Anda di halaman 1dari 39

REFERAT

Rizki Novita
I11112018

Supervisor :
dr. Eva Lydia Ingan Munthe, Sp. P

KEPANITERAAN KLINIK ILMU


PENYAKIT PARU
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
RSUD DR. AGOESDJAM
KETAPANG
2017

ABSES PARU
PENDAHULUAN
• Semua lesi di parenkim paru dengan
proses supurasi → mikroorganisme
piogenik disebut abses paru.
• Berdasarkan jenis kelamin : laki-laki >>>
perempuan.
• Abses paru lebih sering terjadi pada
pasien usia lanjut karena ↑ kejadian
penyakit periodontal dan peningkatan
prevalensi disfagia dan aspirasi.
• Kejadian abses paru yang paling sering →
komplikasi pneumonia aspirasi yang
disebabkan oleh mikroorganisme anaerob.
• Proses abses paru → terjadi obstruksi
pada parenkim paru → infeksi →
proses supurasi → nekrosis.
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi
Fisiologi
• Proses fisiologi pernapasan : proses O2
dipindahkan dari udara → jaringan-
jaringan dan CO2 dikeluarkan ke udara
ekspirasi.
• Dibagi menjadi 3 stadium :
• Stadium pertama : ventilasi
• Stadium kedua : transportasi
• Stadium ketiga : respirasi sel atau
respirasi interna
Definisi
• Abses paru : suatu daerah lokal nekrosis
supuratif di dalam parenkim paru →
terbentuknya satu atau lebih kavitas
besar.
Epidemiologi
• Insidensi abses paru tidak diketahui,
pertumbuhannya tidak fluktuatif dan
insidensinya juga terlihat ↓ sejak
diperkenalkannya antibiotik (khususnya
penisilin).
• Sejak 1943-1956, Massachusetts General
Hospital melaporkan penderita yg masuk ke
RS sebanyak 10-11/10.000 penderita masa
pre antibiotik, dibandingkan dengan 1-
2/10.000 penderita masa post-antibiotik.
Epidemiologi
• ↓ kasus abses paru berhubungan
dengan :
– penggunaan dini dan luas antimikroba yang
efektif,
– peningkatan manajemen perawatan pasien
yang tidak sadar,
– peningkatan manajemen perawatan pasien
yang dianestesi.6
Etiologi
• Kelompok bakteri • Kelompok bakteri
anaerob : aerob :
Bacteriodes melaninogenus, – Gram positif:
Bacteriodes fragilis,
S. aureus, Streptococcus
Peptosireptococcus species,
microaerophilic, S.
Bacillus Intermedius,
pyogenes, S. pneumonia
Fusobacterium nucleatum,
Microaerophilic streptococcus – Gram negatif:
Klebsiella pneumonia, P.
• Kelompok: aeruginosa, E. Coli, H.
– Jamur: Influenza, Actinomyces
Mucoraceae, Aspergilus Species, Gram negative
species bacilli
– Parasit, amuba
– Mikobakterium
Patofisiologi
• Terjadinya abses paru biasanya melalui
dua cara yaitu aspirasi dan hematogen.
• Kelompok abses bronkogenik (plg sering)
termasuk akibat aspirasi, stasis sekresi,
benda asing, tumor dan striktur bronkhial.
• Keadaan ini dapat → obstruksi bronkus
dan terbawanya organisme virulen →
infeksi pada daerah distal obstruksi tsb.
Patofisiologi
• Secara hematogen, septikemia atau
sebagai fenomena septik emboli (plg
sering), sekunder dari fokus infeksi dari
bagian lain tubuhnya seperti tricuspid valve
endocarditis.
• Penyebaran hematogen → abses multiple
dan kecil-kecil, lebih sulit dari abses single
walaupun ukurannya besar.
• Secara umum diameter abses paru
bervariasi dari beberapa mm s/d cm atau >.
Patofisiologi
• Abses paru dapat terjadi akibat necrotizing
pneumonia → nekrosis dan pencairan
pada daerah yang mengalami konsolidasi,
organisme : S. aureus, Klebsiella
pneumonia dan grup Pseudomonas.
Abses yang terjadi biasanya multiple dan
berukuran kecil (<2 cm).2
• Bulla atau kista yang sudah ada bisa
berkembang menjadi abses paru.
Faktor Resiko
• Kondisi-kondisi yang • Sebab-sebab Iatrogenik
memudahkan terjadinya • Penyakit-penyakit
aspirasi: periodontal
– Gangguan kesadaran:
• Kebersihan mulut yang buruk
Alkoholisme, epilepsi/
kejang sebab lain, • Pencabutan gigi
gangguan serebrovaskular, • Pneumonia akut
anestesi umum,
penyalahgunaan obat • Immunosupresi
intravena, koma, trauma, • Bronkiektasis
sepsis.
• Kanker paru
– Gangguan esophagus dan
saluran cerna lainnya: • Infeksi saluran napas atas
gangguan motilitas. dan bawah yang belum
– Fistula trakeoesopageal. teratasi.
Diagnosis
• Anamnesis
– Umumnya pasien mempunyai riwayat perjalanan
penyakit 1-3 minggu dengan gejala awal → badan
terasa lemah, tidak nafsu makan, ↓BB, batuk kering,
keringat malam, demam intermitten bisa disertai
menggigil dengan suhu tubuh mencapai 39,4°C atau
lebih.
• Pemeriksaan Fisik
– Suhu badan ↑ s/d 40°C,
– Pada paru → nyeri tekan lokal, pada daerah terbatas
perkusi terdengar redup dengan suara napas
bronkial, takikardi, sering dijumpai jari tabuh.
• Pemeriksaan Radiologi
• Foto dada: berupa gambaran densitas homogen yang
berbentuk bulat. Kemudian akan ditemukan gambaran
radiolusen dalam bayangan infiltrat yang padat.
Selanjutnya bila abses tersebut mengalami ruptur sehingga
terjadi drainase abses yang tidak sempurna ke dalam
bronkus, maka baru akan tampak kavitas ireguler dengan
batas cairan dan permukaan udara (air fluid level) di
dalamnya.
• Gambaran spesifik ini tampak dengan mudah bila kita
melakukan foto dada PA dengan posisi berdiri.
Pemeriksaan Penunjang
• Khas pada abses paru anaerobic : kavitas
single (soliter) yang biasanya ditemukan
pada infeksi paru primer, sedangkan
abses paru sekunder (aerobic, noskomial
atau hematogen) lesinya bisa multiple.
Gambaran Radiologis

Komplikasi Pneumonia pneumococcus Foto rontgen dada lateral


oleh nekrosis paru dan pembentukan menunjukkan tingkat air fluid level
abses abses paru
Gambaran Radiologis

Abses paru pada lobus kiri bawah, CT-Scan pada abses paru
segmen superior
Pemeriksaan Radiologis
• CT-scan
• Gambaran khas CT scan abses paru → lesi dens
bundar dengan kavitas berdinding tebal tidak
teratur, dan terletak di daerah jaringan paru yang
rusak.
• Tampak bronkus dan pembuluh darah paru
berakhir secara mendadak pada dinding abses,
tidak bertekan atau berpindah letak.
• Sisa-sisa pembuluh darah paru dan bronkus yang
berada dalam abses dapat dilihat dengan CT
scan.
Diagnosis
• Laboratorium • Pemeriksaan Patologi
– Hitung leukosit ↑ : 10.000- Anatomi
30.000/mm³
– Hitung jenis bergeser ke
kiri dan sel PMN (netrofil
immature)
– Pemeriksaan dahak
– Kultur darah
– Pemeriksaan aerologi
• Pemeriksaan Melalui
Aspirasi Jarum
Perkutan
Diagnosa Banding
• Karsinoma Bronkogen
• Tuberkulosis Paru dengan kavitas
Diagnosis Banding
• Karsinoma bronkogenik yang mengalami kavitas,
biasanya dinding kavitas tebal dan tidak rata. Diagnosis
pasti dengan pemeriksaan sitologi / patologi.
• Tuberkulosis paru atau infeksi jamur. Gejala klinisnya
hampir sama atau lebih menahun daripada abses paru.
Pada tuberculosis didapatkan BTA dan pada infeksi jamur
ditemukan jamur.
• Bula yang terinfeksi, tampak air fluid level. Di sekitar buka
tidak ada atau hanya sedikit konsolidasi.
• Kista paru yang terinfeksi, dindingnya tipis dan tidak ada
reaksi di sekitarnya.
Diagnosis Banding
• Hematom paru, kemungkinan ada riwayat trauma dimana
batuknya hanya sedikit.
• Penumokoniosis yang mengalami kavitas seperti
pekerjaan penderita jelas di daerah berdebu dan
didapatkan simple pneumoconiosis pada penderita
• Hiatus hernia, tidak ada gejala paru diserta nyeri
restrostrenal dan heart burn bertambah berat pada waktu
membungkuk. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan foto
barium
• Sekuester paru. Letak di basal kiri belakang dengan
diagnosis pasti dengan bronkografi atau arteriografi
retrograde.
Penatalaksanaan
• Non Operatif
• Abses paru yang disebabkan stafilokokus →
penicilinase-resistant penicillin atau sefalosporin
generasi ke-1.
• S. aureus yang methicillin resistant seperti yang
disebabkan oleh emboli paru septik nasokomial →
vankomisin.
• Abses paru yang disebabkan nocardia →
sulfonamide 3x1 gram oral.
• Abses paru amubik → metronidazol 3x750 mg,
• Bila penyakitnya serius seperti terjadi
rupture dari abses → emetin parentral (5
hari pertama)
• Antibiotik diberikan s/d pneumonitis telah
mengalami resolusi dan kavitasnya
hilang, tinggal berupa lesi sisa yang kecil
dan stabil dalam waktu > 2-3 minggu.
• Perbaikan klinis berupa berkurang atau
hilangnya demam tercapai dalam 3-4
minggu s/d 7-10 hari.
Bronkoskopi
• Peranan penting dalam penangan abses
paru seperti pada kasus yang dicurigai
karsinoma bronkus atau lesi obstruksi,
pengeluaran benda asing dan untuk
melebarkan striktur.
Drainase
• Drainase dengan tindakan operasi jarang
diperlukan karena lesi biasanya respon
dengan antibiotik.
• Bila tidak respons, apalagi bila kavitasnya
besar maka → drainase perkutan untuk
mencegah kontaminasi pada rongga
pleura.
Reseksi Paru

• Reseksi paru diindikasikan pada abses


paru yang responnya minimal dengan
antibiotik, abses paru dengan ukuran yang
besar dan infark paru.

Lobektomi
• Lobektomi → prosedur yang paling sering,
sedangkan reseksi segmental biasanya cukup
untuk lesi-lesi yang kecil.
Komplikasi
• Komplikasi lokal : penyebaran infeksi
melalui aspirasi lewat bronkus atau
penyebaran langsung melalui jaringan
sekitarnya.
• Abses paru yang drainasenya kurang
baik → ruptur ke segmen lain dengan
kecenderungan penyebaran infeksi
staphylococcus, sedang yang rupture ke
rongga pleura menjai piotoras (empiema),
bronkopleura.
Komplikasi
• Komplikasi sering lainnya berupa abses
otak, hemoptisis massif, rupture pleura
visceralis → piopneumotoraks dan
fistula
Prognosis
• Prognosis abses paru ~ keadaan umum
pasien, letak abses serta luasnya kerusakan
paru yang terjadi, dan respon pengobatan
yang kita berikan.
• Angka mortalitasnya pasien abses paru anaerob
pada era antibiotik <10% dan kira-kira 10-15%
memerlukan operasi.
• Di zaman era antibiotik sekarang angka
penyembuhan mencapai 90-95 %.
• Bila pengobatan diberikan dalam jangka waktu
cukup lama angka kekambuhannya rendah.
Pencegahan
• Perhatian khusus ditujukan kepada
kebersihan mulut.
• Kebersihan mulut yang jelek dan penyakit-
penyakit periondontal bisa menyebabkan
kolonisasi bakteri patogen orofaring →
infeksi saluran napas s/d abses paru.
Kesimpulan
• Abses paru : infeksi destruktif berupa lesi
nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir →
kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim
paru pada satu lobus atau lebih.
• Abses paru dapat dipengaruhi faktor
predisposisi seperti gangguan fungsi imun
karena obat-obatan, gangguan kesadaran
(anestesi, epilepsi), oral hygiene yang kurang
serta obstruksi dan aspirasi benda asing.
Kesimpulan
• Diagnosis pasti bila didapatkan biakan kuman
penyebab → terapi etiologis.
• Pemberian antibiotika merupakan pilihan utama
disamping terapi bedah dan terapi suportif fisioterapi.
• > 90% dari abses paru sembuh dengan manajemen
medis, kecuali disebabkan oleh obstruksi bronchial
sekunder untuk karsinoma.
• Pada penderita dengan beberapa faktor predisposisi
mempunyai prognosa yang lebih jelek dibandingkan
dengan penderita dengan satu faktor predisposisi.
Daftar Pustaka
• Darmanto R. Respirologi. Edisi:I. Jakarta; EGC; 2009. Hal.143.
• Rasyid A. Abses paru. Dalam: Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I,
Simadibrata KM, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid
III. Edisi V. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. hal.2323-2327.
• Haryadie R. Lung abscess. [online] 2012 June 11 [cited 2012 Juli 30].
Avai lable from: URL:http://dokterbook.com/
• Kumar R, Cotran S, Robbind L. Buku Ajar Patologi. Vol.2. Edisi 7.
Jakarta:EGC; 2007. hal. 556.
• Yunus M. CT guided transthoracic catheter drainage of intrapulmonary
abscess. J Pak Med Assoc. 2009; 59 (10): 703-8.
• Koziel H. Lung abscess. [online] 2006 [cited 2011 April 20]. Available
from: URL: http://www.scribd.com/doc/28978474/Lung-Abscess.
• Price A,Wilson M. Patofisiologi. Vol. 2. Edisi 6. Jakarta: EGC;2005.
hal.737.
• Luhulima JW. Systema respiratorium. Makassar: Bagian Anatomi FK
• Leung A.N. Pulmonary tuberculosis: the essentials. Radiology.
1999; 210: 307-22. Diposkan oleh Nasriyadi Nasir di 23:20 Label:
Health, Internal Medicine, Radiology.
• Kamangar N, Sather CC, Sharma S. Lung abscess. [online] 2009
Aug 19 [cited 2011 April 7]. Available from: URL:
http://emedicine.medscape.com/article/299425-overview
• Eisenberg RL, Johnson NM. Lung abscess. In: Comprehensive
radiographic pathology. USA: Mosby Elsevier; 2007. p.48-50.
• Jardins TD. The cardiopulmonary system. In: Cardiopulmonary
Anatomy and physiology, essentials in respiratory care. Fourth
edition. USA: Delmar; 2002. p.45, 47.
• Murfitt J, Robinson PJA, Jenkins JPR, Whitehouse RW, Wright AR.
The normal chest: Methods of infestigations and differential
diagnosis. In: Sutton D, editor. Textbook of radiology and imaging.
UK: Elsevier Sience; 2003. p.20.
• Budjang N. Radang Paru Yang Tidak Spesifik. Dalam: Ekayuda I.
Radiologi Diagnostik. Edisi II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.
Hal. 101.
• Palmer PES, Cockshott WP, Hegedus V, Samuel E, editors. Abses
paru bakterial. Dalam: Petunjuk membaca foto untuk dokter umum
(Manual of radiographic interpretation for general practitioners).
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1995. hal.56.
• Hagan JL, Hardy JD. Lung abscess revisited. Ann. Surg. 1983; 197
(6). 756-60
• Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis paru. Dalam: Sudoyo AW, Setyohadi
B, Alwi I, Simadibrata KM, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Jilid II. Edisi IV. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 2006. hal.988-
93.
• Faiz O, Moffat D. The Lungs. In: Anatomy at a glance. UK: Blackwell
Science Ltd; 2002. p.15-7.
Terima Kasih