Anda di halaman 1dari 53

Laporan Kasus

Citra Anggar Kasih Masang (112016011)


Oktarita G. Nenobais (112017036)
Identitas Pasien
• Nama : An. DMFH
• Umur : 16 Tahun
• Jenis Kelamin : Laki-Laki
• Alamat : Kp. Pedaengan RT 14/08
• Status Pendidikan : SMA
• Suku : Sunda
• Agama : Islam
• No. RM : 00-36-35-60
• Tanggal masuk : 21 November 2017
Anamnesis
Autoanamnesis dan Alloanamnesis dengan pasien dan ibu
pasien pada hari Rabu tanggal 29 November 2017 di
Ruang 612 Lantai 6B
• Keluhan Utama : Pegal pada tengkuk sejak 5 hari yang
lalu.

• Riwayat Penyakit Sekarang :

• Pasien mengeluh pegal pada tengkuk sejak 5 hari yang lalu. Tidak
ada sakit kepala, mual, muntah, demam dan riwayat trauma.
• 2 minggu yang lalu pasien mengeluh nyeri pada kepala dan
tengkuk yang terus menerus dan memburuk bila digerakkan.
Tidak ada riwayat trauma. Tidak ada keluhan pusing, demam,
batuk, keringat malam, penurunan berat badan, mual, dan
muntah. BAB dan BAK tidak ada gangguan.
Anamnesis
• Riwayat penyakit sekarang:
• 1 minggu yang lalu nyeri yang dirasakan lebih berat sehingga pasien segera di
bawa oleh keluarga ke RS Firdaus dan di rujuk ke RSUD Koja. Riwayat trauma
disangkal oleh pasien. Pasien juga mengeluh demam yang terus-menerus
sejak 1 minggu yang lalu. Tidak ada batuk, keringat malam, penurunan berat
badan, pusing, mual dan muntah. BAB dan BAK tidak ada gangguan. Ibu
pasien mengatakan bahwa pasien sedang menjalankan pengobatan TB di RS
Firdaus sejak 2 minggu sebelum masuk RSUD koja.
Anamnesis
• Riwayat penyakit dahulu:
• Sebelumnya pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini.
• Riwayat Pribadi:
• Pasien mempunyai riwayat merokok waktu SMP (3 tahun yang lalu), merokok
sebanyak 3 batang/hari. Makan 3x/hari dan nafsu makan baik, kebersihan
tubuh selalu terjaga dengan mandi 2x/hari.
• Ibu pasien mengaku imunisasi pasien sudah lengkap.
• Riwayat Keluarga:
• Pasien mengaku dikeluarganya tidak ada yang menderita sakit seperti ini, TB (-
), HT (-), DM (-), Jantung (-).
Anamnesis
• Riwayat Sosial:
• Pasien tinggal di pondok (Asrama) yang satu kamar berisi 10 orang dan di
lingkungan tersebut tidak ada yang menderita sakit seperti ini, TB (-).
Status Generalis
• Keadaan umum : tampak sakit ringan
• Tanda-tanda vital:
• Tekanan darah : 130/70 mmHg
• Frekuensi nadi : 86x/menit
• Frekuensi nafas : 20x/menit
• Suhu : 36,5oC
• Berat badan : 38 kg
• Tinggi badan : 165 cm
• IMT : 14,0 kg/ m2 (Kurang)
Status Generalis
• Kepala : normocephal
• Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar (-), lesi (-)
• Thorax :
Keadaan statis maupun dinamis simetris, retraksi sela iga (-), lesi (-)
• Jantung:
• Ictus kordis tidak tampak, batas jantung tampak normal, BJ I-II murni regular, murmur (-),
gallop (-)
Status Generalis
• Paru: Suara napas vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
• Abdomen:
• Datar, supel (+), nyeri tekan (-), BU (+), bekas luka operasi (-).
• Ekstremitas:
• Nyeri (-), lesi (-), deformitas (-),hemiparesis(-)
Status Neurologis
• Glasgow Coma Scale :
• E: 4 M: 6 V: 5 ( 15 )
• Tanda rangsangan meningeal:
• Kaku Kuduk: (+)
• Laseq: (-) / (-)
• Kernig: (-) / (-)
• Brudzinsky I: (-)
• Brudzinsky II: (-) / (-)
Nervus Cranialis
• Nervus I (Olfactory nerve)
Kanan Kiri
Penghidu Normosmia Normosmia

• Nervus II (Optic nerve)


KANAN KIRI

Visus Normal 6/6 Normal 6/6

Pengenalan Warna Normal Normal

Lapang Pandang Normal Normal

Ukuran pupil 3 mm 3 mm

Bentuk pupil Bulat Bulat

Kesamaan pupil Isokor


Refleks cahaya
langsung Positif Positif
Refleks cahaya
konsensual Positif Positif
Nervus Cranialis
• Nervus III, IV, VI

Kanan Kiri
Ptosis (-) (-)
Gerak mata normal normal
Sela mata 4 cm 4 cm
Strabismus (-) (-)
Diplopia (-) (-)
Nistagmus (-) (-)
Eksoftalmus (-) (-)
Nervus Cranialis
• Nervus V (Trigeminal nerve)

Kanan Kiri
Sensibilitas muka atas, Normal Normal
tengah, bawah

Menggigit Normal Normal


Membuka mulut Normal Normal
Mengunyah Normal Normal
Refleks kornea Normal Normal
Refleks bersin Normal Normal
Jaw-jerk test Normal Normal
Nervus Cranialis
• Nervus VII (Facial nerve)

Kanan Kiri
Mengerutkan dahi Normal Normal
Menutup mata Normal Normal
Memperlihatkan gigi Normal Normal
Lekukan nasolabialis Normal Normal
Mencembungkan pipi Normal Normal
Daya kecap lidah 2/3 Normal Normal
depan
Nervus Cranialis
• Nervus VIII (Vestibulocochlear nerve)

Kanan Kiri
Mendengar suara Normal Normal
berbisik
Mendengar detik arloji Normal Normal
Test Rinne Normal Normal
Test Weber Tidak ada lateralisasi Tidak ada lateralisasi
Test Schwabach Sama dengan Sama dengan
pemeriksa pemeriksa
Kesan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
Nervus Cranialis
• N. IX (Glossopharyngeal nerve) dan N. X (Vagus nerve)
• Arkus faring : Normal
• Daya kecap lidah 1/3 belakang : Normal
• Refleks muntah : Normal
• Fonasi : Normal
• Nervus XI (Accessory nerve)

Kanan Kiri
Memalingkan kepala Normal Normal
Mengangkat bahu Normal Normal
Nervus Cranialis
• Nervus XII (Hypoglossal nerve)
• Tremor : Tidak ada
• Fasikulasi : Tidak ada
• Atrofi papil lidah: Tidak ada
• Pergerakan lidah: Normal
• Artikulasi : Normal
Sistem Motorik

Anggota Gerak Atas


Kanan Kiri
Tremor Tidak ada Tidak ada
Fasikulasi Tidak ada Tidak ada
Trofi Normotrofi Normotrofi
Gerakan involunter Tidak ada Tidak ada
Tonus otot Normotonus Normotonus
Kekuatan otot 5 5
Sistem Motorik

Anggota Gerak Bawah


Kanan Kiri
Tremor Tidak ada Tidak ada
Fasikulasi Tidak ada Tidak ada
Trofi Normotrofi Normotrofi
Gerakan involunter Tidak ada Tidak ada
Tonus otot Normotonus Normotonus
Kekuatan otot 5 5
Sistem Sensorik

Sensibilitas Tangan Kaki


Kanan Kiri Kanan Kiri
Taktil Normal Normal Normal Normal
Nyeri Normal Normal Normal Normal
Suhu Normal Normal Normal Normal
Vibrasi Normal Normal Normal Normal
Diskriminasi 2 Normal Normal Normal Normal
titik
Refleks Fisiologis

Refleks Kanan Kiri


Biceps + +
Triceps + +
Knee patella + +
Achilles + +
Refleks kulit perut + +
Refleks Patologis

Refleks Kanan Kiri


Hoffman - -
Tromner - -
Babinski - -
Chaddock - -
Oppenheim - -
Schaeffer - -
Gordon - -
Mendell - -
Rossolimo - -
• Klonus
Kanan Kiri
Patella - -
Achilles - -

• Fungsi cerebellum
• Cara berjalan : Normal
• Tes Romberg : Tidak goyang
• Ataksi : Tidak ada
• Rebound fenomen : Tidak ada
• Dismetri
• Tes telunjuk-hidung : Normal
• Test tumit-lutut : Normal
• Disdiadokhokinesis : Normal
Gerak Abnormal
• Tremor : (-)
• Athetose : (-)
• Mioklonik : (-)
• Chorea : (-)
Alat vegetatif
• Miksi : normal
• Defekasi : normal
• Refleks anal : pasien menolak
• Refleks kremaster : pasien menolak
• Refleks bulbokavernosa: pasien menolak
Fungsi luhur
• Orientasi : baik
• Afasia : tidak ada
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
• Darah rutin ( RS. Firdaus, 20 November 2017 )

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


Hemoglobin 13,6 g/dL 12.5-16.0
Leukosit 17.600/uL 5.000-10.000
Hematokrit 43,9 % 36-48
Trombosit 355.000/uL 200.000-400.000
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
• Darah rutin ( RSUD Koja, 21 November 2017 )

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


Hemoglobin 15,3 g/dL 12.5-16.1
Leukosit 11.550/uL 4.000-10.500
Hematokrit 40,9 % 36-47
Trombosit 386.000/uL 163.000-337.000
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
• Kimia darah
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Natrium/ Na 131 mEq/L 135-147
Kalium/ K 2.44 mEq/L 3.5-5.0
Klorida/ Cl 102 mEq/L 96-108
Glukosa sewaktu 184 mg/dL 60-100
Foto rontgen thorax AP ( 14 November 2017 )

- Cor Tidak Membesar


- Sinus dan Diafragma Normal
- Pulmo:
 Hillus normal
 Corakan bronkovaskular bertambah
 Tampak infiltrat minimal di perihiler
lapang atas paru kanan
 Soft tissue dan skeletal normal
- Kesan : Susp TB paru
CT-scan cerebral dengan kontras ( 22 November
2017 )
Ringkasan
• Pasien mengeluh pegal pada leher saat di gerakan sejak 5
hari yang lalu. 2 minggu sebelum masuk rumah sakit
pasien mengeluh sakit kepala dan nyeri pada tengkuk
yang dirasakan terus-menerus. 1 minggu yang lalu nyeri
yang dirasakan lebih berat sehingga pasien segera dibawa
oleh keluarga ke RS Firdaus dan di rujuk ke RSUD Koja.
Riwayat trauma pada kepala disangkal oleh pasien. Pasien
mengeluh demam yang terus-menerus sejak 1 minggu
yang lalu.
• Ibu pasien mengatakan bahwa pasien sedang
menjalankan pengobatan TB di RS Firdaus sejak 2 minggu
sebelum masuk RSUD koja.
• Pasien tinggal di pondok (Asrama) yang satu kamar berisi
10 orang
• Pada pemeriksaan fisik di dapatkan IMT rendah dan kaku
kuduk (+) dan pemeriksaan penunjang terdapat
leukositosis dan suspect TB paru pada gambara radiologi
Assesment
• Diagnosis:
• Diagnosis Klinis : Celpagia
• Diagnosis Topis : Meningens
• Diagnosis Etiologis : Suspect Meningitis TB
• Diagnosis Patologis : Infeksi Meningens
Planning
• Diagnostik
• Pemeriksaan Lumbal punksi
• Pemeriksaan Mantoux Test
• Terapi
• Infus RL 1000 cc/24 jam
• Citicolin 2x500 mg (IV)
• Dexametason 3x5 mg (IV)
• Ranitidi 2x1 amp (IV)
Planning
• Monitoring
• Monitor TTV, kesadaran dan keadaan umum
• Monitor defisit neurologi
• Edukasi
• Memberikan penjelasan tentang penyakit yang diderita
• Memberitahu untuk minum obat yang teratur
Prognosis
• Ad vitam : dubia ad bonam
• Ad functionam : dubia ad bonam
• Ad sanationam : dubia ad bonam
Follow up
• Pada tanggal 30 November 2017
• S : OS merasa pegal pada tengkuk mulai berkurang, sakit
kepala (-), Pusing (-)
• O:
Pemeriksaan Hasil
-Glasgow Coma Scale E4V5M6
(GCS)
-Tanda-tanda Vital
Tekanan darah 129/ 77 mmHg
Frekuensi nadi 78 kali/ menit
Frekuensi nafas 20 kali/ menit
Suhu 36oC
-Refleks fisiologis
APR +
KPR +
Biceps +
Triceps +

• A : Susp. Meningitis TB -Kekuatan motorik

• P: Terapi lanjut 5 5
5 5
-Sensorik Normal
Follow up
• Pada tanggal 2 Desember 2017
• S :-
• O:

Pemeriksaan Hasil
-Glasgow Coma Scale E4V5M6
(GCS)
-Tanda-tanda Vital
Tekanan darah 129/ 77 mmHg
Frekuensi nadi 78 kali/ menit
Frekuensi nafas 20 kali/ menit
Suhu 36oC
-Refleks fisiologis
APR +
KPR +
Biceps +
Triceps +
-Kekuatan motorik
• A : Meningitis TB 5 5

• P: Terapi lanjut 5 5
-Sensorik Normal
Tinjauan Pustaka
DEFINISI

• Meningitis tuberkulosis merupakan peradangan pada selaput otak


(meningen) yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberkulosis Penyakit ini merupakan salah satu bentuk komplikasi
yang sering muncul pada penyakit tuberkulosis paru.
Tinjauan Pustaka
EPIDEMIOLOGI
• Meningitis TB  paling banyak menyebabkan kematian dibanding jenis-
jenis TB lain
• Meningitis TB  semua umur, anak-anak lebih sering dibanding dewasa
 jarang umur < 6 bulan  sering anak umur 6 bulan-4 tahun.
• Di Amerika Serikat yang bukan negara endemis TB---1% dari semua
kasus
• Di Indonesia, meningitis tuberkulosis masih banyak ditemukan
• Meningitis tuberkulosis menyerang 0,3% anak yang menderita
tuberkulosis yang tidak diobati.
• Angka kematian pada meningitis tuberkulosis berkisar antara 10-20%.
BTA masuk tubuh

Tersering melalui inhalasi
Jarang pada kulit, saluran cerna
Patofisiologi ↓
Multiplikasi
Meningitis TB ↓
Infeksi paru / focus infeksi lain

Penyebaran hematogen

Meningens

Membentuk tuberkel

BTA tidak aktif / dormain
Bila daya tahan tubuh menurun

Rupture tuberkel meningen

Pelepasan BTA ke ruang subarachnoid

MENINGITIS
Manifestasi Klinis

Stadium 1 Demam (tidak terlalu tinggi), nafsu makan menurun, nyeri perut, sakit
kepala, gangguan tidur, mual, muntah.

Stadium II Adanya kelainan neurologik, disorientasi, bingung, kejang, tremor,


hemiparesis dan penurunan kesadaran.

Stadium III Pernafasan irregular, edema papil, hiperglikemia, kesadaran semakin menurun, otot
ekstensor menjadi kaku dan spasme.
Tinjauan Pustaka
DIAGNOSIS

• Anamnesis  riwayat kontak dengan penderita TB, keadaan sosio-


ekonomi, imunisasi, gejala-gejala khas meningitis TB (muntah hebat,
nyeri kepala progresif)

• Tes tuberkulin terutama  bayi dan anak kecil. Hasilnya sering negatif 
reaksi anergi, terutama pada stadium terminal. Uji tuberkulin yang tidak
reaktif ada pada sampai 50% kasus
Tinjauan Pustaka
Pemeriksaan fisik

• Pada pemeriksaan didapatkan kaku kuduk, suhu badan naik turun,


kadang-kadang suhu malah merendah, nadi sangat labil, lebih sering
dijumpai nadi yang lambat, hiperestesi umum, abdomen tampak
mencekung, afasia motorik atau sensoris, reflek pupil yang lambat dan
reflek tendon yang lemah
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain:


• Darah lengkap
• Uji tuberculin
• Radiologi
• Pungsi cairan otak dan tulang belakang / liquor cerebrospinalis
(dengan cara pungsi lumbal)
Pemeriksaan radiologi
• Foto toraks : secara umum, gambaran radiologis yang sugestif TB
adalah sebagai berikut :
• Pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan/ tanpa infiltrat
• Konsolidasi segmental/lobar
• Milier
• Kalsifikasi dengan infiltrat
• Atelektasis
• Kavitas
• Efusi pleura
Pemeriksaan CT-Scan
• Dapat digunakan untuk diagnosis meningitis tuberkulosis, kelainan
yang nampak adalah :
• Tuberkuloma, dapat mengalami perkapuran dan kadang terlihat suatu
“mass effect”
• Hidrosefalus, terlihat dari pelebaran ventrikel.
• Gambaran penyerapan abnormal dari kontras pada sisterna basalis.
• Infark
Penatalaksanaan

• Pengobatan meningitis tuberkulosis harus tepat dan adekuat,


termasuk kemoterapi yang sesuai, koreksi gangguan cairan dan
elektrolit, dan penurunan tekanan intrakranial.
• Terapi harus segera diberikan tanpa ditunda bila ada kecurigaan klinis
ke arah meningitis tuberkulosis. Terapi diberikan sesuai dengan
konsep baku tuberkulosis
1. Fase intensif selama 2 bulan dengan 4 sampai 5 obat anti
tuberkulosis, yakni isoniazid, rifampisin, pirazinamid, streptomisin,
dan etambutol.
2. Terapi dilanjutkan dengan 2 obat anti tuberkulosis, yakni isoniazid
dan rifampisin hingga 12 bulan.
3. Steroid yang dipakai adalah prednison dengan dosis 1-2
mg/kgBB/hari, selama 4-6 minggu, setelah itu dilakukan penurunan
dosis secara bertahap (tappering off) selama 4-6 minggu sesuai
dengan lamanya pemberian steroid.
Komplikasi
• Komplikasi yang paling menonjol dari meningitis tuberkulosis adalah
gejala sisa neurologis (sekuele).
• Sekuele terbanyak adalah paresis spastik, kejang, paraplegia, dan
gangguan sensori ekstremitas.
• Sekuele minor dapat berupa kelainan saraf otak, nistagmus, ataksia,
gangguan ringan pada koordinasi, dan spastisitas.
Prognosis
• Prognosis pasien berbanding lurus dengan tahapan klinis saat pasien
didiagnosis dan diterapi. Semakin lanjut tahapan klinisnya, semakin
buruk prognosisnya.
Kesimpulan
Meningitis tuberkulosis merupakan peradangan pada selaput otak
(meningen) yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis.
Pengobatan meningitis tuberkulosis harus tepat dan adekuat, termasuk
kemoterapi yang sesuai, koreksi gangguan cairan dan elektrolit, dan
penurunan tekanan intrakranial. Terapi harus segera diberikan tanpa
ditunda bila ada kecurigaan klinis ke arah meningitis tuberkulosis.