Anda di halaman 1dari 79

Gel s

Hydrogel
• Emulgel
I. DEFINISI
• Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat
dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar,
terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel kadang – kadang disebut jeli. (FI
IV, hal 7)

• Gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat


dari zarah kecil senyawaan organik atau makromolekul senyawa
organik, masing-masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan
(Formularium Nasional, hal 315)

• Gel sebagai sistem semisolida, baik berupa suspensi yang dibangun


oleh partikel anorganik halus (kecil) maupun molekul organik besar
yang diinterpenetrasikan dengan cairan (USP 24 – NF 19)
FI V , 2014
• Gel, kadang-kadang disebut Jeli,
merupakan sistem semipadat terdiri dari
suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organic
yang besar, terpenetrasi oleh suatu
cairan. Jika massa gel terdiri dari jaringan
partikel kecil yang terpisah, gel
digolongkan sebagai sistem dua fase
(misalnya Gel
• Aluminium Hidroksida).
• Dalam sistem dua fase, jika ukuran
partikel dari fase terdispersi relatif besar,
massa gel kadang-kadang dinyatakan
sebagai magma (misalnya Magma
Bentonit).
• Baik gel maupun magma dapat berupa
tiksotropik, membentuk semipadat jika
dibiarkan dan menjadi cair pada
pengocokan.
• Sediaan harus dikocok dahulu sebelum
digunakan untuk menjamin homogenitas
dan hal ini tertera pada etiket
• (lihat Suspensi).
• Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul
organik yang tersebar serba sama dalam
suatu cairan sedemikian hingga tidak
terlihat adanya ikatan antara molekul
makro yang terdispersi dan cairan
• Gel fase tunggal dapat dibuat dari
makromolekul sintetik (misalnya
Karbomer) atau dari gom alam (misalnya
Tragakan). Sediaan tragakan disebut juga
musilago.
• Walaupun gel-gel ini umumnya
mengandung air, etanol dan minyak dapat
digunakan sebagai fase pembawa.
• Sebagai contoh, minyak mineral dapat
dikombinasi dengan resin polietilena untuk
membentuk dasar salep berminyak.

• Gel dapat digunakan untuk obat yang


diberikan secara topikal atau dimasukkan
ke dalam lubang tubuh.
II. TEORI
Pengolongan (Disperse Sistem) (Lachman, hal 496)
A. Berdasarkan sifat fase koloid
B. Berdasarkan sifat pelarut
C. Berdasarkan bentuk struktur gel
D. Berdasarkan jenis fase terdispersi (FI IV,
ansel)
:
A. Berdasarkan sifat fasa koloid:
- Gel anorganik, contoh : bentonit magma
- Gel organik, pembentuk gel berupa polimer

B. Berdasarkan sifat pelarut:


- hidrogel (pelarut air)
- organogel (pelarut bukan air/organik)
- xerogel
BENTONIT MAGMA
Bentonit 50 g
Purified Water, a sufficient quantity,
to make 1000 g

Sprinkle the Bentonite, in portions, upon 800 g of hot purified water,


allowing each portion to become thoroughly wetted without stirring. Allow it
to stand with occasional stirring for 24 hours. Stir until a uniform magma is
obtained, add Purified Water to make 1000 g, and mix.

The Magma may be prepared also by mechanical means such as by use of


a blender, as follows. Place about 500 g of Purified Water in the blender,
and while the machine is running, add the Bentonite. Add Purified Water to
make up to about 1000 g or up to the operating capacity of the blender.
Blend the mixture for 5 to 10 minutes, add Purified Water to make 1000 g,
and mix
C. Berdasarkan bentuk struktur gel:
- Kumparan acak
- Heliks
- Batang
- Bangunan kartu

D. Berdasarkan jenis fase terdispersi (FI IV,


ansel)
:
- Gel fase tunggal : carbomer, tragakan
- Gel sistem dua fase : bentonit magma
Kegunaan (Lachman,1989. Pharmaceuitical
Dosage System. Dysperse system. Volume 2, hal
495 – 496)
• Gel merupakan suatu sistem yang dapat digunakan
untuk pemberian oral, dalam bentuk sediaan yang
tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari
gelatin dan untuk bentuk sediaan obat long – acting
yang diinjeksikan secara intramuskular.
• Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan
pengikat pada granulasi tablet, bahan pelindung
koloid pada suspensi, bahan pengental pada sediaan
cairan oral, dan basis suppositoria.
• Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam
berbagai produk kosmetik, termasuk pada
shampo, parfum, pasta gigi, dan sediaan
perawatan kulit dan rambut.
• Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan
secara topikal (non steril) atau dimasukkan ke
dalam lubang tubuh atau mata (gel steril) (FI IV,
hal 8)
Keuntungan dan Kekurangan Sediaan Gel.
• Keuntungan sediaan gel :
• Untuk hidrogel :
– efek pendinginan pada kulit saat digunakan;
– penampilan sediaan yang jernih dan elegan;
– pada pemakaian di kulit setelah kering
meninggalkan film tembus pandang, elastis, daya
lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga
pernapasan pori tidak terganggu;
– mudah dicuci dengan air;
– pelepasan obatnya baik;
– kemampuan penyebarannya pada kulit baik.
Kekurangan sediaan gel :
Untuk hidrogel :
• Harus menggunakan zat aktif yang larut di
dalam air sehingga diperlukan penggunaan
bahan peningkat kelarutan seperti surfaktan
agar gel tetap jernih pada berbagai perubahan
temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah
dicuci atau hilang ketika berkeringat, juga
kandungan surfaktan yang tinggi dapat
menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal.
• Penggunaan emolien golongan ester harus
diminimalkan atau dihilangkan untuk mencapai
kejernihan yang tinggi.
Untuk hidroalkoholik:
• Gel dengan kandungan alkohol yang
tinggi dapat menyebabkan pedih pada
wajah dan mata, penampilan yang buruk
pada kulit bila terkena pemaparan cahaya
matahari, alkohol akan menguap dengan
cepat dan meninggalkan film yang berpori
atau pecah-pecah sehingga tidak semua
area tertutupi atau kontak dengan zat
aktif.
Sifat / Karakteristik Gel (lachman,
496 – 499)
• Zat pembentuk gel: inert, aman dan tidak
bereaksi dengan komponen lain
• Pemilihan bahan pembentuk gel harus
dapat memberikan bentuk padatan yang
baik selama penyimpanan tapi dapat
rusak segera ketika sediaan diberikan
kekuatan atau daya yang disebabkan oleh
pengocokan dalam botol, penekanan
tube, atau selama penggunaan topikal.
• ·
• ·
• Karakteristik gel harus disesuaikan
dengan tujuan penggunaan sediaan yang
diharapkan.
• Penggunaan bahan pembentuk gel yang
konsentrasinya sangat tinggi atau BM
besar dapat menghasilkan gel yang sulit
untuk dikeluarkan atau digunakan.
.
• Gel dapat terbentuk melalui penurunan
temperatur, tapi dapat juga pembentukan
gel terjadi satelah pemanasan hingga
suhu tertentu.
• Contoh polimer seperti MC, HPMC dapat
terlarut hanya pada air yang dingin yang
akan membentuk larutan yang kental dan
pada peningkatan suhu larutan tersebut
akan membentuk gel.
• Fenomena pembentukan gel atau
pemisahan fase yang disebabkan oleh
pemanasan disebut thermogelation
Sifat dan karakteristik gel adalah sebagai berikut
(Disperse system):

1. Swelling
2. Sineresis.
3. Efek suhu
4. Efek elektrolit.
5. Elastisitas dan rigiditas
6. Rheologi
Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam formulasi
1. Penampilan gel : transparan atau berbentuk
suspensi partikel koloid yang terdispersi,
dimana dengan jumlah pelarut yang cukup
banyak membentuk gel koloid yang mempunyai
struktur tiga dimensi.
2. Inkompatibilitas dapat terjadi dengan
mencampur obat yang bersifat kationik pada
kombinasi zat aktif, pengawet atau surfaktan
pembentuk gel yang bersifat anionik (terjadi
inaktivasi atau pengendapan zat kationik
tersebut).
3.Gelling agents yang dipilih harus bersifat
inert, aman dan tidak bereaksi dengan
komponen lain dalam formulasi.

4. Penggunaan polisakarida memerlukan


penambahan pengawet sebab
polisakarida bersifat rentan terhadap
mikroba.
5. Viskositas sediaan gel yang tepat,
sehingga saat disimpan bersifat solid tapi
sifat soliditas tersebut mudah diubah
dengan pengocokan sehingga mudah
dioleskan saat penggunaan topikal.
6. Komponen dalam formula dipilih yang
tidak banyak menimbulkan perubahan
viskositas saat disimpan pada temperatur
yang tidak terkontrol.
7. Konsentrasi polimer sebagai gelling
agents harus tepat sebab saat
penyimpanan dapat terjadi penurunan
konsentrasi polimer yang dapat
menimbulkan syneresis (air mengambang
diatas permukaan gel)
8. Pelarut yang digunakan tidak bersifat
melarutkan gel, sebab bila daya adhesi
antar pelarut dan gel lebih besar dari daya
kohesi antar gel maka sistem gel akan
rusak.
Komponen Gel
Gelling Agents
A. Polimer: a. Gom Alam
• b. Derivat selulosa
• c. Polimer sintetis (Karbomer= karbopol)
B. Polietilen
C. Koloid padat terdispersi
D. Surfactan
E. Gellants lain
F. Polivinil alkohol
G. Clays (gel anorganik)
Bahan tambahan
a. Pengawet
• Tragakan : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn
propil hidroksi benzoat 0,05 % w/v
• Na alginate: metil hidroksi benzoat 0,1- 0,2 %
w/v, atau klorokresol 0,1 % w/v atau asam
benzoat 0,2 % w/v
• Pektin: asam benzoat 0,2 % w/v atau metil
hidroksi benzoat 0,12 % w/v atau klorokresol
0,1-0,2 % w/v
• Starch glyserin: metil hidroksi benzoat 0,1-0,2
% w/v or asam benzoat 0,2 % w/v
• MC : fenil merkuri nitrat 0,001 % w/v atau
benzalkonium klorida 0,02% w/v
• Na CMC: metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn
propil hidroksi benzoat 0,02 % w/v
• Polivinil alkohol: klorheksidin asetat 0,02 % w/v

Pada umumnya pengawet dibutuhkan oleh


sediaan yang mengandung air. Biasanya
digunakan pelarut air yang mengandung
metilparaben 0,075% dan propilparaben
0,025% sebagai pengawet.
b. Penambahan Bahan higroskopis
Bertujuan untuk mencegah kehilangan
air. Contohnya gliserol, propilenglikol dan
sorbitol dengan konsentrasi 10-20 %

c. Chelating agent
• Bertujuan untuk mencegah basis dan zat
yang sensitive terhadap logam berat.
Contohnya EDTA

Manufacture of pharmaceutical gels
Water soluble component/excipients are
initially dissolved in the vehicle in a mixing
vessel with mechanical stirring. The
hydrophilic polymer must be added to the
stirred mixture slowly to prevent
aggregation and stirring is continued until
dissolution of the polymer has occured.
• It should be noted that exessive stirring of
pharmaceutical gels results in entrapment
of air. Therefore, to prevent this the mixing
rate must not be excessive or a mixing
vessel may be used to which a vacuum
may be pulled, thereby removing air.
III. FORMULA
• 3.1 Formula Umum/standar
• R/ Zat aktif
• Basis gel
• Zat tambahan
2 Formula Basis Gel
CONTOH BASIS FORMULA GEL
• 1. R/ Ichtimol 2g
• Tragakan 5g
• Alkohol 10 mL
• Gliserol 2g
• Air hingga 100 g
• Buat 50 g

Metoda pembuatan:

• Sebagai antisipasi kehilangan dalam proses


pembuatan maka sediaan disiapkan sebanyak
60 g
• Botol ditara dan disiapkan mucilago tragakan
dengan 33 mL air
• Ichtimol, gliserol dan 10 mL alcohol
dicampurkan, kemudian ditambahkan mucilage
tragakan, lalu diaduk/dikocok
• Berat diadjust dengan air, kemudian dikocok
kembali, lalu dimasukkan ke dalam wadah
Pembuatan mucilage tragakan :

Proses pembuatan bahan pembawa.


• Botol bermulut lebar dikalibrasi, dikeringkan di dalam
oven kemudian didinginkan
• Alkohol dimasukkan kemudian ditambahkan tragakan
(jangan terbalik karena akan mengakibatakan
terjadinya pengentalan) kemudian dilakukan
pengocokkan untuk mencampurkannya
• Ditungkan kedalam wadah yang berisi pembawa, lalu
ditutup dan dikocok segera
• Volume digenapkan, lalu dicampurkan dan
dimasukkan kedalam wadah untuk penyimpanan
• . R/ Na-alginat 7g
• Gliserol 7g
• Metil hidroksi benzoate 0,2 g
• Ca-glukonat 0,05 g
• Air hingga 100 g

Catatan : basis ini harus disimpan semalam


sebelum digunakan
• Metoda pembuatan :
• Na-alginat dibasahkan dengan gliserol
dalam mortir
• Pengawet dan Ca-glukonat dilarutkan ke
dalam 80 mL air dengan bantuan
pemanasan, lalu dinginkan hingga 60°C
dan diaduk atau distirer cepat
• Campuran Na-lginat-gliserol ditambahkan
ke dalam vorteks dengan jumlah sedikit,
lalu diaduk lebih lanjut hingga homogen,
kemudian dimasukkan ke dalam wadah

Formula gel
• 1. Gel minyak mineral
• R/ Polietilen 10 %
• Minyak mineral 90 %

• Cara pembuatan ;
• Dicampurkan dan aduk atau kocok.
Campuran dipanaskan hingga 90°C
campur hingga homogen, lalu dinginkan
dengan cepat melalui pengadukan.
2. Gel efedrin sulfat
• R/ Efedrin sulfat 10 g
• Tragakan 10 g
• Metil salisilat 0,1 g
• Eucalyptol 1 mL
• Minyak pine needle 0,1 mL
• Gliserin 150 g
• Air 830 mL
• Cara pembuatan :
• Efedrin sulfat dilarutkan ke dalam air dan ditambahkan
gliserin, tragakan, kemudian komponen lainnya.
Campurkan dengan baik dan simpan dalam wadah
tertutup baik selama 1 minggu dengan
• pengadukan.

• Clear gel
• R/ Minyak mineral 10 %
• Polioksietilen 10 oleil eter 20,7 %
• Polioksietilen fatty gliserida 10,3 %
• Propilen glikol 8,6 %
• Sorbitol 6,9 %
• Air 43,5 %

Cara pembuatan :
• Semua komponen dipanaskan kecuali air hingga 90°C,
kemudian air dipanaskan secara terpisah hingga 85°C.
Air dicampurkan ke dalam komponen lain tersebut
dengan pengadukan, lalu dinginkan hingga 60°C

Gel zinc oksida
• R/ Karbomer 934 P (karbopol 934P) 0,8%
• NaOH (larutan 10 %) 3,2 %
• ZnO 20 %
• Air 76 %

• Cara pembuatan :
• Karbomer didispersikan ke dalam air, kemudian
ditambahakan NaOH dengan pengadukan yang
lambat untuk menghindari penyerapan
/penjerapan udara. Kemudian tambahkan ZnO
dan campurkan hingga homogen

• Gel sun Screening
• R/ Etanol 53 %
• Karbomer 940 1%
• Gliseril-p-amino benzoat 3%
• Monoisopropanolamin 0,09 %
• Air 52,91 %
• Cara pembuatan :
• Karbomer 940 didispersikan ke dalam alcohol
dan giseril-p-amino benzoat dilarutkan ke dalm
larutan. Secara perlahan Monoisopropanolamin
ditambahkan. Kemudian secara perlahan-lahan
ditambahkan air dan dikocok dengan seksama
untuk menghindari penyerapan udara, larutan
akan jernih dan terbentuk gel.
• Gel hidroksi peroksida
• R/ Poloksamer F-127 25 %
• Hidrogen peroksida (lar 30%) 10%
• Air murni 65%
• Air
• Cara pembuatan :
• Air dipanakan hingga 40-50° F dan disimpan pada
wadah pencampuran. Poloksamer F-127 ditambahkan
secara perlahan dengan pengadukan yang baik
kemudian pengadukan dilakukan kembali hingga larutan
terbentuk. Temperatur dijaga pada suhu 50° F.
Tambahkan larutan hydrogen peroksida dingin secara
perlahan dengan pengadukan yang baik. Lalu pindahkan
ke dalam wadah dan disimpan dalam temperatur
ruangan hingga cairan menjadi gel yang jernih.
• Basis clear Jelly
• R/ Na-alginat 3g
• Metil paraben 0,2 g
• Natrium heksametafosfat 5g
• Gliserin 10 g
• Air murni 100 g
• Cara pembuatan :
• Metil paraben dilarutkan ke dalam gliserin dengan
penambahan panas. Kemudian ditambahkan air ke dalm
gliserin yang hangat dengan pengadukan yang cepat,
kemudian Natrium heksametafosfat dilarutkan ke dalam
larutan. Lalu ditambahkan Na-alginat dengan
pengadukan cepat yang kontinu hingga terlarut
sempurna.
IV. PERHITUNGAN FORMULA
V. METODA DAN PROSEDUR PEMBUATAN

Proses pembuatan (Pustaka : Lachman, Disperse System Vol. 2):

1. Timbang sejumlah gelling agent sesuai dengan yang


dibutuhkan
2. Gelling agent dikembangkan sesuai dengan caranya masing-
masing
3. Timbang zat aktif dan zat tambahan lainnya
4. Tambahkan gelling agent yang sudah dikembangkan ke dalam
campuran tersebut atau sebaliknya sambil diaduk terus-
menerus hingga homogen tapi jangan terlalu kuat karena akan
menyerap udara sehingga menyebabkan timbulnya gelembung
udara dalam sediaan yang nantinya dapat mempengaruhi pH
sediaan.
5. Gel yang sudah jadi dimasukkan ke
dalam alat pengisi gel dan diisikan ke
dalam tube sebanyak yang dibutuhkan

6. Ujung tube ditutup lalu diberi etiket dan


dikemas dalam wa dah yang dilengkapi
brosur dan etiket

Wadah Gel
• Gel lubrikan harus dikemas dalam tube dan
harus disterilkan.
• Gel untuk penggunaan mata dikemas dalam
tube steril.
• Gel untuk penggunaan pada kulit dapat dikemas
dalam tube atau pot salep.
• Wadah harus diisi cukup penuh dan kedap
udara untuk mencegah penguapan.
VII. EVALUASI GEL
A. Evaluasi fisik
1. Penampilan
2. Homogenitas
3. Viskositas/rheologi
4. Distribusi ukuran partikel
5. Uji Kebocoran
6. Isi minimum
7. Penetapan pH
8. Uji pelepasan Bahan aktif dari sediaan gel
9. Uji difusi bahan aktif dari sediaan gel
10. Stabilitas gel
Surface picture (406035) (ESEM)
Cross-section picture (406035) (ESEM)
EXAMPLE : SWELLING CONTROL

A A
P A A
P A

A A
A
P A A P A
A

A
A A
P A P A

P A
A A
A

A
A
A
P = PROTEIN

= DRUG
NETWORK SWELLING:
A =ANALYTE
DRUG CAN BE RELEASED
Sol-gel processing options
EMULGEL
Introduction
1. Gel formulations generally provide faster
drug release compared with conventional
ointments and creams.
2. In spite of many advantages of gels a major
limitation is in the difficulty in delivery of
hydrophobic drugs.
3. So to overcome this limitation, emulgels are
prepared and with their use even a hydrophobic
drug can enjoy the unique properties of gels
INTRODUCTION
• EMULSION GEL
EMULGEL

9/29/18 57
Emulgels for dermatological use have
several favourable properties such as
being thixotropic, greaseless,easily
spreadable, easily removable, emollient,
non-staining, water-soluble, longer shelf
life, bio-friendly, transparent &
pleasing appearance (Stanos,2007)
ADVANTAGES of Emulgel
• Hydrophobic drugs can be easily incorporated
• Better stability
• Better loading capacity
• Production feasibility and low preparation cost
• No intensive sonication
• Controlled release
• Patient compliance

9/29/18 59
DISADVANTAGES of Emulgel

• Drug of Large particle size NOT easy to


absorb through skin
• Poor permeability
• Skin irritation
• Occurrence of bubble

9/29/18 60
Important constituents

• Aqueous material: Water, Alcohol


• Oils: IPM (7-7.5%), Light liguid paraffin (7-5%)
• Emulsifiers
• Gelling agents HPMC (2-5%), Sod. CMC (1%),
Carbopol 940(1%)
• Permeation enhancers :
- Oleic acid( 1%),
- Lecithine (1%)
- Menthol (4-6%)
9/29/18 61
Method of preparation

9/29/18 62
Example:
Preparation of mefenamic acid emulgel
• Carbopol 940 Purified water GEL
• Span 20 Liquid paraffin OIL PHASE
• Tween 20 Purified water AQUEOUS PHASE
• 1. Mefenamic acid ETHANOL
• 2. Methyl & Propyl paraben PROPYLENE GLYCOL
• Oil phase Aq phase stirring cool EMULSION
GEL

9/29/18 67
• Stability studies
The prepared emulgels were packed
in aluminum collapsible
tubes (5 g) and subjected to stability
studies at 5 C, 25 C/ 60% RH,
30 C/65% RH, and 40 C/75% RH
for a period of 3 months.
Samples were withdrawn at 15-day
time intervals and evaluated for
physical appearance, pH,
rheological properties
and drug content
9/29/18 68
Results and discussion

• Physical appearance
• Emulgel formulations were
yellowish white viscous
creamy preparation with a
smooth homogeneous
texture and glossy
appearance.

• Rheological studies
• The tests were performed at 100
rpm for 10 min.
Figure . Viscosity of the formulations F1–
F4 (mean± SD).
9/29/18 69
• Skin irritation test
• No allergic symptoms like inflammation, redness, irritation
appeared on rats up to 24 h.

• Invitro release studies


• The study showed the release of the drugs from
its emulsified gel formulation can be ranked in
the descending order:
F4 > F1 > F2 >F3 where the amounts of the drug
release of the drug released after 240 min were
56.01%, 53.48%, 52.23%, 51.21%, respectively

9/29/18 70
Figure . In vitro cumulative % drug release
of formulation F1–F4

9/29/18 71
1. Hydrophobic drugs can be easily
incorporated into gels using o/w emulsions.
Most of the hydrophobic drugs cannot be
incorporated directly into gel base because
solubility act as a barrier and problem arises
during the release of the drug. Emulgel helps in
thincorporation of hydrophobic drugs into the oil
phase and then oily globules are dispersed in
aqueous phase resulting in o/w emulsion. And
this emulsion can be mixed into gel base.This
may be proving better stability and release of
drug than simply incorporating drugs into gel
base.
2. Better stability: Other transdermal
preparations are comparatively less stable
than emulgels. Like powders are
hygroscopic, creams shows phase
inversion or breaking and ointment shows
rancidity due to oily base.
3. Better loading capacity: Other
novel approaches like niosomes and
liposomes are of nano size and due
to vesicular structures may result in
leakage and result in lesser
entrapment efficiency. But gels due to
vast network have comparatively
better loading capacity.
4. Production feasibility and low
preparation cost:
Preparation of emulgels comprises of
simpler and short steps which increases
the feasibility of the production.
• There are no specialized instruments
needed for the production of emulgels.
Moreover materials used are easily
available and cheaper. Hence, decreases
theproduction cost of emulgels.
5. No intensive sonication:
Production of vesicular molecul
needs intensive sonication which may
result in drug degradation and
leakage. But this problem is not seen
during the production of emulgels as
no sonication is needed.
6. Controlled release: Emulgels can
be used to prolong the effect of drugs
having shorter t1/2. It can be used for
both hydrophobic (o/w emulgel) and
hydrophilic drugs (w/o) emulgels
Drug penetration
• Drug permeation across the stratum
corneum obeys Fick’s first law (equation
1) where steady-state flux (J) is related to
the diffusion coefficient (D) of the drug in
the stratum corneum over a diffusional
path length or membrane thickness (h),
the partition coefficient (P) between the
stratum corneum and the vehicle, and the
applied drug concentration (Co) which is
assumed to be constant: