Anda di halaman 1dari 48

UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

NEGARA DAN KONSTITUSI

F.X. DJOKO PRANOWO

FXDP/2007 1
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Deskripsi Singkat
 Bab ini akan membicarakan mengenai pengertian
negara, definisi dan fungsi konstitusi. Setelah itu
akan dibahas bagaimana dinamika pelaksanaan
konstitusi, dan akhirnya akan dibahas bagaimana
mekanisme pembuatan konstitusi dan undang-
undang.

FXDP/2007 2
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Kompetensi yang mau dicapai


 Mahasiswa dapat menjelaskan tentang pengertian negara dan
unsur-unsur negara.
 Mahasiswa dapat menjelaskan teori terjadinya negara dan
menguraikan proses terjadinya negara Indonesia.
 Mahasiswa dapat menjelaskan pengetian konstitusi, kedudukan
konstitusi.
 Mahasiswa dapat membedakan pengertian konstitusi dan undang-
udang dasar.
 Mahasiswa dapat menjelaskan UUD 1945 sebagai konstitusi
negara Indonesia.
 Mahasiswa dapat menjelaskan proses amandemen UUD 1945.
 Mahasiswa dapat menjelaskan sistem ketatanegaraan Indonesia.

FXDP/2007 3
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

SUBPOKOK BAHASAN
1. Pengantar
2. Pengertian Negara
3. Unsur-unsur Negara
4. Teori Terjadinya Negara
5. Negara Kesatuan Republik Indonesia
6. Pengertian Konstitusi
7. Kedudukan Konstitusi
8. UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara Keatuan RI
9. Kenapa UUD 1945 di amandemen?
10. Sistem Ketatanegaraan Indonesia
11. Dinamika Pelaksanaan UUD 1945

FXDP/2007 4
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Pengantar
Mengapa ada negara?
 Menurut Sokrates, Plato dan Aristoteles, adanya
negara sudah dimulai 400 tahun sebelum masehi.
 Thomas Aquinas, adanya negara di dalam
masyarakat itu didorong oleh dua hal, yaitu
manusia sebagai makhluk sosial (animal social)
dan manusia sebagai makhluk politik (animal
politicum).

FXDP/2007 5
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Thomas Hobbes, mengatakan bahwa adanya negara itu


diperlukan karena negara merupakan tempat berlindung
bagi individu, kelompok, dan masyarakat yang lemah dari
tindakan individu, kelompok, dan masyarakat, maupun
penguasa yang kuat (otoriter) – karena menurutnya –
manusia dengan manusia lainnya memiliki sifat seperti
serigala (homo homini lupus)
 Mekanisme pembentukan negara yang demokratis dan
universal adalah pemilihan umum (pemilu).
 Masalah yang dihadapi negara yang telah terbentuk
antara lain: globalisasi dan otonomi daerah.

FXDP/2007 6
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Pengertian Negara
Arti Negara
 Kata “negara” berasal dari kata state (Inggris), staat (Belanda),
etat (Perancis) yang berasal dari kata Latin status atau statum
yang artinya keadaan yang tegak dan tetap atau sesuatu yang
memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap. Istilah itu umumnya
diartikan sebagai kedudukan (standing, station).
Misalnya: status civitatis (kedudukan warganegara), status
republicae ( kedudukan negara).
 Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian negara itu
ada dua, yaitu: pertama, negara adalah organisasi di suatu
wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan
ditaati rakyatnya; kedua, negara adalah kelompok sosial yang
menduduki wilayah atau daerah tertentu yang diorganisasi di
bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai
satu kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan
tujuan nasionalnya.

FXDP/2007 7
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Negara adalah suatu organisasi kekuasan dari


sekelompok atau beberapa kelompok manusia
yang bersama-sama mendiami satu wilayah
tertentu dan mengakui adanya satu pemerintahan
yang mengurus tata tertib serta keselamatan
sekelompok atau beberapa kelompok manusia
tersebut.
 Negara adalah satu perserikatan yang
melaksanakan satu pemerintahan melalui hukum
yang mengikat masyarakat dengan kekuasaan
untuk ketertiban sosial.
FXDP/2007 8
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Pengertian Negara menurut para ahli:


1. Aristoteles (384-322 SM), merumuskan negara dalam
bukunya Politica, sebagai negara polis, karena negara
masih berada dalam suatu wilayah yang kecil sehingga
warga negara dapat diikutsertakan dalam musyawarah
(ecclesia).
2. Agustinus, membedakan negara dalam dua pengertian,
yaitu civitas dei yang artinya negara Tuhan, dan civitas
terrena atau civitas diaboli yang artinya negara duniawi.
3. Nicollo Machiavelli (1469-1527) merumuskan negara
sebagai negara kekuasaan, dalam bukunya Il Principle.
Ia terkenal karena ajarannya tentang tujuan yang dapat
menghalalkan segala cara.

FXDP/2007 9
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

4. Georg Jellinek, mengatakan bahwa negara adalah organisasi


kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di
wilayah tertentu.
5. Kranenburg, negara adalah organisasi yang timbul karena
kehendak dari suatu golongan atau bangsanya sendiri.
6. Roger F. Soultau, negara adalah alat (agency) atau wewenang
(authority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan
bersama atas nama masyarakat.
7. Harold J. Lasky, negara adalah suatu masyarakat yang
diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat
memaksa dan yang secara sah lebih agung dari pada individu
atau kelompok, yang merupakan bagian dari masyarakat itu.
8. George Wilhelm Frerdrich Hegel, negara merupakan
organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari
kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal.

FXDP/2007 10
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

9. John Locke (1632-1704) dan Rousseau (1712-1778),


dalam buku Ilmu Negara (1993) mengatakan “negara
adalah suatu badan atau organisasi hasil dari pada
perjanjian masyarakat”.
10. Max Weber, mengatakan bahwa negara adalah suatu
masyarakat yang mempunyai monopoli dalam
penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu
wilayah.
11. Mc. Iver, menjelaskan negara adalah asosiasi yang
menyelenggarakan penertiban di dalam suatu
masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan
sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu
pemerintah yang demi maksud tersebut diberi kekuasaan
memaksa.
12. Jean Bodin, negara adalah persekkutuan keluarga
dengan segala kepentingannya yang dipimpin oleh akal
dari suatu kuasa yang berdaulat.
FXDP/2007 11
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

12. Soenarko, negara adalah organisasi kekuasaan


masyarakat yang mempunyai daerah tertentu di mana
kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai
sovereign.
13. R. Djokosoetono, negara ialah suatu organisasi
masyarakat atau kumpulan manusia yang berada di
bawah suatu pemerintahan yang sama.
14. Miriam Budiardjo, negara adalah suatu daerah teritorial
yang rakyatnya diperintah (governed) oleh sejumlah
pejabat dan berhasil menuntut dari warga negaranya
ketaatan pada peraturan perundang-undangannya
melalui penguasaan (kontrol) monopolistis dan
kekuasaan yang sah.

FXDP/2007 12
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Unsur-unsur Negara
 Berdasarkan beberapa pengertian mengenai
negara yang dikemukakan oleh para ahli
tersebut, dapat disimpulkan bahwa semua
negara memiliki unsur-unsur yang mutlak harus
ada, yaitu: wilayah atau daerah teritorial yang
sah, rakyat, sebagai pendukung pokok adanya
negara dan tidak terbatas pada salah satu jenis
etnis saja, dan pemerintahan yang berdaulat.
 Unsur-unsur tersebut dapat dijelaskan sbb:

FXDP/2007 13
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Unsur-unsur tersebut dapat dijelaskan sbb:


1. Wilayah,
adalah daerah yang menjadi kekuasaan negara serta menjadi tempat
tinggal bagi rakyat negara. Wilayah juga menjadi sumber kehidupan
rakyat negara. Wilayah negara mencakup darat, laut, dan udara.
2. Rakyat,
adalah orang-orang yang bertempat tinggal di wilayah itu, tunduk pada
kekuasaan negara dan mendukung negara yang bersangkutan.
3. Pemerintahan yang berdaulat,
adalah adanya penyelenggara negara yang memiliki kekuasaan
menyelenggarakan pemerintahan di negara tersebut. Pemerintah
tersebut memiliki kedaulatan baik ke dalam mau pun ke luar. Kedaulatan
ke dalam berarti negara memiliki kekuasaan untuk ditaati oleh rakyatnya.
Kedaulatan ke luar berarti negara mampu mempertahankan diri dari
serangan dari negara lain.

FXDP/2007 14
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Unsur wilayah, rakyat dan pemerintahan yang berdaulat


tersebut merupakan unsur konstitutif atau unsur
pembentuk yang harus dipenuhi agar terbentuk negara.
 Selain unsur konstitutif ada juga unsur deklaratif, yaitu:
a) adanya tujuan negara;
b) adanya undang-undang dasar;
c) adanya unsur pengakuan dari negara lain, baik
secara “de jure” maupun “de facto” yang sifatnya
menyatakan, bukanlah unsur yang mutlak;
d) Masuknya negara tersebut ke dalam PBB.

FXDP/2007 15
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Sebagai organisasi kekuasaan, negara memiliki sifat memaksa,


monopoli, dan mencakup semua.
a) Memaksa, artinya negara dapat memaksakan kehendak dan
kekuasaannya untuk menyeleng-garakan ketertiban baik
dengan memakai kekerasan fisik maupun melalui jalur
hukum (legal);
b) Monopoli, artinya negara memiliki hak menetapkan tujuan
bersama masyarakat. Negara memiliki hak untuk melarang
sesuatu yang bertentangan dan menganjurkan sesuatu yang
dibutuhkan masyarakat.
c) Mencakup semua (totaliter), artinya semua peraturan dan
kebijakan negara berlaku untuk semua orang tanpa kecuali.

FXDP/2007 16
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Teori Terjadinya Negara


Proses terjadinya negara secara teoritis
1. Teori Kenyataan:
timbulnya suatu negara itu adalah soal kenyataan.
2. Teori Hukum Alam:
Plato dan Aristoteles pada masa itu memikirkan:
terjadinya negara adalah suatu yang alamiah, menurut
hukum alam, yaitu mulai dari lahir, berkembang,
mencapai puncaknya, layu, dan akhirnya mati. Negara
terjadi secara alamiah, bersumber dari manusia
sebagai makhluk sosial yang memiliki kecenderungan
berkumpul dan saling berhubungan untuk mencapai
kebutuhan hidupnya.

FXDP/2007 17
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

3. Teori Ketuhanan:
timbulnya negara karena kehendak Tuhan, didasari oleh
kepercyaan bahwa segala sesuatu berasala dari Tuhan dan
terjadi atas kehendak Tuhan, atas berkat rahmat Allah “by the
grace of God…” Tuhan memiliki kekuasaan mutlak di dunia.
Negara dianggap sebagai penjelmaan kekuasaan dari Tuhan.
Tokoh penganjur teori ini: Frederich Julius stahl, Thomas
Aquinas, Agustinus.
4. Teori Perjanjian:
negara timbul karena perjanjian yang diadakan antara orang-
orang agar kepentingan bersama dapat terpelihara dan terjamin,
agar tidak terjadi homo homini lupus, menurut Thomas Hobbes.
5. Teori Penaklukan:
negara timbul karena serombongan manusia menaklukkan
daerah dari serombongan manusia lain. Selain itu ada juga
proses peleburan, pemisahan diri, dan pendudukan.

FXDP/2007 18
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Proses terjadinya negara di zaman modern


Negara terbentuk bukan saja disebabkan oleh teori-
teori sebagaimana disebutkan diatas. Negara-negara
didunia ini terbentuk melalui sebuah proses. Proses itu
antara lain: penaklukan, fusi, pemecahan, pemisahan,
revolusi, pemberian, pendudukan.
1. Penaklukan atau occupatie, adalah suatu daerah yang
tidak dipertuan kemudian diambil alih dan didirikan
negara di wilayah itu. Misal: negara Liberia.
2. Fusi atau peleburan, adalah suatu penggabuangan dua
atau lebih negara menjadi negara baru. Misal: Jerman
Barat dan Jerman Timur.

FXDP/2007 19
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

3. Pemecahan, adalah terbentuknya negara-negara baru


akibat terpecahnya negara lama sehingga negara
sebelumnya menjadi tidak ada lagi. Misal: Yugoslavia,
menjadi Serbia, Bosnia, Montenegro. Uni Sovyet,
menjadi banyak negara baru. Cekoslovakia, menjadi
Ceko dan Slovakia.
4. Pemisahan diri, adalah meisahnya sauatu bagian
wilayah negara kemudian terbentuk negara baru. Misal:
India yang kemudian menjadi: India, Pakistan, dan
Bangladesh.
5. Revolusi atau perjuangan, merupakan hasil dari rakyat
suatu wilayah yang umumnya dijajah negara lain
kemudian memerdekakan diri. Misal: Indonesia.

FXDP/2007 20
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

6. Pemberian atau penyerahan, adalah pemberian


kemerdekaan kepada suatu koloni oleh negara lain
yang umumnya bekas jajahannya. Inggris dan Perancis
yang memiliki jajahan di Afrika, banyak memberikan
kemerdekaan kepada bangsa di daerah tersebut.
Misalnya: Kongo dimerdekakan oleh Perancis.
7. Pendudukan, adalah negara yang terjadi atas wilayah
yang ada penduduknya, tetapi tidak ada pemerintahan
sebelumnya. Misalnya: Australia adalah daerah baru
yang ditemukan Inggris meskipun di sana trdapat
penduduk suku Aborigin. Daerah Australia selanjutnya
dibuat kolonai-koloni di mana penduduknya
didatangkann dari daratan Eropa.

FXDP/2007 21
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Bangsa dan Negara Indonesia


Hakikat Negara Indonesia
• Gagasan membentuk satu bangsa yaitu bangsa
Indonesia, terwujud dalam ikrar Sumpah Pemuda
tanggal 28 Oktober 1928, satu tanah air, satu
bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia.
Meskipun, para pemuda yang berikrar berbeda-
beda suku, adat, budaya, ras, keyakinan, dan
daerah, tetapi bersedia menyatakan diri sebagai
satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia.

FXDP/2007 22
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

• Faktor-faktor pembentuk bangsa Indonesia, antara


lain:
1. Adanya persamaan nasib, yaitu penderitaan bersama
di bawah penjajahan bangsa asing lebih kurang 350
th.
2. Adanya keinginan bersama untuk merdeka,
melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
3. Adanya kesatuan tempat tinggal, yaitu wilayah
nusantara yang membentang dari Sabang sampai
Merauke.
4. Adanya cita-cita bersama untuk mencapai
kemakmuran dan keadilan sebagai suatu bangsa.

FXDP/2007 23
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

• Faktor pembentukan identitas kebangsaan Indonesia itu


merupakan faktor historis dan etis.
• Historis, karena bangsa Indonesia bersatu bukan karena
kesatuan bahasa, suku, budaya dan agama, melainkan
sejarah yang dialami bersama, yaitu penderitaan,
penindasan, perjuangan ke-merdekaan, dan tekad untuk
kehidupan bersama. Sehingga berhasil mewujudkan
terbentuknya negara Indonesia Merdeka pada tanggal 17
Agustus 1945.
• Hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
negara kebangsaan yang pembentukannya didasarkan
pada semangat kebangsaan dan tekad suatu masyarakat
untuk membangun masa depan bersama dalam satu
negara yang sama, meski berbeda-beda agama, ras,
etnik, dan golongan.

FXDP/2007 24
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Proses Terjadinya Negara Indonesia


1. Proses terjadinya negara Indonesia tidak dimulai dari
proklamasi, melainkan adanya pengakuan akan hak
setiap bangsa untuk memerdekakan dirinya. Bangsa
Indonesia memiliki tekad kuat untuk menghapus segala
penindasan dan penjajahan suatu bangsa atas nama
bangsa lain. Inilah yang menjadi sumber motivasi
perjuangan (alinea I Pembukaan UUD 1945).
2. Adanya perjuangan bangsa Indonesia melawan
penjajahan. Perjuangan panjang bangsa Indonesia
menghasilkan proklamasi. Proklamasi barulah
mengantarkan ke pintu gerbang kemerdekaan. Jadi,
dengan proklamasi tidaklah selesai kita bernegara.
Negara yang kita cita-citakan adalah menuju pada
keadaan merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur
(Alinea II Pembukaan UUD 1945)
FXDP/2007 25
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

3. Terjadinya negara Indonesia adalah kehendak bersama


seluruh bangsa Indonesia, sebagai suatu keinginan
luhur bersama. Di samping itu adalah kehendak dan
atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Ini membuktikan
bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius dan
mengakui adanya motivasi spirituil (Alinea III
Pembukaan UUD 1945).
4. Negara Indonesia perlu menyusun alat-alat
perlengkapan negara yang meliputi tujuan negara,
bentuk negara, sistem pemerintahan negara, UUD
negara, dan dasar negara. Dengan demikian, semakin
sempurna proses terjadinya negara Indonesia (alinea IV
Pembukaan UUD 1945)

FXDP/2007 26
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

KLASIFIKASI NEGARA
1. Menurut jumlah yang berkuasa dan orientasi
kekuasaan:
• Jumlah yang berkuasa: ada yang satu orang, sekelompok
orang, dan banyak orang.
• Orientasi kekuasaan: ada yang positif dan ada yang negatif.

Jumlah Penguasa Bentuk Positif Bentuk


Negatif
Satu Orang Monarki Tirani
Sekelompok Orang Aristokrasi Oligarki
Banyak Orang Demokrasi Mobokrasi

FXDP/2007 27
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

2. Menurut Bentuk Negara


 Negara kesatuan (unitary state), adalah bentuk
negara yang merdeka dan berdaulat di mana di
seluruh negara yang berkuasa hanyalah satu
pemerintahan (pusat) yang mengatur seluruh
daerah.
Negara kesatuan ini dapat berbentuk:
• Negara kesatuan dengan sistem sentralisasi
• Negara kesatuan dengan sistem desentralisasi
 Negara serikat (federasi) adalah bentuk negara
yang merupakan gabungan beberapa negara atau
yang menjadi negara-negara bagian dari negara
serikat itu.

FXDP/2007 28
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

3. Menurut Asas Pemerintahan


 Menurut ekonomi:
agraris, industri, berkembang, sedang berkembang,
belum berkembang, negara utara, negara selatan.
 Menurut Politik:
demokratis, otoriter, totaliter, satu partai,
muiltipartai, dsb,
 Menurut Sistem Pemerintahan:
presidentil, parlementer, junta militer, dsb.
 Menurut Ideologi Bangsa:
sosialis, liberal, komunis, fasis, agama, dsb.

FXDP/2007 29
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Fungsi Negara
 Pertahanan dan Keamanan:
negara melindungi rakyat, wilayah dan pemerintahan dari
ancaman, tantangan, hambatan, gangguan.
 Pengaturan dan Ketertiban:
membuat undang-undang, peraturan pemerintah
 Kesejahteraan dan Kemakmuran:
mengeksplorasi sda dan sdm untuk kesejahteraan dan
kemakmuran
 Keadilan Menurut Hak dan Kewajiban:
menciptakan dan menegakan hukum dengan tegas dan tanpa
pilih kasih.

FXDP/2007 30
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

PENGERTIAN KONSTITUSI
• Istilah konstitusi berasal dari kata constituer (Perancis),
yang artinya membentuk. Dalam bahasa Latin,
merupakan gabungan dari dua kata, yaitu cume yang
artinya “bersama-sama dengan…” dan statuere yang
berarti berdiri, membuat sesuatu berdiri atau
menetapkan. Jadi, konstitusi berarti menetapkan sesuatu
secara bersama-sama.
• Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konstitusi berarti:
• (1) segala ketentuan dan aturan mengenai ketatanegaraan;
• (2) undang-undang dasar suatu negara.

FXDP/2007 31
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

• Constitution (Bhs Inggris) diterjemahkan dalam bahasa


Indonesia sebagai konstitusi.
• Undang-undang Dasar merupakan terjemahan dari kata
“grondwet” (Bhs. Belanda). Kata grond = tanah,dasar dan
wet = undang-undang dasar.
• Pengertian konstitusi dalam praktek lebih luas dari
pengertian undang-undang dasar, tetapi ada juga yang
menyamakan dengan pengertian undang-undang dasar.
• Konstitusi, oleh para pendiri negara kita (the founding
fathers) diartikan sebagai hukum dasar. Undang-undang
Dasar adalah hukum dasar yang tertulis, sedangkan
Konstitusi adalah hukum dasar tidak tertulis.

FXDP/2007 32
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Beberapa definisi Konstitusi dari para ahli


A. Herman Heller membagi pengertian konstitusi menjadi
tiga, yaitu:
1. Konstitusi dalam pengertian politis-sosiologis. Konstitusi
mencerminkan kehidupan politik di dalam masyarakat
sebagai suatu kenyataan.
2. Konstitusi dalam pengertian yuridis. Konstitusi merupakan
suatu kesatuan kaidah yang hidup dalam masyarakat yang
selanjutnya dijadikan suatu kesatuan kaidah hukum.
3. Konstitusi pengertiannya lebih luas dari undang-undang
dasar. Konstitusi adalah yang ditulis dalam suatu naskah
sebagai undang-undang yang tertinggi yang berlaku dalam
suatu negara.

FXDP/2007 33
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

B. K.C. Wheare, mengartikan konstitusi sebagai “keseluruhan


sistem ketatanegaraan dari suatu negara, berupa kumpulan
peraturan yang membentuk, mengatur atau memerintah dalam
pemerintahan suatu negara”.
C. C.F. Strong, mengartikan konstitusi sebagai suatu kumpulan
asas-asas yang menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan
(arti luas), hak-hak dari pemerintah dan hubungan antara
pemerintah dan yang diperintah (menyangkut hak-hak asasi
manusia). Dengan demikian konstitusi merupakan kerangka
negara yang diorganisir dengan dan melalui hukum yang
menetapkan:
a) Pengaturan mengenai pendirian lembaga-lembaga yang permanen;
b) Fungsi-fungsi dari alat-alat perlengkapan negara;
c) Hak-hak tertentu yang atelah ditetapkan.

FXDP/2007 34
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

D. Prof. Prayudi Atmosudirdjo, merumuskan konstitusi


sebagai berikut:
1) Konstitusi suatu negara adalah hasil atau produk sejarah
dan proses perjuangan bangsa yang bersangkutan.
2) Konstitusi suatu negara adalah rumusan dari filsafat, cita-
cita, kehendak, dan perjuangan bangsa Indonesia.
3) Konstitusi adalah cermin dari jiwa, jalan pikiran, mentalitas,
dan keudayaan suatu bangsa.
 Konstitusi dapat diartikan secara luas dan sempit:
• Konstitusi (hukum dasar) dalam arti luas meliputi hukum
dasar tertulis dan tidak tertulis.
• Konstitusi (hukum dasar) dalam arti sempit adalah hukum
dasar tertulis yaitu undang-undang dasar. Dengan
pengertian ini, undang-undang dasar merupakan konstitusi
atau hukum dasar yang tertulis.

FXDP/2007 35
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat


disimpulkan bahwa pengertian konstitusi, adalah:
 Suatu kumpulan kaidah yang memberikan
pembatasan-pembatasan kekkuasaan kepada pra
penguasa.
 Suatu dokumen tentang pembagian tugas dan
sekaligus petugasnya dari suatu sustem politik.
 Suatu gambaran dari lembaga-lembaga negara.
 Suatu gambaran yang menyangkut masalah hak-hak
asasi manusia.

FXDP/2007 36
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Kedudukan Konstitusi
 Konstitusi secara umum berisi hal-hal yang mendasar
dari suatu negara yang berupa aturan-aturan dasar atau
norma-norma dasar yang dipakai sebagai pedoman
pokok negara.
 Pada hakikatnya, konstitusi itu berisi tiga hal pokok,
yaitu:
1) Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan
warga negaranya.
2) Ditetapkan susunan ketatanegaraan suatu negara yang
bersifat fundamental.
3) Adanya pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan
yang juga bersifat fundamental.

FXDP/2007 37
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Pada umumnya, konstitusi dalam setiap negara di dunia


memiliki kedudukan formal yang sama yaitu sebagai (a)
hukum dasar, dan (b) hukum tertinggi.
a) Konstitusi sebagai Hukum Dasar, karena berisi aturan dan
ketentuan tentang hal-hal yang mendasar dalam kehidupan
suatu negara. Jadi, konstitusi menjadi (a) dasar adanya dan
(b) sumber kekuasaan bagi setiap lembaga negara, serta
(c) dasar adanya dan sumber bagi isi aturan hukum yang
ada dibawahnya.
b) Konstitusi sebagai Hukum Tertinggi, aturan-aturan yang
terdapat dalam konstitusi, secara hirarkis mempunyai
kedudukan lebih tinggi terhadap aturan-aturan lainnya. Oleh
karenanya, aturan-aturan lain dibuat oleh pembentuk
undang-undang harus sesuai atau tidak bertentangan
dengan undang-undang dasar.

FXDP/2007 38
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Menurut Miram Budiardjo dalam bukunya Dasar-dasar


Ilmu Politik, konstitusi atau undang-undang dasar itu
memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a) Organisasi negara, misalnya pembagian kekuasaan antara
badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dalam negara
federal, pembagian kekuasaan antara pemerintah federal
(pusat) dengan pemerintah daerah (negara bagian), prosedur
penyelesaian masalah pelanggaran yiridiksi lembaga negara.
b) Hak-hak asasi manusia.
c) Prposedur mengubah undang-undang dasar.
d) Adakalanya memuat larangan untuk mengubah sifat-sifat
tertentu dari undang-undang dasar. Misalnya: dalam UUD
1945 dilarang mengubah bentuk negara Kesatuan.

FXDP/2007 39
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Konstitusi di suatu negara itu mempunyai sifat


membatasi kekuasaan pemerintah dan menjamin
hak-hak dasar warga negara. Oleh karena itu,
Konstitusi memiliki tiga tujuan, yaitu:
1) Memberi pembatasan sekaligus pengawasan
terhadap kekuasaan politik;
2) Melepaskan kontrol kekuasaan dari penguasa
sendiri;
3) Memberi batasan-batasan ketetapan bagi para
penguasa negara dalam menjalankan
kekuasaannya.

FXDP/2007 40
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Konstitusi negara memiliki fungsi, sebagai berikut:


1) Sebagai penentu atau pembatas kekuasaan negara.
2) Sebagai pengatur hubungan kekuasaan antarorgan negara.
3) Sebagai pengatur hubungan kekuasaan antara organ negara dengan
warga negara.
4) Sebagai pemberi atau sumber legitimasi terhadap kekuasaan negara
ataupun kegiatan penyelenggaraan kekuasaan negara.
5) Sebagai penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kekuasaan
yang asli kepada organ negara.
6) Sebagai sarana pemersatu (symbol of unity), sebagai rujukan identitas
dan keagungan kebangsaan (identity of nation) serta sebagai center of
ceremony.
7) Sebagai sarana pengendalian masyarakat (social control), baik di bidang
politik maupun bidang sosial-ekonomi.
8) Sebagai sarana perekayasaan dan pembaruan masyarakat (social
engineering dan social reform).

FXDP/2007 41
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

UUD 1945 sbg Konstitusi Negara


Indonesia
 Konstitusi negara Indonesia adalah UUD 1945, yang
disyahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945.
 Konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia:
1) UUD 1945: periode 18 Agustus 1945—27 Desember 1949.
(pembukaan, 16 bab, 37 pasal, 4 pasal aturan peralihan, 2
ayat aturan tambahan, dan bagian penejlasan)
2) UUD RIS: periode 27 Desember 1949—17 Agustus 1950. (6
bab, 197 pasal, dan beberapa bagian)
3) UUDS 1950: periode 17 Agustus 1950—5 Juli 1959. (6 bab,
146 pasal, dan beberapa bagian)
4) UUD 1945: pepriode 5 Juli 1959 – sekarang.

FXDP/2007 42
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Khusus periode keempat, berlaku UUD 1945,


dengan pembagian:
 UUD 1945 sebelum diamandemen.
 UUD 1945 sesudah diamandemen:
 Amandemen ke-1, pada sidang umum MPR, disahkan pada
19 Oktober 1999; (yang diubah sebanyak 9 pasal)
 Amandemen ke-2, pada sidang umum MPR, disahkan pada
18 Agustus 2000; (yang diubah sebanyak 25 pasal)
 Amandemen ke-3, pada sidang umum MPR, disahkan pada
10 Nopember 2001; (yang diubah sebanyak 23 pasal)
 Amandemen ke-4, pada sidang umum MPR, disahkan pada
10 Agustus 2002. (yang diubah sebanyak 13 pasal, 3 pasal
aturan peralihan, 2 pasal aturan tambahan).

FXDP/2007 43
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

 Amandemen atas UUD 1945 tersebut tidak


mengakibatkan konstitusi yang asli (UUD yang
asli) tidak berlaku lagi, karena sistem perubahan
UUD 1945 adalah dengan addendum, yaitu
menyisipkan bagian perubahan ke dalam naskah
UUD 1945.
 Dengan demikian naskah UUD 1945, terdiri atas:
 Naskah asli UUD 1945;
 Naskah perubahan pertama UUD 1945;
 Naskah perubahan kedua UUD 1945;
 Naskah perubahan ketiga UUD 1945;
 Naskah perubahan keempat UUD 1945.

FXDP/2007 44
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

Kenapa UUD 1945 di Amandemen?


 Dalam UUD 1945, pasal yang berkenaan dengan
cara perubahan adalah pasal 37, yang
mengandung tiga norma, yaitu:
1. Wewenang untuk mengubah UUD ada pada MPR;
2. Mengubah UUD, kuorum yang harus dipenuhi
sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR
hadir;
3. Putusan perubahan disetujui 2/3 dari jumlah yang
hadir.

FXDP/2007 45
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

FXDP/2007 46
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

FXDP/2007 47
UM10-080 PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN

FXDP/2007 48