Anda di halaman 1dari 32

RESPONSI

DHF

YULIANI
MELISA LILISARI
I. KETERANGAN UMUM

 Nama pasien : An. S


 Jenis kelamin : Laki-laki
 Usia : 7 thn
 Alamat :
 Agama : Islam
Masuk Rumah Sakit : 28 November 2005
Tanggal Pemeriksaan : 30 November 2005
II. ANAMNESIS (Heteroanamnesa dari
ibu penderita)

Keluhan Utama: Panas badan


Anamnesis khusus:
Sejak 3 hari SMRS, penderita mengalami panas badan
yang mendadak tinggi dan berlangsung terus menerus.
Keluhan tidak disertai batuk pilek, sesak nafas, nyeri menelan,
sakit telinga. Riwayat kejang dan penurunan kesadaran
disangkal.
Panas badan tidak disertai dengan mimisan ataupun
perdarahan gusi. Buang air besar dan kecil juga tidak disertai
perdarahan ataupun perubahan warna. Penderita mengeluh
nyeri ulu hati, pegal-pegal, sakit sendi, mual, tanpa disertai
muntah. Adanya bintik-bintik merah di lengan timbul sejak 2
hari SMRS.
Atas keluhannya, penderita berobat langsung ke dokter
umum dan diberi obat penurun panas, namun tidak ada
perbaikan. Penderita kemudian berobat ke RSHS.
Riwayat penyakit serupa di rumah disangkal, di lingkungan
sekolah dan sekitar rumah tidak diketahui. Penderita dan
keluarganya baru saja menempati lingkungan barunya sehingga
belum dapat melakukan upaya pencegahan penyakit demam
berdarah seperti menguras tempat penampungan air secara
teratur, menutup rapat tempat penampungan air, mengubur
kaleng-kaleng bekas yang dapat menampung air. Riwayat
penyemprotan di lingkungan rumah selama dua bulan terakhir
tidak diketahui.
Penderita memiliki riwayat penyakit
amandel. Selama perawatan di RSHS
penderita mengalami riwayat sesak nafas
dan ujung-ujung tangan dan kaki yang dingin
1 hari yang lalu.
III. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum
 Kesan sakit : Sakit sedang
 Kesadaran : Kompos mentis
 Umur : 7 tahun
 Berat badan : 16 kg
 Tinggi badan : 111 cm
 Status gizi : BB/TB = 84,2% 
KEP I
Tanda-Tanda Vital
 Tekanan darah : 110/60 mmHg
 Nadi : 110 x/menit, isi cukup,
regular, equal
 Respirasi : 50 x/menit
 Suhu : 36 C (setelah minum
obat parasetamol)
Kepala :
 Mata : - Konjunctiva tidak anemis
- Sklera tidak ikterik
 Hidung : sekret -/-, epistaksis -/-
 Telinga : sekret -/-
 Mulut : Tonsil T2 - T1, Faring
hiperemis
Perioral sianosis (-)
Leher :
KGB teraba membesar, konsistensi kenyal

Thorax :
 Bentuk dan gerak simetris
 Cor : Iktus kordis tidak kuat angkat, Bunyi jantung
murni reguler
 Pulmo : - Sonor, vesicular breathing sound
normal, kiri = kanan
- Vocal Fremitus dan vocal resonansi
normal, kiri = kanan
Abdomen :
 Cembung, lembut
 Bising usus (+) normal
 Hepar teraba 3 cm bawah arcus costarum, Lien tidak
teraba

Genitalia : tidak ada kelainan

Ekstremitas : - petekie (+) di ekstremitas atas


- akral hangat, capillary refill  2 detik
- akrosianosis (-)
IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan Darah Awal:


 Hb : 11 gr/dL
 Leukosit : 2100/mm3
 Hematokrit : 36 %
 Trombosit : 52.000/mm3
Pemeriksaan Darah 30 November 2005 :
 Hb : 11 gr/dL
 Leukosit : 3300/mm3
 Hematokrit : 35%
 Trombosit : 14.000/mm3
V. RESUME

Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dengan


berat badan 16 kg dan tinggi badan 111 cm dirawat di
RSHS bagian infeksi anak dengan keluhan utama
panas badan.
Dari anamnesis diketahui bahwa sejak 3 hari
SMRS penderita mengalami panas badan yang
mendadak tinggi dan berlangsung terus menerus.
Batuk pilek(-) dyspnea(-), faringitis(-), otitis(-), kejang
dan penurunan kesadaran (-). Epistaksis (-),
perdarahan spontan (-), hematuri (-), melena (-). Nyeri
epigastrium (+), mialgia (+), athralgia (+), mual (+),
muntah (-), petekie (+).
Atas keluhannya, penderita berobat langsung ke
dokter umum dan diberi obat penurun panas, namun
tidak ada perbaikan. Penderita kemudian berobat ke
RSHS.
Riwayat penyakit serupa di rumah disangkal, di
lingkungan sekolah dan sekitar rumah tidak diketahui.
Penderita dan keluarganya baru saja menempati
lingkungan barunya sehingga belum dapat melakukan
upaya pencegahan 3M. Riwayat fogging 2 bulan
terakhir (-). Riwayat tonsilitis (+). Selama perawatan di
RSHS penderita mengalami dyspnea dan akral dingin.
VI. DIAGNOSA BANDING

 Dengue Hemorrhagic Fever Derajat III + KEP


I
 Dengue Fever + KEP I
VII. DIAGNOSA KERJA

Dengue Hemorrhagic Fever Derajat III +


KEP I
VIII. USUL PEMERIKSAAN

 Pemeriksaan Serologis Ig G dan Ig M


anti dengue

 Foto thorax
IX. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan umum :
 Tirah baring
 Diet 1300 kalori menurut Halliday Segar
 Oksigenasi (O2 lembab 2-4 L/menit)

Penatalaksanaan khusus :
 Infus cairan Ringer Laktat 80 ml/jam  20 gtt
macrodrip/menit
 Parasetamol 240 mg/dosis tiap 6 jam (bila suhu >
390C)
X. PROGNOSA

 Quo ad vitam: ad bonam

 Quo ad functionam: ad bonam


TERIMA KASIH
DISKUSI

Diagnosa banding demam >7 hari :


 DHF  demam kintinyu, perdarahan, hepatomegali,
syok, trombositopenia, hemokonsentrasi
 Pneumonia  diawali ISPA, sesak nafas, nyeri
dada, retraksi, diare/kejang, leukositosis, LED
meningkat
 Faringitis  bakteri : suhu . 400C, muntah,
tenggorokan kering dan nyeri menelan, lidah kotor
dan bintil papil menonjol, tonsil edema, faring eritem,
nanah. Non bakteri : suhu 39-400C turun drastis
kira-kira 4 hari setelah demam, suara parau dan
batuk produktif setelah 3 hari demam, radang tonsil
dan faring, pembesaran KGB leher ringan.
 Encephalitis  kejang demam pada awal penyakit
pada bayi, sedang pada anak sakit kepala
mendadak, mengantuk, penurunan kesadaran.
Gangguan saraf otak (paralisis/parese, ataksia,
strabismus, RF meningkat, RP +).
 Otitis media akut  sakit telinga, pendengaran
berkurang, riwayat batuk pilek yang sukar sembuh,
riwayat campak.
 Rhinofaringitis  sekret hidung serous purulen,
suara parau tenggorokan kering, kedinginan,
anoreksia, tonsil dan faring eritem, KGB leher
bengkak.
Kriteria Dengue Fever (WHO) :
Klasifikasi berikut diajukan :
 Kemungkinan – penyakit demam akut dengan dua atau lebih
manifestasi berikut :
- sakit kepala
- nyeri retro-orbital
- mialgia
- artralgia
- ruam
- manifestasi perdarahan
- leukopenia
dan
- serologi pendukung (titer antibodi hemaglutinasi-inhibisi
resiprokal  1280, titer IgG asai imunosorben ikatan-enzim
(ELISA) atau tes antibodi IgM positif pada akut lanjut atau
spesimen serum fase pemulihan);
atau
- kejadian pada lokasi dan waktu yang sama seperti pada
kasus demam dengeu lain yang dikonfirmasi
 Confirmed – kasus yang dikonfirmasi dengan kriteria
laboratorium (lihat di bawah)
 Reportable – setiap kasus kemungkinan atau dipastikan harus
dilaporkan
Kriteria Laboratorium untuk konfirmasi demam dengeu :
 Isolasi virus dengeu dari sampel serum atau autopsi; atau
 Menunjukkan perubahan titer antibodi resiprokal IgG atau IgM
empat kali lipat atau lebih besar terhadap satu atau lebih
antigen virus dengeu dalam sampel serum berpasangan; atau
 Menunjukkan antigen virus dengeu pada
jaringan autopsi, sampel serum atau cairan
serebrospinal dengan imuno histokimia,
imunofluoresens atau ELISA; atau
 Deteksi urutan genom virus dengeu pada
sampel cairan serebrospinal atau serum
jaringan autopsi dengna reaksi rantai
polimerasi (PCR).
Kriteria Dengue Hemorrhagic Fever
(WHO) :

Semua yang berikut ini harus ada :


 Demam, atau riwayat demam akut, berlangsung 2-7
hari, kadang bifasik
 Kecenderungan perdarahan, dibuktikan sedikitnya
dengan satu hal berikut :
- tes tourniket positif
- petekie, ekimosis atau purpura
- perdarahan dari mukosa, saluran gastrointestinal,
tempat injeksi atau lokasi lain
- hematemesis atau melena
 Trombositopenia (100.000 sel per mm3 atau kurang)
 Adanya rembesan plasma karena peningkatan
permeabilitas vaskular, dimanifestasikan oleh
sedikitnya hal berikut :
- peningkatan hematokrit sama atau lebih besar dari
20% diatas rata-rata usia, jenis kelamin, dan
populasi
- penurunan hematokrit setelah tindakan
penggantian volume sama dengan atau lebih besar
dari 20% data dasar;
- tanda-tanda rembesan plasma seperti efusi pleura,
asites, dan hipoproteinemia
Kriteria Dengue Syok Syndrom (WHO) :

Keempat kriteria DHF yang telah diuraikan


harus ada, ditambah bukti gagal sirkulasi
yang dimanifestasikan oleh :
 nadi lemah dan cepat, dan
 tekanan nadi menyempit atau
dimanifestasikan dengan :
 hipotensi untuk usia, dan
 kulit dingin dan lembab serta gelisah.
Pentahapan Keparahan Demam
Berdarah Dengue :

 Derajat I : demam disertai dengan derajat


konstitusional nonm spesifik; satu-satunya
manifestasi perdarahan adalah tes tourniket positif
dan atau mudah memar.
 Derajat II : perdarahan spontan selain manifestasi
pasien pada derajat I, biasanya pada bentuk
perdarahan kulit atau perdarahan lain
 Derajat III : Gagal sirkulasi dimanifestasikan dengan
nadi cepat dan lemah serta penyempitan tekanan
nadi atau hipotensi, dengan adanya kulit dingin dan
lembab serta gelisah
 Derajat IV : Syok hebat dengan tekanan darah atau
nadi tidak teraba
Penatalaksanaan Dengue Hemorrhagic
Fever :

 Untuk mengatasi demam dan menghindari terjadinya kejang akibat demam


maka diberikan obat untuk menurunkan panas yaitu Parasetamol, dengan
dosis :
< 1 tahun 60 mg/dosis
1-3 tahun 60-120 mg/dosis
3-6 tahun 120 mg/dosis
6-12 tahun 240 mg/dosis
Dosis yang diberikan bila suhu tubuh lebih tinggi dari 39OC tetapi tidak lebih
dari 6 dosis harus diberikan dalam periode 24 jam
 Penggantian volume
Untuk infus cairan intravena rumatan dipakai rumus Halliday – Segar, yaitu :
Berat Badan (kg) Volume Rumatan (ml) dalam 24 jam
10 100/kg
10-20 1000 + 50 setiap kg pada kelebihan 10
> 20 1500 + 20 setiap kg pada kelebihan 20
Selain rumus Halliday – Segar, penggantian cairan disesuaikan dengan derajat
penyakit.
Komplikasi :

 fenomena sistem saraf pusat seperti kejang,


spasitas, perubahan kesadaran dan paresis transien
 ensefalopati
 perdarahan intrakranial
 sepsis
 hidrasi berlebihan
 syok
 perdarahan hebat
 gagal hepar
 gagal ginjal