Anda di halaman 1dari 10

Klaim dan Kontrak Konstruksi

di Indonesia
Pendahuluan
• Ada fenomena bahwa posisi Penyelia Jasa dipandang lebih lemah daripada posisi
Pengguna Jasa. Dengan kata lain posisi Pengguna Jasa lebih dominan dari pada posisi
Penyedia Jasa. Penyedia Jasa hampir selalu harus memenuhi konsep/draf kontrak yang
dibuat Pengguna Jasa karena Pengguna Jasa selalu menempatkan dirinya lebih tinggi dari
Penyelia Jasa. Mungkin hal ini diwarisi dari pengertian bahwa dahulu Pengguna Jasa
disebut Bouwheer (Majikan Bangunan) sehingga sebagimana biasa “majikan” selalu lebih
“kuasa”. Hal ini terjadi pada masa lalu sampai sekarang. Peraturan perundang-undangan
yang baku untuk mengatur hak-hak dan kewajiban para pelaku industri jasa konstruksi
sampai lahirnya Undang-Undang No. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi, belum ada
sehingga asas “Kebebasan Berkontrak” sebagaimana diatur oleh Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata (KUHPer) Pasal 1338 dipakai sebagai satu-satunya asas dalam
penyusunan kontrak. Dengan posisi yang lebih dominan, Pengguna Jasa lebih leluasa
menyusun kontrak dan ini dapat merugikan Penyedia Jasa. (Nazarkhan Yasin. 2003,
Mengenal Kontrak Konstruksi di Indonesia).
SEBAB TERJADINYA KLAIM
Sesungguhnya dengan mengetahui sebab-sebab dari suatu klaim, para pihak selaku pelaksana
industri jasa konstruksi dengan pikiran jernih dapat menempatkan masalah klaim secara wajar dan
proporsional dan tak perlu merasa canggung atau alergi. Pendapat beberapa penulis:
• Prof. H. Priyatna Abdurrasyid, beberapa sebab utama terjadinya klaim: Informasi design yang
tidak tepat, Informasi design yang tidak sempurna, Investigasi lokasi yang tidak sempurna, Reaksi
klien yang lambat, Komunikasi yang buruk, Sasaran waktu yang tidak realistis, Administrasi
kontrak yang tidak sempurna, Kejadian eksternal yang tidak terkendali, Informasi tender yang
tidak lengkap, Alokasi risiko yang tidak jelas, Keterlambatan – ingkar membayar. Kebanyakan
sengketa/ketidaksepakatan dibidang jasa konstruksi pada umumnya dapat diselesaikan melalui
negosiasi/mediasi diluar pengadilan karena kontruksi merupakan kegiatan yang berkelanjutan
dari awal sampai akhir. Melempar masalah kepengadilan berarti menghentikan pembangunan
untuk jangka waktu yang tidak bisa diperhitungkan. Tapi negosiasi atau mediasi pun dapat tidak
berfungsi/gagal.
Menurut Robert D. Gilbreath, sebab-sebab terjadinya klaim:
1.Pekerjaan yang cacat.
Para pengguna jasa yang tidak puas dengan apa yang dihasilkan penyedia jasa dapat mengajukan klaim atas kerugian
termasuk biaya perubahan, penggantian atau pembongkaran pekerjaan yang cacat. Dalam banyak kejadian, pekerjaan yang
tidak diselesaikan sesuai dengan spesifikasi yang disebut dalam kontrak atau hal lain yang tidak cocok dengan maksud yang
ditetapkan. Kadang-kadang barang-barang atau jasa yang diminta tidak sesuai dengan garansi/jaminan yang diberikan
penyedia jasa atau pemasok bahan.
2.Kelambatan yang disebabkan penyedia jasa.
Jika penyedia jasa berjanji melaksanakan pekerjaan tersebut, dalam waktu yang telah ditetapkan, pengguna jasa dapat
mengajukan klaim atas kerugian bila keterlambatan tersebut disebabkan penyedia jasa atau dalam kejadian lain, bahkan jika
keterlambatan tersebut diluar kendali dari penyedia jasa. Jenis-jenis klaim kerugian dalam hal ini adalah kehilangan
kesempatan penggunaan dari fasilitas tersebut, pengaruh reaksi terhadap penyedia jasa lain dan kenaikan biaya dari
pekerjaan lain yang terlambat.
3.Sebagai klaim tandingan.
Para pengguna jasa yang menghadapi klaim-klaim para penyedia jasa dapat membalasnya dengan klaim tandingan. Klaim
tandingan biasanya menyerang atau berusaha memojokan/mendiskreditkan unsure-unsur asli dari klaim penyedia jasa,
dengan membuka hal-hal yang tumpang tindih atau perangkap kerugian biaya atau menyebutkan perubahan-perubahan atau
pasal-pasal klaim dalam kontrak yang melarang atau modifikasi dari tindakan-tindakan penyedia jasa dalam hal terjadinya
sengketa. Kebanyakan klaim yang ditemukan dalam proyek konstruksi datang dari penyedia jasa terhadap pengguna jasa
karena satu dan lain sebab. Perubahan- perubahan tidak resmi adalah sebagai berikut:
UNSUR-UNSUR KLAIM
Menurut Robert D Gilbreath, unsur-unsur klaim konstruksi tersebut adalah:
• Tambahan upah, material, peralatan, pengawasan, administrasi, overhead
dan waktu.
• Pengulangan pekerjaan (bongkar/pasang).
• Penurunan prestasi kerja.
• Pengaruh iklim.
• De-mobilisasi dan Re-mobilisasi.
• Salah penempatan peralatan.
• Penumpukan bahan.
• De-efisiensi jenis pekerjaan.
Kategori klaim
Dari pengguna jasa terhadap penyedia jasa:
• Pengurangan nilai kontrak.
• Percepatan waktu penyelesaian pekerjaan
• Kompensasi atas kelalaian penyedia jasa

Dari penyedia jasa terhadap pengguna jasa:


• Tambahan waktu pelaksanaan pekerjaan
• Tambahan kompensasi
• Tambahan konsesi atas pengurangan spesifikasi teknis atau bahan.

Dari Sub penyedia jasa atau pemasok bahan terhadap penyedia jasa utama
Jenis-jenis klaim

• Klaim tambahan biaya dan waktu; Diantara beberapa jenis klaim, akan ditinjau 2 (dua) jenis
klaim yang sering terjadi yaitu klaim yang timbul akibat keterlambatan penyelesaian
pekerjaan. Klaim jenis ini biasanya mengenai permintaan tambahan waktu dan tambahan
biaya.
• Klaim biaya tak langsung (Overhead); Selain itu terdapat pula jenis klaim lain sebagai akibat
kelambatan tadi, klaim atas biaya tak langsung (overhead). Penyedia jasa yang terlambat
menyelesaikan suatu pekerjaan karena sebab-sebab dari pengguna jasa, meminta tambahan
biaya overhead dengan alasan biaya ini bertambah karena pekerjaan belum selesai.
• Klaim tambahan waktu (tanpa tambahan biaya); Walaupun klaim kelembatan kelihatannya
sederhana saja, namun dalam kenyataannya tidak demikian. Misalnya penyedia jasa hanya
diberikan tambahan waktu pelaksanaan tanpa tambahan biaya karena alasan-alsan tertentu.
• Klaim kompensasi lain; Dilain kejadian penyedia jasa selain mendapatkan tambahan waktu
mendapatkan pula kompensasi lain.
SENGKETA KONSTRUKSI
• Sengketa konstruksi adalah sengketa yang terjadi sehubungan dengan
pelaksanaan suatu usaha jasa konstruksi antara para pihak yang
tersebut dalam suatu kontrak konstruksi yang di dunia Barat disebut
construction dispute. Sengketa konstruksi yang dimaksudkan di sini
adalah sengketa di bidang perdata yang menurut UU no.30/1999
Pasal 5 diizinkan untuk diselesaikan melalui Arbitrase atau Jalur
Alternatif Penyelesaian Sengketa. (Nazarkhan Yasin. 2004, Mengenal
Klaim Konstruksi dan Penyelesaian Sengketa Konstruksi)
• Sengketa konstruksi dapat timbul antara lain karena klaim yang tidak
dilayani misalnya keterlambatan pembayaran, keterlambatan
penyelesaian pekerjaan, perbedaan penafsiran dokumen kontrak,
ketidak mampuan baik teknis maupun manajerial dari para pihak.
Selain itu sengketa konstruksi dapat pula terjadi apabila pengguna
jasa ternyata tidak melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dengan
baik dan mungkin tidak memiliki dukungan dana yang cukup. Dengan
singkat dapat dikatakan bahwa sengketa konstruksi timbul karena
salah satu pihak telah melakukan tindakan cidera (wanprestasi atau
default).
PENYELESAIAN SENGKETA

Sengketa konstruksi dapat diselesaikan melalui beberapa pilihan yang disepakati oleh para pihak
yaitu melalui :
• Badan Peradilan (Pengadilan);
• Arbitrase (Lembaga atau Ad Hoc);
• Alternatif Penyelesaian Sengketa (konsultasi, negosiasi, mediasi, konsilisasi).

Penyelesaian sengketa harus secara tegas dicantumkan dalam kontrak konstruksi dan sengketa yang
dimaksud adalah sengketa perdata (bukan pidana). Misalnya, pilihan penyelesaian sengketa
tercantum dalam kontrak adalah Arbitrase. Dalam hal ini pengadilan tidak berwenang untuk
mengadili sengketa tersebut sesuai Undang-Undang No.30/1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa Pasal 3.