Anda di halaman 1dari 47

CLINICAL REPORT SESSION (CRS)

Diare kronik et Causa Kolitis

Siti Rahmah (G1A218006)

Pembimbing:
dr.Hj.Elfiani, SpPD. FINASIM
IDENTITAS PASIEN
About this template

Nama : Tn. Ahmadi


Usia : 72 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : RT 40 jln. Untung suropati
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
MRS : 27 Agustus 2018
KELUHAN UTAMA
Pasin rujukan dari RS H.abdul majid batoe dengan keluhan
diare sejak ± 2 bulan SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang

3 Hari SMRS
2 Bulan SMRS

•Diare dirasakan semkain


•Diare sebanyak ±20 kali memberat sehingga pasien
dalam 1 hari dengan berobat ke RS Muara bulian
konsistensi cair, berampas, dan di rujuk ke RS Raden
berbau ,darah(+), lendir(+). Mattaher.
•BAB disertai dengan nyeri •badan lemas,
perut bagian bawah dan
•sariawan di mulut,
nyeri ulu hati.
•terdapat bercak keputihan di
•Mual(-) dan muntah(-) yang
lidah dan mulut,
menyertai.
•tenggorokan sakit,
•Keluhan diare tidak membaik
dengan berobat ke PKM •sulit untuk menelan dan
membuat pasien tidak nafsu
•demam yang hilang timbul
makan.
•sariawan di mulut dan nyeri
•Tidak ada keluhan sesak
menelan.
nafas, batuk atau pilek.
•penurunan berat badan yang
•Buang air kencing lancar dan
drastis sejak diarenya
tidak ada keluhan.
berlangsung.
•Pasien tidak memiliki alergi
terhadap susu.
Riwayat Penyakit Dahulu
• Keluhan yang sama (+).
• Pasien pernah operasi polip nasal sejak ±6 tahun yang lalu,
• pasien pernah operasi prostat ±4 tahun yang lalu
• operasi hernia ±3 bulan yang lalu.
• Riwayat hipertensi (-)
• Riwayat DM (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
• Riwayat keluarga dengan keluhan serupa (-)
• Riwayat Hipertensi (-), DM (-)

Riwayat Sosial Ekonomi


• Pasien seorang petani, sudah menikah dan memiliki 2 orang anak
• riwayat kebiasaan merokok sejak ± 40 tahun yang lalu, dalam 1 hari dapat menghabiskan
1 bungkus rokok per hari dan sekarang sudah berhenti merokok.
• Minum kopi (-) minum jamu-jamuan (-)
PEMERIKSAAN GENERALISATA

Tanda-tanda vital
Keadaan umum
Kesadaran
GCS

: Tampak sakit sedang
: Compos mentis
: (E4 V5 M6)
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 78 x/menit, regular, kuat angkat, isi cukup
RR : 22x/menit, torakoabdominal
Temperatur : 37,1°C
BB/TB : 55kg/ 160cm
BMI : 21,4 (normoweight)
PEMERIKSAAN FISIK Kulit
Sawo matang, pigmentasi (-)

Kepala
Mata Normocephal, rambut tdk
CA (+/+), SI (-/-), pupil mudah dicabut
isokor, RC (+/+)

Hidung Telinga
Deviasi septum (-), Dbn
epistaksis (-/-)

Leher Mulut
Pembesaran KGB (-), JVP Bibir kering(+), Pecah-
5+2 cmH20 pecah(+), bercak
Faring keputihan(+)nyeri
Tonsil T1/T1 hiperemis (+) menelan(+)
Paru sianosis (-)
Inspeksi: Jantung
Simetris,,spider naevi (-)
Iktus kordis di ICS V
Palpasi:
linea midclavicula sn
Fremitus taktil ka=ki
Batas jantung dbn
Perkusi: Sonor
BJ I/II reguler
Auskultasi: Vesikuler (+/+),
RH (-/-), WZ(-/-)
Abdomen
Ekstremitas sup
CRT <2 dtk
Akral hangat
Inspeksi : Datar, simetris Edem (-)
Auskultasi: BU (+) meningkat
Palpasi : nyeri tekan epigastrik (+), nyeri
tekan ilika sinistra, hepar, lien,
ginjal tidak teraba
Perkusi : timpani

Ekstremitas inf
CRT <2 dtk
Akral hangat
Edem (-)

PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Hasil Pemeriksaan Penunjang di Rumah Sakit Raden Mattaher


(27 Agustus 2018) Elektrolit
Darah Rutin
Parameter Hasil Harga
Jenis Pemeriksaan Hasil Normal Normal
WBC 11,22 (4-10,0x103/mm3) Natrium (Na) 135 (135-148)
RBC 2,56 (3,5-5,5x106/mm3)
HGB 7,3 (11,0-16 g/dl) Kalium (K) 4,14 (3.5-5.3)
HCT 20,2 (35,0-50,0 %)
PLT 538 (100-300x103/mm3)
Chlorida (Cl) 104,09 (98-110)
MCV 78,8 (80-100 fl)
MCH 28,5 (27-34 pg)
MCHC 361 (320-360 g/l) Calcium (Ca+) 1,23 (1.12-1.23)
Kesan: Anemia mikrositik hipokromik, leukositosis,
trombositosis Kesan : Normal
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Kimia Darah
Parameter Hasil Harga Normal
Pemeriksaan Serologi (28/08/2018)
Ureum 60 (15-39 mg/dl)

Kreatinin 1,3 (L 0,9-1.3; P 0,6-1,1 mg/dl) HbsAg : (-)


Anti HbsAg : (-)
Asam urat (L 3,5-7,2; P 2,6-6,0 mg/dl)

Kesan : hiperurisemi Pemeriksaan Imunologi (28/08/2018)


Faal Hati (28/08/2018) HIV : strategi I (-) Non reaktif
Protein total : 4,9 g/dl Pemeriksaan Tinja (28/08/2018)
Albumin : 1,6 g/dl Warna : kuning
SGOT : 9 U/L Konsistensi: Lunak
SGPT : 10 U/L Lendir :-
Kesan : hipoalbumin
Daftar masalah

 Diare
 Demam
 Penurunan berat badan (kaheksia)
 Nyeri uluhati
 Nyeritekan iliaka sinistra
 Teraba massa di iliaka sinistra
 Leukositosis
 Trombositosis
 Hiperurisemi
 Hipoalbumin
DIAGNOSIS
Diare kronik et Causa Kolitis
DIAGNOSIS BANDING

◉ Colitis ulseratif
◉ Penyakit Crohn
◉ Ca Colon
TATALAKSANA
You can also split your content

Farmakologi Non-Farmakologi
 Ivfd Nacl 0,9% 20 tpm  Tirah baring
 Inj. Ceftriaxone 1g  Diet rendah serat
 Inj. Omeprazole 1x40 mg
 Loperamid 4x1 tab
 Antasida Syr 3x1 C
PEMERIKSAAN ANJURAN
You can also split your content

 Kolonoskopi
 USG Abdomen
PROGNOSIS
You can also split your content

◉ Quo ad vitam : Dubia ad bonam


◉ Quo ad functionam : Dubia ad bonam
◉ Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA

KOLITIS
Kolitis adalah peradangan akut atau kronik yang mengenai kolon. Kolitis berhubungan dengan
enteritis (peradangan pada intestinal) dan proktitis (peradangan pada rektum).
Klasifikasi
Berdasarkan penyebab, kolitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kolitis infeksi Kolitis non-infeksi

• Shigelosis • Inflamatory bowel disease


• kolitis tuberkulosa (IBD)
• kolitis pseudomembran • Kolitis ulseratif
• kolitis karena • penyakit Crohn’s
virus/bakteri/parasit lain • Indeterminate colitis
seperti Eschericia coli
Kolitis Amebik

 Kolitis amebik merupakan infeksi pada kolon yang disebabkan oleh protozoa Entamoeba
hystolytica (E. hystolytica).

 Prevalensi tertinggi adalah di daerah tropis, yaitu sekitar 50-80%.

Penularan E. hystolytica adalah ingesti kista dalam makanan dan minuman yang
terkontaminasi, dengan perantara lalat, kecoa, kontak interpersonal, atau lewat
hubungan seksual anal-oral
PATOGENESIS

E. Hystolityca  Ada dua bentuk ( tropozoid dan kista )

Penularan terjadi melalui :


Bentuk kista yang tahan asam  masuk dalam lumen usus halus  kista pecah  tropozoit  dewasa
dalam lumen kolon  invasi dinding usus dengan enzym proteolitik  reaksi inflamasi  destruksi
mukosa  ulkus (submukosa dan muskularis)

Ulkus sering ditemukan disekum, kolon asenden dan sigmoid, appendiks, dan ileum
terminalis
MANIFESTASI KLINIS

Gejala amebiasis dikelompokkan menjadi 5 gejala:

Disentri amebik Disentri amebik


Disentri amebik kronik
ringan berupa
sedang, gejala- Disentri amebik mempunyai
Karier keluhan kembung, nyeri
gejala yang berat, terdapat gejala Serangan
ringan seperti perut ringan,
muncul mulai gejala diare timbul pada
kembung, demam ringan,
dari kram perut, disertai banyak keadaan-keadaan
obstipasi dan diare ringan
demam, lemah, darah, demam kelelahan,
kadang-kadang dengan tinja
hepatomegali tinggi, mual, dan demam, ataupun
diare. berbau busuk
dengan nyeri anemia. makanan yang
serta bercampur
spontan. sulit dicerna.
darah dan lendir.
AlGORITME DIAGNOSTIK Kolitis Amebik

Tes tinja untuk darah


negatif
tersamar

Pemeriksaan bisa
dihentikan
positif

1.Pemeriksaan tinja segar  mencari trofozoit


2.Pewarnaan trichome untuk kista negatif
3.Pemeriksaan serologi anti ameba

Kolonoskopi & biopsi


positif

Terapi amebisidal positif


Komplikasi

kelainan
Kelainan intestinal: ekstraintestinal: yang
perdarahan kolon, terjadi adalah abses
perforasi, peritonitis, hati, amebiasis kulit,
ameboma, intususepsi, amebiasis pleuro-
dan striktur. pulmonal, abses otak,
limpa atau organ lain.
Tatalaksana

KARIER :
- obat – obat yang bekerja di lumen usus.
- Iodoquinol ( diiodohidroxyquin) 3 x 650
mg selama 5- 10 hari.

AKUT :
- metronidazole 3 x 750 mg selama 5 -10
hari ditambah iodoquinol.

EKSTRA INTESTINAL :
- metronidazole 3 X 750 mg selama 5 – 10 hari ditambah iodoquinol.
Kolitis tuberkulosa

 Kolitis tuberkulosa adalah infeksi kolon oleh kuman Mycobacterium


tuberculosis.
 Infeksi kuman ini pada saluran cerna jarang terjadi, terutama di negara
berkembang.
 Insidens infeksi tuberkulosis pada saluran cerna akhir-akhir ini semakin
meningkat bersamaan dengan semakin meningkataya angka perpindahan
penduduk dan infeksi HIV (human immunodeficiency virus) serta
pengobatan imunosupresi.
PATOGENESIS

• Terjadinya infeksi • Infeksi primer terjadi • Sedangkan infeksi sekunder


kuman ini ke dalam melalui tertelannya terjadi melalui tertelannya
saluran cerna dapat ter- mikroorganisme secara material yang telah
langsung ataupun terinfeksi kuman ini seperti
jadi secara primer dan penyebaran dari sputum yang kemudian
sekunder. tuberkulosis milier. menginvasi mukosa intestin
secara langsung,
penyebaran hematogenik
melalui darah menuju hepar
yang kemudian diekskresi
melalui cairan empedu ke
dalam saluran cerna
ataupun melalui
pembentukan tuberkuloma.
MANIFESTASI KLINIS

Dapat terjadi diare ringan tercampur pasien yang menderita kolitis


darah, konstipasi, anoreksia, demam tuberkulosa dengan diare kronik
ringan, penurunan berat badan dan dengan gejala diare kronik disertai
terdapat massa abdomen kanan nyeri perut, penurunan berat badan,
bawah. BAB berdarah dan demam.
Diagnosis

Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya kuman M.


tuberculosis melalui pemeriksaan mikroskopik langsung ataupun
kultur biopsi jaringan

Pada pemeriksaan barium enema dapat ditemukan penebalan dinding,


distorsi lekukan mukosa, ulserasi, stenosis, pseudopolip, atau massa
mirip keganasan di sekum
Komplikasi

◉ perdarahan, obstruksi intestinal


◉ fistula dan sindroma malabsorpsi
Tatalaksana

◉ Pengobatan TB ekstra paru berat seperti TB usus digunakan kategori I


yaitu 2RHZE/4H3R3.
◉ INH 4-6 mg/kgBB/hari atau 300-450 mg.
Etambutol 15-20 mg/kgBB/hari atau 1-1,5g.
Rifampisin 8-12 mg/kgBB/hari atau 450-600 mg dan
pirazinamid 20-30 mg/kgBB/hari atau 1-1,5 g.
Kolitis Ulseratif

Penyebab penyakit ini tidak


Kolitis ulseratif merupakan
diketahui, namun faktor
suatu penyakit inflamasi
keturunan dan respon sistem
menahun yang mengenai
kekebalan tubuh yang terlalu
kolon dan rektum dengan
aktif di usus, diduga berperan
karakteristik eksaserbasi
dalam terjadinya kolitis
intermiten dan remisi.
ulseratif
Patofisiologi

Kolitis ulseratif
Kolitis ulseratif dapat
merupakan proses
mengenai rektum, kolon
peradangan pada lapisan
sigmoid, dan seluruh
mukosa dan submukosa
bagian kolon.
kolon.

Pada stadium ringan


ditemukan mukosa
eritem, edem dan
Atropi mukosa dan abses mengalami granulasi.
pada kripta sering Pada stadium sedang dan
ditemukan berat kolon tampak
mengalami ulserasi,
erosi, friability dan
perdarahan spontan.
Gejala Klinis

• Gejala yang sering ditemukan • Tetapi selama atau diantara waktu


berupa diare berdarah dan kram buang air besar, dari rektum
perut keluar lendir yang mengandung
banyak sel darah merah dan sel
darah putih. Namun, suatu
serangan bisa mendadak dan
berat, menyebabkan diare hebat,
demam tinggi, takikardi, sakit
perut, peritonitis dengan
lekositosis
Diagnosis

Pada stadium ringan biasanya hasil laboratorium yang ditemukan normal.


Pada stadium sedang dan berat, pemeriksaan darah menunjukan adanya:
- anemia
- peningkatan jumlah sel darah putih
- peningkatan laju endap darah
- hipoalbuminemia

kolonoskopi merupakan metode paling akurat untuk menegakkan diagnosis


kolitis ulseratif
Komplikasi

1.Intestinal : Toksik megakolon, Perforasi, Striktur, Perdarahan masif, kanker kolon


2. Ekstraintestinal :
Bila kolitis ulseratif menyebabkan kambuhnya gejala usus, penderita juga
mengalami:
-artritis
-episkleritis
-eritema nodosum
-luka kulit biru-merah yang bernanah (pioderma gangrenosum).
Tatalaksana

◉ 5-aminosalicyclic acid (5-


ASA), seperti sulfasalazin, ◉ Obat Imunosupresif, seperti
olsalazin, mesalamin dan azatioprin dan 6-merkapto purin
balsalazid digunakan untuk (6-MP) bermanfaat mengurangi
mengontrol inflamasi. inflamasi yang disebabkan reaksi
◉ Kortikosteroid, seperti imun.
prednison, metilprednison ◉ Obat-obat untuk mengurangi rasa
dan hidrokortison sakit, diare atau infeksi dapat juga
digunakan untuk diberikan
mengurangi inflamasi.
Penyakit Crohn

◉ Penyakit Crohn seperti halnya kolitis ulseratif merupakan suatu penyakit


inflamasi menahun dengan karakteristik eksaserbasi intermiten dan remisi.
Penyakit ini mengenai seluruh ketebalan dinding usus.
◉ Kebanyakan terjadi pada bagian terendah dari intestinal dan kolon
◉ Penyebab penyakit Crohn tidak diketahui. Penelitian memusatkan
perhatian pada tiga kemungkinan penyebabnya, yaitu kelainan fungsi
sistim pertahanan tubuh, infeksi dan makanan.
Patofisiologi

◉ Pada penyakit Crohn terjadi penebalan dan edem pada dinding usus
◉ Terdapat lesi pada mukosa berupa ulkus yang besar, dalam, kadang-
kadang bergabung membentuk ulkus linear longitudinal dan transversal.
◉ Karakteristik dari penyakit Crohn adalah inflamasi transmural dan
granuloma non nekrosis.
Gejala Klinis

◉ Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di perut bawah, malabsorpsi,


penurunan berat badan
◉ Fibrostenotik (striktur) gejala awal berupa nyeri hebat di dinding usus,
nausea, muntah, kembung dan distensi perut.
◉ Pembentukan saluran abnormal dan kantung infeksi berisi nanah
menyebabkan diare profus, demam, adanya massa dalam perut yang terasa
nyeri.
◉ Gejala klasik dari penyakit Crohn adalah nyeri kolik perut kanan bawah
dan diare. Gejala lain demam, nafsu makan berkurang dan penurunan
berat badan.
Diagnosis

◉ Ditemukan leukositosis dan trombositosis ringan, anemia dan peningkatan


laju endap darah.
◉ Hipoalbuminemia menunjukkan keadaan yang berat dan kronik.
Komplikasi

Intestinal : Perforasi, Striktur, Penyakit perirektal, kanker kolon, Defisiensi


nutrisi
Ekstraintestinal :
-artritis
-episkleritis
-eritema nodosum
-pioderma gangrenosum
Tatalaksana

-5-aminosalicyclic acid (5-ASA), seperti sulfasalazin, olsalazin, mesalamin dan


balsalazid
-Kortikosteroid
-Obat Imunosupresif, seperti azatioprin and 6-merkapto purin (6-MP)
-Antibiotik, seperti metronidazol dan siprofloksazin.
-Nutrisi
Perbedaan kolitis ulseratif dan penyakit Crohn

Kolitis Ulseratif Penyakit Crohn


Diare kronik ++ ++

Hematochezia ++ +

Nyeri perut + ++

Massa abdomen 0 ++

Fistulasi +/- ++

Stenosis/striktur + ++

Keterlibatan usus halus +/- ++

Keterlibatan rectum 95% 50%

Ekstra intestinal + +

Megatoksik kolon + +/-


Analisa kasus

◉ Keluhan utama pasien adalah diare kronis dan nyeri perut. Durasi lama diarenya 2
bulan. Dengan durasi ini dapat dipikirkan kemungkinan adanya diare akibat
beberapa organisme seperti shigella, ameba, penyebab disentri lainnya, dan
penyakit yang menyerang usus besar. Dari pernyataan ini, dapat disingkirkan
penyebab-penyebab dari diare akut.
◉ Tidak didapatkannya riwayat alergi susu menyingkirkan kemungkinan intoleransi
laktosa pada pasien.
Analisa Kasus

◉ Nyeri perut bagian bawah yang ◉ Keadaan pasien yang kaheksia


pasien keluhkan dapat menjadi dengan konjungtiva yang pucat
tanda inflamasi pada area ileum dapat diartikan bahwa penyakit
terminalis, kolon desenden, dan yang dideritanya sudah berlangsung
rektum. lama atau pasien dalam keadaan
◉ Gejala nyeri perut bagian bawah malnutrisi.
dan diare berlendir dan berbau pada ◉ penurunan berat badan yang drastis
pasien mengarah pada diagnosis dan keadaan candidiasis pada mulut
kolitis, terutama amebiasis. memberikan kesan adanya proses
penyakit yang berlangsung cepat,
dicurigai adanya keadaan
imunokompromais atau neoplasia.
Analisa Kasus

◉ Sebagai terapi non farmakologis, ◉ omeprazole digunakan untuk nyeri


tirah baring dan memberikan nutrisi uluhati yang mampu menurunkan
sesuai kebutuhan kalori pasien dapat kadar asam di produksi dalam
memperbaiki sistem imun dan lambung.
meningkatkan daya tahan tubuh. ◉ Antasida merupakan obat penetral
◉ farmakologis, Kebutuhan cairan dan asam lambung sehingga digunakan
elektrolit dapat disediakan melalui untuk nyeri ulhati, mulas dan rasa
pemberian cairan elektrolit Nacl panas pada perut.
0,9% 20 tetes per menit.
Analisa Kasus

◉ Ceftriakson merupakan antiobiotika spektrum luas untuk meyakinkan


kuman yang menginfeksi dapat dieradikasi, baik kuman gram positif
atau gram negatif, sementara merofenem untuk mengatasi kuman dan
parasit yang meninmbulkan kolitis pada pasien.
◉ Loperamide obat ini dapat mengurangi pengeluaran tinja berlebihan
dan meregakan urgensi rektal
TERIMAKASIH