Anda di halaman 1dari 16

Oleh : drg.

Kris Paulus MMkes


Definisi Bitemark didefinisikan sebagai cetakan pola sebagai hasil
kontak suatu objek atau gigi- geligi (gigitan) pada kulit.

•Objek Pemeriksaan
•Sebagai objek pemeriksaan dalam suatu penyelidikan secara garis besar
dapat ditentukan antara lain:
1. Korban hidup
2. Korban mati
3. Manusia sebagai pelaku
4. Benda-benda mati yang terdapat di sekitar tempat kejadian perkara
yaitu:a. Bekas pola gigitan pada tubuh mayat.
. b. Air liur di sekitar bekas pola gigitan dan bekas gigitan makanan
tertentu.
c. Bercak-bercak darah korban.
d. Bercak-bercak darah pelaku.
5. Benda mati yang secara fisik dianggap sebagai barang bukti, antara
lain:a. Gigi palsu lepasan sebagian/ partial denture
b. Gigi palsu penuh/ full denture
c. Mahkota dan jembatan/ crown and bridge
Semua jaringan rongga mulut yaitu pipi bagian dalam dan bibir
yang lepas yang terdapat di tempat kejadian perkara. Objek-
objek tersebut dicatat ke dalam formulir pemeriksaan awal
karena terdapat pemeriksaan lanjutan baik untuk kepentingan
rekonstruksi dan baik pula untuk kepentingan laboratoris
khususnya dalam penentuan golongan darah dan DNA baik
korban maupun pelaku yang nantinya dicatat pula ke dalam
suatu formulir pemeriksaan laboratoris yang berguna untuk
kelengkapan penyidikan yang kesemuanya itu disebut sebagai
oral and dental identification record.
A. Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku
•Menurut William Eckert (1992), pola gigitan adalah bekas gigitan
dari pelaku yang tertera pada kulit korban dalam bentuk luka,
jaringan kulit maupun jaringan ikat di bawah kulit sebagai pola
akibat dari pola permukaan gigitan dari gigi-gigi pelaku melalui
kulit korban

•. Menurut Bowers dan Bell (1955) mengatakan bahwa pola


gigitan merupakan suatu perubahan fisik pada bagian tubuh yang
disebabkan oleh kontak atau interdigitasi antara gigi atas dengan
gigi bawah sehingga struktur jaringan terluka baik oleh gigi manusia
maupun hewan.
Menurut Sopher (1976) mengatakan bahwa pola gigitan yang
ditimbulkan oleh hewan berbeda dengan manusia oleh karena
perbedaan morfologi dan anatomi gigi geligi serta bentuk rahangnya.

Menurut Curran et al (1680) mengatakan bahwa pola gigitan pada


hewan buas yang dominan membuat perlukaan adalah gigi kaninus
atau taring yang berbentuk kerucut.

Menurut Levine (1976) mengatakan bahwa pola gigitan baik pola


permukaan kunyah maupun permukaan hasil gigitan yang
mengakibatkan putusnya jaringan kulit dan dibawahnya baik pada
jaringan tubuh manusia maupun pada buah-buahan tertentu misalnya
buah apel dapat ditemukan baik korban hidup maupun yang sudah
meninggal
•Sedangkan menurut Soderman dan O’Connel pada
tahun 1952 mengatakan bahwa yang paling sering
terdapat pola gigitan pada buah-buahan yaitu buah
apel,pear dan bengkuang yang sangat terkenal dengan
istilah Apple Bite Mark.

•Sedangkan menurut Lukman (2003) mengatakan


bahwa pola gigitan mempunyai suatu gambaran dari
anatomi gigi yang sangat karakteristik yang meninggalkan
pola gigitan pada jaringan ikat manusia baik disebabkan
oleh hewan maupun manusia yang masing-masing
individu sangat berbeda.
B. Klasifikasi pola gigitan

Pola gigitan mempunyai derajat perlukaan sesuai dengan kerasnya


gigitan, pada pola gigitan manusia terdapat 6 kelas yaitu:
1. Kelas I : pola gigitan terdapat jarak dari gigi insisive dan kaninus.

2. Kelas II : pola gigitan kelas II seperti pola gigitan kelas I tetapi


terlihat pola gigitan cusp bukalis dan palatalis maupun cusp bukalis
dan cusp lingualis tetapi derajat pola gigitannya masih sedikit.

3. Kelas III : pola gigitan kelas III derajat luka lebih parah dari kelas
II yaitu permukaan gigit insisive telah menyatu akan tetapi
dalamnya luka gigitan mempunyai derajat lebih parah dari pola
gigitan kelas II.
4. Kelas IV : pola gigitan kelas IV terdapat luka pada kulit dan
otot di bawah kulit yang sedikit terlepas atau rupture sehingga
terlihat pola gigitan irreguler.

5. Kelas V : pola gigitan kelas V terlihat luka yang menyatu pola


gigitan insisive, kaninus dan premolar baik pada rahang atas
maupun bawah.

6. Kelas VI : pola gigitankelas VI memperlihatkan luka dari


seluruh gigitan dari rahang atas, rahang bawah, dan jaringan
kulit serta jaringan otot terlepas sesuai dengan kekerasan
oklusi dan pembukaan mulut
C. Berbagai jenis pola gigitan pada manusia.
Pola gigitan pada jaringan manusia sangatlah berbeda tergantung
organ tubuh mana yang terkena.
Adapun beberapa pola gigitan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Pola gigitan heteroseksual.
Pola gigitan pada pelaku-pelaku hubungan intim antar lawan jenis
dengan perkataan lain hubungan seksual antara pria dan wanita
terdapat penyimpangan yang sifatnya sedikit melakukan
penyiksaan yang menyebabkan lawan jenis sedikit kesakitan atau
menimbulkan rasa sakit.
a. Pola gigitan dengan keterlibatan lidah dan bibir.
gigitan ini terjadi pada waktu pelaksanaan birahi antara pria dan
wanita.
b. Pola gigitan pada organ genital
c. Pola gigitan pada sekitar organ genitald.
Pola gigitan pada mammae.
D. Pola gigitan pada kasus penyiksaan anak / child abuse

Pola gigitan ini dapat terjadi pada seluruh lokasi atau di


sekeliling tubuh anak- anak. Hal ini disebabkan oleh suatu
aplikasi dari pelampiasan gangguan psikis pelaku. Lokasi
pola gigitan pada bagian tubuh tertentu yaitu daerah
punggung, bahu atas, leher.

E. Pola gigitan hewan Pola gigitan hewan umumnya terjadi


sebagai akibat dari penyerangan hewan kepada korban.
Kejadian tersebut dapat terjadi tanpa instruksi dari
pemeliharanya atau dengan instruksi dari pemeliharanya.
•Beberapa hewan yang menyerang korban karena instruksi dari
pemeliharanya biasanya berjenis herder atau doberman yang memang
secara khusus dipelihara pawang anjing di jajaran kepolisian untuk
menangkap pelaku atau tersangka.
•Pola gigitan hewan juga disebabkan sebagai mekanisme pertahanan diri
maupun sebagai pola penyerangan terhadap mangsanya.
a. Pola gigitan anjing biasanya terjadi pada serangan atau atas perintah
pawangnya atau induk semangnya. Misalnya dijajaran kepolisian
untuk mengejar tersangka atau pelaku.
b. Pola gigitan hewan pesisir pantai. Pola gigitan ini terjadi apabila
korban meninggal di tepi pantai atau korban meninggal dibuang di
pesisir pantai, sehingga dalam beberapa hari atau beberapa minggu
korban tersebut digerogoti oleh hewan-hewan laut antara lain kerang,
tiram.
•c. Pola gigitan hewan peliharaan, misalnya gigitan anjing atau kucing.
Identifikasi pelaku dapat dibuat dengan pertolongan odontologis
forensik.
Foto serial, dimulai sejak luka teridentifikasi, harus diambil
dalam waktu 24 jam dalam ukuran milimeter. Golongan
darah pelaku dapat ditentukan dari pemeriksaan saliva
washing yang diambil dari kulit bekas gigitan. Pada daerah
tersebut terdapat sekitar 0,3 ml saliva dan sulit
mendapatkan jumlah yang cukup dengan menggunakan
swab.
Bekas gigitan yang dapat menimbulkan luka, yaitu:
1) Kejahatan seksual seperti pemerkosaan.
2) Kekerasan dalam rumah tangga dan penyiksaan anak
(oleh orang tua).
3) Kasus kriminal lain, dimana korban menyerang pelaku
untuk melindungi dirinya dengan cara menggigit.
4 ) Modus kriminal lainnya.
•Tipe-tipe gigitan ada beberapa macam,yaitu:
1) Haemorage = titik perdarahan kecil.
2) Abrasi = tidak ada bekas kerusakan kulit.
3) Luka memar = pembuluh darah putus, memar, biru, lebam.
4) Luka laserasi = tertusuk/sobek pada kulit.
5) Pengirisan = tusukan yang rapi pada kulit.
6) Avulsi = kulit terlepas.
7) Artifact = digigit hingga bagian tubuh menjadi terpotong.
Kuatnya suatu gigitan, dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :

1) Clearly Defined = Tekanan tergambar pada kulit.


2) Obviously Defined = Tekanan gigitan tingkat satu
(terdapat lekukan jelas pada kulit).
3) Quite Noticeable = tekanan penuh kekerasan
(terjadi luka).
4) Lacerated = kulit ditekan dengan kasar sehingga
rusak dari tubuh.
Identifikasi Bitemark Bitemark merupakan pola yang
dibuat oleh gigi pada kulit, makanan atau substrat yang
lembut tetapi dapat tertekan.

Kebanyakan bitemark pada bagian forensik adalah


kontak antara gigi manusia dengan kulit dan analisis
memperlihatkan keunikan gigi yang tercatat secara
akurat pada kulit.

Perempuan lebih sering digigit dibandingkan pada pria,


dengan kebanyakan gigitan terjadi pada payudara (33%)
dan lengan (19%).
Terdapat beberapa prosedur yang dapat dilakukan untuk
menjaga dan melindungi informasi dental forensik yaitu
dengan melihat luka tersebut sebagai bitemark yang
potensial; melakukan fotografi, membuat cetakan, dan
dapat juga dilakukan eksisi serta mengawetkan bitemark
tersebut.

Kejelasan dan bentuk dari bitemark dapat berubah dalam


waktu yang sangat singkat baik pada korban yang masih
hidup maupun korban mati.