Anda di halaman 1dari 99

Case Report Session

CARSINOMA MAMMAE
Oleh
Ahmad Giffar Danto Putro

Pembimbing
dr. Ewi Astuti, SpB
KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH FK UNAND
RSUD Prof. DR. MA. Hanafiah SM Batusangkar
2017
PENDAHULUAN
Latar Belakang

 Kanker terbanyak wanita baik pada negara maju


maupun berkembang

 58% kematian wanita akibat kanker payudara terjadi


di negara berkembang (WHO, 2011)

 Hampir seluruh negara berkembang angka kejadian


rata-rata 40 dari 100.000 penduduk
Latar Belakang

 Di Indonesia kanker payudara merupakan jenis


kanker terbanyak kedua setelah kanker serviks

 Diperkirakan terdapat 20.000 kasus baru setiap


tahunnya dan > 80% dalam stadium lanjut → upaya
pengobatan sulit dilakukan

 Angka kejadian di Sumatera Barat yaitu 5,6% yang


mana lebih tinggi daripada angka kejadian rata-rata
nasional, yakni 4,3%
Batasan penulisan case ini
Batasan membahas mengenai anatomi,
definisi, epidemiologi, etiologi dan
Masalah
patogenesis, diagnosis,
penatalaksanaan, dan prognosis
kanker payudara
Tujuan Penulisan case ini bertujuan untuk
Penulisan memahami serta menambah
pengetahuan tentang kanker
payudara
Penulisan case ini
menggunakan
metode penulisan
Metode
Penulisan
tinjauan
kepustakaan
merujuk pada
berbagai literatur.
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi

 Payudara terletak pada hemithoraks kanan dan


kiri dengan batas-batas sebagai berikut:
 Batas-batas payudara yang tampak dari luar :
 superior : iga II atau III
 inferior : iga VI atau VII
 medial : pinggir sternum
 lateral : garis aksilaris anterior / linea mid axillae
 Batas-batas payudara yang sesungguhnya :
 superior : hampir sampai ke klavikula

 medial : garis tengah


 lateral : m. latissimus dorsi
Struktur Payudara

Payudara terdiri dari berbagai struktur :


 parenkim epitelial
 lemak, pembuluh darah, saraf, dan saluran getah
bening
 otot dan fascia
ARTERI

Payudara mendapat pendarahan terutama dari dua


sumber utama:
1. Cabang-cabang perforantes a. mammaria interna
2. Cabang-cabang dari a. axillaris
 Rami pectoralis a. thorako-akromialis
 Arteri thorakalis lateralis (a. mammaria eksterna)
 Arteri thorako-dorsalis
VENA

1. Cabang-cabang perforantes V. mammaria interna.

2. Cabang-cabang v. aksilaris yang terdiri dari: v.


thorako-akromialis, v. thorakalis lateralis dan v.
thorako dorsalis

3. Vena-vena kecil yang bermuara pada v.


interkostalis.
Persarafan Payudara

 Kulit payudara dipersarafi oleh cabang pleksus


servikalis dan n. interkostalis, sedangkan jaringan
glandula mammae sendiri dipersarafi oleh sistem
simpatis. Persarafan sensoris di bagian superior dan
lateral berasal dari n. supraklavikular (C3 dan C4)
dari cabang lateral n. interkostalis torasik. Bagian
medial payudara dipersarafi oleh cabang anterior n.
interkostalis torasik. Kuadran lateral atas payudara
dipersarafi terutama oleh n. interkostovertebralis
(C8 dan T1).
Sistem Limfatik Payudara

1. Drainase kulit
Mengalirkan pembuluh limfe dari kulit sekitarnya, dan
tidak termasuk areola dan papilla.
2. Drainase Areolar
Yaitu pleksus subareolar dari Sappey; selanjutnya
akan bergabung dengan KGB aksilla.
3. Drainase Aksiler
 3 level KGB berdasarkan hubungannya dengan m.
pectoralis minor.9
 Level I
Terletak lateral / dibawah batas bawah m. pectoralis
minor. Termasuk:
 KGB mamaria eksterna
 KGB vena aksilaris

 KGB grup scapular


 Level II
Terletak didalam (deep) atau dibelakang m. pectoralis minor
yaitu grup sentral.

 Level III
Terletak medial atau diatas dari batas atas m. pectoralis
mino; yaitu grup subclavicular.
Definisi

 Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah


kehilangan pengendalian dari mekanisme
normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang
tidak normal, cepat, dan tidak terkendali.
 Kanker payudara (carcinoma mammae)
didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang
ganas yang berasal dari parenchyma payudara.
Epidemiologi

 Kanker payudara dapat terjadi pada pria maupun


wanita, dengan angka perbandingan 1 : 100
 Angka tertinggi terdapat pada usia 45-66 tahun
 WHO tahun 2011 diperkirakan 508.000 wanita
meninggal dimana sekitar 58% kematian tersebut
terjadi di negara berkembang. Angka kejadian rata
rata kanker payudara dari hampir seluruh negara
berkembang sekitar 40 dari 100.000 penduduk
 Global Burden Cancer (ARC) tahun 2012
memperkirakan insidens kanker di Indonesia sekitar
134 per 100.000 penduduk
 Riskesdas 2013 yang mendapatkan prevalensi
kanker di Indonesia sebesar 1,4 per 1000 penduduk
 Angka kejadian kanker payudara di Sumatera Barat
yaitu 5,6%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan
dengan angka kejadian rerata nasional yang hanya
sekitar 4,3% sehingga menempatkan Sumatera Barat
pada urutan keenam dari tiga puluh tiga provinsi di
Indonesia.
ETIOLOGI

 Gen yang terletak pada kromosom 17:


 1. BRCA-1 (pada lokus 17q21) dan
 2. gen p53 (pada lokus 17p13).
 3. BRCA-2 yang terletak pada kromosom 13.
 4. gen reseptor androgen pada kromosom Y, mutasi
gen ini berhubungan dengan insiden kanker
payudara pada pria.
Faktor Risiko

1. Usia
2. Geografis
3. Jenis kelamin
4. Menstruasi
5. Reproduksi
6. Diet
7. Berat Badan
8. Riwayat keluarga
9. Radiasi
Patofisiologi

 Carcinoma mammae berasal dari jaringan epitel dan paling


sering terjadi pada sistem duktal.
 Carcinoma mammae bermetastasis dengan penyebaran
langsung ke jaringan sekitarnya dan juga melalui saluran
limfatik dan aliran darah.
Patogenesis

 Ada 4 fase
1. Fase induksi (15-30 tahun)
2. Fase in situ (1-5 tahun)
3. Fase Invasi
4. Fase diseminasi (1-5 tahun)
Gejala klinis

 Terdapat benjolan keras yang melekat atau terfiksir.


 Tarikan pada kulit di atas tumor.
 Ulserasi
 Peau d'orange.
 Discharge dari puting susu.
 Asimetri payudara.
 Retraksi puting susu.
 Pembesaran kelenjar getah bening ketiak.
 Satelit tumor di kulit.
 Eksim pada puting susu.
Klasifikasi Stadium TNM (PERABOI,2003)

T = ukuran primer tumor.


Ukuran T secara klinis, radiologis, dan mikroskopis adalah sama.
Nilai T dalam cm, nilai paling kecil dibulatkan ke angka 0,1 cm.
 Tx : Tumor primer tidak dapat dnilai.
 To : Tidak terdapat tumor primer.
 Tis : Karsinoma in situ.
 Tis(DCIS) : Ductal Carcinoma In Situ.
 Tis(LCIS) : Lobular Carcinoma In Situ.
 Tis(Paget’s) : Penyakit Paget pada putting tanpa adanya tumor.
Catatan: Penyakit Paget dengan adanya tumor dikelompokkan sesuai dengan ukuran
tumornya.
 T1 : Tumor dengan ukuran diameter terbesarnya 2cm atau kurang.
 T1mic : Adanya mikroinvasi ukuran 0,1 cm atau kurang.
 T1a : Tumor dengan ukuran lebih dari 0,1 cm sampai 0,5 cm.
 T1b : Tumor dengan ukuran lebih dari 0,5 cm sampai 1 cm.
 T1c : Tumor dengan ukuran lebih dari 1 cm sampai 2 cm.
 T2 : Tumor dengan ukuran diameter terbesarnya lebih dari 2 cm sampai 5 cm.
 T3 : Tumor dengan ukuran diameter terbesar lebih dari 5 cm.
 T4 : Ukuran tumor berapapun dengan ekstensi langsung ke dinding
dada atau kulit.
 T4a : Ekstensi ke dinding dada tidak termasuk otot pektoralis.
 T4b : Edema (termasuk peau d’orange), ulserasi, nodul satelit pada
kulit yang terbatas pada 1 payudara.
 T4c : Mencakup kedua hal di atas.
 T4d : Metastasis karsinomatosa.
N = kelenjar getah bening regional.
 Nx : Kgb regional tidak bisa dinilai (telah diangkat sebelumnya).
 N0 : Tidak terdapat metastasis kgb.
 N1 : Metastasis ke kgb aksila ipsilateral yang mobil.
 N2 : Metastasis ke kgb aksila ipsilateral terfiksir, berkonglomerasi,
atau adanya pembesaran kgb ke mamaria interna ipsilateral (klinis)
tanpa adanya metastasis ke kgb aksila.
 N2a : Metastasis pada kgb aksila terfiksir atau berkonglomerasi atau melekat ke
struktur lain.
 N2b : Metastasis hanya pada kgb mamaria interna ipsilateral secara klinis dan tidak
terdapat metastasis pada kgb aksila.
 N3 : Metastasis pada kgb infraklavikular ipsilateral dengan atau tanpa metastasis
kgb aksila atau klinis terdapat metastasis pada kgb aksila; atau metastasis pada kgb
supraklavikula ipsilateral dengan atau tanpa metastasis pada kgb aksila/mamaria
interna.
 N3a : Metastasis ke kgb infraklavikular ipsilateral.
 N3b : Metastasis ke kgb mamaria interna dan kgb aksila.
 N3c : Metastasis ke kgb supraklavikula.
 Catatan: Terdeteksi secara klinis; terdeteksi dengan pemeriksaan fisik atau secara
imaging (di luar limfoscintigrafi).
M = metastasis jauh.
 Mx : Metastasis jauh belum dapat dinilai.
 M0 : Tidak terdapat metastasis jauh
 M1 : Terdapat metastasis jauh.
Diagnosis

Anamnesis
A. Identitas pasien
B. Keluhan utama di payudara/ketiak
 benjolan, kecepatan tumbuh, rasa sakit, nipple
discharge, retracted nipple, krusta pada areola,
kelainan kulit (dimpling, peau d’orange, ulserasi,
venektasi), benjolan ketiak, edema lengan.
C. Keluhan di tempat lain berhubungan dengan
metastasis, antara lain: nyeri tulang (vertebra dan
femur), rasa penuh di ulu hati, batuk, sesak, sakit
kepala hebat, dan lain-lain.

D. Faktor-faktor risiko lain


Pemeriksaan fisik
A. Status generalis, selain tanda vital perlu
dicantumkan performance status

B. Status lokalis :
Pemeriksaan Imaging
A. Diharuskan (recommended)

1. USG payudara dan Mamografi untuk tumor


diameter < 3 cm
2. Foto Toraks
3. USG Abdomen
B. Optional (atas indikasi)
1. Bone scanning dan/atau bone survey (bilamana
sitologi dan atau klinis sangat mencurigai pada lesi > 5
cm)
2. CT scan
3. Pemeriksaan imunohistokimia ER, PR, c-erb B-2
(HER-2 neu), cathepsin-D, p53 bersifat optional.
Pemeriksaan Histopatologik (Gold Standard
Diagnostic)
a. Core Biopsy
b. Biopsi eksisi (BE) untuk tumor < 3 cm
c. Biopsi insisi (BI) untuk tumor operable > 3 cm
sebelum operasi definitif dan untuk tumor yang
inoperable
d. Spesimen mastektomi disertai dengan pemeriksaan
kelenjar getah bening.
Screening kanker payudara perlu dilakukan pada
wanita yang masih mengalami menstruasi dan
berisiko tinggi, yaitu dengan cara:
 SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
Dilaksanakan pada wanita mulai usia subur, setiap 1
minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir.
 Pemeriksaan Fisik dilakukan oleh dokter secara lige-
artis.
Mamografi
 Pada wanita 35-50 tahun: setiap 2 tahun.
 Pada wanita > 50 tahun: setiap 1 tahun.
Pada daerah yang tidak ada mamografi ataupun
fasilitas USG, untuk deteksi dini cukup dilakukan
dengan SADARI dan pemeriksaan fisik saja.
PENATALAKSANAAN

 a. Terapi bedah
Pola operasi yang sering dipakai adalah (Wan Desen, 2008):
1) Radikal Mastectomy
2) Modified Radical Mastectomy
1. Radical mastectomy

Pertama kali diperkenalkan oleh Halsted (1884) dan


merupakan metode paling tua. Operasi ini berupa
operasi en-bloc dengan mengangkat seluruh tumor
dengan jaringan payudara dan kulit diatasnya,
mengangkat m.pectoralis mayor dan m.pectoralis
minor, diseksi aksila LI, II dan III, dan biasanya
disertai dengan skin grafting untuk penutupan luka.
Metode ini sudah jarang dilakukan kecuali tumor
sangat besar dan melekat ke otot pektoralis.19
2. Modified Radical Mastectomy

Hampir sama dengan operasi radikal mastektomi.


Perbedaannya hanya pada m.pectoralis mayor atau
dan minor. Pada modifikasi radikal mastektomi cara
Patey: m.pectorali mayor tetap dipertahankan, dan
m.pectoralis minor diangkat. Dengan cara Auchincloss
(Madden) m.pectoralis mayor dan minor ditinggalkan.
Cara ini dalam upaya tetap mempertahankan lokal
kontrol yang baik dengan mutilasi yang tidak sehebat
pada radikal mastektomi. Tapi operasi ini lebih sukar
dibandingkan dengan radikal mastektomi.19
3. Simple Mastectomy
4. BCS (Breast Conserving Surgery)

 Terapi ini adalah primer kombinasi operasi lokal


yang terbatas dengan radiasi radikal.
 Operasi dapat berupa : tumorektomi (lumpektomi),
segmentecktomi, atau quadranektomi. Pilihan
tergantung dari diameter tumor primer dan diikuti
dengan diseksi aksila. Radiasi diberikan : 45-50
Gy/25frasi/5mg Booster 10-20 Gy/5-10 frasi/1-2 mg.
 Syarat untuk BCS (Breast Conserving Surgery)
adalah sebagai berikut:19
 1. Penderita berkeinginan
 2. Memenuhi syarat pembedahan
 3. Mempunyai sarana radioterapi yang baik
 4. Dapat di follow-up
Dari segi pembedahan, pertimbangan BCS ini baru
dapat dilakukan apabila:19
 Tumor (T ) kurang dari 3 cm
 Ukuran Tumor dan ukuran payudara sebanding
 Lokasi juga turut menentukan, untuk lokasi medial
atau perifer sekali akan memberikan bentuk yang
tidak baik
 Untuk histopatologi ductal carsinoma in situ, angka
rekurensi tinggi; standart terapi untuk ini ialah
mastektomi.
 Tumor multiple, atau pada mamografi terdapat
mikrokalsifikasi yang luas atau multicentriscity BCS
merupakan kontra indikasi.
 Dan merupakan keharusan pula adalah kerja sama
yang baik antara ahli bedah, patolog dan ahli
radoiterapi.
Dari sisi radioterapipun terdapat kontra indikasi
untuk BCS (Breast Conserving Surgery) ini, antara
lain19:
 Pernah mendapat terapi radiasi sebelumnya di
bagian dada
 Payudara yang terlalu besar
 Skleroderma dan SLE
 Tidak mungkin mendapatkan radioterapi karena
sarana tidak ada.
Radiasi

Radioterapi terutama mempunyai 3 tujuan:20


1. Radioterapi murni kuratif :
Radioterapi murni terhadap kanker hasilnya kurang
ideal, survival 5 tahun 10-37%. Terutama digunakan
untuk pasien dengan kontraindikasi atau menolak
operasi.
2. Radioterapi adjuvan :
Radioterapi pra operasi terutama untuk pasien
stadium lanjut, dapat membuat sebagian kanker non
operabel menjadi operabel. Radioterapi pasca operasi
adalah radioterapi seluruh mamae pasca BCS maupun
mastektomi. Indikasi radioterapi pasca mastektomi
adalah diameter tumor primer ≥5 cm, fasia pektoral
terinvasi, jumlah kelenjar limfe aksilanmetastatik
lebih dari 4 buah dan tepi irisan positif. Area target
iradiasi harus mencakup dinding toraks dan regio
supraklavikular.
3. Radioterapi paliatif
Terutama untuk terapi paliatif kasus stadium lanjut
dengan rekurensi, metastasis Dalam meredakan nyeri,
efeknya sangat baik
Kemoterapi

1. Kemoterapi pra operasi

Kemoterapi sistemik untuk membuat sebagian kanker


mammae lanjut non operabel menjadi kanker
operabel.
2. Kemoterapi adjuvan pasca operasi

Indikasi kemoterapi adjuvan pasca operasi relatif luas


terhadap semua pasien karsinoma invasif dengan
diameter tumor lebih besar atau sama dengan 1 cm
harus dipikirkan kemoterapi adjuvan Hanya terhadap
pasien lanjut usia dapat dipertimbangkan hanya
diberikan terapi hormonal.
3. Kemoterapi terhadap kanker stadium lanjut atau
rekuren dan metastatic.
Obat lini pertama adalah obat golongan antrasiklin
dan golongan taksan. Obat lini kedua yang sering
dipakai adalah novelbin, vinblastin, gemsitabin,
cisplatin, xeloda, dan lain lain.
Kombinasi dari beberapa obat dengan regimen sebagai
berikut:
 AC (adriamycin, cyclofosfamid)
 CMF (cyclofosfamid, metothrexate, fluorouracil)
 CAF (cyclofosfamid, adriamycin, fluorouracil)
 CEF (cyclofosfamid, epirubicin, fluorouracil
 Taxane + Doxorubicin
 Capecetabin
Hormonal

 Ablative : bilateral Oovorectomy


 Additive : Tamoxifen
 Optional : Aromatase inhibitor, GnRH
(Gonadotropin Releasing Hormone)
Pengobatan kanker payudara lanjut
dengan metastase
Tergolong disini adalah setiap T setiap N dengan M,
umumnya kanker payudara pada satadium ini tidak
dapat disembuhkan, pengobatan hanya bersifat
paliatif. Survival hanya lebih kurang 2 tahun setelah
diagnosis. Metastase umumnya ditemukan di tulang,
soft tissue kelenjar getah bening yang jauh
(supraclavicula atau kontra lateral) paru, pleura, liver,
dll. Kasus yang tumbuh/ berkembang cepat atau
progresif; biasanya hormonal receptor ER & PR
negatif.
Pada kasus yang poorly differentiated metastasisnya
umumnya ke visera: liver, paru, dan otak. Kasus-kasus
yang well differentiated umumnya mempunyai ER
dan /atau PR positif; bersifat slow growing dan
metastase umumnya ke tulang dan soft tissue. Pada
stadium ini penyakit sudah menyebar luas, terapi
utama adalah sistemik; kemoterapi atau hormonal
terapi. Pilihan terapi disini antara hormonal terapi dan
kemoterapi atau kombinasi tergolong dari :
 ER/PR (hormonal status)
 Lokasi metastasis
 Disease free intestinal
 Usia
 Status menopause
 Pada ER/PR positif, terapi hormonal merupakan
terapi utama. Pada ER/PR negatif, terapi pilihan
adalah kemoterapi dan pemberiannya juga
tergantung kondisi penderita secara keseluruhan.
Karena efek samping obat-obat kemoterapi perlu
diperhatikan.
Prognosis

Faktor prognostik utama dari kanker payudara


menurut AJCC ialah stadium klinis, sedangkan faktor
prognostik minor antara lain subtipe histologi, gradasi
histologi dan lain-lain
Stadium Klinik
Stadium 5 tahun 10 tahun
Klinik (%)
(%)
0 > 90 90
I 80 65
II 60 45
IIIA 50 40
IIIB 35 20
IV 10 5
Keterlibatan KGB aksila

KGB Aksila 5 tahun (%) 10 tahun (%)

Tidak ada 80 65
1-3 KGB 65 40
> 3 KGB 30 15
Ukuran Tumor

Ukuran tumor (cm) 10 tahun (%)

<1 80
3-4 55
5-7,5 45
Histopatologi
Kanker yang poorly differentiated, metaplasia
dan grade tinggi mempunyai prognosis yang lebih
buruk dibandingkan kanker yang well differentiated

Reseptor hormon
Pasien dengan kanker yang bersifat ER positif
mempunyai waktu survival yang lebih lama
dibandingkan pasien dengan kanker payudara yang
bersifat ER negatif.
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien

 Nama : Ny.Z
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Umur : 59 tahun
 Alamat : Batusangkar
 Agama : Islam
 Pendidikan : SMA
 Pekerjaan : Petani
 Suku/Bangsa : Minangkabau
 Tanggal MRS : 26 April 2017
Anamnesa
 Keluhan utama: Sesak nafas sejak satu hari sebelum
masuk rumah sakit

Riwayat Penyakit Sekarang:


 Pasien datang ke IGD RSUD Prof. Dr. MA. Hanafiah
Batusangkar dengan keluhan Sesak nafas sejak satu
hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak tidak
menciut, tidak dipengaruhi cuaca, makanan, dan
posisi. Sesak sudah dirasakan sejak sebulan yang
lalu, namun sejak sehari terakhir sesak dirasakan
semakin meningkat.
 Pada payudara kiri terdapat benjolan sebesar telur
ayam, teraba keras, dan tidak dapat digerakkan.
Benjolan sudah dirasakan sejak 3 tahun yang lalu,
awalnya sebesar kelereng, tidak nyeri. Pasien hanya
berobat ke pengobatan alternatif dan sejak 2 bulan
yang lalu benjolan mengeluarkan darah dan menjadi
tukak.
 Warna kulit di sekitar areola payudara kiri tampak
lebih hitam dibandingkan kulit sekitarnya.
 Nyeri pada payudara kiri sejak sebulan sebelum
masuk rumah sakit. Nyeri hilang timbul sudah
dirasakan pasien sejak 1 tahun yang lalu, tetapi sejak
sebulan terakhir nyeri dirasakan semakin
mengganggu.
 Tidak terdapat riwayat keluarnya cairan, darah dan
nanah melalui puting payudara kiri.
 Tidak terdapat riwayat puting payudara kiri tertarik
ke arah dalam
 Tidak ada riwayat kulit payudara kiri seperti kulit
jeruk
 Tidak ada benjolan di payudara kanan.
 Tidak ada keluar cairan, darah, atau nanah dari
puting payudara kanan.
 Terdapat benjolan lain di ketiak kiri, jumlah 1 buah
perabaan keras.
 Tidak ada benjolan di ketiak kanan.
 Tidak ada benjolan di atas maupun di bawah tulang
selangka
 Mual (-), rasa penuh di ulu hati (-)
 Batuk (+) sejak 2 bulan yang lalu. Batuk berdahak
(+), dahak berwarna putih. Batuk berdarah (–)
 Nyeri kepala hebat tidak ada, muntah menyembur
tidak ada, kejang tidak ada, penurunan kesadaran
tidak ada
 Nyeri tulang tidak ada
 Usia menarche pasien 12 tahun, lama menstruasi 4-5
hari, siklus teratur 28-30 hari. Pasien sudah
menopause 15 tahun yang lalu pada usia 45 tahun.
 Pasien sudah menikah, memiliki 4 orang anak. Anak
pertama lahir tahun 1979, anak ke-4 lahir tahun
1994, pasien menyusui anak sampai 2 tahun.
 Riwayat menggunakan kontrasepsi hormonal,
seperti: pil, suntik, dan implan tidak ada
 Riwayat radiasi di dinding dada tidak ada
 Penurunan nafsu makan (+)
 Penurunan berat badan yang bermakna ada. Dalam
4 bulan terakhir terjadi penurunan berat badan
sekitar 24 kg. Awalnya 59 kg, saat ini 35 kg.
 Demam tidak ada
 BAK (+) BAB (+) frekuensi biasa
Riwayat Penyakit Dahulu

 Diabetes Mellitus (-)


 Hipertensi (-)
 Penyakit jantung (-)
 Riwayat menderita tumor/ kanker payudara atau di
lokasi lain (-)
 Riwayat operasi sebelumnya (-)
Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga lain yang pernah


menderita keganasan, baik di payudara maupun di
tempat lain
Riwayat Pekerjaan, Kebiasaan

 Pasien adalah seorang petani.


 Tidak merokok
 Tidak mengonsumsi minuman beralkohol
PEMERIKSAAN FISIK UMUM

Keadaan Umum : Sakit sedang


Kesadaran : GCS 15 (E4M6V5)
TekananDarah : 130/80 mmHg
Nadi : 90 kali/menit
Nafas : 30 kali/menit
Suhu : 36,7℃
STATUS INTERNUS

Rambut hitam dan tidak mudah dicabut


Kulit dan
Turgor kulit baik, tidak ada sianosis
kuku
Kepala Normochepal

Konjungtiva : anemis
Mata
sklera : tidak ikterik

Telinga Tidak ditemukan kelainan

Tidak ditemukan kelainan


Hidung
......STATUS INTERNUS

Tenggorokan Tidak ditemukan kelainan


Gigi dan
caries dentis (-)
mulut
Leher - JVP 5-2 cmH2O
-Tidak ada pembesaran
KGB
Thorak

Paru-paru :
 Inspeksi : pergerakan dinding dada kanan
tertinggal dibandingkan kiri
 Palpasi : fremitus kanan melemah dibandingkan
kiri
 Perkusi : sonor
 Auskultasi : Suara nafas kanan melemah
dibandingkan kiri, suara nafas vesikuler, wheezing (-
/-), rhonki (-/-)
Jantung
 Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
 Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial LMCS
RIC V
 Perkusi : batas jantung normal
 Auskultasi : irama teratur, bunyi jantung I-II
murni, murmur (-)
Abdomen

 Inspeksi : distensi (-)


 Palpasi : supel, NT (-), NL(-), hepar dan lien tidak
teraba
 Perkusi : timpani
 Auskultasi : bising usus (+) normal
.....STATUS INTERNUS

Anus
Tidak dilakukan
(Colok Dubur)

Ekstremitas Akral hangat, CRT < 2 detik, edema +/+


Pemeriksaan Status Lokalis

Inspeksi
 Payudara tampak simetris.
Pada payudara kiri:
 Tampak benjolan sebesar telur ayam di sekitar papila
mamae, berwarna kehitaman.
 Tampak ulkus 1 buah berwarna kehitaman, isi jaringan
nekrotik
 Peau d’orange (-), skin dimple (-), nodul satelit (-). Retraksi
papila mammae (-), nipple discharge (-), laserasi papila
mammae (-).
 Payudara kanan normal
 Palpasi
 Payudara kiri teraba benjolan di sekitar nipple areola
complex dengan ukuran 6x6x3 cm, konsistensi padat,
permukaan tidak rata, pinggir berbatas tidak tegas,
terfiksir
 Pada axila kiri teraba massa 1 buah, ukuran 1x1 cm.
Konsistensi keras, terfiksir
 Payudara kanan dalam batas normal

 Tidak ada pembesaran KGB axila kanan

 Tidak terdapat pembesaran KGB supraklavikula dan


infraklavikula.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium (5 Mei 2017)


Darah Rutin
• Hb : 9,6 gr%
• Leukosit : 5.260 /mm3
• Trombosit : 248.000 /mm3
• Hematokrit : 31,5 %
Kimia Klinik
• Ur/Cr : 11 mg/dL/0,62 mg/dL
• Na/K/Cl : 140 mmol/L/5,0 mmol/L/104 mmol/L
• SGOT : 72 u/dl
• SGPT : 17 u/dl

Kesan : anemia ringan, peningkatan SGOT


Foto Toraks proyeksi PA
Foto Toraks proyeksi AP

 Trakea di tengah
 Jantung tidak membesar (CTR < 50%)
 Aorta dan mediastinum superior tidak melebar
 Kedua hillus tidak melebar/menebal
 Corakan bronkovaskular kedua paru baik
 Tampak perselubungan homogen pada hemithoraks kanan
dan kiri dan tampak coin lesion di lapangan paru kanan
 Tulang-tulang dan jaringan lunak dinding dada baik

 Kesimpulan: Efusi pleura bilateral + coin lesion paru


kanan
DIAGNOSIS KERJA
Carcinoma mammae (S) Stadium IV
T4N2M1 + Metastase Paru
TATALAKSANA
•Awasi keadaan umum dan vital sign
•Diet makanan biasa tinggi kalori tinggi protein
• Carsinoma mamae yg sudah metastasis jauh pilihan terapi: sistemik
(kemoterapi)

PROGNOSIS
• Quo ad vitam : dubia at Malam
• Quo ad sanationam : dubia at Malam
DISKUSI
♀59 Carcinoma mammae (S) Stadium IV
th T4N2M1+Metastase Paru

PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN
ANAMNESIS FISIK PENUNJANG
PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN
ANAMNESIS FISIK PENUNJANG

ammae (-).
• Sesak nafas satu hari • Tampak benjolan di
SMRS nipple areola complex
• Nyeri payudara kiri sejak ada ulkus.
Pada pemeriksaan
sebulan yang lalu • teraba benjolan di
Rontgen Foto:
• benjolan di payudara sekitar areola
kiri sebesar telur ayam, complex berukuran Efusi pleura bilateral +
teraba padat, dan tidak 6x6x3 cm, coin lesion pada
dapat digerakkan, konsistensi padat, hemitorak kanan
hiperpigmentasi permukaan tidak
dibanding dengan kulit
rata, pinggir
sekitarnya,
• Faktor Risiko: Usia,
berbatas tidak tegas,
Pekerjaan terfiksir

• Didapatkan benjolan
di aksila kiri
Tata laksana pada kasus ini yaitu dengan pemberian diet
makanan biasa tinggi kalori tinggi protein dan pasien
disiapkan

Prognosis pasien pada kasus ini adalah dubia ad malam


karena karena berdasarkan stadium kliniknya, pasien
termasuk stadium IV dan berdasarkan keterlibatan kelenjar
getah beningnya, pada pasien sudah ditemukan
pembesaran KGB.
TERIMA KASIH