Anda di halaman 1dari 45

TONSILITIS KRONIS

PRITA WAHYU UTAMI


013.06.0049
PENDAHULUAN
 Tonsilitis kronis merupakan kondisi di mana
terjadi pembesaran tonsil disertai dengan
serangan infeksi yang berulang-ulang. Tonsilitis
merupakan salah satu penyakit yang paling umum
ditemukan pada masa anak-anak.
 Di Indonesia infeksi saluran pernafasan akut
(ISPA) masih merupakan penyebab tersering
morbiditas dan mortalitas pada anak. Tonsilitis
kronik pada anak mungkin disebabkan karena anak
sering menderita ISPA atau karena tonsilitis akut
yang tidak diterapi adekuat atau dibiarkan.
IDENTITAS PASIEN
 Nama : NPDGS
 Umur : 19 tahun
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Pekerjaan : Mahasiswi
 Alamat : Br. Abuan Susut
 Agama : Hindu
PEMERIKSAAN SUBYEKTIF
 Keluhan utama : Sering nyeri menelan
sejak 1 bulan SMRS
 Keluhan tambahan : pilek, napas bau, badan
terasa lemas
 Riwayat Penyakit Sekarang :
1 bulan SMRS, pasien mengeluh sering nyeri
menelan yang hilang timbul. Nyeri menelan
dirasakan terutama saat menelan makanan. Pasien
juga mengeluh perasaan tidak enak di tenggorokan
dan bau mulut. Sebelumnya pasien juga mengeluh
nyeri menelan disertai dengan sering demam,
batuk, pilek dengan lendir putih yang kumat-
kumatan dan hidung tersumbat, Keluhan nyeri
menelan jika mengkonsumsi makanan padat
seperti nasi, tetapi tidak ada keluhan jika
mengkonsumsi cairan.
CONT
Keluhan dirasa semakin hebat bila
pasien mengkonsumsi makanan pedas dan
gorengan. Pasien tidak mengeluh nyeri
pada kedua telinga, tidak ada kurang
pendengaran, tidak gemerebek dan tidak
ada sakit kepala. Oleh orangtuanya, pasien
diberi obat flu yang dibeli di warung,
pasien merasa baikan namun kambuh lagi.
2 minggu SMRS, pasien pergi berobat ke
dokter spesialis THT. Setelah diperiksa,
pasien diberitahukan bahwa amandelnya
membesar dan disarankan untuk dilakukan
operasi pengangkatan amandel.
Sejak 3 tahun SMRS, pasien mengeluh nyeri
menelan yang hilang timbul. Nyeri menelan
terutama dirasakan saat menelan makanan
padat disertai demam, batuk, pilek yang
kumat-kumatan dan hidung tersumbat
selama 3 tahun dalam setahun lebih dari
enam kali serangan.
 Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat alergi obat (-), asma (-), maag (-),
hipertensi(-), diabetes mellitus(-).

 Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit serupa (-), alergi (-),
asma(-), maag (-), hipertensi(-), diabetes
mellitus (-).
PEMERIKSAAN OBYEKTIF
 Status Present
 Keadaan umum : Baik
 Kesadaran : Compos mentis
 Status Gizi : Cukup
 Nadi : 80 x/menit
 Tensi : 120/80 x/menit
 RR : 20 x/menit
 Suhu : 36,3 O C
 Kepala dan Leher
 Kepala : Normocephal
 Wajah : Simetris
 Leher anterior : KGB tidak
teraba membesar
 Leher posterior : KGB tidak teraba
membesar
 Tenggorok Orofaring
 Mukosa bucal : Warna merah muda, sama
dengan daerah sekitar
 Ginggiva : Warna merah muda, sama
dengan daerah sekitar
 Gigi geligi :Warna kuning gading, caries (-),
gangren(-)
 Lidah 2/3 anterior : Dalam batas normal
 Arkus faring : Simetris (+), hiperemis (-)
 Palatum : Warna merah muda
 Dinding posterior orofaring: Hiperemis (-),
granulasi (-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Pemeriksaan darah rutin
 Hb : 12,9 g/dl
 Leukosit : 8,9 10^3/ ul
 Ht : 39
 Trombosit 288000/ul
 LED 1 jam : 9 mm/jam
 2 jam : 10 mm/jam
 Kimia
 GDS 97 mg/dl
 Sero Imunologi
 HBsAg negatif
RESUME
 Pemeriksaan Subjektif : Seorang perempuan berusia
19 tahun datang dengan keluhan residifitas 3 tahun :
Odinofagia residif, frekuensi > 6 kali/tahun, perasaan
tenggorokan tidak nyaman (+), batuk dan pilek (+),
febris (+). Sulit konsentrasi (+), Nyeri menelan saat
makanan padat (+), Tidak nyeri menelan saat
mengkonsumsi cairan. cephalgia (-), malaise (+),
snoring (+), sleep apneu(-), halitosis (+). Riwayat
rhinorea (-), obstruksi cavum nasi (-), trismus (-),
disfonia (-), tinitus low frequence (-), otalgia (-),
hearing loss(-).RPD: Riwayat alergi obat (-), asma (-),
maag (-), hipertensi(-), diabetes mellitus(-).Riwayat
Penyakit Keluarga :Riwayat penyakit serupa (-), alergi
(-), asma(-), maag (-), hipertensi(-), diabetes mellitus (-
).
 Pemeriksaan objektif = Tonsil : T3/T3
hiperemis, kripte melebar, tidak rata,
detritus (+).
 Pemeriksaan lab = Pemeriksaan darah
rutin = Hb : 12,9 g/dl, Leukosit : 8,9 10^3/
ul, Ht : 39, Trombosit 288000/ul, Kimia :
GDS 97 mg/dl.
◦ DIAGNOSA BANDING
 Tonsilitis kronis
 Tonsilofaringitis kronis
◦ DIAGNOSA SEMENTARA
 Tonsilitis kronis

◦ ANJURAN
 Tonsilektomi

◦ PROGNOSIS
 Ad Sanationam : Dubia ad bonam
 Ad Functionam : Dubia ad bonam
 Ad Vitam : Dubia ad bonam
PENATALAKSANAAN
 Medika Mentosa pre operatif:
 IVFD RL 20 tpm
 Cefotaxim 1gr IV
 Asam mefenamat 500 mg IV
 Puasa 8 jam pre operasi
 Non Medika Mentosa post operatif :
 Diet lunak
 Tirah baring
 Medikamentosa post operatif :
 IVFD RL 20 tpm
 Cefixim 3 x 1 gr IV
 Ketorolac 3 x 1 amp IV
 Asam Traneksamat 3 x 500 mg IV
 Ranitidin 2 x 1 amp IV
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI TONSIL
 VASKULARISASI TONSIL
 Berasal dari cabang-cabang A. karotis
eksterna yaitu:
- A. maksilaris eksterna (A. fasialis) yang
mempunyai cabang yaitu A. tonsilaris dan
A. palatina asenden,
- A. maksilaris interna dengan cabang A.
palatina desenden,
- A. lingualis dengan cabang A. lingualis
dorsal, dan A. faringeal asenden.
TONSILITIS KRONIS
DEFINISI
 Tonsilitis Kronis adalah peradangan
kronis Tonsil setelah serangan akut yang
terjadi berulang-ulang atau infeksi
subklinis
ETIOLOGI
 Streptokokus β hemolitikus
 Pneumokokus
 Stafilokokus
 Hemofilus influenza.
FAKTOR PREDISPOSISI
 Rangsangan kronis (rokok, makanan)
 Higiene mulut yang buruk
 Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab,
suhu yang berubah- ubah)
 Alergi (iritasi kronis dari allergen)
 Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan
fisik)
 Pengobatan Tonsilitis Akut yang tidak
adekuat.
PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
 Serangan tonsilitis akut yang berulang -
ulang
 Rasa sakit (nyeri) yang terus-menerus
pada tenggorokan (odinofagi)
 Nyeri waktu menelan atau ada sesuatu
yang
 Mengganjal di kerongkongan bila menelan,
 pernafasan berbau.
DIAGNOSIS
 ANAMNESIS
 PEMERIKSAAN FISIK
 PEMERIKSAAN PENUNJANG
KOMPLIKASI
 Peritonsilitis
 Abses Peritonsilar (Quinsy)
 Abses Parafaringeal
 Abses Retrofaring
 Kista Tonsil
 Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil)
PENATALAKSANAAN
 TONSILEKTOMI
KESIMPULAN
Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis
tonsil setelah serangan akut yang terjadi
berulang-ulang atau infeksi subklinis.
Secara klinis pada tonsilitis kronik
didapatkan gejala berupa nyeri tenggorok
atau nyeri telan ringan, mulut berbau,
badan lesu, sering mengantuk, nafsu makan
menurun. Pengobatan pasti untuk tonsilitis
kronis adalah pembedahan pengangkatan
tonsil (Tonsilektomi).