Anda di halaman 1dari 11

DISPERSI KASAR

Shinta Mayasari
Farmasi-Fisika
SUSPENSI

 Suatu suspensi dalam bidang farmasi adalah suatu


dispersi kasar dimana partikel zat padat yang tidak larut
terdispersi dalam suatu medium cair.

 Untuk tujuan farmasi, kestabilan fisika dari suspensi bisa


didefinisikan sebagai keadaan dimana partikel tidak
menggumpal dan tetap terdistribusi merata di seluruh
sistem dispersi.
SIFAT ANTARMUKA DARI PARTIKEL
TERSUSPENSI
 Tegangan antarmuka dari partikel-partikel dalam suspensi dapat dikurangi
dengan penambahan suatu surfaktan.
 Gaya pada permukaan suatu partikel mempengaruhi derajat flokulasi dan
penggumpalan dalam suatu suspensi.
 Gaya tarik-menarik itu adalah jenis gaya London-van der Waals, sedangkan
gaya tolak-menolak timbul dari interaksi lapisan listrik rangkap disekitar tiap
partikel.
 Adapun partikel yang terflokulasi terikat lemah, mengendap dengan cepat,
tidak membentuk suatu lempengan (cake) dan dengan mudah dapat
disuspensikan kembali.
 Partikel-partikel yang mengalami deflokulasi mengendap perlahan-lahan
dan akhirnya membentuk suatu endapan dimana terjadi agregasi yang
akhirnya membentuk suatu lempengan yang keras (hard cake) yang sulit
disuspensikan kembali.
PENGENDAPAN DALAM SUSPENSI

Kecepatan pengendapan dinyatakan oleh Hukum Stokes :


v = d² (ρs – ρo ) g
18 ηo
Parameter Pengendapan (Sedimentasi). Dua parameter yang berguna
yang bisa diturunkan dari penyelidikan sedimentasi adalah volume
sedimentasi dan derajat flokulasi.
a. Volume sedimentasi (F) adalah perbandingan dari volume akhir endapan
(Vu), terhadap volume awal dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.
F = Vu / Vo
b. Derajat flokulasi adalah suatu parameter yang lebih mendasar daripada
F, karena β menghubungkan volume endapan yang mengalami flokulasi
dengan volume dalam suatu sistem yang mengalami deflokulasi.
β = Volume akhir endapan dari suspensi yang flokulasi
Volume akhir endapan dari suspensi yang deflokulasi
FORMULASI SUSPENSI

 Pendekatan yang biasa digunakan dalam membuat suspensi yang stabil secara
fisika dapat dimasukkan dalam 2 kategori, yaitu :
penggunaan pembawa yang berstruktur untuk menjaga partikel-partikel yang
mengalami deflokulasi dalam suspensi,
dan penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk menghasilkan flokulat (gumpalan)
yang walaupun cepat mengendap, tetapi mudah disuspensi kembali dengan
sedikit pengocokkan.

Pertimbangan Rheologi. Prinsip rheologi bisa diterapkan untuk penyelidikan dari


faktor-faktor berikut :
a. viskositas dari suatu suspensi apabila mempengaruhi pengendapan dari partikel-
partikel zat terdispersi, perubahan dalam sifat-sifat aliran dari suspensi bila
wadahnya dikocok dan bila produk tersebut dituang dari botol
b. kualitas penyeberan dari cairan bila digunakan untuk suatu bagian permukaan
yang akan diobati.

Pertimbangan rheologi juga penting dalam pembuatan suspensi.


EMULSI
 Emulsi adalah suatu sistem yang mengandung paling sedikit dua fase cair
yang tidak bercampur, dimana satu diantaranya didispersikan sebagai bola-
bola dalam fase cair lain.
 Salah satu fase cair dalam suatu emulsi terutama bersifat polar (sebagai
contoh : air), sedangkan lainnya relatif nonpolar (sebagai contoh : minyakl).
 Bila fase minyak didispersikan sebagai bola-bola keseluruh fase kontinu air,
sistem tersebut dikenal sebagai suatu emulsi minyak dalam air (o/w). Bila
fase minyak bertindak sebagai fase kontinu, emulsi tersebut dikenal
sebagai produk air dalam minyak (w/o).
TEORI EMULSIFIKASI

Zat pengemulsi bisa dibagi menjadi 3 golongan, sebagai berikut :


a. Zat-zat yang aktif pada permukaan yang teradsorpsi pada antarmuka
minyak/air membentuk lapisan monomolekuler dan mengurangi
tegangan antarmuka.
b. Koloidal hidrofilik, yang dapat membentuk suatu lapisan multimolekuler
sekitar tetesan-tetesan terdispersi dari minyak dalam suatu emulsi o/w.
c. Partikel-partikel padat yang terbagi halus, yang diadsorbsi pada batas
antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur dan membentuk suatu
lapisan partikel di sekitar bola-bola terdispersi.

 Faktor yang umum untuk ketiga golongan zat pengemulsi tersebut


adalah pembentukkan suatu lapisan, apakah itu monomolekuler,
multimolekuler atau partikel. Berdasarkan hal ini teori emulsifikasi dapat
dipahami.
 Adsorpsi Monomolekuler.
 Zat yang aktif pada permukaan, mengurangi tegangan antarmuka karena
adsorpsinya pada batas minyak/air membentuk lapisan-lapisan
monomolekular.
 Tetesan-tetean terdispersi dikelilingi oleh suatu lapisan monolayer yang
saling melekat yang membantu mencegah terjadinya pengelompokkan
antar dua tetesan ketika kedua tetesan tersebut saling mendekat.

 Adsorpsi Molekular.
 Adsorsi molekular dapat terjadi dengan penggunaan zat pengemulsi
(seperti ; koloida liofilik berhidrat) yang dapat membentuk suatu lapisan
multimolekular pada antarmuka dan bukan suatu lapisan monomolekular.
 Karena zat pengemulsi itu membentik lapisan-lapisan multilayer sekeliling
tetesan yang bersifat hidrofilik, maka zat ini cenderung untuk membentuk
emulsi o/w.
 Adsorpsi Partikel Padat.
 Partikel-partikel padat yang berbagi halus yang dibasahi sampai derajat
tertentu oleh minyak dan air, dapat bekerja sebagai zat pengemulsi.
 Hal ini diakibatkan oleh keadaannya yang pekat pada antarmuka dimana
dihasilkan dapat mencegah terjadinya penggabungan.
 Serbuk yang mudah dibasahi oleh air akan membentuk emulsi tipe o/w,
sedangkan serbuk yang mudah dibasahi oleh minyak akan membentuk
emulsi w/o.
STABILITAS FISIK DARI EMULSI

 Dalam pertimbangan-pertimbangan ini, ketidakstabilan dari emulsi farmasi


bisa digolongkan sebagai berikut :
a. flokulasi dan creaming
b. pengabungan dan pemecahan
c. berbagai jenis perubahan kimia dan fisika
d. inversi fase.

 Creaming.
 Jika fase terdispersi kurang rapat dibandingkan dengan fase kontinu, yang
merupakan hal umum pada emulsi o/w, kecepatan sedimentasi menjadi
negatif, yakni dihasilkannya creaming yang mengarah ke atas.
 Jika fase dalam lebih berat dari fase luar, bola-bola akan mengendap,
fenomena ini sering terdapat pada emulsi tipe w/o dimana fase dalamnnya
lebih rapat dari pada fase kontinu minyak, efek ini dikenal sebagai creaming
yang mengarah ke bawah.
 Penggabungan dan Pemecahan. Jika terjadi pemecahan maka
pencampuran biasa tidak bisa mengsuspensikan kembali bola-bola tersebut
dalam suatu bentuk emulsi yang stabil, karena lapisan yang mengelilingi
partikel-partikel tersebut telah dirusak dan minyak cenderung untuk
bergabung.

 Penilaian Kestabilan. Menurut King dan Mukherjee, satu-satunya metode


yang tepat untuk menentukan kestabilan meliputi analisis frekuensi ukuran
dari emulsi tersebut dari waktu ke waktu dengan makin lamanya produk
tersebut. Untuk emulsi yang pecah dengan cepat, penyelidikkan
mikroskopis dari fase dalam yang terpisah adalah cukup, walaupun
pemisahan sulit untuk dibaca dengan suatu ukuran ketelitian.

 Inversi Fase. Jika dikontrol dengan tepat selama pembuatan emulsi, inversi
fase atau pengubahan fase seringkali menghasilkan suatu produk yang
lebih halus.