Anda di halaman 1dari 18

JURNAL READING

“Diabetic Cataract—Pathogenesis, Epidemiology and


Treatment”

GISELA NOVALITA 20170420071


I GUSTI NGURAH ADE JAYA 201704200259
I MADE ADIARTA NUGRAHA 201704200261
INTAN SITI KHOIRIYAH 201704200267

Bagian Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya
RSAL DR. Ramelan Surababaya
2018
Pendahuluan
• Katarak pada pasien diabetes merupakan penyebab
kebutaan utama baik di negara maju maupun
berkembang.

• Dengan insidens dan progresivitas katarak yang


semakin meningkat pada pasien diabetes mellitus.

• Peningkatan jumlah kasus diabetes tipe 1 dan tipe 2


di seluruh dunia, insidens katarak diabetik
meningkat secara konstan.
Pendahuluan
• Operasi katarak, operasi oftalmologi yang paling sering
dilakukan di seluruh dunia, merupakan pengobatan yang
efektif, penjelasan mengenai pathomekanisme untuk
menghambat atau mencegah perkembangan katarak
pada pasien katarak tetaplah sebuah tantangan.

• Pasien dengan diabetes mellitus memiliki tingkat


komplikasi lebih tinggi setelah operasi katarak.

• Diabetes dan katarak sama-sama menyebabkan beban


kesehatan dan ekonomi yang berat, terutama pada
negara-negara berkembang, dimana terapi diabetes
masih belum mencukupi dan operasi katarak seringkali
belum dapat diakses.
PATOGENESIS
Glukosa Lensa Mata Sorbitol Osmolaritas

Glukosa
Apoptosis sel epitel

Glikasi Protein lensa

Superoxid radikal bebas

Katarak
Studi Klinis yang Menyelidiki Insidens
Katarak Diabetik
• Studi klinis menunjukkan bahwa perkembangan katarak
berlangsung lebih sering pada usia dini pada pasien
diabetes dibandingkan pada pasien non diabetes.

• Data dari Framingham dan studi oftalmologi lain


menandakan peningkatan prevalensi katarak tiga hingga
empat kali lipat pada pasien dengan diabetes di bawah
usia 65 tahun, dan peningkatan prevalensi hingga dua
kali lipat pada pasien di atas usia 65 tahun.

• Risiko menderita katarak meningkat pada pasien yang


menderita diabetes lebih lama dan pada pasien dengan
kontrol metabolik yang buruk.
• The Wisconsin Epidemiologic Study of Diabetic
Retinopathy menyelidiki insiden ekstraksi katarak pada pasien
diabetes. 8,3% di antaranya menderita diabetes tipe 1 dan 24,9% di
antaranya menderita diabetes tipe 2. Prediktor operasi katarak
lainnya adalah usia, keparahan retinopati diabetik, dan proteinuria
pada pasien diabetes tipe 1, sedangkan usia dan penggunaan insulin
diasosiasikan dengan peningkatan risiko pada pasien diabetes tipe
2.

• Pemeriksaan lanjutan yang dilakukan secara kohort oleh Beaver


Dam Eye Study, melibatkan 3684 peserta dengan usia 43 tahun
ke atas, dilakukan selama 5 tahun. Pada studi tersebut, insidens dan
progresivitas katarak posterior dan kortikal diasosiasikan dengan
diabetes. Sebagai tambahan, peningkatan level hemoglobin yang
terglikasi menunjukkan hubungannya dengan peningkatan risiko
katarak kortikal dan nuklear.
• Pada analisis lebih lanjut oleh Beaver Dam Eye Study,
prevalensi perkembangan katarak diteliti pada 4926 orang dewasa.
Pasien diabetes cenderung mengalami opasitas lensa kortikal dan
menunjukkan tingkat operasi katarak yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pasien nondiabetes. Analisis dari data
tersebut membuktikan jika durasi diabetes yang lebih lama
diasosiasikan dengan peningkatan frekuensi dari katarak kortikal
dan juga peningkatan frekuensi operasi katarak.

• Tujuan dari studi potong lintang berdasarkan populasi milik Blue


Mountains Eye Study adalah untuk menyelidiki hubungan
antara katarak nuklear, kortikal, dan subkapsular posterior pada
3653 peserta pada tahun 1992-1994. Katarak subkapsular posterior
menunjukan hubungan yang signifikan secara statistik terhadap
diabetes.
• Studi kohort berdasarkan populasi dari 2335 peserta 49 tahun ke
atas dilakukan di area Blue Mountains, Australia, dan menyelidiki
hubungan antara diabetes dengan insidens katarak selama 5 tahun.
Hasil dari studi longitudinal ini yang dilakukan oleh kelompok
peneliti yang sama dengan Blue Mountain Eye Study
menunjukkan peningkatan dua kali lipat insidens katarak kortikal
selama 5 tahun pada peserta dengan glukosa puasa terganggu.
Hubungan signifikan secara statistik ditemukan antara insidens
katarak subkapsular posterior dengan jumlah pasien diabetes yang
baru terdiagnosis.

• The Visual Impairment Project mengevaluasi faktor risiko


perkembangan katarak pada penduduk Australia. Studi tersebut
menunjukkan jika diabetes mellitus merupakan faktor risiko
independen dari katarak subkapsular posterior jika berlangsung
selama lebih dari 5 tahun
• Tujuan dari studi Barbados Eye adalah untuk mengevaluasi
hubungan antara diabetes dengan opasitas lensa pada 4314 peserta
berkulit hitam. Para penulis menemukan jika riwayat diabetes
(dengan prevalensi 18%) berhubungan dengan semua
perubahan lensa, terutama pada usia dini.
Operasi Katarak pada Pasien Diabetes
• Fakoemulsifikasi merupakan teknik yang paling sering
dipilih akhir-akhir ini pada sebagian besar tipe katarak.
Teknik ini dikembangkan oleh Kelman pada 1967 dan baru
diterima secara luas pada tahun 1996.

• Teknik ini memiliki inflamasi astigmatisme yang lebih sedikit


pada postperatif, rehabilitasi visual yang lebih cepat, dan,
dengan lensa modern yang dapat dilipat, menurunkan insiden
kapsulotomi dibandingkan dengan operasi ekstrakapsuler
yang sudah kadaluwarsa.

• Baru-baru ini terdapat pergeseran yaitu ekstraksi katarak


yang lebih dini pada pasien diabetes.

• Meskipun hasil akhir keseluruhan dari operasi katarak adalah


baik, pasien dengan diabetes mungkin akan memiliki
penglihatan akhir yang lebih buruk dibandingkan dengan
pasien nondiabetes.
• Pada pasien diabetes, baik dengan atau tanpa bukti adanya
retinopati diabetik, barier darah-aqueous akan terganggu dan
memicu peningkatan risiko inflamasi postoperatif dan
perkembangan edema macular.

• Beberapa studi klinis menyelidiki peranan operasi katarak


fakoemulsifikasi terhadap progresivitas retinopati diabetik.
Satu tahun setelah operasi katarak, tingkat progresivitas
retinopati diabetik memiliki rentang antara 21% hingga 32%.
• Boririllo et al. melaporkan tingkat progresivitas setinggi 25%
setelah melakukan pengamatan lebih lanjut pada bulan ke-6.

• Suatu ulasan retrospektif dari 150 mata milik 119 pasien


diabetes yang menjalani operasi fakoemulsifikasi 25%
menunjukkan progresivitas retinopati diabetik yang sama
setelah 6-10 bulan.

• Krepler et al. menyelidiki 42 pasien dan melaporkan


progresifitas retinopati diabetik sebesar 12% pada mata yang
dioperasi dibandingkan dengan 10,8% pada mata yang tidak
dioperasi pada pemeriksaan lanjutan setelah 12 bulan.
TERAPI ANTIKATARAK
• Aldose-Reductase Inhibitors.
i. Terdiri dari bermacam-macam senyawa yang berbeda secara
struktural seperti ekstrak tanaman, jaringan hewan, atau molekul
kecil spesifik.

ii. Pada tikus dengan diabetes, flavonid tumbuhan seperti


quercitrin atau isoflavone genistein memperlambat
pembentukan katarak diabetik .

iii. Contoh produk natural yang diketahui memiliki aktivitas


inhobitor AR adalah ekstrak tanaman seperti Ocinum sanctum,
Withania somnifera, Curcuma longa, dan Azadirachta indica.

iv. ARI lain dengan efek bermanfaat untuk menghambat katarak


diabetik adalah Alrestatin [80], Imrestat [81], Ponalrestat [82],
Epalrestat [83], Zenarestat [84],Minalrestat [85], atau Lidorestat
[86].
• Terapi Antioksidan pada Katarak Diabetik.
i. Akumulasi polylol selama pembentukan katarak diabetik
menyebabkan kerusakan oksidatif yang berlangsung secara
indirek.

ii. Contoh dari antioksidan tersebut adalah asam lipoic alfa, yang
telah menunjukkan efektivitasnya baik untuk menghambat dan
mencegah progresivitas katarak pada hewan dengan diabetes

iii. Kombinasi terapi menggunakan vitamin E, suatu vitamin lpofilik


dan antioksidan, dan insulin pada hewan dengan diabetes secara
sinergis mencegah perkembangan dan progresivitas katarak pada
hewan.
• Agen Farmakologis untuk Terapi Edema Makular
setelah Operasi Katarak.
i. Prostaglandin proinflamasi telah terbukti terlibat dalam mekanisme
yang mengakibatkan kebocoran cairan dari kapiler perifoveal menuju
ruang ekstraseluler regio makular.

ii. Nepafenac, suatu NSAID topikal yang memunjukkan kemampuan


untuk pencegahan dan terapi nyeri segmen anterior dan inflamasi
setelah operasi katarak, Komponen aktifnya berupa prodruk yang
secara cepat mempenetrasi kornea untuk membentuk metabolit aktif,
amfenac, melalui hidrolase intraokuler, terutama pada retina, epitel
badan silier, dan koroid.

iii. Suatu studi retrospekif membandingkan insiden edema makular


setelah fakoemlsifikasi antara 240 pasien yang diterapi selama 4
minggu dengan prednisolone topikal dengan terapi kombinasi
prednisolone dan nepafenac secara bersamaan. Penulis
menyimpulkan jika pasien yang diterapi dengan prednisolone topikal
saja mengalami peningkatan insiden edema makular secara
signifikan dibandingkan dengan pasien yang juga diterapi dengan
nepafenac.
KESIMPULAN
• Katarak pada pasien diabetes merupakan penyebab kebutaan utama
baik di negara maju maupun berkembang. Komplikasi tersering
baik pada diabetes tipe 1 maupun 2 adalah retinopati diabetik.

• Katarak diperkirakan sebagai sebagai penyebab utama gangguan


penglihatan pada pasien diabetes, dengan insidens dan
progresivitas katarak yang semakin meningkat pada pasien diabetes
mellitus

• Patogenensis dari perjalanan katarak diabetik, menurut studi


penelitian dasar terbaru menekan jalur polylol dalam inisiasi
penyakit.
Kesimpulan
• Mekanisme pemicu pembentukan katarak diabetik adalah
pembentukan polylol melalui glukosa oleh enzim Aldose reduktase
(AR) yang menyebabkan peningkatan stres osmotic pada serat lensa
dan menyebabkan pembengkakan serta ruptur.

• Pasien dengan diabetes juga memiliki resiko lebih tinggi untuk


mengalami komplikasi setelah operasi katarak fakoemulsifikasi
dibandingkan pasien tanpa diabetes.

• Aldose-reduktase inhibitor (ARI) dan antioksidan telah terbukti


bermanfaat dalam prevensi dan terapi kondisi yang menyebabkan
penglihatan, baik dalam studi eksperimental invitro maupun invivo.