Anda di halaman 1dari 21

ANTIMIKROBA

Desriyani Saputri C051171322


Mutiara Syam P C051171514
Arisma Eka S J C051171010
Ika Alfionita C051171037
APA ITU ANTIMIKROBA?
Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba terutama
yang merugikan manusia. Dimaksudkan dengan mikroba
terbatas pada jasad renik yang tidak termasuk parasit.
MEKANISME KERJA OBAT ANTIMIKROBA
• Menghambat sintesis dinding sel kuman :
AM yang kerjanya menghambat proses sintesis dinding sel (misalnya
golongan betalaktam) menyebabkan kematian kuman akibat lisis.
• Merusak membrane sel kuman :
Antibiotika golongan polien (mis. nistatin, amfoterisin B), anti jamur
golongan azol (mis. flukonazol, ketokonazol), dan golongan polimiksin (mis.
kolistin, polimiksin B) merusak membrane sel kuman sehingga beberapa zat
intraseluler yang penting lolos keluar dan menyebabkan kematian sel.
• Menghambat sintesi protein :
Jenis antibiotik yang masuk ke sel kuman dan menghambat sintesis
proteinnya di tingkat ribosom sehingga pemanjangan rantai polipeptida
terhenti. Ada yang bersifat bakteriostatik dan ada pula yang bersfiat
bakterisidal.
• Menghambat metabolisme asam nukleat :
AM bekerja secara langsung dengan merusak sistem replikasi dan
perbaikan (repair) DNA, ada juga yang bekerja secara tidak langsung, yaitu
dengan menghambat sintesis asam nukleat.
GOLONGAN-GOLONGAN ANTIMIKROBA
A. PENISILIN
Aktivitas dan Mekanisme Kerja :
Penisilin menghambat pembentukan mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis
dinding sel mikroba. Terdapat mikroba yang sensitif, penisilin akan mengasilkan
bakterisid. Mekanisme kerja antibiotik betalaktam sebagai berikut :
1. Obat bergabung dengan penicillin-binding protein (PBPs) pada kuman.
2. Terjadi hambatatesis dinsing sel kuman karena proses transpeptidasi antar rantai
peptidoglikaso terganggu.
3. Kemudian terjadi aktivitas enzim proteolitik pada dinding sel.
Mekanisme resistensi terhadap penisilin :
Sejak penisilin mulai di gunakan, jenis mikroba yang tadiyna sensitive makin
banyak yang menjadi resistensi. Mekanisme resistensi terhadap penisilin ialah :
1. Pembentukan enzim betalaktamase misalnya pada kuman S.aureus, H.influenzae,
gonokokus dan berbagai batang Gram-negatif.
2. Enzim autolysin kuman tidak bekerja sehingga timbul sifat toleran kuman terhadap
obat.
3. Kuman tidak mempunyai dinding sel (misalnya mikoplasma)
4. Perubahan PBP atau obat tidak dapat mencapai PBP.
Bagian dari Penisilin
• Penisilin G
• Penisilin V
• Penisilin Isoksazolil
• Ampisilin
• Amoksisilin
• Karbenisilin
• Tikarsilin
• Azlosilin, mezlosilin, piperasilin
Penggunaan Klinik Penisilin
• Infeksi Kokus Gram-Positif
1. Pneumonia
2. Meningitis
3. Endokarditis
• Infeksi Kokus Gram-Negatif
1. Infeksi Meningokokus
2. Infeksi Gonokokus
3. Sifilis
4. Aktinomikosis
• Infeksi Batang Gram- Positif
1. Difteria
2. Klostridia
3. Antraks
4. Listeria
5. Erisipeloid
Efek Samping dari Penisilin
1. Reaksi Alergi
2. Reaksi Toksik dan iritasi local
3. Perubahan Biologik
4. Lain-lain :
Pada pasien sifilis yang diberi penisilin dapat terjadi reaksi Jarisch-
Herxheimer yang berat. Reaksi ini diduga akibat reaksi tubuh hospes terhadap
antigen spirochaeta.
SEFALOSPORIN
• Sefalosporin berasal dari fungus Cephalosporium acremonium yang
disolasi pada tahun 1948 oleh Brotzu. Inti dasar Sefalosporin C ialah asam 7
amino Sefalosporanat (7-ACA : 7 aminocephalosporanic acid) yang
merupakan kompleks cincin dihidrotiazin dan cincin betalaktam.
• Mekanisme Kerja Sefalosporin
Seperti halnya antibiotic betalaktam lain, mekanisme kerja
antimikroba sefalosforin ialah menghambat sintesis dinding sel mikroba.
Yang dihambat ialah reaksi transpeptidase tahap ketiga kedalam rangkaian
reaksi pembentukan dinding sel. Sefaslosporin aktif terhadap kuman Gram-
positif maupun Gram-negatif, tetapi spectrum antimikroba masing-masing
derivate bervariasi.
BAGIAN DARI SEFALOSPORIN
1. Sefalosporin Generasi Pertaman (SG I)
2. Sefalosporin Generasi Kedua (SG II)
3. Sefalosporin Generasi Ketiga (SG III)
4. Sefalosporin Generasi Keempat (SG IV)
EFEK SAMPING SEFALOSPORIN
• Reaksi alergi merupakan efek samping yang paling sering terjadi, gejalanya
mirip dengan reaksi alergi yang ditimbulakan oleh penisilin.
• Reaksi mendadak yaitu anafilaksis dengan spasme brionkus dan urtikaria
dapat terjadi. Reaksi silang umumnya terjadi pada pasien dengan penisin
yang berat, sedangkan pada alergi penisilin ringan atau sedang
kemungkinannya kecil.
• Reaksi Coomb sering timbul pada penggunaan sefalosporin dosis
tinggi.Depresi sumsum tulang terutama granulositopenia dapat timbul
mekipun jarang.
• Sefolosporin bersifat nefrotoksik, meskipun jauh lebih ringan dibandingkan
dengan aminoglokosida dan polimiksin. Nekrosis ginjal dapat terjadi pada
pemberian sefaloridin 4 g/hari (obat ini tidak beredar di Indonesia).
Sefalosporin lain pada dosis terapi jauh korang toksik dibandingkan dengan
sefaloridin. Kombinasi sefalosporin dengan gentamisin atau tobramisin
mempermudah terjadinya nefrotoksisitas.
ANTIBIOTIKA BETALAKTAM LAINNYA

Karbapenem dibagi menjadi beberpa


bagian :
• Impenem
• Meropenem
• Doripenem
TETRASIKLIN
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam natrium atau garam
HCL-nya mudah larut.Dalam keadaan kering, bentuk basa dan garam HCL tetrasiklin bersifat
relative stabil.Dalam larutan, kebanyakan tetrasiklin sangat labil sehingga cepat berkurang
potensinya.

• Spektrum Antimikroba
Tetrasiklin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin dalam pengobatannya infeksi batang Gram-
positif seperti B.anthracis, Erysipelothrix rhusiophatiae, Clostridium tetani dan Listeria
monocytogenes.Tetrasilin juga merupakan obat yang sangat efektif untuk infeksi Mycoplasma
pneumonia, Ureaplasma urealyticum, Chlasmydia trachomatis, Chlasmydia psittaci dan bebagai
riketsia.
PENGGUNAAN KLINIK
Karena penggunaan yang berlebihan , dewasa ini terjadi resistensi yang mengurangi
efektivitas tetrasiklin. Penyakit yang obat pilihannya golongan tetrasiklin ialah :
1. Riketsiosis : Perbaikan yang dramatis tampak setelah pemberiangolongan
tetrasiklin.Demam mereda dalam 1-3 hari dan ruas kulit menghilang dalm 5 hari.
Perbaikan klinis yang nyata telah tampak 24 jam setelah terapi dimulai.
2. Infeksi Klamidia :Untuk penyakit ini, golomgan tetrasiklin merupakanobat
pilihan utama.Pada infeksi akut diberikan terapi selama 3-4 minggu dan untuk keadaan
kronis diberikan terapi 1-2 bulan.Empat hari setelah terapi diberikan bubo mulai
mengecil.
3. Infeksi Mycoplasma Pneumoniae :Pneumoniae primer atipik yang
disebabkan oleh mikroba ini dapat diatasi dengan pemberian golongan
tetrasiklin.Walaupun penyembuhan Klinis cepat dicapai Mycoplasma Pneumoniae
mungkin tetap terdapat dalam sputum setelah obat dihentikan.
4. Infeksi Kokus : Golongan tetrasiklin sekarang tidak lagi
diindikasikan untuk infeksi stafilokokus maupun streptokokus karena sering dijumpai
resistensi. Tigesiklin efektif untuk infeksi kulit dan jaringan lunak oleh streptokokus dan
stafilokokus (termasuk MRSA)
5. Infeksi Venerik Sifilis : Tetrasiklin merupakan antibiotik pilihan kedua
setelah penisilin untuk mengobati sifilis.Dosisnya 4 kali 500 mg sehari per oral selama
15 hari.Ternyata siklin juga efektif untuk mengobati chancroid dan granuloma inguinal.
Karena itu dianjurkan memberikan dosis yang sma dengan dosis untuk terapi sifilis.
Efek Samping Tetrasikin

1. Reaksi Kepekaan : Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat


pemberian golongan tetrasiklin ialah erupsi mobiliformis, urtikaria dan dermatitis eksfoliatif. Reaksi
yang lebih hebat ialah edema angioneurotik dan reaksi anafilaksis.Demam dan eosinophilia dapat
pula terjadi pada waktu terapi berlangsung.Sensitisasi silang antara berbagai derivate tetrasiklin
sering terjadi.
2. Reaksi Toksik dan Iritatif : Iritasi lambung paling sering terjadi pada
pemberian tetrasiklin per oral, terutama dengan oksitetrasiklin dan doksisiklin. Makin besar dosis
yang diberikan, makin sering terjadi reaksi ini. Keadaan ini dapat diatasi dengan mengurangi dosis
untuk sementara waktu atau memberikan golongan tetrasiklin bersama dengan makanan, tetapi
jangan dengan susu atau antacid yang mengandung aluminium, magnesium atau kalsium. Diare
seringkali timbul akibat iritasi dan harus dibedakan dengan diare akibat superinfeksi stafilokokus
atau Clostridium difficlie yang sangat berbahaya.
3. Efek Samping Akibat Perubahan Biologik : Seperti antibiotic lain yang berspektrum luas,
pemberian golongan tetrasiklin kadang-kadang diikuti oleh terjadinya superinfeksi oleh kuman
resistensi dan jamur. Superinfeksi kandida biasanya terjadi dalam rongga mulut, faring, bahkan
kadang-kadang menyebabkan infeksi sitemik.Faktor predisposisi yang memudahkan terjadinya
superinfeksi ini ialah diabetes mellitus, leukemia, lupus eritematosus diseminata, daya tahan tubuh
yang lemah dan pasien yang mendapatkan terapi kortikosteroid dalam waktu lama. Salah satu
manifestasi superinfeksi ialah diare akibat terganggunya keseimbangan flora norma dalam usus.
Dikenal 3 jenis diare akibat superinfeksi dalam saluran cerna sehubungan dengan pemberian
golongan tetrasiklin.
KLORAMFENIKOL
Efek Antimikroba : Kloramfenikol bekerja dengan menghambat
sintesis protein kuman. Obat ini terikat pada ribosom subunit 50s dan
menghambat enzim peptidil transferase sehingga ikatan peptide tidak
terbentuk pada proses sintesis protein kuman. Efek toksik
kloramfenikol pada system hemopoetik sel mamalia diduga
berhubungan dengan mekanisme kerja obat ini.

Resistensi.
• Mekanisme resistensi terhadap kloramfenikol terjadi melalui
inaktivasi obat oleh asetil transferase yang diperantarai oleh faktor
R. Resistensi terhadap P. aeruginosa, Proteus dan Klebsiella terjadi
karena perubahan permeabilitas membrane yang mengurangi
masuknya obat kedalam sel bakteri.
• Beberapa strain D. pneumonia, H. influenza, dan N. meningitides
bersifarresisten; S. aureusumumnya sensitive, sedang
Enterobactericeace banyak yang telah resisten.Obat ini juga efektif
terhadap kebanyakan strain E. coli, K. pneumonia dan P. mirabilis,
kebanyakan strain Serratia, Providenciadan Proteus
rettgeriiresisten, jugakebanyakan P. aeruginosadan strain tertentu
S. typhi.
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK

• SPEKTRUM LUAS VERSUS SEMPIT


• BIAKAN DAN UJI KEPEKAAN KUMAN
• LAMA PEMBERIAN ANTIMIKROBA
• KOMBINASI ANTIMIKROBA
MASALAH RESISTENSI

• Resistensi yang terjadi secara alamiah (natural)


Bakteri memang sudah resisten sejak awal mula. Misalnya kuman
anaerobik fakultatif resisten secara alamiah terhadap metronidazol
karena tidak mempunyai kemampuan mereduksi gugus nitro pada
obat tersebut sehingga tidak dapat menjadi aktif.
• Mutasi
dalam suatu populasi kuman, mutasi terjadi secara spontan (tanpa
paparan terhadap AM apa pun) dengan frekuensi sekitar satu per 108.
• Tranmisi gen antar kuman
Materi genetic (mis. Plamid, suatu DNA estra kromosomal) yang
dapat membuat enzim perusak kuman dapat dipindahkan antara
kuman. Yang sering terjadi ialah pemindahan plasmid untuk
membuat enzim betalaktamase dan yang merusak aminoglikosida.
Menurut mekanismenya, kuman menjadi resisten
terhadap AM dengan cara berikut :

• Menghasilkan enzim yang merusak AM


• Mengubah target site
• Mengubah jalur metabolisme
• Memompa keluar AM berhasil masuk ke
dalam sel (efflux).
KEGAGALAN TERAPI
• Kuman peka secara in vitro tetapi tidak peka secara in vivo.
• Terjadi toleransi pada kokus gram positif
• Spectrum AM yang tidak sesuai
• Kadar AM dalam darah yang terlalu rendah
• Kadar AM dalam jaringan yang terlalu rendah
• Abses yang tidak diinsisi
• Adanya benda asing
• Inaktivasi AM
• Berkurangnya aktivitas AM di jaringan
• Superinfeksi oleh jamur
• Mengobati kolonisasi, bukan infeksi
• Mengobati penyakit non-infeksi (misalnya demam obat, lupus
eritematosus sistemik)
• Mengobati penyakit infeksi yang tidak responsive terhadap AM
• Daya tahan host yang buruk
EFEK SAMPING
Banyak klinikus menganggap AM tergolong obat
yang aman sehingga dalam penggunaannya tidak
perlu dikhawatirkan timbulnya efek samping.
Pendapat ini tidak benar karena bila diperhatikan
dengan teliti, ada cukup banyak efek samping dan
efek toksik yang dapat timbul akibat penggunaan
AM (Tabel 38.1)