Anda di halaman 1dari 14

Akuntansi Pemerintahan

Sistem Pencatatan Akuntansi Pemerintahan Daerah

YUL EMRI YULIS, S.E, M.Si


A. Sistem Sentralisasi
Sebelum lahirnya UU No 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan system
pencatatan yang diterapkan pada pemerintahan daerah adalah sentralisasi
terhadap transaksi yang terjadi di SKPD dislengarakan sepenuhnya oleh
bagian keungan atau BPKD (PPKD), SKPD dalam hal ini bendahara hanya
bertindak sebagai penyedia data /bukti transaksi. proses akuntansi
dilaksanakan sepenuhnya oleh PPKD mulai dari pembuatan jurnal, posting
ke buku besar dan buku pembantu serta pembuatan laporan keuangan .
SKPD hanya mengumpulkan dokumen –dokumen dasar seperti kwitansi
,STS.SP2D dan bukti –bukti pendukung lainnya yang disampaikan sebagai
pertangungjawaban pengunaaan uang muka kerja yang diberikan oleh
PPKD . Seluruh salinan berikut dokumen asli atas yang terjadi dikirim ke
PPKD secara berkala SKPD menyelengarakan buku harian atau jurnal
maupun buku besar, karena semua transaksi yang terjadi di SKPD
dilakukan sepenuhnya oleh PPKD .SKPD melakukan pengiriman dokumen
serta salinan transaksi dalam perriode yang teratur /tetap sesuai dengan
kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh pemda. proses akuntansi
setralisasi dapat digambarkan sebagai berikut.
Proses Akuntansi Sentralisasi
SPJ Diselenggarakan oleh SKPD
Bukti Transaksi

Diselenggarakan oleh PPKD


Jurnal

Buku Besar

Neraca Saldo

Laporan Keuangan
Gambar 3.1
Jurnal :
• Penyerahan kas (SP2D UP/TU) dari PPKD kepada SKPD.
Jurnal:
Kas dibendaharah pengeluaran SKPD A xxx
Kasda xxx
• Penyampaian SPJ atas pengunaan UP/GU/TU
Belanja xxxx
Belanja xxxx
Kas dibendahara pengeluara SKPD A xxx
• Penyetoran kas dari SKPD ke PPKD
Kasda xxxx
Kas dibendahara pegeluaran SKPD A xxx
• Pada SKPD tidak ada pencatatan ,semua transaksi dicatat dilaporkan oleh
PPKD
B. SISTEM DESENTRALISASI

Berdasarkan ketentuan pasal 51 UU No 1 Tahun 2004 tentang


perbendaharan Negara yang berbunyi sebagai berikut :

1. Mentri keuangan / pejabat pengelolah keuangan daerah selaku


bendahara umum Negara /daerah menyelengarakan akuntansi atas
transaksi keuangan ,asset, utang,dan ekuitas dana , terrmasuk
transaksi pembiayaan dan perhitungannya .
2. Mentri /pimpinan/lembaga /kepala satuan kerja perangkat daerah
selaku penguna angaran menyelengarakan akuntansi atas transaksi
keuangan,asset,utang, dan ekuitas dana ,termasuk transaksi
pendapatan dan belanja yang berbeda dalam tangung jawabnya .
3. Akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan 2 digunakan untuk
menyusun laporan keuangan pemrintah pusat /daerah sesuai dengan
standar akuntansi pemerintah. Serta pasal 56 ayat 1 dan 2 undang –
undang No 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara yang berbunyi
sebagai berikut:
1) Kepala satuan kerja pengelolah keuangan daerah selaku pejabat
pengelolah keuangan daerah menyusun laporan keuangan pemerintah
daerah untuk disampaikan kepada gubernur/bupati/walikota dalam
rangka memenuhi pertangungjawaban pelaksanaan .
2) Dalam pemyusunan laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat 1:

A. Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku penguna angaran


/penguna barang menyusun dan menyampaikan laporan keuangan yang
meliputi laporan realisasi angaran,neraca,dan catatan atas laporan
keuanngan .
B. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada huruf a
disampaikan kepada kepala satuan kerja pengelolah keuangan daerah
selambat lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun angaran berakhir .
Pada system desenrtalisasi seluruh transaksi yang terjadi di SKPD
sepenuhnya diselenngarakan oleh SKPD itu sendiri ,mulai dari memproses
SPP dari bendaharaan memverikasi SPJ bendahara dilaksanakan oleh PPK
SKPD termasuk proses akuntansi pada SKPD proses penjurnalaan sampai
penyusunan laporan keuangan diselengarakan oleh SKPD sama halnya
dengan organisasi/ entitas yang independen . Secara oleh SKPD akan
mengirimkan laporan keuangannya ke PPKD . Sistem akuntansi pokok
diterapkan SKPD akan mengikuti apa yang diterapkan pada PPKD
,terutama bentuk dan susunan dari klasifikasi aktiva,
kewajiban,pendapatan dan beban.
Ciri pokok yang menghubungkan pembukuan di PPKD dan SKPD
adalah rekening Reciprocal yang meliputi rekening PPKD didalam
pembukuan SKPD rekening SKPD dalam pembukuan PPKD . Rekening SKPD
dan rekening PPKD mempunyai saldo yang berlawanan dan sama
jumlahnya (reciprocal account). Reciprocal account dipakai untuk
menampung transaksi-transaksi yang terjadi antara PPKD dan SKPD .
Transaksi-transaksi tersebut mempengaruhi modal yang ditanamkan di
rekening PPKD didalam pembukuan SKPD dipakai untuk menampung
investasi oleh PPKD di SKPD . Rekening PPKD merupakan penganti
perkiraan di SKPD sehingga dengan ini terlihat bahwa SKPD merupakan
bagian dari PPKD .
SKPD sebagai unit yang berdiri sendiri tetap mempunyai
hubungan PPKD. hal ini bisa dilihat dari gambar berikut ini:

Hubungan PPKD dan SKPD

Rekening-Rekening Rekening-Rekening
PPKD SKPD

Aktiva Aktiva
R/K-SKPD 150.000
100.000
Hutang
50.000
R/K-PPKD
100.000

Gambar 3.2
Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa aktiva yan dimiliki olek SKPD
merupakan sebagian dari aktiva yang dimiliki oleh PPKD , begitu juga dengan hutang
yang dimiliki kantor cabang juga merupakan hutang kantor pusat yang semuanya itu
dikelolah oleh kantor cabang .
R/K PPKD dan R/K SKPD pada akhir periode harus menunjukan jumlah yang
sama . Bila terdapat perbedaan harus diselidiki kenapa saldo kedua rekening ini timbul
karena adanya pendebitan dan pengkreditan oleh satu kantor , namun tidak diikuti
oleh pendebitan dan pengkreditan oeh kantor lainnya .
Rekening Koran PPKD merupakan ekuitas dana ditingkat SKPD . “ rekening
Koran PPKD“ setara dengan akun Ekuitas dana tetapi pengunaannya khusus SKPD . Hal
ini dikarenakan SKPD merupakan cabang dari pemda ,melalui mekanisme transfier.
Akun “Rekening Koran-PPKD akan bertambah bbila SKPD menerima transfer asset
(seperti menerima SP2D UP GU, menerima asset tetap dari pemda), mendapatkan
asset melalui belanja modal atau pelunasan pembayaran belanja LS (menerima SP2D
LS), dan akan berkurang bila SKPD mentransfer asset ke Pemda (seperti penyetoran
uang ke Pemda) atau melakukan pelunasan uang Pemda (bila ada).
Saldo normal akun rekening Koran PPKD adalah kredit. Akun rekening Koran
ini akan dieliminasi pada saat akan dibuat laporan gabungan Pemda. Pengeliminasi
dilakukan oleh Pemda melalui rekening reciprocalnya yaitu akun rekening Koran SKPD
yang ada di Pemda.
Transaksi Antar Kantor
Transaksi yang terjadi antara PPKD dan SKPD secara
langsung mempengaruhi rekening R/K PPKD dan R/K
SKPD. Saldo normal R/K SKPD berarti disebelah debit. R/K
SKPD akan didebit untuk kas. R/K PPKD bersaldo normal
di kredit. Rekening ini akan dikredit untuk penerimaan kas
dan barang atau jasa aktiva PPKD. Didebit untuk
pengiriman kas ke kasda/PPKD. Taransaksi antara PPKD
dan SKPD dapat berupa:
Pendirian /pembentukan kantor cabang (SKPD) oleh
kantor pusat PPKD dengan menyerahkan aktiva.
SKPD PPKD

Aktiva xxx R/K SKPD xxx


R/K PPKD xxx Aktiva xxx
Penyerahan kas (SP2D UP/GU/TU) dari Pemda
(PPKD) kepada SKPD.
SKPD PPKD

Kas di Bend peng xxx RK SKPD xxx


RK PPKD xxx Kas di kasda xxx

Transaksi belanja dengan system LS.


SKPD PPKD

Belanja (rincian objek) xxx RK SKPD xxx


RK PPKD xxx Kas di kasda xxx
Laporan Keuangan Gabungan
Tahap akhir proses akuntansi adalah penyusunan
laporan keuangan. Dalam perusahaan yang mempunyai
cabang, maka perlu dibuat laporan keuangan gabungan
yang menggambarkan kondisi keuangan pemda secara
keseluruhan baik itu aktiva, kewajiban, dan ekuitas
Pemda, begitu juga dengan realisasi pendapatan dan
beban-beban yang terjadi selama periode fiscal.
Pengertian yang dapat kita ambil dari pernyataan
diatas adalah dalam penyiapan atas kerja laporan
keuangan gabungan, seluruh aktuva, hutang SKPD yang
harus digabbungkan dan diperluan eliminasi untuk
menghapus perkiraan reciprocal dan perkiraan yang yang
mempunyai hubungan antara PPKD dan SKPD.
C. Ketentuan Penganggaran dan
Akuntansi Pada Pemda
Berdasarkan ketentuan penganggaran tidak semua pendapatan dan
belanja atau pembiayaan dapat di anggarkan pada setiap SKPD. Untuk itu
pada pasal 30 mendagri nomor 13/2006 tentang pengelolaan keuangan
daerah ditegaskan bahwa pajak daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan, dll. Pendapatan asli daerah yang sah yang ditrfansfer
langsung ke kas daerah, dana perimbangan dll. Pendapatan daerah yang sah
di anggarkan pada satuan kerja pengelolah keuangan daerah (SKPKD).
Untuk penganggaran belanja ditetapkan bahwa untuk belanja tidak
langsung pasal 49, permendagri 13/2006.
• Belanja pegawai di anggarkan pada belanja organisasi SKPD berkenaaan
sesuai dengan peraturan per undang-undangan.
• Belanja bunga, belanja supsidi, belanja hiba, belanja bantuan social,
belanja batuan hasil, belanja bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga
hanya dapat di anggarkan pada belanja SKPKD
Sedangkan untuk penganggaran belanja langsung pasal 54 permendagri
nomor 13/2006, belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai, belanja
barang dan jasa serta belanja modal untuk melaksanak.
Hal ini mempengaruhi sruktur akuntansi keuangan daerah yang
secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut:
Ketentuan Penganggaran Pemerintah Daerah

SKPD PPKD

Pendapatan Pendapatan
 Pendapatan restribusi  Pendapatan pajak
 Lain-lain pendapatan yang sah  Dana perimbangan
 Lain-lain pendapatan yang sah (pasal 30, permendagri 13/2006)

Belanja Belanja
 Belanja pegawai Belanja bunga, belanja subsidi, belanja hiba, belanja bantuan social,
 Belanja barang jasa belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan, dan belanja tidak
 Belanja modal (pasal 49, permendagri 13/2006) terduga.
(pasal 54 permendagri 13/2006)

Pembiayaan