Anda di halaman 1dari 59

RANGKUMAN EKSIPIEN

YANG DIGUNAKAN
DALAM FORMULASI
TABLET METODE
KEMPA LANGSUNG

Oleh:
Nisa Rahma D. Fadhyla Widya P.
Fatchur Rohmi L.S Mazaya Alma G.
Aldea Putri C.H Chikita Patricia M.
Alif Kurniawan Pradia Paramitha
Formulasi Tablet Metode Kempa Langsung

Metode Kempa Langsung

 Merupakan pembuatan tablet dengan


mengempa langsung campuran zat aktif
dan eksipien kering tanpa melalui perlakuan Secara umum sifat zat aktif
awal terlebih dahulu. yang cocok untuk metode
kempa langsung adalah:
1. Alirannya baik
 Metode ini hanya dapat digunakan pada
2. Kompresibilitasnya baik
kondisi dimana zat aktif maupun untuk
3. Bentuknya Kristal
eksipiennya memiliki aliran yang bagus,
4. Mampu menciptakan
zat aktif yang kecil dosisnya, serta zat
adhesifitas dan kohesifitas
aktif tersebut tidak tahan terhadap panas
dalam massa tablet
dan lembab (Vogoith, 1995).
(Ansel,1999)
Kelebihan dan Kekurangan Metode Kempa Langsung

(+) Kelebihan (-) Kekurangan

a. Singkat prosesnya  proses yang dilakukan a. Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk
sedikit, maka waktu yang diperlukan untuk antara ZA dengan pengisi dapat menimbulkan
menggunakan metode ini lebih singkat, stratifikasi di antara granul  menyebabkan kurang
tenaga dan mesin yang dipergunakan juga seragamnya kandungan zat aktif di dalam tablet.
lebih sedikit. b. Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah
a. Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak untuk dikempa langsung karena itu biasanya
tahan panas dan tidak tahan lembab digunakan 30% dari formula agar memudah
c. Waktu hancur dan disolusinya lebih baik  kan proses pengempaan sehingga pengisi yang
karena tidak melewati proses granul, tetapi dibutuhkan pun makin banyak dan mahal.
langsung menjadi partikel (Parrot,1971). c. Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang
digunakan harus bersifat mudah mengalir, kompresi
bilitas yang baik, serta kohesifitas dan adhesifitas
yang baik (Lachman, 1986).
Komponen Formulasi Tablet Kempa

Komponen-komponen dalam formulasi tablet kempa terdiri atas :

Zat Aktif

Bahan Pengisi

Bahan Pengikat

Disintegran

Lubrikan
Formulasi 1
FORMULASI
Rasionalisasi
Tablet Aspirin dibuat dengan menggunakan metode cetak langsung, karena
mudah terhidrolisis dalam keadaan lembab, tidak tahan terhadap pemanasan dan
memiliki fluiditas serta kopresibilitas yang baik. Pada pembuatan tablet Aspirin
digunakan Spray Dried Lactose dan Avicel PH 102 sebagai filler-binders

Formula pertama
Formula kedua Formula ketiga
hanya menggunakan
menggunakan Avicel PH kombinasi dari
Spray Dried Lactose
102 keduanya
sebagai filler-binders

Magnesium stearat (lubrikan)


Kombinasi keduanya memberikan hasil
Kadar : Spray Dried Lactose 20%, mengurangi friksi antara permukaan tablet
yang baik. Kedua bahan tersebut juga
Avicel PH 102 20% dengan dinding die selama kompresi dan
dapat berperan sebagai antiadherent
ejeksi. Talk (glidan) meningkatkan
bahan yang dapat mencegah melekatnya
Bahan pelincir: Kombinasi talk & fluiditas massa yang akan dikempa,
(sticking) permukaan tablet pada punch
magnesium stearat. sehingga massa tersebut dapat mengisi die
atas dan bawah (Sulaiman, 2007).
dalam jumlah yang seragam
Evaluasi
Uji Sifat Alir Persamaan SLD

Kecepatan alir :
- Spray dry lactose : 28,04 g/dtk
- Avicell PH 102 : 14,53 g/dtk

Hasil menunjukan bahwa ketiga formula tersebut


memenuhi persyaratan waktu alir yang baik, yaitu
kurang dari 10 detik untuk 100 gram granul
(Siregar, 1992).
Evaluasi
Uji Keseragaman Bobot
Bobot tablet yang dihasilkan pada formula I,
formula II, dan formula III semuanya memenuhi p
ersyaratan keseragaman bobot tablet yang baik m
enurut Farmakope Indonesia edisi III.
Keseragaman bobot tablet dapat ditunjang
dengan kecepatan alir granul sehingga distribusi
granul dapat terpenuhi yang dikontrol pada saat
pencetakan (Siregar, 1992).
Granul dari ketiga formula tablet aspirin ini
memiliki kecepatan alir yang baik sehingga pada
saat proses pembuatan, pengisian ruang
cetakan (die) menjadi seragam yang kemudian
mempengaruhi keseragaman bobot tablet dan
keseragaman zat aktif (Sulaiman, 2007).
Evaluasi
Uji Kekerasan Tablet Persamaan SLD

Kekerasan tablet aspirin pada formula I, formula II, dan


formula III memenuhi syarat yaitu memiliki kekerasan
antara 4-8 kg. Hal ini menunjukan bahwa filler-binders
pada penelitian ini yaitu Spray Dried Lactose dan Avicel PH
102 dapat menghasilkan tablet dengan kekerasan
yang memadai.
Evaluasi
Uji Kerapuhan Tablet Persamaan SLD

Formula I dan formula III memenuhi persyaratan yang


ditetapkan  tablet kehilangan berat lebih kecil dari 0,5%
sampai 1% (Lachman dkk, 1994). Untuk formula II tidak
memenuhi persyaratan kerapuhan tablet.
Dikarenakan pengaruh dari bahan pengikat yang digunakan yaitu
filler-binders Spray Dried Lactose dan Avicel PH 102.
Penggunaan bahan pengikat dapat memberikan kekompakan
dan daya tahan tablet sehingga penyatuan partikel terjamin
(Alifah, 2002 cit Pratiwi, 2008).
Evaluasi
Uji Waktu Hancur

Formula II dan III  memenuhi syarat waktu hancur tablet tidak bersalut, yaitu kurang dari 15 menit.
Formula I  tidak memenuhi persyaratan waktu hancur tablet yang disebabkan karena pada formulasi ini tidak
digunakan secara khusus bahan yang berfungsi sebagai bahan penghancur.
Pada formula II dan III, menggunakan filler-binders Avicel PH 102 yang memiliki sifat dapat mempercepat waktu
hancur tablet (Sulaiman, 2007), karena pada saat menghasilkan kohesi gumpalan, zat ini juga bertindak sebagai zat
penghancur (Lachman dkk, 1994). Tablet yang merupakan hasil pengempaan granul/serbuk, memiliki pori-pori
kapiler. Apabila tablet kontak dengan medium air, maka air akan berpenetrasi melalui pori-pori kapiler yang ada.
Akibat penetrasi air, maka ikatan antara partikel menjadi lemah dan akhirnya tablet pecah (Sulaiman, 2007).
Pada formula I menggunakan filler-binders Spray Dried Lactose yang tidak memiliki sifat penghancur seperti Avicel
PH 102, sehingga waktu hancur tablet tidak memenuhi persyaratan. Waktu hancur tablet yang baik yaitu
tidak lebih dari 15 menit (Depkes RI, 1995).
Kesimpulan Evaluasi

Daya ikat dari Spray Dried Lactose lebih baik dibandingkan dengan Avicel PH 102 sehingga
untuk tekanan yang sama, Spray Dried Lactose menghasilkan kekerasan tablet yang lebih dari
pada Avicel PH 102. Sedangkan untuk kombinasi antara Spray Dried Lactose dan Avicel PH
102 (0,68) memberikan pengaruh dapat meningkatkan kekerasan tablet. Pada contour plot juga
terlihat bahwa semakin berkurangnya konsentrasi dari Spray Dried Lactose maka kekerasan
tablet semakin kecil dan trend dari contour plot menurun.

Penggunaan Spray Dried Lactose Avicel PH 102 sebagai pada tablet Aspirin berpengaruh positif
terhadap waktu alir granul, keseragaman bobot dan kekerasan. Dan filler-binders tablet sedangkan
untuk kerapuhan dan waktu hancur perlu disempurnakan lagi pada formulasinya.
Formulasi 2
Formulasi
Rasionalisasi

• Bahan aktif dengan kadar 75% dan bah


an eksipien dengan kadar 25%
• Bahan eksipien yang digunakan yaitu A
erosil, Corn Starch digunakan sebagai p
engikat, dan Lactose yang menunjukka
n proses disintegrasi cepat.
• penggunaan glidan dalam formulasi ke
EVALUASI

untuk merek komersial, 1,33 ± 0,0638 cm sampai 1,34 ± 0,0639 cm (T1 dan T2), 0,38
± 0,0850cm sampai 0,39 ± 0.2499cm (T3 dan T2), 4,67 ± 1,1918Kg sampai 4,90 ± 1,7
986Kg (T2 dan T3) sedangkan kerapuhan berkisar antara 0,24% sampai 0,31% (T1 da
n T3) untuk batch percobaan.
Diameter, ketebalan dan kekerasan berkisar antara: 1,14 ± 0,0425cm sam
pai 1,61 ± 0,0348cm (B1 dan B5), 0,44 ± 0,0690cm sampai 0,71 ± 0,0922
cm (B4 dan B2), 2,17 ± 0,4514Kg sampai 6,94 ± 1,4276Kg (B1 dan B5) Ke
rapuhan berkisar antara 0,23% sampai 0,58% (B2 dan B1).
Pada formulasi B3 untuk bobot lebih rend
ah dibandingkan dengan formulasi lainny
a, namun hal ini masih memenuhi persyar
atan uji variasi berat yang dinyatakan oleh
farmakope AS.
• hasil pengujian menunjukkan bahwa kedua formulasi yang diteliti memenuhi persyaratan
resmi pengujian (95% sampai waktu untuk hancur yaitu; 10 detik
• Pada B1 berkisar 13 detik, B2 dan B5 berkisar15 detik
• Pada Percobaan T1 dan T3 berkisar 20 Detik, T2 15 detik
• Semua data memenuhi batas disintegrasi seperti yang ditetapkan oleh USP (USP 28 / NF
23, 2005)
• Uji disolusi dilakukan pada formula B2 menunjukkan tingkat disolusi paling rendah ya
itu 78%, sehingga gagal 105%
• Disintegrasi mengevaluasi ketersediaan obat untuk disolusi dan absorpsi dari saluran
cerna.
• Pada formula B3 dan B4 sesuai persyaratan farmakope, sedangkan persentase disolus
i tertinggi diperoleh B4 yaitu 99%. Sedangkan formula lainnya memiliki persentase di
solusi lebih dari 80% yang aktif dalam 30 menit.
• Pada formula T1-T3 berkisar: 91% sampai 101%, hal ini mungkin disebabkan oleh pe
nggunaan beberapa eksipien.
• Disintegrasi tablet yang cepat membutuhkan tingkat disolusi yang tinggi
Kesimpulan

• Penelitian ini menunjukkan bahwa pen


ggunaan Tablet aspirin lebih sedikit eks
ipien dan berhasil diproduksi sehingga
memenuhi semua persyaratan farmako
pe. Penelitian ini juga dapat dilakukan
pada obat lain untuk mendapatkan pro
duk yang efektif biaya
Formulasi 3
Formulasi

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah singkong, gom akasia, paraset
amol dan aquadest.
Rasionalisasi
• Memiliki kekurangan yaitu memiliki kompaktibilitas dan sifat alir yang buruk jika digunakan sebagai eksipien tablet
kempa langsung
•. Agar dapat digunakan sebagai eksipien tablet kempa langsung, perlu dilakukan modifikasi fisik amilum singkong
Melalui modifikasi partially pregelatinized, terbentuk massa granul dengan sifat alir yang lebih baik. Namun
Amilum amilum singkong partially pregelatinized sebagai pengikat dalam pembuatan tablet parasetamol dengan kempa
singkong langsung masih rendah.

• Berperan sebagai bahan pengikat co-processing dari amilum singkong partially pregelatinized. Perbandingan
amilum singkong dan gom akasia yang digunakan 97,5:2,5(F1) ; 95:5(F2) ; dan 92,5:7,5(F3).
• Eksipien co-processing digunakan dalam pembuatan tablet parasetamol kempa langsung dengan perbandingan
eksipien co-processing dan zat aktif parasetamol 2:1.
Gom Akasia
Evaluasi
Uji Sifat Fisik Tablet
Evaluasi
Uji Organoleptis

Tablet yang dihasilkan berwarna putih, tidak berbau, berbentuk bulat cembung dan tidak menunjukkan
adanya capping

Uji Keseragaman Bobot


Hasil pengujian keseragaman bobot tablet menunjukkan seluruhformula tablet memenuhi persyaratan
Farmakope Indonesia edisi IV

Uji Kekerasan Tablet


Peningkatan konsentrasi gom akasia pada eksipien co-processing menunjukkan peningkatan keker
asan tablet. tablet parasetamol dengan eksipien co-processing Formula 3 tidak memenuhi persya
ratan yaitu dengan nilai kekerasan tablet lebih dari 8 Kg.
Evaluasi

Uji Kerapuhan Tablet


Seluruh formula tablet memenuhi persyaratan kerapuhan tablet yang baik. Peningkatan
konsentrasi gom akasia menurunkan kerapuhan tablet parasetamol.

Uji Waktu Hancur Tablet


Seluruh formula tablet parasetamol memenuhi persyaratan waktu hancur tablet yang tertera pada
Farmakope Indonesia edisi IV (1995). Peningkatan konsentrasi gom akasia memperpanjang waktu
hancur tablet.
Formulasi 4

Formulation and Evaluation of Ascorbic acid Tablets by


Direct Compression using Microcrystalline Starch as a
Direct Compression Excipient
Yonni E Apeji*
Avosuahi R Oyi
Hassan Musa
Department of Pharmaceutics and Pharmaceutical Microbiology, Faculty of Pharmaceutical Sciences,
Ahmadu Bello University, Zaria
Formulasi

Ascorbic acid 200 mg


MCS/MCC 295 mg
Stearic acid 2.5 mg
Talc 2.5 mg
Total 500 mg
Rasionalisasi
• sifat alir dan lubricant yang kurang baik.
Asam Askorbat

• dikenal sebagai diluent, binder, dan disintegrant. Serta dikenal dengan sifat
Microcrystalline cellulose (MCC) compaction yang sangat baik. Kelemahannya, yaitu memiliki sifat alir yang buruk

• bahan serbaguna, murah dan mudah didapat bisa digunakan sebagai binder,
Microcrystalline starch (MCS) disintegrant, diluent, lubricant dan glidant.

• digunakan sebagai glidant untuk memperbaiki sifat alir


Talk
Evaluasi
Evaluasi Serbuk

Sudut diam > 40º hal ini menyatakan


bahwa sifat alir buruk. oleh karena itu
memerlukan penyertaan talk
sebagai glidant untuk memperbaiki
aliran formulasi selama tableting
Evaluasi

Ada perbedaan nilai yang signifikan


untuk densitas bulk dan tapped. Nilai
MCS lebih tinggi daripada MCC yang
menunjukkan bahwa MCS memiliki
perilaku pengepakan yang lebih baik
dibandingkan MCC.
Evaluasi
Porositas serbuk memberikan indikasi
pada kemudahan konsolidasi bubuk.
Dimana MCC lebih mudah untuk
menggabung.
Indeks Carr dan rasio Hausner serta
sudut istirahat adalah indeks untuk
memprediksi sifat aliran bubuk. Nilai
tinggi menunjukkan aliran bahan yang
buruk.
Evaluasi

Nilai yang dicatat untuk kapasitas


penyerapan air MCS adalah konfirmasi
kecenderungan higroskopisnya dan
cenderung mempengaruhi stabilitas
tablet yang diformulasikan selama
penyimpanan dibandingkan dengan MCC
dengan tingkat penyerapan kelembaban
yang lebih rendah (10%).
Evaluasi
Evaluasi Tablet

Uji variasi berat tidak melebihi batas ± 5


% (475-525mg). Kekuatan penghancuran
mengandung MCC sebagai filler-binder
secara signifikan lebih tinggi daripada
yang mengandung MCS
Evaluasi

pada nilai kekuatan tarik yang ditentukan


dengan menggunakan data kekuatan
penghancur. Nilai tinggi ini terkait
dengan indeks ikatan MCC yang tinggi.
nilai kerapuhan relatif lebih rendah untuk
tablet dengan MCC : MCS. Ini juga dapat
dijelaskan dengan friabilitas MCC : MCS.
Evaluasi

Tablet MCS hancur dalam 15 menit,


sedangkan MCC lebih dari 1 jam untuk
hancur. Waktu disolusi lebih cepat untuk
tablet yang mengandung MCS daripada
tablet yang mengandung MCC.
Pelepasan obat 100% dicapai setelah 30
menit untuk tablet yang mengandung M
CS dibandingkan dengan 27% yang
tercatat dengan tablet MCC.
Kesimpulan Evaluasi

Penelitian ini telah menunjukkan bahwa modifikasi starch mampu


memberikan beberapa fitur yang diinginkan dan dibutuhkan untuk
kempa langsung.
Formulasi 5
Development of Directly Compressible Ascorbic Acid
Tablet Using Novel Excipients

Seema Jagtap, Dr. Bajaj Amrita, Maskare Rina, Darshana Jain*


C.U. Shah College of Pharmacy, SNDT women’s University, Juhu Tara Road,
Santacruz (west), Mumbai -400049.
Formulasi
Asam Askorbat 500mg
MHF 63.5mg
MCC 150.5mg
Aerosil 1mg
Total 715mg
Rasionalisasi
Metode kempa langsung  dipengaruhi karakteristik serbuk, spt
sifat alir, pengempaan, dilution.

Sifat eksipien  sifat alir yang baik, kompatibilitas yang tinggi, blending
yang baik, sensitivitas lubricant rendah, stabilitas dan inertsitas baik

Asam askorbat  sifat alir dan lubricant yang kurang baik.

Micro Crystalline Cellulose (MCC)  dikenal sebagai diluent, binder,


dan disintegrant. Kelemahannya, yaitu memiliki sifat alir yang buruk

Modified hydrogenated fat (MHF)  dicampur dengan eksipien


seperti aerosil dapat meningkatkkan kompestabilitas, memperbaiki
binding tablet, menghindari penambahan air dan dengan demikian
mengurangi waktu disintegrasi tablet.
Evaluasi
Identifikasi sifat fisikokimia: campuran eksipien dievaluasi untuk ukuran partikel,
bentuk, kadar air, densitas dan sifat aliran.

Laju alir
Ukuran partikel dan
penentuan bentuk Bulk density determination Fluiditas penting agar pengisian
(Penentuan kerapatan massa) die yang memadai terjadi pada
Ditemukan bahwa ukuran dan Kompatibilitas
Kelembaban ini dalam banyak mesin tablet untuk
bentuk partikel berpengaruh kasus agak ringan baik sebagai menghasilkan tablet dengan Kompatibilitas eksipien
terhadap sifat aliran, sifat air hidrasi (laktosa monohidrat) berat konstan. Jika dosis berkontribusi terhadap
pengepakan, mekanisme atau dengan degradasi formulasi bubuk tidak melimpah kekuatan kompak yang
reduksi volume, debu, derajat hidrogen. Air yang longgar secara memuaskan, variable die terbentuk
pemisahan, sensitivitas pelumas, menyebabkan degradasi bahan filling akan menghasilkan tablet
kompresibilitas dan kekuatan aktif. yang berbeda kekuatan dan
kompak.
berat.
Evaluasi
Evaluasi
Kriteria kompresibilitas Tablet ( FI IV, 1995)
Kompresor% dari semua batch
ditentukan dan ditemukan 17,80
5-25,029. Telah diamati bahwa di
% Kompersibilitas Kategori
antara eksipien yang dapat
dikompres secara langsung yang 5-12 Istimewa
digunakan, MHF, MCC dan
Aerosil memiliki perbandingan 12-16 Baik
kompresibilitas tertinggi 25,029,
yang dapat menyebabkan 18-21 Sedang
pelepasan cepat bila
dibandingkan dengan bahan 23-35 Kurang baik
pengisi lainnya.
33-38 Sangat buruk

>40 Sangat – sangat buruk


Evaluasi

- A5 memiliki rasio sensitivitas pelumas yang lebih


rendah dibandingkan Avicel PH 200.
- Campuran ini terdiri dari MCC dengan partikel
berserat, yang memungkinkan interlocking mekanis.
Oleh karena itu dipertahankan kekuatan kompak
sampai tingkat optimum bahkan setelah penambah
an magnesium stearat. Ukuran partikel MHF lebih
kecil dibandingkan Avicel PH 200.Oleh karena itu di
perlukan lebih banyak pelumas untuk pembentukan
film monomolekuler pada partikel MHF, serta
campuran ini menunjukkan sensitivitas pelumas
kurang dibandingkan Avicel 200.
Evaluasi
Pengaruh konsentrasi pelumas pada kekerasan tablet

Pengaruh waktu pencampuran terhadap ke


kerasan ditunjukkan pada tabel. Ditemukan
bahwa kekerasan terus menurunkan waktu
pencampuran, namun tingkat efeknegatifnya
berbeda untuk semua eksipien.

Pengaruh waktu pencampuran pelumas


pada waktu disintegrasi
tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan
pada waktu disintegrasi, hal ini mungkin
disebabkan oleh adanya disintegrasi kuat
dalam formulasi yang disebabkan oleh
adanya MCC
Evaluasi

Kekerasan terus menurun seiring dengan meningkatnya waktu


pencampuran, namun tingkat efek negatifnya berbeda untuk semua
eksipien. Campuran A3, A4 dan A5 memiliki waktu pencampuran kritis
2 menit. Ini dikaitkan dengan bentuk partikel berserat MMC, yang
memungkinkan interlocking mekanis.
Evaluasi

Waktu Disolusi

Hasil disolusi menunjukkan bahwa dengan


adanya primogel, tingkatkan laju pelarutan
dan juga obat dilepaskan lebih cepat.
Pelepasan obat maksimum ditemukan
pada formulasi T5 (98,50%).
Formulasi 6
Formulasi
Tablet terapung disiapkan dengan metode kompresi langsung menggunakan:

HPMC sebagai
polimer
pengontrol laju

Karbapol NAHCO3
sebagai agen sebagai agen
terapung penghasil gas

Magnesium
stearat sebagai Metil selulosa
glasir
Komposisi Formulasi
Rasionalisasi
Evaluasi
Evaluasi
- Kekerasan dipertahankan 5-6 kg/cm² dalam semua formulasi
- Kepekaan semua formulasi berada dalam batas yang dapat diterima
- Keseragaman konten ditentukan berada pada kisaran 95.16 -98.43%
- Kapasitas terapung dari tablet buatan ditentukan dalam HCl 0,1 N
- Semua tablet menunjukkan waktu jeda mengambang yang diinginkan dengan nilai rata-rata kurang d
ari 60 detik dengan waktu mengambang lebih besar dari 12 jam untuk semua batch. Hasil penelitian
mengambang termasuk dalam tabel 2. Hal ini terutama disebabkan oleh evaluasi CO2 yang terperan
gkap di dalam matriks polimer terhidrasi yang dihasilkan dari interaksi antara agen pembangkit gas
(NaHCO3) dan media disolusi (0,1N HCl, pH 1,2) dari matriks yang memungkinkan untuk mengapung
Evaluasi
Studi pelepasan obat secara invitro menunjukkan bahwa formulasi F1 dan F2
masing-masing melepaskan 93,5% dan 98,6% dalam 10 jam dan 12 jam. Hal
tersebut bisa disebabkan oleh konsentrasi polimer yang berbeda.

Kedua formulasi tersebut melayang selama 12 jam memiliki


waktu jeda mengambang masing-masing 45 dan 52 detik.

Formulasi F3 dan F4 terdiri dari HPMC K100 M dan menunjukkan pelepasan obat 93,8 dan
96,5%. Variasi pelepasan obat ini disebabkan oleh perubahan konsentrasi polimer tablet.
Formulasi F5 dan F6 terdiri dari HPMC K4M, dalam formulasi F6 ini menunjukkan profil
pelepasan obat yang diinginkan dalam 12 jam dan melayang dengan jeda waktu 60 detik.
Oleh karena itu dianggap yang terbaik.
Kesimpulan Evaluasi

Tablet terapung Gatifloxacin disiapkan dengan sistem effervescent


dengan metode kompresi langsung. Obat berbasis efervesen
memberikan hasil yang menjanjikan pada daya apung in vitro.
Pembentuk gel polimer HPMC dan agen penghasil gas seperti
natrium bikarbonat sangat penting untuk mencapai daya apung
optimal.
Daftar Pustaka
• Ansel, H.C., et.al. 1999. Pharmaceutical Dosage Form and Drug
Delivery System 7th edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Philadelphia. 96, 175-178
• Lachman L,1986. Teori dan Praktek Farmasi Industri Ed
2.Gadjah Mada University: Yogyakarta9
• Parrot, E. L. 1971.Pharmaceutical Technology Fundamental
pharmaceuticsThirdEdition.USA: Burges Publishing Company
• Voigt,Rudolf.1995.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Industri.UI
Press : Jakarta
• Wade,A & Weller,P.J.1995. Handbook of Pharmacetuical Excipient.
Pharmaceutical Press : London.
TERIMA KASIH