Anda di halaman 1dari 31

Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix yang

berarti merawat atau memelihara.


Adapula pengertian perawat menurut UU RI NO 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan, mendefinisikan Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan
dan kewenangan melakukan tindakkan keperawatan berdasarkan ilmu yang
dimilikinya, yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan
(www.pustakaindonesia.or.id).
Sedangkan menurut international Council of Nurses (1965), perawat
adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan keperawatan,
berwenang di Negara bersangkutan untuk memberikan pelayanan dan
bertanggung jawab dalam peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit serta
pelayanan terhadap pasien
TUGAS PERAWAT
Tugas perawat dalam menjalankan peran nya sebagai pemberi asuhan keperawatan
ini dapat dilaksanakan sesuai dengan tahapan dalam proses keperawatan. Tugas perawat ini
disepakati dalam lokakarya tahun 1983 yang berdasarkan fungsi perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan adalah:
a. Mengumpulkan Data
b. Menganalisis dan mengintrepetasi data
c. Mengembangkan rencana tindakan keperawatan
d. Menggunakan dan menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu perilaku, sosial
budaya, ilmu biomedik dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam rangka memenuhi
KDM.
e. Menentukan kriteria yang dapat diukur dalam menilai rencana keperawatan
f. Menilai tingkat pencapaian tujuan.
g. Mengidentifikasi perubahan-perubahan yang diperlukan
h. Mengevaluasi data permasalahan keperawatan.
i. Mencatat data dalam proses keperawatan
j. Menggunakan catatan klien untuk memonitor kualitas asuhan keperawatan
k. mengidentifikasi masalah-masalah penelitian dalam bidang keperawatan
l. membuat usulan rencana penelitian keperawatan
m. menerapkan hasil penelitian dalam praktek keperawatan.
n. Mengidentifikasi kebutuhan pendidikan kesehatan
o. Membuat rencana penyuluhan kesehatan
p. Melaksanakan penyuluhan kesehatan
q. Mengevaluasi penyuluhan kesehatan
r. Berperan serta dalam pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
s. Menciptakan komunikasi yang efektis baik dengan tim keperawatan maupun tim kesehatan lain.
PERAN PERAWAT
Merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai
dengan kedudukan dalam system, di mana dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari
profesi perawat maupun dariluar profesi keperawatan yang bersipat konstan. Peran
perawat menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari :
a. Pemberi Asuhan Keperawatan
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan
memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian
pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat
ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang
tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat
perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana
sampai dengan kompleks.
b. Advokat Klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai
informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khusunya dalam pengambilan persetujuan atas
tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi
hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya,
hak atas privasi, hak untuk menntukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
c. Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala
penyakit bhkan tindakan yang diberikankan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan
pendidikan kesehatan.
d. Koordinator
peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan
dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuan
klien.
e. Kolaborator
Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang
terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi
pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam
penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.
f. Konsultan
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan
keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien
terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.
g. Peneliti / Pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerjasama,
perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan
keperawatan.
Sakit adalah persepsi seseorang bila
merasa kesehatannya terganggu.
Namun ada pula pengertian penyakit. Penyakit adalah proses
fisik dan patofisiologis yang sedang berlangsung dan dapat
menyebabkan keadaan tubuh atau pikiran menjadi abnormal.

Sakit dan penyakit itu beda. Seseorang dapat agak merasa sehat
(tidak ada sakit maupun penyakit), namun jika merasa tak sehat,
itulah sakit.
Dalam merawat orang sakit tidak hanya obat-obatan yang perlu diperhatikan melainkan
juga emosional dan fisik.
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam merawat orang sakit:
a.Yang paling tepat dan seharusnya merawat orang yang sakit seperti itu adalah pihak
keluarga dan perawat.
b.Di dalam merawat orang sakit, orang yang mendampingi sedikit banyak harus tahu apa
kebutuhannya, obat-obatannya, makanannya, dan sebagainya.
c.Usahakanlah untuk terus berkomunikasi dengan orang sakit.
d.Untuk bisa menumbuhkan kasih dalam merawat orang sakit, kita harus merawat bukan
sekedar melakukan tugas. Jadi dalam merawat itu harus ada kasih.
e.Baik orang yang merawat maupun yang dirawat harus mempersiapkan hati menghadapi
apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Sakaratul maut merupakan kondisi pasien yang sedang
menghadapi kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan
tertentu untuk meninggal. Kematian merupakan kondisi terhentinya
pernapasan, nadi, dan tekanan darah serta hilangnya respons
terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan terhentinya aktivitas
otak atau terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap.
Sakartul maut dan kematian merupakan dua istilah yang sulit untuk
dipisahkan, serta merupakan suatu fenomena tersendiri. kematian
lebih kearah suatu proses, sedangkan sakaratul maut merupakan
akhir dari hidup.
Diutamakan bagi orang-orang yang shaleh untuk mendampingi orang-orang
yang akan meninggal dunia, guna mengingarkan kepada Allah. Maka dari itu
kita harus mengetahui bagaimana menangani seseorang yang mengalami
sakaratul maut. Maka hal- hal yang disunnahkan tatkala dekatnya ajal
seseorang sebagai berikut :
1. Talqin. Yakni mengajarnya membaca “la ilaha illallah”
2. Menghadapkannya ke arah kiblat. Menghadapkannya berbaring pada sisi
badan yang kanan.
3. Membacakannya surat yasin
4. Menutup kedua matanya bila telah meninggal
5. Menyelimutinya, agar rupanya yang berunah tertutup dari pandangan.
6. Segera menyelenggarakan pemakamannya, bila telah diyakini meninggal.
Kata jenazah, bila ditinjau dari segi bahasa (etimologis), berasal dari bahasa Arab dan
menjadi turunan dari isim masdar (adjective) yang diambil dari fi‘ilmad}i janaza-yajnizu-janazatan wa
jinazatan. Bila huruf jim dari kata tersebut dibaca fathah (janazatan), kata ini berarti orang yang telah
meninggal dunia. Namun bila huruf jim-nya dibaca kasrah, maka kata ini memiliki arti orang yang
mengantuk. Demikian keterangan yang dijelaskan oleh sang penulis kitab Mat}ali’ al-Anwar.
1) Lebih jauh, kata jenazah, menurut Hasan Sadiliy, memiliki makna “seseorang yang telah meninggal
dunia yang sudah terputus masa kehidupannya dengan alam dunia ini”.
2) Dalam kamus al-Munawwir, kata jenazah diartikan sebagai “seseorang yang telah meninggal dunia
dan diletakkan dalam usungan. Kata ini bersinonim dengan al-mayyit (Arab) atau mayat
(Indonesia). Karenanya, Ibn al-Faris memaknai kematian (al-mawt) sebagai peristiwa berpisahnya
nyawa (ruh) dari badan (jasad).
3) Selanjutnya, kata jenazah juga diartikan oleh Partanto dan Dahlan al-Barry sebagai “raga yang
sudah tidak berrnyawa lagi”.
4) Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata jenazah diartikan sebagai badan atau tubuh
orang yang sudah mati.
Menangani jenzah yaitu dengan cara memandikan
jenazah/mayit muslim, kecuali dia syahid (meninggal di medan
perang fisabilillah). Dalam hal ini, dia tidak perlu dimandikan dan
tidak perlu juga dishalatkan. Dia hanya cukup dikuburkan dengan
pakaiannya. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak
memandikan orang-orang yang meninggal di perang Uhud dan
tidak pula menshalatkan mereka.
CARA MEMANDIKAN JENAZAH
Pertama tama diisiapkan alat-alat yang dipergunakan untuk memandikan jenazah adalah
sebagai berikut:
• Kapas
• Dua buah sarung tangan untuk petugas yang memandikan
• Sebuah spon penggosok
• Alat penggerus untuk menggerus dan menghaluskan kapur barus – Spon-spon plastik
• Shampo
• Sidrin (daun bidara)
• Kapur barus
• Masker penutup hidung bagi petugas
• Gunting untuk memotong pakaian jenazah sebelum dimandikan
Pertama-tama, aurat jenazah ditutupi kemudian diangkat sedikit lalu bagian perutnya dipijat perlahan (untuk
mengeluarkan kotorannya, pen.). Setelah itu orang yang memandikannya memakai sarung tangan atau kain
atau semacamnya untuk membersihkannya (dari kotoran yang keluar, pen.). Kemudian diwudhukan seperti
wudhu untuk shalat. Lalu dibasuh kepala dan jenggotnya (kalau ada) dengan air yang dicampur dengan daun
bidara atau semacamnya. Selanjutnya, dibasuh sisi bagian kanan badannya kemudian bagian kiri. Kemudian
basuh seperti tadi untuk yang kedua dan ketiga kali. Dalam setiap kalinya dipijat bagian perutnya. Bila keluar
sesuatu (kotoran) hendaklah dicuci dan menutup tempat keluar tersebut dengan kapas atau semacamnya.
Kalau ternyata tidak berhenti keluar hendaklah ditutup dengan tanah yang panas atau dengan metoda
kedokteran modern seperti isolasi khusus dan semacamnya.
Kemudian mengulangi wudhunya lagi. Bila dibasuh tiga kali masih tidak bersih ditambah menjadi lima
atau sampai tujuh kali. Setelah itu dikeringkan dengan kain, lalu memberikan parfum di lipatan-lipatan
tubuhnya dan tempat-tempat sujudnya. Lebih baik, kalau sekujur tubuhnya diberi parfum semua.
Kafannya diberi harum-haruman dari dupa yang dibakar. Bila kumis atau kukunya ada yang panjang
boleh dipotong, dibiarkan saja juga tidak apa-apa. Rambutnya tidak perlu disisir, begitu pula rambut
kemaluan-nya tidak perlu dicukur dan tidak usah dikhitan (kalau memang belum dikhitan, pen.). Karena
memang tidak ada dasar-dasar yang menerangkan hal tersebut. Dan bila jenazahnya seorang
perempuan maka rambutnya dikepang tiga dan dibiarkan terurai ke belakang.
TATA CARA MENGKAFANI JENAZAH

Mengkafani jenazah hukumnya wajib dan hendaklah kain kafan tersebut dibeli
dari harta si mayit. Hendaklah didahulukan membeli kain kafannya dari melunaskan
hutangnya, menunaikan wasiatnya dan membagi harta warisannya. Jika si mayit tidak
memiliki harta, maka keluarganya boleh menanggungnya.
• untuk jenazah laki-laki dikafani tiga lapis kain putih (satu untuk menutupi
bagian bawah -semacam sarung- satu lagi untuk bagian atas -semacam baju-
dan yang terakhir kain untuk pembungkusnya). Tidak perlu gamis (baju
panjang) dan surban. Hal ini, sama seperti apa yang dilakukan terhadap
jenazah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tapi, tidak mengapa jika
dikafani dengan gamis (baju panjang), izar (sema-cam sarung untuk menutupi
bagian bawah) dan kain pembungkus.
• Adapun jenazah perempuan, dikafani dengan lima lapis: Baju, kerudung, sarung untuk bagian bawah dan
dua kain pembungkus.
• Dan yang wajib, baik bagi jenazah laki-laki atau perempuan adalah menutupinya dengan satu lapis kain
yang dapat menu-tupinya secara sempurna. Tetapi, bila ada jenazah laki-laki yang meninggal dalam
keadaan ihram, maka dia cukup dimandikan dengan air dan daun bidara. Kemudian dikafani dengan
sarung dan baju yang dipakai atau yang lainnya dan tidak perlu menutup kepala dan wajahnya, juga
tidak usah diberi parfum. Karena pada hari Kiamat nanti dia akan dibangkitkan dalam keadaan
membaca talbiyah: "Labbaik allahumma labbaik" seperti yang diriwayatkan dalam hadits shahih dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bila yang meninggal dalam keadaan ihram tadi seorang perem-
puan maka dia dikafani seperti perempuan yang lain, hanya tidak perlu diberi wewangian, wajahnya
tidak perlu ditutup dengan cadar, begitu pula tangannya tidak usah dipakaikan sarung tangan, tetapi
cukup ditutup dengan kafan yang membungkusnya, seperti yang disebutkan dalam cara mengkafani
jenazah perempuan.
• Dan anak kecil laki-laki, dikafani dengan satu lapis sampai tiga lapis, sementara anak kecil perempuan
dikafani dengan satu gamis (baju panjang) dan dua kain pembungkus.
CARA MENSHALATKAN JENAZAH
1. Imam berdiri ke arah kepala (apabila jenazah laki-laki) dan ke arah perut (apabila perempuan)
2. Makmum sekurang-kurangya 3 shaf. Masing-masing shaf lebih baik terdiri dari 5 atau 7 orang.
3. Berniat
Niat untuk jenazah laki-laki

‫ض ْال ِكفايَ ِة ا َ َدا ًء هلل ت َ َعالى‬


َ ‫ت ُم ْست َ ْق ِب َل ْال ِق ْبلَ ِة فَ ْر‬ ِ ِّ‫علَى ه َذا ْال َم ِي‬
ٍ ‫ت أ َ ْربَ َع ت َ ْك ِبي َْرا‬ َ ُ‫أ‬
َ ‫ص ِلِّ ْي‬

Usholi 'ala hadzal mayyiti 'arba'a takbiirootin mustaqbilal qiblati fardol kifaayati adaa-an lillahi ta'ala
Niat untuk jenazah perempuan

‫ض ْال ِكفا َي ِة ا َ َدا ًء هلل ت َ َعالى‬


َ ‫ت ُم ْست َ ْق ِب َل ْال ِق ْبلَ ِة فَ ْر‬
ٍ ‫علَى ه ِذ ِه ْال َم ِيِّت َ ِة أ َ ْر َب َع ت َ ْك ِبي َْرا‬ َ ُ‫أ‬
َ ‫ص ِلِّ ْي‬

Usholi 'ala hadzihil mayyitati 'arba'a takbiirootin mustaqbilal qiblati fardol kifaayati adaa-an lillahi ta'ala
Tambahkan lafadz imaaman atau ma'muuman apabila berjama'ah (sesuai kondisi)
4. Takbir pertama, membaca Surat Al-Fatihah, tidak disunnatkan membaca do'a iftitah
5. Takbir kedua, membaca sholawat
‫ار ْك َعلَى‬ َ ‫س ِيِّدنا َ ِإب َْرا ِهي َْم َو َعلَى آ ِل‬
ِ َ‫س ِيِّدنا َ ِإب َْرا ِهي َْم َو ب‬ َ ‫ْت َعلَى‬َ ‫صلَّي‬ َ ‫س ِيِّدِنا َ ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل‬
َ ‫س ِيِّدنا َ ُم َح َّم ٍد َك َما‬ َ ‫ص ِِّل َعلَى‬ َ ‫اَللَّ ُه َّم‬
‫س ِيِّدنا َ ِإب َْرا ِهي َْم ِفي ال َعالَ ِميََْ ِإنَّ َك َح ِم ْي ُد َم ِِيْد‬
َ ‫س ِيِّدنا َ ِإب َْرا ِه ْي َم َو َعلَى آ ِل‬
َ ‫ت َعلَى‬ َ ‫ار ْك‬ َ ‫س ِيِّدنا َ ُم َح َّم ٍد َو َعلَى آ ِل‬
َ ‫س ِيِّدنا َ ُم َح َّم ٍد َك َما َب‬ َ

Allahuma sholli 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala aali sayyidina Muhammad, kama
shollaita 'ala sayyidina Ibrohim, wa 'ala aali sayyidina Ibroohim, wa barik 'ala sayyidina
Muhammad, wa 'ala aali sayyidina Muhammad, kama barokta 'ala sayyidina Ibohim, wa
'ala aali sayyidina Ibrohim, fil 'aalamiina innaka hamiidum majiid
6. Takbir ketiga, membaca do'a :
)‫س ْع َم ْدخ َََلَهُ (هَا) َوا َ ْغ ِس ْلهُ (هَا‬ ِّ ِ ‫ْف َع ْنهُ (هَا) َوا َ ْك ِر ْم نُ ُزلَهُ (هَا) َو َو‬ ْ ‫اللِّه ِّم ا ْغ ِف ْر لَهُ (هَا) َو‬
ُ ‫ار َح ْمهُ (هَا) َو َعافِ ْي ِه (هَا) َواع‬
)‫ارا َخي ًْرا ِم َْ َد ِار ِه (هَا‬ ً ‫ض ِمََ ال ِّدن َِس و ا َ ْبد ِْلهُ (هَا) َد‬ ُ َ‫ب ْاْلَ ْبي‬ ِّ ‫طايَا َك َما يُنَقَّى‬
ُ ‫الث َِّ ْو‬ َ ‫والبَ َر ِد َونَ ِقِّ ِه (هَا) ِمََ ْال َخ‬
ْ ِ‫آء َوالث ِّ ْلج‬
ِ ‫بِ ْال َم‬
َْ ‫ب ْالقَب ِْر َو فِتْنَتِ ِه َو ِم‬
ِ ‫َو ا َ ْهالً َخي ًْرا ِم َْ ا َ ْه ِل ِه (هَا) َوزَ ْو ٍِا َخي ًْرا ِم َْ زَ ْو ِِ ِه (هَا) َوا َ ْد ِخ ْلهُ (هَا) ْال َِنِّةَ َو ا َ ِع ْذهُ (هَا) ِم َْ َع َذا‬
‫ار‬ ِ ‫َع َذا‬
ِ ِّ‫ب الن‬

Allahummagfir lahuu (haa) warhamhuu (haa) wa 'afiihi (haa) wa'fu 'anhuu (haa) wa
akrim nuzulahuu (haa) wa wassi' madkholahuu (haa) wa agsilhuu (haa) bilmaa-i wa
tsalji walbarodi wa naqqihii (haa) minal khotoyaa kamaa ynaqqo tsubul abyadlu minad
danasi wa abdilhu (haa) daaron khoiron min daarihii (haa) wa ahlan khoiron min ahlihii
(haa) wa zaujan khoidon min zaujihi (haa) wa adkhilhuu (haa) aljannata wa a-idzhuu
(haa) min adzaabil qobri wa fitnatihi wa min adzaabin naar
7. Takbir keempat, membaca do'a :
‫اَ َو ْلَ ت َ ِْ َع ْل‬ ِ ْ ‫س َبقُ ْوََ ِب‬
ِ ‫اِل ْي َم‬ َ ََْ‫ف َْتِنِّا َ ََ َب ْع َدهُ (هَا) َوا ْغ ِف ْر لَنَا َولَهُ ( َها) َو ِ ِِل ْخوانِنا َ ََ اِّلَ ِذي‬ ِ ‫اللِّ ُه ِّم ْلَ ت َ ْح‬
َ َ‫رر ْمنَا ا َ ِْ َرهُ (هَا) َو ْل‬
ْ ََ ‫ت‬
‫فِى قُلُ ْوبِنا َ ِغالًّ ِللَّ ِذيََْ آ َمنُوا َربِّنَا إِنِّ َك َر ُء ْوف َر ِحيْم‬

Allahumma laa tahrimnaa ajrohuu (haa) walaa taftinaa ba'dahuu (haa) wagfir lanaa wa lahuu (haa) wa li ikhwanina
ladzina sabaquuna bil imaani wa la taj'al fi quluubina gillal lilladzina amanuu robbana innaka rouufur rohiim

Bila jenazahnya anak-anak, disunnatkan membaca :


‫لى‬ َّ ‫ش ِف ْيعًا َو ث َ ِقِّ ْل ِب ِه (هَا) َم َو ِاز ْينَ ُه َما َوا َ ْف ِرغِ ال‬
ٰ ‫صب َْر َع‬ َ ‫ارا َو‬ ً َ‫ظةً َوا ْعتِب‬
َ ‫سلَفًا َوذُ ْخ ًرا َو ِع‬ ً ‫اِ َع ْلهُ (هَا) فَ َر‬
َ ‫ط ََا ِْلَبَ َو ْي ِه (هَا) َو‬ ْ ‫اَللَّ ُه َّم‬
‫ا‬.)‫قُلُ ْو ِب ِه َما َوْلَ ت َ ْف ِت ْن ُه َما َب ْع َدهُ (هَا) َوْلَ ت َ ْح ِر ْم ُه َما ا َ ِْ َرهُ (هَا‬

Allahumaj'alhuu (haa) farothon li abawaihi (haa) wa salafan wa dzukhron wa 'idzotan wa'tibaaron wa syafii'an. Wa
tsaqqil bihii (haa) mawaaziinahuma, wa afrigis shobro 'ala quluubihima, wala taftinhumaa ba'dahuu (haa) wa laa
tahrimhuma ajrohuu (haa)

8. Salam
ُ‫سالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َر ْح َمةُ هللاِ َو َب َر َكاتُه‬
َّ ‫ال‬
DAFTAR PUSTAKA
• http://perawat77.blogspot.co.id/2010/05/definisi-peran-fungsi-
dan-tugas-perawat.html
• http://www.telaga.org/audio/bagaimana_merawat_orang_sakit
• http://www.jadipintar.com/2013/10/Tata-Cara-Membimbing-
Orang-Yang-Sedang-Sakaratul-Maut.html
• http://idremajaislam.blogspot.co.id/2013/10/gambar-lengkap-
panduan-tata-cara-mengurus-jenazah-sholat-jenazah-dan-
pemakaman-jenazah-terlengkap.html
• http://kabarsekuat.blogspot.co.id/2013/03/tata-cara-
melaksanakan-sholat-jenazah.html