatkan
kenyamanan.

Perubahan nutrisi setelah dilakukan tindakan 1. Pertahankan tirah baring. R/ Menurunkan


kurang dari keperawatan selama 3x24 jam di kebutuhan metabolik untuk mencegah
kebutuhan tubuh harapkan kebutuhan nutrisi pasien penurunan kalori dan simpanan energi.
b/d gangguan terpenuhi 2. Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang
absorbsi nutrien, Kriteria hasil : sesuai perkembangan kesehatan klien (lunak,
status • klien melaporkan selera makannya bubur kasar, nasi biasa). R/ Asupan kalori dan
hipermetabolik meningkat. protein tinggi perlu diberikan untuk
sekunder terhadap mengimbangi status hipermetabolisme klien
proses keganasan keganasan.
usus. 3. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai
indikasi (roborantia). R/ Pemberian preparat
zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah
anemia; pemberian asam folat mungkin perlu
untuk mengatasi defisiensi karen
amalbasorbsi.
4. Bila perlu, kolaborasi pemberian nutrisi
parenteral. R/ Pemberian peroral mungkin
dihentikan sementara untuk mengistirahatkan
saluran cerna.
Diagnosis Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi dan Rasional

Konstipasi setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Pastikan kebiasaan defekasi pasien dan gaya
berhubungan selama 2x24 jam diharapkan pola hidup sebelunya. R/ Membantu dalam jadwal irigasi
dengan lesi eliminasi klien sesuai kebutuhan fisik dan efektif untuk pasien dengan kolostomi.
obstruksi. gaya hidup dengan ketepatan jumlah dan 2. Observasi gerakan usus, warna, konsistensi, dan
konsistensi.
jumlah. R/ Indikator kembalinya fungsi GI.
Kriteria hasil :
3. Berikan pelunak feses, supositoria gliserin
• Klien melaporkan sudah dapat BAB
dengan teratur. sesuai indikasi. R/ Mungkin perlu untuk
merangsang peristaltik dengan perlahan/evakuasi
feses.

Ansietas Setelah dilkukan tindakan keperawatan 1. Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap
berhubungan selama 2x24 jam menunjukkan rileks prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan. R/
dengan rencana Kriteria hasil : Informasi yang tepat tentang situasi yang
pembedahan dan • Klien melaporkan penurunan ansietas dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan.
diagnosis kanker. sampai tingkat dapat ditangani. 2. Eksplorasi kecemasan klien dan berikan umpan
balik. R/ Mengidentifikasi faktor
pencetus/pemberat masalah kecemasan dan
menawarkan solusi yang dapat dilakukan klien.
3. Pantau dan catat respon verbal dan non verbal
klien yang menunjukan kecemasan. R/ Menilai
perkembangan masalah klien.mendapatkan
informasi keefektifan terapi yang diberikan.
TERIMAKASIH   
TERIMAKASIH   
TERIMAKASIH   