Anda di halaman 1dari 53

USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH

( UKGS )

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah


Latar belakang

• Kesehatan gigi dan mulut


sering kali menjadi prioritas
yg ke sekian bagi sebagian
orang
• Gigi dan mulut merupakan
“Pintu Gerbang” masuknya
kuman dan bakteri shg dpt
mengganggu kesehatan
organ tubuh lainnya
• Masalah gigi berlubang
masih banyak dikeluhkan
baik anak – anak maupun
dewasa
Riskesdas tahun 2007 dan 2013
• Presentase penduduk yang mempunyai masalah
gigi dan mulut th.2007 : 23,2 % dan th.2013 : 25,9% ,
terlihat ada peningkatan.
• Yg mendapatkan perawatan medis gigi meningkat,
tahun 2007 : 29,7 % dan tahun 2013 : 31,1 %
• Effective Medical Demand ( EMD) kemampuan utk
mendapatkan pelayanan tenaga medis gigi. (%
pddk bermasalah kesgilut dlm 12 bulan X pddk
menerima perawatan dari tenaga medis gigi : prg,
drg dan drg spesialis)
Tahun 2007 : 6,9 % dan tahun 2013 : 8,1 %
Tiga dampak karies gigi terhadap
Pertumbuhan dan Perkembangan anak
prasekolah  (Mouradian, 2001; Sheiham, 2006):
1. Karies gigi tidak terawat menyebabkan rasa
sakit sehingga mengganggu asupan makan anak
yang penting untuk perkembangan otak
2. Rasa sakit menimbulkan gangguan tidur dan
selanjutnya mengganggu produksi glucosteroid
dan pertumbuhan anak, selanjutnya rasa sakit
tersebut mengganggu konsentrasi belajar
3. Inflamasi kronis dari karies gigi dapat
menekan hemoglobin dan selanjutnya
menimbulkan anemia karena produksi eritrosit
dalam sumsum tulang menjadi berkurang.
Anemia selanjutnya akan mengganggu
performansi anak di sekolah.
Dampak Karies Gigi Pada Usia Sekolah?

• 40-41% karies gigi berkembang menjadi infeksi karies


odontogenik
• Karies gigi yg tdk diobati tdk hanya berdampak pd kondisi
fisik tetapi juga pd pengembangan kognitif anak2
(Palenstain & Monse 2003)
• Sakit gigi kronis-->kemampuan mengerjakan tugas
sekolah (Schecter, 2000)
• Sakit gigi pd anak SD berpengaruh pd konsentarsi belajar
dan tigkat kehadiran di sekolah (A.Bahar, et al, Int. J. Oral
hlth 2010 inpres)

• Anak-anak infeksi karies odontogenic (pulpa) memiliki


indeks massa tubuh lebih rendah dibandingkan tanpa
infeksi karies odontogenic (Monse et al, 2009)
 Keluhan sakit gigi berakibat seseorang tidak pergi ke sekolah.
Rata-rata 3,86 hari dengan kisaran berhenti berakitivitas antara
2,5 hari hingga 5,28 hari (SKRT, 2001).

 Prevalensi karies aktif dan pengalaman karies penduduk


(Riskesdas, 2007).

Usia Prevalensi Pengalaman Karies


Karies
12 tahun 29,8% 36,1%
15 tahun 36,1% 43,6%
18 tahun 41,2% 50,8%
DI SD KALIMANTAN BARAT: KEGIATAN MENYIKAT GIGI
MASSAL MENGGUNAKAN PASTA GIGI BER FLUOR SETIAP
HARI DENGAN CARA YANG TEPAT TERBUKTI DAPAT
MENURUNKAN PREVALENSI PENYAKIT KARIES SECARA
BERMAKNA 40 % SELAMA 3 THN.

• Program Sikat gigi bersama di sekolah (Tooth


Brushing Campaign) ini merupakan program
utama dalam menurunkan penyakit karies di
negara Jepang, Malaysia, Thailand dan
Filipina.

• Kegiatan ini tidak memerlukan teknologi yang


canggih dan dilaksanakan dibawah bimbingan
guru atau dokter kecil.
Status Kesehatan Anak-anak
Indonesia
► 95% anak menderita
kerusakan gigi

► 15-100% anak dari berbagai


wilayah menderita kecacingan

► Lebih dari sepertiga anak


menderita malnutrisi
USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH
Upaya kesehatan
masyarakat yang ditujukan
untuk memelihara,
meningkatkan kesehatan
gigi dan mulut seluruh
peserta didik di sekolah
binaan yang ditunjang
dengan upaya kesehatan
perorangan berupa upaya
kuratif bagi peserta didik
yang memerlukan perawatan
kesehatan gigi dan mulut
Pendahuluan
► Anak usia sekolah merupakan kelompok
umur yang rentan terhadap penyakit gigi dan
mulut terutama karies dan prevalensinya
sangat tinggi di sebagian besar negara-
negara Asia Pasifik. Hal ini disebabkan
karena pada umumnya anak-anak senang
mengkonsumsi jenis makanan yang
mengandung gula dan jarang membersihkan
gigi dan mulutnya.
► Biaya pengobatan penyakit gigi dan mulut
sangat tinggi dan diperlukan tenaga
kesehatan terlatih dalam jumlah besar
► strategi paling efektif adalah dengan
program kesehatan gigi dan mulut yang
bersifat promotif dan preventif.
Pendahuluan
► Program UKGS sudah berjalan sejak
tahun 1955, namun status kesehatan
gigi pada anak usia 12 tahun masih
belum memuaskan.
► Prevalensi karies pada anak
cenderung meningkat padahal di
negara maju justru mengalami
penurunan secara bermakna
Pendahuluan
► Adanya program UKGS inovatif sejak
tahun 2010 yang menitikberatkan
pada penerapan teknologi , motivasi
untuk membangkitkan peran serta
masyarakat (orang tua, guru dan
peserta didik) dan teknologi
pencegahan dan perlindungan
gigi untuk memotong mata rantai
karies.
Tujuan
 Umum:
Meningkatkan derajat kesehatan gigi dan
mulut peserta didik yang optimal.

 Khusus:
a. Meningkatkan pengetahuan, kesadaran,
perilaku dalam memerlihara kesgilut.
b. Peran serta guru, dokter kecil, orang
tua dalam upaya promotif dan preventif
c. Terpenuhinya kebutuhan pelayanan gigi
dan mulut
Ruang Lingkup:
1. Penyelenggaraan pendidikan kesehatan gigi-
mulut, meliputi:
• Pemberian pengetahuan tentang kesgilut
• Latihan atau demonstrasi memelihara kebersihan
dan kesehatan gigi-mulut
• Penanaman Kebiasaan pola hidup sehat dan bersih
(PHBS)
2. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan gigi-mulut,
meliputi:
• Pemeriksaan dan penjaringan kesehatan gigi
dan mulut peserta didik
• Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
perorangan
• Pencegahan penyakit gigi dan mulut
• Perawatan kesehatan gigi dan mulut
• Rujukan kesehatan gigi dan mulut
Strategi
a. UKGS Tahap
I/Paket
Minimal UKS
b. UKGS Tahap
II/ Paket
Standar UKS
c. UKGS Tahap
III/Paket
Optimal UKS
Kegiatan pada UKGS tahap I
• Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi
dilaksanakan oleh guru penjaskes / guru pembina
UKS/ dokter kecil sesuai dengan kurikulum yang
berlaku (Buku Pendidikan Olahraga dan Kesehatan)
untuk semua murid kelas 1-6, dilaksanakan minimal
satu kali tiap bulan

• Pencegahan penyakit gigi dan


mulut dengan melaksanakan
kegiatan sikat gigi bersama
setiap hari minimal untuk
kelas I, II, dan III dibimbing
oleh guru dengan memakai
pasta gigi yang mengandung
fluor
Kegiatan pada UKGS tahap II

• Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid SD dan MI


sudah terjangkau oleh tenaga dan fasilitas kesehatan gigi
yang terbatas
• Kegiatan UKGS tahap I,dengan kegiatan tambahan :
a.Penjaringan kesehatan gigi dan mulut untuk kelas I pada
awal tahun ajaran diikuti dengan pencabutan gigi sulung yang
sudah waktunya tanggal, dengan persetujuan tertulis
(informed consent) dari orang tua dan tindakan dilakukan oleh
tenaga kesehatan gigi.
b.Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit oleh
guru.
c.Surface protection pada gigi molar tetap yang sedang
tumbuh
d. Rujukan bagi yang memerlukan
Kegiatan pada UKGS tahap III

• Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid yang


sudah terjangkau tenaga dan fasilitas kesehatan gigi
yang sudah memadai
• Kegiatan UKGS tahap II dengan tambahan kegiatan:

a. Fissure sealant pada gigi molar tetap murid kelas


1 dan 2.
b. Pelayanan medik gigi dasar atas permintaan pada
murid kelas I sampai dengan kelas VI ( care on
demand )
c. Rujukan bagi yang memerlukan
Target UKGS 2018
• Penjaringan kelas 1 pada awal tahun
ajaran tercapai 100 %
• Prevalensi bebas karies pada MI
sebanyak 50 %
• Penyuluhan dilaksanakan satu kali
pertriwulan 80 % SD
• Kegiatan sikat gigi bersama
dilaksanakan setiap hari di sekolah di
50 % SD
PEMBINAAN:

a. Pembinaan untuk mempertahankan


serta perbaikan dalam status kesgilut:
penjaringan, menggosok gigi,
perawatan gigi dan mulut
b. Pembinaan peran serta melalui forum
komunikasi tatap muka, latihan
ketrampilan guru, dsb.
Gyeong Ju Declaration, The 4th Asian Declaration on Oral
Health Promotion for School Children, September 2007

– Melaksanakan program sikat gigi disekolah setiap


hari dengan pasta gigi berfluor

– Kantin tidak menjual makanan minuman yang tidak


sehat dan rokok di dalam dan di dekat sekolah

– Sekolah ada PKG, penjaringan , tindakan preventif


dan perawatan

– Tersedianya SDM dan finansial, regulasi dan


dukungan masyarakat sekolah untuk peningkatan
kesehatan gigi dan mulut
Evaluasi Kegiatan UKGS:
(Amalia et al, 2009)
① Rendahnya tingkat pelaksanaan pendidikan
kesehatan gigi dan instruksi kebersihan mulut.
② Kurangnya dukungan dari dinkes untuk
kemajuan program
③ Kurangnya dukungan anggaran dan bahan
④ Kurang kuatnya keterlibatan guru dan orang
tua
⑤ Perawatan kuratif pembiayaan terlalu besar
Tantangan Pelaksanaan UKGS:

 Perilaku tidak sehat, lebih suka mengkonsumsi


makanan tidak sehat, seperti makanan manis dan
lengket serta tidak pernah mengkomsumsi makanan
buah yang berserat
 Sering terlupa minimal menggosok gigi satu hari dua
kali (pagi sesudah makan dan malam sebelum tidur)
 Meningkatnya perokok pemula, usia muda atau usia
peserta didik sekolah sehingga meningkatkan risiko
kerusakan gigi dan timbul penyakit lain
Bagaimana Pelaksanaannya

 Mendukung pelaksanaan dengan pesan


?
seragam, yaitu keterlibatan orang tua dan
masyarakat  kreativitas
 Anak-anak dilibatkan dan gunakan potensi
kepemimpinan hindari kemungkinan beban
tambahan bagi guru
 Follow up and monitoring
Teknis Tersedianya sikat Penggunaan pasta gigi
pelaksanaan sikat gigi di sekolah berfluor sebesar kacang
gigi bersama tiap satu anak peserta polong dan menyikat gigi
selama dua menit secara
hari didik satu sikat berurutan
gigi
UKGS Inovatif: Fit for School
Paket Pelayanan Kesehatan Dasar pada Anak-anak di Sekolah
(Upaya Integrasi Program Sikat Gigi Bersama dengan Program Cuci
Tangan dan Pemberian Obat Cacing di Sekolah)

► Cuci tangan setiap hari dengan


sabun

► Gosok gigi setiap hari dengan


pasta gigi ber-flouride

► Pembasmian cacing 2 kali setahun


untuk semua anak
Tidak berkumur Tersedia lingkungan
setelah menyikat gigi yang mendukung
1. FIT FOR SCHOOL

• Pelaksanaan sikat gigi bersama setiap hari.


• Tersedianya sikat gigi di sekolah satu anak peserta
didik satu sikat gigi
• Penggunaan pasta gigi
berfluoride
• Tidak berkumur setelah
menggosok gigi
Program Pelayanan Kesehatan
Dasar

• Mencuci tangan menggunakan sabun setiap hari


• Menyikat gigi dengan pasta gigi berfluoride setiap
hari
• Pemberian obat cacing dua kali setahun bagi seluruh
anak
2. Irene Donut
Faktor lubang gigi setiap
kelompok berbeda sehingga
memerlukan intervensi yang
berbeda

Deteksi dini pada anak-anak yang


mempunyai resiko yang tinggi
terhadap lubang gigi

Memotivasi perubahan
prilaku pada anak dan
orang tua
3. PUFA index
Penilaian akibat karies yang dibiarkan tanpa
perawatan pada populasi anak dgn
menggunakan PUFA (Pulpa terbuka
ulserasi-fistula-abses) index

Pulpa Fistula
terbuka

Ulserasi Abses
Pendidikan kesehatan akan meningkatkan pengetahuan,
tetapi tidak akan mengakibatkan perubahan perilaku

UKS/UKGS FIT FOR SCHOOL

Perubahan perilaku membutuhkan lingkungan yang mendukung dan


keterampilan mencuci tangan dan menggosok gigi yang benar
Keberhasilan Program UKGS dapat
terwujud apabila dilaksanakan
secara terintegrasi baik lintas
program maupun lintas sektoral,
terarah dan berkesinambungan.
SUKSES UNTUK
SEMUA
AAMIIN
Usaha
Kesehatan Gigi
Masyarakat
(UKGM)
PRINSIP – PRINSIP UKGM
- Pemerataan Jangkauan
* Pendekatan melalui Posyandu, TK, UKS
* Integrasi penyuluhan

- Melibatkan Peran Serta Masyrakat


* Keluarga → pengetahuan, kesadaran, kemampuan
dan kemauan pemeliharaan kesehatan gigi yg baik
* Partisipasi aktif motivator→ Penggerak PKK, Guru,
Kader Kesehatan

- Fokus Upaya Pencegahan


* Penyuluhan, kampanye sikat gigi
* Pemberian tablet fluor
PRINSIP – PRINSIP UKGM

- Pendekatan Multi Sektor


* Integrasi dengan upaya kesehatan lainnya
* Lintas program/sektor → pusat sampai daerah

- Teknologi Tepat Guna

* Pemanfaatan tanaman obat (teh, daun sirih,


daun saga, kulit kemuning) → utk pencegahan
maupun pengobatan penyakit gigi
Promosi Kesehatan Oral utk Ibu Hamil di
POSYANDU
• Risk assessment dengan kartu kesehatan gigi ibu
hamil
• Konseling
• Latihan sikat gigi dan flossing
• Latihan membuat larutan backing soda
• Risiko tinggi: Anjuran obat kumur, applikasi fluoride
topikal, Xylitol
• Rujukan ke Puskesmas
PERAN BIDAN

• Selain melakukan
pemeriksaan
kehamilan, bidan juga
dapat melakukan
pemeriksaan
kesehatan gigi dan
mulut ibu hamil
secara rutin.
Sumber: http://www.homesteadbirth.com/images/midwife%20and%20client%20graphic.JPG
Cara pemeriksaan gigi
mulut yang dapat
dilakukan oleh bidan
adalah dengan melihat
secara visual dan
dengan pertanyaan
sederhana
Sumber:http://www.newalbanyfamilydentistry.com/assets/images/dental_mirror.jpg
Pertanyaan yang dapat ditanyakan

 Apakah gusi ibu berdarah?


 Apakah gigi ibu berdarah waktu sikat gigi?
 Apakah gigi ibu berdarah ketika makan?
 Apakah gigi ibu kadang-kadang bengkak?
 Apakah ada orang lain yang mengatakan ibu punya bau mulut?
 Apakah ibu merasa giginya akan lepas.
 Apakah ibu merasa kesulitan bila makan-makanan keras-keras?
 Apakah makanan terselip diantara gigi?
 Apakah gusi ibu sakit?
Promosi Kesehatan Oral utk balita di
POSYANDU
 Risk assessment dengan kartu menuju gigi sehat
(KMGS)
 Konseling stop susu botol, pilih makanan/minum
bergizi ramah gigi
 Latihan menyikat gigi anak ( Ritual Sikat Gigi Malam/
RSGM)
 Ibu Risiko tinggi: applikasi fluoride topikal pd anak
 Rujukan ke Puskesmas (Kontrol berkala)
1. Memonitor kesehatan gigi anak melaui Kartu
Gigi Sehat pada kegiatan Posyandu.
2. Teknik menyikat gigi anak balita oleh
pasangan orang tua anak.
Pesan Dalam Kegiatan UKGM :

1. Sikat gigi → sesudah sarapan pagi dan


malam sebelum tidur
2. Sikat gigi berbulu halus dan pasta
berfluor
3. Sikat permukaan gigi selama 2 mnt
4. Kurangi makanan manis dan lengket
5. Makan-makanan berserat
Pentahapan Pelatihan

UKGM SASARAN BALITA dan APRAS


* Tahap I :
- Pelatihan provider pembina posyandu, BKB, TK,
dsb.
- Peserta perawat, bidan, bidan desa
- Supervisor drg, perawat gigi

* Tahap II :
- Pelatihan kader posyandu / Guru TK

* Tahap III :
- Pelaksanaan di lapangan oleh kader Guru TK
Pentahapan Pelatihan

UKGM SASARAN USIA SEKOLAH dan REMAJA, LANSIA


* Tahap I :
- Pelatihan provider pembina UKS, ForumKoordinator
PMT-AS, Poskestren tingkat Kecamatan, dsb.
- Supervisor drg, perawat gigi

* Tahap II :
- Pelatihan kader di sekolah, poskestren
- Peserta guru, dr kecil, ustad dll

* Tahap III :
- Pelaksanaan di lapangan oleh kader/Guru
Indikator Keluaran (Output)
– Ada/tidak dana sehat yang berkelanjutan

– Prosentase pelayanan terintegrasi

– Frekwensi kunjungan tenaga kesehatan ke


posyandu

– Jumlah masyarakat wilayah posyandu


berkunjung ke puskesmas

– Jumlah masyarakat mengikuti penyuluhan


Kegiatan Kader UKGM
• Penyuluhan

• Pemeriksaan dan Pengobatan Sederhana

• Rujukan

• Pencatatan dan Pelaporan Bulanan

Kegiatan UKGM
LAPORAN BULANAN KEGIATAN
KADER DI POSYANDU
Bulan : Tahun :
BPG/Puuskesmas:

Nama Kader:

Posyandu/RW:
Kelurahan:
Kecamatan:
No Kegiatan Anak Dewasa Bumil Lansia

1 Penyuluhan

2 Pemeriksaan

3 Pengobatan
Sederhana
4 Rujukan
SURAT PENGIRIMAN PENDERITA
(RUJUKAN)

Nama : .................................................................L/P

Umur : .............. tahun

Alamat : ......................................................................

......................................................................

Posyandu/RW : ...................................................................

Kelurahan : ......................................................................

Kelainan : a. Gigi berlubang/goyang

b. Gusi bengkak/berdarah

c. Lain-lain

Dirujuk : ........................................................................

,........................................

( ................................................. )
Konseling preventif dan intervensi
pada usia dini adalah prioritas
 Konseling preventif:
 Pemberdayaan individu/kelompok
 Penilaian resiko karies – Penyampaian pesan
perorangan – motivasi – Pelatihan menyikat gigi 2x
sehari (pagi dan malam) selama 2 menit
 Intervensi preventif:
 Fluoride (sikat gigi bersama, topical application,
FMR)
 Surface protection dan fissure sealant
 Anjuran mengunjungi drg secara teratur
SELAMAT BERAKTIFITAS
SUKSES UNTUK SEMUA
SEMOGA HIDUP KITA
BAROKAH
AAMIIN