Anda di halaman 1dari 15

Terapi Oksigen Jangka Pendek

The American College of Chest


Physicians dan The National Heart, Lung, and
Blood Institute
Indikasi yang sudah direkomendasi :
 Hipoksemia akut (PaO2 < 60 mmHg; SaO2 < 90%)
 Cardiac arrest dan respiratory arrest
 Hipotensi (tekanan darah sistolik < 100 mmHg)
 Curah jantung yang rendah dan asidosis metabolik
(bikarbonat < 18 mmol/L)
 Respiratory distress (frekuensi pernafasan > 24/min)
Indikasi yang masih dipertanyakan :
 Infark miokard tanpa komplikasi
 Sesak nafas tanpa hipoksemia
 Krisis sel sabit
 Angina
Terapi Oksigen Jangka Panjang
• Pasien hipoksemia (PaO2 < 55 mmHg atau
saturasi oksigen < 88%) oksigen diberikan
secara terus-menerus 24 jam dalam sehari.
• Awal pemberian oksigen harus:
Konsentrasi rendah (FiO224-28%)  dapat
ditingkatkan bertahap berdasarkan hasil
pemeriksaan analisis gas darah
tujuan mengoreksi hipoksemia dan
menghindari penurunan pH dibawah 7,26
Indikasi terapi oksigen jangka
panjang8
Pemberian oksigen secara kontinyu :
 PaO2 istirahat ≤ 55 mmHg atau saturasi oksigen ≤ 88%
 PaO2 istirahat 56-59 mmHg atau saturasi oksigen 89% pada
satu keadaan :
- Edema yang disebabkan karena CHF
- P pulmonal pada pemeriksaan EKG (gelombang P > 3mm
pada lead II, III, aVF
 Eritrositoma (hematokrit > 56%)
 PaO2 > 59 mmHg atau saturasi oksigen > 89%
Pemberian oksigen tidak kontinyu :
 Selama latihan : PaO2 ≤ 55 mmHg atau saturasi oksigen ≤ 88%
 Selama tidur : PaO2 ≤ 55 mmHg atau saturasi oksigen ≤ 88%
dengan komplikasi seperti hipertensi pulmoner, somnolen,
dan artimia
Indikasi terapi oksigen jangka panjang
pada pasien PPOK8
Indikasi Pencapaian terapi
 PaO2 ≤ 55 mmHg or SaO2 ≤ 88%  PaO2 ≥ 60 mmHg atau SaO2 ≥ 90%
 Dosis oksigen sebaiknya disesuaikan
saat tidur dan latihan
 Pasien dengan kor pulmonal  PaO2 ≥ 60 mmHg atau SaO2 ≥ 90%
 PaO2 55-59 mmHg atau SaO2 ≥  Dosis oksigen sebaiknya disesuaikan
89% saat tidur dan latihan
 Adanya P pulmonal pada EKG
 Hematokrit > 55%
 Gagal jantung kongestif
 Indikasi khusus
 Nocturnal hypoxemia  Dosis oksigen sebaiknya disesuaikan
saat tidur
 Tidak ada hipoksemia saat  Dosis oksigen sebaiknya disesuaikan
istirahat, tetapi saturasi saat latihan
menurun selama latihan atau
tidur
Kontraindikasi
• Pasien dengan keterbatasan jalan nafas yang
berat dengan keluhan utama dispneu, tetapi
dengan PaO2 lebih atau sama dengan 60
mmHg dan tidak mempunyai hipoksia kronik.
• Pasien yang meneruskan merokok, karena
kemungkinan prognosis yang buruk dan dapat
meningkatkan resiko kebakaran.
• Pasien yang tidak menerima terapi adekuat
Teknik Pemberian Oksigen
• Sistem arus rendah
1. Kateter nasal dan kanul
mengalirkan oksigen ke nasofaring dengan
aliran 1-6 L/m, dengan FiO2 antara 24-40%.
Aliran yang lebih tinggi tidak meningkatkan
FiO2 secara bermakna diatas 44% dan akan
menyebabkan mukosa membran menjadi
kering
Nasal kanul
2. Simple oxygen mask
 Dapat menyediakan 40-60% FiO2 dengan aliran 5-10 L/m
 Penggunaan alat ini dalam jangka panjang dapat
menyebabkan iritasi kulit dan pressure sores.

3. Partial rebreathing mask dan Non Rebreathing mask


 simple mask yang disertai dengan kantung reservoir
 Sistem ini mengalirkan oksigen 6-10L/m dan dapat
menyediakan 40-70% oksigen.
 non-rebreathing mask memiliki serangkai katup ‘one-way’
 Satu katup diletakkan diantara kantung dan masker untuk
mencegah udara ekspirasi kembali kedalam kantung.
 Untuk itu perlu aliran minimal 10L/m. Sistem ini
mengalirkan FiO2sebesar 60-80%.
4. Transtracheal oxygen
 Mengalirkan oksigen secara langsung melalui kateter
ke dalam trakea.
 Oksigen transtrakea ini dapat menghemat penggunaan
oksigen 30-60%.
 Keuntungan dari pemberian oksigen transtrakea yaitu
tidak menyolok mata, tidak ada bunyi gaduh, dan tidak
ada iritasi muka/hidung.
 Rata-rata oksigen yang diterima mencapai 80-96%.
 Kerugian dari penggunaan oksigen transtrakea adalah
biaya tinggi dan resiko infeksi lokal
 Komplikasi emfisema subkutan, bronkospasme, dan
batuk paroksismal. Komplikasi lain diantaranya infeksi
stoma, dan mucus ball yang dapat mengakibatkan
fatal.
• Alat pemberian oksigen dengan arus tinggi :
Venture mask /reservoir nebulizer blenders.
Alat venturi mask menggunakan prinsip jet
mixing (efek Bernoulli).
Jet mixing mask,mask dengan arus tinggi,
bermanfaat untuk mengirimkan secara akurat
konsentrasi oksigen rendah (24-35%).
Pada pasien dengan PPOK dan gagal nafas tipe II,
bernafas dengan mask ini mengurangi resiko retensi
CO2, dan memperbaiki hipoksemia
Sistem arus tinggi ini dapat mengirimkan sampai
40L/menit oksigen melalui mask, yang umumnya
cukup untuk total kebutuhan respirasi
Komplikasi Terapi Oksigen
• Penderita PPOK dengan retensi CO2 sering bergantung pada
“hypoxic drive” untuk mempertahankan ventilasinya.
Konsentrasi O2 yang tinggi dapat mengurangi “drive” ini.
Oksigen sebaiknya hanya diberikan dengan persentase
rendah dan pasien diobservasi secara ketat untuk menilai
adanya retensi CO2.10
• Kerusakan retina (retrorental fibroplasia) menyebabkan
kebutaan pada neonatus, terjadi karena pemberian terapi
oksigen yang tidak tepat. Semua terapi oksigen pada bayi
baru lahir harus dimonitor secara berkelanjutan.10
• Pneumonitis dan pembentukan membran hyaline didalam
alveoli yang dapat menyebabkan penurunan pergantian gas
dan atelektasis.