Anda di halaman 1dari 29

Hormon Antidiuretik

Hormon Antidiuretik
• 260110160088 Frita Karisma A
• 260110160090 Kiki Ikrima
• 260110160091 Tengku Ruhul Fajria
• 260110160092 Dinda Nur ‘Afra
• 260110160093 Amaliah Ihsani
• 260110160094 Nalia El-Huda Ismail
• 260110160095 Falen Novita Dewi
• 260110160096 Athiyagusti Ponco Putri
• 260110150053 Wenni H.P Pakpahan
Definisi

Hormon antidiuretik (ADH) adalah hormon yang dihasilkan


oleh hipotalamus dan disekresi ke dalam sirkulasi umum
oleh kelenjar hipofisis posterior yang bekerja pada duktus
koligentes ginjal untuk meningkatkan reabsorpsi
(penghematan) air dan memungkinkan ekresi urin yang
pekat
(Horne M.M, dan Pamela L.S, 1995)
Fungsi Hormon Antidiuretik
• Mengatur kepekatan urin sehingga menyebabkan
pembentukan urin yang hipotonis atau hipertonis,
bergantung pada kebutuhan tubuh terhadap air.
• Merangsang penyerapan kembali air pada dinding tubulus
ginjal sehingga mengurangi hilangnya air dalam urin dan
menghemat keluarnya air dalam tubuh bersama urin.
• Meningkatkan permeabilitas dinding saluran konvolusi distal
dan dinding saluran pengumpul pada ginjal
(Pujiyanto, 2012)
Fisiologi Hormon Antidiuretik
AVP berikatan dengan tiga jenis reseptor. Reseptor V1
berlokalisasi di daerah otot polos, platelet, dan hepatosit
melalui protein G yang berpasangan karena proses fosforilasi.
Kompleks AVP-V1R menyebabkan vasokonstriksi,
peningkatan kontraktilitas miokardial, agregasi platelet,
glikogenolisis, dan kontraksi uterin. Reseptor V3 juga beraksi
melalui protein G terfosforilasi sehingga menyebabkan
pelepasan hormon adenokortikotropik (ACTH) dari hipofisis
anterior. Pengaturan utama homesostatasis air adalah melalui
reseptor V2 (V2R) yang terletak paling banyak di duktus
kolektivus, yang mana melalui mekanisme ini dapat terjadi
peningkatan permeabilitas air melalui transporter air
Aquaporin 2 (AQP 2). (Girish dan Surya, 2012)
AQP 2 ditemukan di membran apikal duktus kolektivus
korteks dan aksinya dikendalikan oleh AVP. Respon dari
pelepasan AVP adalah peningkatan permeabilitas air di daerah
duktus kolektivus, dimana teradapat ikatan antara AVP dengan
V2R di daerah membran basolateral dan mengaktivasi protein
kinase A (PKA) melalui peningkatan cAMP. Pada akhirnya
proses tersebut akan menyebabkan insersi AQP 2 terfosforilasi
dari vesikel subapikal ke dalam membran luminal dari duktus
kolektivus. Peningkatan jumlah channel AQP 2 akan
meningkatkan permeabilitas air di epitelium duktus kolektivus.
Ion kalsium intraseluler juga berperan dalam mengatur relokasi
AQP 2 dari intraseluler ke membran luminal dari sel-sel
prinsipal duktus kolektivus. Setelah absorbsi air berakhir ,
molekul AQP 2 akan kembali ke intraseluler dan tersimpan di
dalam sel hingga nantinya dapat terekspresi kembali jika
terstimulasi melalui mekanisme vasopresin-PKA-cAMP. (Girish
dan Surya, 2012)
Sekresi Hormon Antidiuretik
Sekresi vasopressin diatur oleh beberapa mekanisme yaitu:
a. Konsep osmoreseptor yang diduga terletak di daerah nukleus
hipotalamus
Perubahan osmolalitas dipicu oleh osmoreseptor yang terletak di
regio spesifik dari hipotalamus, yakni di Oranum Vasculosum Lamina
Terminalis (OVLT) dan sub fornical organ (SFO). Ketika terjadi keadaan
hipernatremia, reseptor-reseptor dalam area tersbut ikut teraktivasi,
menghasilkan sensasi rasa haus dan memicu terjadinya intake air yang
meningkat. Lebih jauh lagi, neuron-neuron yang terdapat dalam OVLT
dan SFO mengirim sinyal ke area nukleus supraoptikus dan
paraventrikular, dimana AVP diproduksi. Neuron-neuron ini memicu
kelenjar hipofisis posterior dimana nantinya AVP dilepaskan dalam
vaskularisasi darah dan mempengaruhi ginjal sebagai pengatur
homeostasis air dalam tubuh. (Michelle and Peter, 2008)
b. Konsep reseptor volume, yang terletak di atrium kiri dan vena pulmonalis.
Bila terjadi penurunan volume darah yang beredar, misalnya akibat
perdarahan hebat akan terjadi perangsangan sekresi ADH; sebaliknya bila
volume darah yang beredar bertambah banyak maka sekresi ADH ditekan.
c. Selain kedua macam mekanisme diatas, sekresi vasopressine meningkat
akibat stress emosional atau fisik, atau obat seperti nikotin, klofibrat,
siklofosfamid, anti depressan trisiklik, karbamazepin, dan diuretik.
Sebaliknya sekresi ADH dihambat oleh alkohol dan fenitoin. (Michelle and
Peter, 2008)
Struktur ADH dan Oksitosin

• ADH dan oksitosin masing-masing memiliki sembilan (9) asam


amino.
• Masing-masing memiliki residu sistein pada posisi asam amino
1 dan 6. residu sistein ini membentuk ikatan disulfida yang
menciptakan cincin asam amino 6 siklik dengan 3 residu as.
Amino yang menggangtung.
• ADH dan oxytoxin memiliki asam amino yang umum dan
hanya berbeda pada posisi 3 dan 8. Oxytoxin adalah
isoleucine-3 dan leucine-8 sedangkan ADH adalah
phenylalanine-3 dan arginine-3
(Messer, 2000).
(Messer, 2000).
Hormon Antidiuretik

• ADH dirilis oleh neurohipofisis untuk mengatur keseimbangan


air dan osmolaritas.
• Vasopressin adalah nonapeptida yang terdiri dari cincin enam
asam amino dengan sistein 1 ke sistein 6 membentuk
jembatan disulfida
• vasopresin dan vasokonstriktor bekerja pada sauran ginjal
untuk meningkatkan reabsorpsi air, meningkatkan vol darah,
dan tek darah
• Mereka disintesis di hipotalamus (nukleus supraoptik untuk
ADH dan nukleus paraventrikular untuk oksitosin (Messer,
2000).
• ADH dan oksitosin terikat pada pembawa protein
yang disebut neurofisin. Neurofisin adalah protein
pengikat spesifik hormon yang membentuk
kompleks dimerik dengan hormon antidiuretik
(ADH/vasopressin; ADH-neurophysin) atau
oksitosin (oksitosin-neurofisin).
• Neurofisin berasal dari pengolahan prekursor yang
lebih besar yang sama dengan hormon yang diikat
• Dimer hormon neurofisin dibungkus dalam neuron
dengan bentuk butiran yang bisa dilihat dengan
cara mikroskopis. Mereka disampaikan dengan
transportasi intraseluler (sel saraf, bukan oleh vena
portal) ke terminal saraf di hipofisis posterior. Isi
granula (yang berupa butiran) dilepaskan ke dalam
sirkulasi umum baik dari terminal yang berakhir
langsung pada sel-sel endotel kapiler atau sel yang
menyatu dengan dinding pembuluh darah (Messer,
2000).
Reseptor, Mekanisme, dan Tindakan

• ADH memiliki dua jenis reseptor. V1 (untuk reseptor vasopresin


1) ditemukan dalam otot polos pembuluh darah sementara V2,
yang bekerja dengan aktivasi adenilat siklase, ditemukan di
ginjal.
• ADH yang mengikat reseptor V2 di ginjal meningkatkan kadar
adenosine monophospahte (cAMP) siklik yang pada gilirannya
meningkatkan permeabilitas air tubulus ginjal. Peningkatan
resorpsi air oleh tubulus ginjal, dapat menurunkan volume urin
dan meningkatkan osmolalitas urin.
• ADH yang mengikat reseptor V2 pada otot polos di saluran
pencernaan menyebabkan gerak peristaltik (gelombang
kontak).
• Agonis ADH, seperti desmopressin®, dAVP,
meningkatkan tekanan darah dan diindikasikan untuk
digunakan hanya selama operasi perut. Obat-obatan
yang bekerja melalui sistem saraf simpatetik untuk
meningkatkan resistensi perifer tanpa mengurangi aliran
darah koroner adalah pilihan yang lebih baik untuk
pengobatan tekanan darah rendah (Messer, 2000).
Sekresi Abnormal
ADH
Sekresi ADH

• Sekresi ADH dapat juga ditingkatkan atau diturunkan oleh


stimulus lain terhadap sistem saraf pusat dan oleh berbagai obat
dan hormon. Misalnya nausea adalah stimulus yang kuat untuk
pelepasan ADH, yang dapat meningkat sampai sebanyak 100 kali
normal setelah muntah. Juga, obat-obatan seperti nikotin dan
morfin merangsang pelepasan ADH, sedangkan beberapa obat,
seperti alkohol, menghambat pelepasan ADH.
• Pelepasan ADH juga dikontrol oleh refleks-refleks kardiovaskular
yang berespons terhadap penurunan tekenan darah dan/atau
volume darah, meliputi refleks baroreseptor arterial dan refleks
kardiopulmonal.
Hiposekresi

• Hiposekresi hormon ADH, mengakibtkan Diabetes melitus,


yang ditandai dengan rasa haus yang berlebihan serta produksi
urine yang berlebihan. Hal ini terjadi karena karusakan pada
hipotalamus (lobus posterior) atau karena kegagalan ginjal
dalam merespon ADH.
• Salah satu rangsangan yang menyebabkan sekresi ADH
menjadi kuat adalah penurunan volume darah. Keadaan ini
terjadi secara hebat terutama saat volume darah turun 15
sampai 25 persen, atau lebih; kecepatan sekresi kadang-
kadang meningkat sampai 50 kali dari normal
(Sloane,2003)
Hipersekresi

• Terjadi setelah hipotalamus mengalami cedera atau


karena tumor. Hal ini akan mengakibatkan retensi air,
dilusi caairan tubuh, dan juga peningkatan volume darah.
(Sloane, 2003)
Penyebab Sekresi Abnormal
ADH

• Atrium mempunyai reseptor regangan yang dieksitasi


oleh pengisian yang berlebihan. Bila reseptor regangan
ini tereksitasi, reseptor akan mengirimkan sinyal ke otak
agar menghambat sekresi ADH. Sebaliknya, bila reseptor
tidak tereksitasi akibat pengisian yang tidak penuh, akan
terjadi proses yang berlawanan, yaitu peningkatan
sekresi ADH yang sangat besar. Penurunan regangan
baroreseptor di daerah karotis, aorta, dan paru juga
merangsang sekresi ADH.
NEGATIVE FEEDBACK
MECHANISM OF ADH
HORMONES
NEGATIVE FEEDBACK
MECHANISM OF ADH HORMONES

Hormon antidiuretik (ADH, Vasopressin) diatur oleh sel di hipotalamus


yang merasakan peningkatan konsentrasi Na+ darah (osmolalitas) dan
penurunan yang signifikan dalam volume darah (10% atau lebih).

• Sel prekursor : nukleus paraventrikular dan supraoptik dari


hipothalamus.
• Sel target : tubulus kontortus distal, tubulus kolektivus dan sel otot
polos vaskular pada ginjal.
(ElSayed and Bhimji, 2017)
• Regulasi:
Osmoreptor (sel yang sensitif terhadap perubahan tekanan
osmosi) yang terletak di hipotalamus mendeteksi peningkatan
osmolalitas pada darah dan mengaktifkan nukleus
paraventrikular dan supraoptik untuk melepaskan ADH. Ini juga
rilis sebagai respons terhadap hipovolemia (suatu kondisi akibat
kekurangan volume cairan ekstraseluler/ CES )

• Mekanisme kerja:
ADH bekerja pada sel targetnya melalui reseptor berikatan G-
protein, yang mengaktifkan fosfolipase C yang pada gilirannya
menstimulasi peralihan phosphoinositide dan menyebabkan
peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler yang pada
gilirannya mencapai tindakan fisiologis akhir.
(ElSayed and Bhimji, 2017)
• Fungsi Fisiologis:
ADH berikatan dengan reseptor V2 pada tubulus distal dan tubulus
kolektivus ginjal untuk meningkatkan ekspresi saluran aquaporin
pada membran basolateral dan meningkatkan reabsorpsi air. Ini,
seperti namanya, juga bertindak sebagai vasokonstriktor pada
pengikatan pada reseptor V1 pada otot polos arteriol. Osmolalitas
plasma akan kembali ke normal 300 mOsM.

Note : tindakan dari feedback loop akan meningkatkan tekanan darah


akibat adanya vasokonstriksi pada pembuluh darah.
(Jakoi dan Carbrey, 2015; ElSayed and Bhimji , 2017)
(Gillam, 2015)
Konsentrasi cairan tubuh
Konsentrasi cairan tubuh tinggi rendah
Tekanan osmosis tinggi Tekanan osmosis rendah

Osmoreceptor menerima sinyal adanya Osmoreceptor menerima sinyal adanya


tekanan osmosis tinggi tekanan osmosis rendah

Osmoreceptor mengirimkan sinyal pada Osmoreceptor mengirimkan sinyal pada


kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon kelenjar pituitari untuk menghambat
ADH pada pembuluh darah pelepasan hormon ADH pada pembuluh darah

Hormon ADH akan mereabsorbsi air ke dalam Hormon ADH akan berhenti mereabsorbsi air
TKD dan TK ke dalam TKD dan TK

Tekanan osmosis pada cairan tubuh menurun Tekanan osmosis pada cairan tubuh
meningkat
DAFTAR PUSTAKA

ElSayed SA and Bhimji SS. 2017. Physiology, Endocrine, Pituitary Gland. Available at
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459247/ [accessed 06 September
2018]

Gillam, Paul. 2015. Understanding of The Kidney's Role In Osmoregulation. Available at


https://pmgbiology.com/tag/adh/ [accessed 06 September 2018]

Girish Narayen dan Surya Narayan Mandal. 2012. Vasopressin receptor


antagonists and their role in clinical medicine. Indian Journal of
Endocrinology and Metabolism 16:183-191

Horne M.M, dan Pamela L Swearingen.1995.Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan


Asam Basa Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Daftar Pustaka

Jakoi, Emma dan Carbrer, Jennifer. 2015. Introductory Human Physiology. California : Lulu Press, Inc.

Messer, Dr. William S. 2000. MBC 3320 Posterior Pituitary Hormones. Available online at
http://163.178.103.176/casosberne/8hendocrino/caso44-2/htmlc/casosb2/v2/vasopressin.htm
[Accesed on September 7, 2018].

Michelle Boone and Peter MT Deen. 2008. Physiology and patophysiology of the vasopressin-
regulated renal water reabsorption. Eur J Physiol; 456: 1005-1024.

PubMed. 2018. Vasopressins. Available online at https://www.ncbi.nlm.nih.gov/mesh/68014667


[Accesed on September 7, 2018].

Pujiyanto, Sri. 2012. Menjelajah Dunia Biologi. Solo: Platinum.

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.