Anda di halaman 1dari 32

Larutan Ideal dan Non Ideal

Nama anggota :
1. Mega sari
2. Sriana
3. Athsila nughroho
4. Mutia Rahayu
5. Rizky Amelia
6. Adisty Deaannisa
7. Puji lestari
Pendahuluan
Sifat larutan dua zat cair merupakan gabungan
sifat kedua zat itu.Penyimpangan sifat larutan
dari pelarut murni bergantung pada komposisi
larutan.

Sifat suatu larutan lebih mendekati sifat


pelarutnya, karena jumlahnya lebih besar.Akan
tetapi larutan dua macam cairan dapat
berkomposisi tanpa batas, karena saling
melarutkan. Kedua cairan dapat sebagai pelarut
atau zat terlarut, bergantung pada
komposisinya, contohnya air dan alkohol.
Kita tidak dapat
meramalkan sifat
larutan langsung dari
sifat komponennya,
karena dalam
campuran terdapat
banyak interaksi
antara partikelnya.
• Oleh sebab itu, perlu dibuat
suatu model larutan yang dapat
kita jadikan patokan. Model ini
berguna untuk mengungkapkan
hubungan komposisidengan sifat
larutan dalam keadaan standar.
Yang banyak dipakai sebagai model adalah larutan
ideal. Larutan ini sedemikian rupa sehingga
interaksi antara partikel lain jenis sama dengan yang
sejenis. Interaksi itu berupa daya tolak atau daya
tarik sesamanya. Dengan kata lain, dalam larutan
ideal, partikel satu komponen tidak mempengaruhi
partikel lain didekatnya. Energi yang dikandung
komponen larutan sebelum dan setelah bercampur
sama sehingga ∆H pecampuran nol. Artinya, dalam
pencampuran tidak ada kalor yang diserap atau
dilepaskan.
1. Larutan ideal

Larutan ideal dengan zat terlarut


ionik didefinisikan sebagai larutan
yang ion-ionnya dalam larutan
bergerak bebas satu sama lain, dan
tarik menarik hanya terjadi dengan
molekul pelarut. Untuk larutan ionik
yang sangat encer dapat
dikategorikan mendekati perilaku
ideal sebab ion-ion dalam larutan itu
saling berjauhan akibatnya interaksi
elektrostatisnya lemah.
• larutan ideal didefinisikan juga sebagai
larutan yang memenuhi hukum roult. jika
tekanan uap hasil pengamatan tidak sama
dengan tekanan uap
berdasarkan perhitungan hukum roult,
maka larutan tersebut tidak ideal.
hukum raoult yaitutekananuap parsial darisebuahkomponen
di dalamcampuranadalahsamadengantekananuapkomponentersebutdalamke
adaanmurnipadasuhutertentudikalikandenganfraksimolnyadalamcampurante
rsebut, denganpersamaan

𝑃𝐴 = 𝑋𝐴 . 𝑃𝐴 °
𝑃𝐵 = 𝑋𝐵 . 𝑃𝐵 °
Tekanan total (Ptotal) = 𝑃𝐴 + 𝑃𝐵

Bilainteraksiantarmolekulkomponen/komponenlarutansamabesardenganinte
raksiantarmolekulkomponen/komponentersebutpadakeadaanmurni,
makaterbentuklahsuatuidealisasi yang disebut
larutan ideal

Larutan ideal mematuhi hukumRaoult,


yaitubahwatekananuap pelarut(cair) berbandingtepatlurusdenganfraksimol p
elarutdalamlarutan.
Contoh:
Seandainya anda memiliki campuran dari
2 mol methanol dan 1 mol etanol pada suhu
tertentu, tekanan uap methanol murni pada
suhu ini aalah 81kPa dan etanol murni adalah
45kPa. Pada campuran ini, ada 3 mol molekul.
2 mol dari total 3 mol ini adalah metanol
sehingga fraksi mol metanol adalah 2/3. Dan
fraksi mol etanol, dengan demikan adalah
1/3. Anda dapat menghitung tekanan uap
parsial dengan menggunakan hukum Raoult
dengan menganggap bahwa campuran
methanol dan etanol ini adalah campuran
ideal.
tekanan parsial metanol:

Tekanan parsial etanol:

Tekanan uap total dari campuran larutan ini adalah jumlah tekanan parsial dari
keduanya.
ciri-ciri larutan ideal
1. Tidak ada perubahan sifat dari komponen
selain dari pengenceran ketika zat bercampur.
2. Tidak ada panas yg diserap dan dilepaskan
3. Tidak ada penyusutan volume
4. Mengikuti hukum raoult
Ciri lain larutan ideal adalah bahwa
volumenya merupakan penjumlahan
tepat volume komponen/komponen
penyusunnya.

Pada larutan non/ideal, penjumlahan


volume zat terlarut murni dan pelarut
murni tidaklah sama dengan volume
larutan.
• Contoh larutan ideal Sebenarnya tidak ada
campuran yang bisa dibilang ideal. Tapi beberapa
campuran larutan kondisinya benar-benar
mendekati keadaan yang ideal. Contoh larutan
yang dapat dianggap ideal adalah campuran :
1. heksana dan heptana
2. benzena dan metilbenzena
3. Propan-1-ol dan propan-2-ol
4. Benzena dan toluena
Larutan ideal dan perubahan entalpi
pada proses pencampuran
Ketika kita membuat suatu campuran larutan-
larutan, kita harus mengalahkan daya tarik
intermolekuler (yang membutuhkan energi-energi
dan membuat daya tarik baru yang menghasilkan
energi). Apabila besar semua daya tarik ini sama,
tidak akan ada panas yang dihasilkan atau panas
yang diserap. Ini berarti, campuran ideal dari dua
larutan akan mempunyai nol energi entalpi. Apabila
suhu campuran naik atau turun pada saat anda
mencampur keduanya, ini berarti campuran
tersebut bukan campuran ideal
Tekanan uap / diagram komposisi
Seandainya anda mempunyai sebuah campuran ideal dari dua larutan yaitu A dan
B, kedua larutan ini akan memberi "sumbangan"-nya masing-masing pada tekanan uap
keseluruhan pada campuran seperti yang telah kita lihat pada contoh di atas.

Mari kita lihat larutan A secara khusus sebagai contoh:


Anggap saja anda melipat-duakan fraksi mol larutan A dalam campuran (dalam suhu
yang sama). Menurut hukum Raoult, tekanan uapnya juga akan ikut terlipat duakan.
Apabila anda melipat-tigakan fraksi mol A, anda juga otomatis melipat-tigakan tekanan
uapnya, dan seterusnya. Dengan kata lain, tekanan uap parsial A pada suhu tertentu
berbanding lurus dengan fraksi mol-nya. Apabila anda menggambar grafik tekanan uap
parsial terhadap fraksi mol-nya, anda akan memperoleh sebuah garis lurus.
Sekarang, mari kita buat grafik yang sama untuk B pada sumbu yang
sama. Fraksi mol B mengecil sejalan dengan meningkatnya fraksi mol A
sehingga grafik untuk B berbentuk garis yang menurun ke kanan.
Bersamaan dengan berkurangnya fraksi mol B, tekanan parsial uapnya juga
berkurang dengan kecepatan yang sama.

Perhatikan bahwa tekanan uap


larutan B murni lebih tinggi dari
larutan A murni. Ini berarti molekul-
molekul pada permukaan larutan B
lebih mudah melepaskan diri
daripada molekul-molekul pada
larutan A. Larutan B lebih mudah
menguap daripada larutan A.
Untuk memperoleh tekanan uap total dari sebuah
campuran, anda harus menjumlahkan tekanan parsial A
dan B pada tiap komposisi. Dengan demikian anda akan
memperoleh garis lurus seperti pada diagram berikut.

Pada campuran yang


non-ideal, garis lurus ini
akan berbentuk kurva.
Untuk campuran yang
mendekati ideal
garisnya akan
menyerupai garis lurus.
Semakin kurang ideal
sebuah campuran,
semakin berkurvalah
garis yang terbentuk.
Titik didih / diagram komposisi

• Hubungan antara titik didih dan tekanan uap


• Apabila sebuah larutan mempunyai tekanan uap
yang tinggi pada sebuah suhu, ini berarti bahwa
molekul-molekul yang berada dalam larutan
tersebut sedang melepaskan diri dari permukaan
larutan dengan mudahnya.
• Apabila pada suhu yang sama, sebuah larutan
lain mempunyai tekanan uap yang rendah, ini
berarti bahwa molekul-molekul dalam larutan
tersebut tidak dapat dengan mudah melepaskan
diri.
Apa efek dari kedua fakta ini terhadap
titik didih dari kedua larutan ini?
• Ada dua cara untuk melihat hal ini, pilihlah yang
termudah untuk anda.
• 1. Apabila molekul-molekul dalam larutan sedang
melepaskan diri dengan mudahnya dari permukaan
larutan, ini berarti bahwa daya tarik intermolekuler
relatif lemah. Dengan demikian, anda tidak perlu
memanaskannya dengan suhu terlalu tinggi untuk
memutuskan semua daya tarik intermolekuler tersebut
dan membuat larutan ini mendidih.
• Larutan dengan tekanan uap yang lebih tinggi pada
suatu suhu tertentu adalah larutan yang titik didihnya
lebih rendah.
• 2. Larutan akan mendidih
ketika tekanan uapnya
menjadi sama dengan
tekanan udara luar. Apabila
sebuah larutan mempunyai
tekanan uap yang tinggi
pada suhu tertentu, anda
tidak perlu menambah
tekanan uapnya supaya
menjadi sama dengan
tekanan udara luar. Di lain
pihak, apabila tekanan
uapnya rendah, anda harus
meningkatkan tekanan
uapnya setinggi-tingginya
sampai besarnya menjadi
sama dengan tekanan
udara luar.
• Larutan dengan tekanan uap yang lebih tinggi
pada suatu suhu tertentu adalah larutan yang
titik didihnya lebih rendah.Sekali lagi, dua
larutan pada suhu yang sama:Larutan dengan
tekanan uap yang lebih tinggi adalah larutan
yang titik didihnya lebih rendah.
• Menghitung titik didih/membuat diagram
komposisi
• Pada bagian yang sebelumnya, kita telah melihat
diagram komposisi seperti di bawah ini:
• Kita akan mengubah diagram ini menjadi diagram
komposisi/titik didih. Kita akan mulai dengan titik didih dari
larutan murni A dan larutan murni B. B memiliki tekanan
uap yang lebih tinggi. Ini berarti bahwa larutan B
mempunyai titik didih yang lebih rendah dari larutan A
• Kita akan menambah sebuah garis lagi pada diagram ini yang akan menunjukkan
komposisi uap pada larutan yang mendidih.
• Apabila anda mendidihkan sebuah campuran larutan, larutan yang lebih mudah
menguap, tentunya akan membentuk lebih banyak uap daripada larutan yang
sukar menguap. Ini berarti, akan ada lebih banyak komponen B (komponen yang
lebih mudah menguap) terdapat dalam uap daripada dalam larutannya. Anda
dapat membuktikannya dengan memadatkan udap yang didapat dan
menganalisanya. Diagram ini menunjukkan apa yang terjadi bila anda mendidihkan
campuran larutan A dan B.

Perhatikan bahwa ada lebih banyak


uap larutan B daripada uap larutan A
yang ada di atas campuran larutan
yang mendidih ini karena larutan B
lebih mudah menguap.
• Apabila anda mengulangi proses ini dengan
campuran larutan dengan berbagai komposisi,
anda akan dapat menggambar kurva kedua,
yaitu garis komposisi uap.
• Menggunakan diagram komposisi
• Diagram ini dapat digunakan dengan cara yang persis sama seperti
dengan cara pembentukannya. Apabila kita mendidihkan campuran
larutan, anda dapat mendapatkan titik didihnya dan komposisi uap di atas
larutan yang mendidih ini.
• Sebagai contoh, pada diagram berikut ini, apabila anda mendidihkan
campuran larutan C1, titik didihnya adalah T1 dan komposisi uapnya
adalah C2.

Yang harus anda lakukan hanyalah


menggunakan kurva komposisi larutan
untuk mencari titik didih larutan dan
melihat pada grafik ini, bagaimana
komposisi uap pada suhu tersebut (titik
didih).
Perhatikan sekali lagi bahwa ada
lebih banyak uap larutan B daripada uap
larutan A yang ada di atas campuran
larutan yang mendidih ini karena larutan B
lebih mudah menguap.
• permulaan dari distilasi fraksional
• Umpamanya anda mengumpulkan semua uap yang ada di atas
larutan yang mendidih dan anda didihkan untuk kedua kalinya.
Ini berarti, sekarang anda mendidihkan larutan baru yang
komposisinya adalah C2. Larutan ini akan mendidih pada
temperatur baru yaitu T2, dan uap yang berada di atas larutan
baru ini akan mempunyai komposisi C3.

Anda dapat melihat


sekarang bahwa kita
mempunyai uap
yang hampir
merupakan
komponen B murni.
Larutan non ideal

• Gaya antar atom-atom, ion-


ion, atau molekul-molekul
harus dipertimbangkan
dalam perhitungan. Sebagai
contoh tinjau daya hantar
listrik larutan elektrolit kuat
misalnya NaCl. Jika
larutan NaCl sangat Penyebabnya, ion-ion
encer kurang dari 0,01 berlawanan muatan
M, daya hantarnya mengadakan tarik
diharapkan sesuai menarik antara satu
dengan disosiasi garam sama lain, tarik
kedalam ion-ionnya, menarik ini
tetapi jika konsentrasi menimbulkan ion-ion
larutan besar perbedaan saling berdekatan
antara harapan dan sehingga larutan
amatan menjadi lebih menjadi lebih pekat.
besar.
Setiap ion dikelilingi oleh molekul pelarut yang
berlawanan muatan, kecenderungan ini dapat
menghambat laju ion-ion menuju elektroda
yang menyebabkan daya hantar listriknya lebih
rendah dari harapan. Pengaruh ini menjadi lebih
besar jika larutan lebih pekat atau jika ion-ion
mempuyai muatan lebih besar dari satu seperti
MgSO4.