Anda di halaman 1dari 12

KRITIK ARSITEKTUR

SEJARAH DAN TEORI ARSITEKTUR DUNIA

DANCING MOUNTAIN HOUSE (P-HOUSE)


WAHYU GITA OZI SADEVI
(052001500109)
JENIS-JENIS KRITIK ARSITEKTUR Kritik yang digunakan dalam laporan ini adalah
kritik deskriptif.
1.
KRITIK
TERUKU Ciri kritik deskriptif :
R
 Dibanding metode kritik lain metode kritik deskriptif
2. tampak lebih nyata (faktual) Deskriptif mencatat fakta-
KRITIK fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau
NORM kota
ATIF
 Lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jika kita tahu
3. apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses
KRITIK
INTERPR kejadiannya maka kita dapat lebih memahami makna
EKTIF bangunan.

 Lebih dipahami sebagai sebuah landasan untuk


4.
KRITIK memahami bangunan melalui berbagai unsur bentuk
TIPIKAL yang ditampilkannya.

 Tidak dipandang sebagai bentuk to judge atau to


5.
KRITIK interprete. Tetapi sekadar metode untuk melihat
IMPRESI bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang
ONIS terjadi di dalamnya.

6.
KRITIK
DESKRI
PTIF
`
DANCING MOUNTAIN HOUSE (P-HOUSE)
Project architect:
Budi Pradono

Interior design:
Budi Pradono Architects

Mulai pembangunan : 2012

Selesai pembangunan : 2014

Lokasi : Jl. Flamboyan,


Tegalrejo, Argomulyo, Kota
Salatiga, Jawa Tengah 50733

Melalui proyek residensi Dancing Mountain House atau P House, arsitek Budi Pradono (BPA-Budi
Pradono Architects) merefleksikan sensasi kebaikan hidup yang memeluk alam sekitar.
P House atau "Dancing Mountain
House“ adalah sebuah rumah
keluarga dari arsitek Budi Pradono,
yang sekaligus perancanng dari
rumah ini.

Rumah ini berada pada ketinggian


2.000 meter di atas permukaan laut di
punggung Gunung Merbabu, dan
dikelilingi oleh beberapa gunung
lainnya.

Rumah ini berlokasi di Jl.


Flamboyan, Tegalrejo,
Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa
Tengah 50733

Budi mendedikasikan rumah ini untuk


almarhum ayahnya yang seorang
pendidik dan pengajar di sebuah
universitas lokal di Salatiga
"Dancing Mountain House" tak terlepas dari konsepnya yang
KONSEP mengedepankan peran arsitektur di tengah masyarakat dan
kombinasi antara modernisasi dengan unsur tradisional.

“Konstruksinya berbahan dasar bambu dengan atap rumah yang “meminjam” bentuk-bentuk puncak
gunung yang mengelilingi kota dan pedesaan Salatiga, yakni Merapi, Telomoyo, Tidar, dan Andong.”
KONSEP

Konsep bangunan ini ialah mencoba


membawa memori masa kecil keluarga
dengan keterbukaan dan ruang
bersama. Kamar mandi utama adalah
ruang sosial di mana masih dapat
berinteraksi dengan area yang lain.
STRUKTUR & MATERIAL
Struktur dan material yang
digunakan untuk bangunan ini
MOUNTAIN ROOF sebagian besar adalah material
bambu.

BAMBOO ROOF STRUCTURE


Untuk menciptakan ruang tanpa
sekat(Borderless Home), maka di
pilih kaca sebagai material
utama selubung bangunan.
TRADITIONAL RUMAH
KAMPUNG ROOF

BAMBOO STRUCTURE

Rumah ini dibangun dalam kurun


waktu dua tahun oleh tim pemula
WALL & GLAZING dari masyarakat setempat,
menggunakan bahan-bahan
yang tersedia seperti bambu untuk
bingkai, atap dan lantai kamar
tidur, dan batu dan batu bata
untuk dindingnya.
FLOOR PLAN
DENAH & POTONGAN

DENAH SITEPLAN

POTONGAN DEPAN

POTONGAN SAMPING
INTERIOR Atap rumah berbentuk kerucut
juga berfungsi sebagai skylight
untuk memaksimalkan
penggunaan cahaya alami ke
dalam bangunan.

Ruang tamu memiliki dinding


kaca yang tingginya mencapai
empat meter, menawarkan
pemandangan ke hutan yang
berdekatan. Panel ini terdiri dari
susunan jendela jepit berbingkai
tambal sulam, beberapa di
antaranya terbuka untuk
memberikan ventilasi alami.

Di dalam, rumah memiliki


ruang terbuka split-level living
yang mengikuti kemiringan
kondisi tapak. Empat kamar
tidur di belakang masing-
masing memiliki kamar mandi
sendiri.
INTERIOR
Kamar kecil komunal
dengan dinding bata
melengkung
ditambahkan di
belakang dapur untuk
memberi ruang mandi
yang lebih ramah
dimana pemilik, anak-
anak dan cucu
mereka dapat
mencuci dan masih
merasa terhubung
dengan tempat
tinggal.

Dengan atap bambu yang kamar mandi utama


curam, kamar tidurnya dirancang sebagai area
memiliki ketinggian internal sosial, dimana orang masih
enam meter dan juga bisa berinteraksi dengan
memiliki bagian kaca yang orang lain di berbagai
tinggi, dengan pintu wilayah rumah.
berputar untuk mengakses Sang arsitek ingin mencoba
kamar mandi. mengembalikan kenangan
masa kecil keluarga, dengan
ruang terbuka dan terbuka."
EXTERIOR
Tampak eksterior rumah yang
menggunakan kaca membuat rumah dan
lingkungan menjadi satu kesatuan tanpa
sekat (Borderless Home).

Hampir semua pohon besar yang ada di


tapak ini dipertahankan agar tidak ditebang,
dan pohon pule ditanam di tengah kebun.

Di depan rumah terdapat sebuah


paviliun berbentuk oval yang
berfungsi sebagai perpustakaan
yang bisa digunakan oleh
masyarakat setempat.
KESIMPULAN

Berdasarkan analisis dengan menggunakan


metode deskriptif, dapat disimpulkan
bahwa bangunan dancing mountain house
(p house) merupakan rumah tinggal yang
dibangun untuk mengembalikan kenangan
masa lalu sang arsitek yaitu Budi Pradono
dengan rumah tinggalnya. Rumah ini
memilik bentuk bangunan (bentuk atap)
yang mengimplementasi dari konteks
lingkungan, yaitu tapak yang berada di
desa Salatiga yang dikelilingi oleh gunung-
gunung. Selain itu, rumah ini menerapkan
rumah yang memiliki ruang tanpa batas
(Borderless Home).