Anda di halaman 1dari 49

DASAR HUKUM

a. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970

Tentang keselamatan kerja pasal 3 ayat 1mengenai syarat-syarat keselamatan


kerja, disebutkan bahwa syarat-syarat keselamatan kerja adalah untuk mencegah,
mengurangi dan memadamkan kebakaran.

b. Kepmenaker No. Kep 186/ MEN/ 1999

Mengatur tentang Unit Penanggulangan di Tempat Kerja yang menyatakan bahwa


untuk menanggulangi kebakaran di tempat kerja, diperlukan adanya peralatan
proteksi kebakaran yang memadai, petugas penanggulangan kebakaran yang
ditunjuk khusus untuk itu, serta dilaksanakannya prosedur penanggulangan
keadaan darurat.
c. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per. 04/ MEN/1980
Tentang Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan

d. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. 02/ MEN/1980


Tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik

e. Intruksi Menaker No. Ins.11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan


Kebakaran
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per. 04/
MEN/ 1980, ketentuan-ketentuan pemasangan APAR adalah sebagai berikut :

(1) Setiap satu kelompok alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada
posisi yang mudah dilihat dengan jelas, mudah dicapai dan diambil serta
dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan.

(2) Tinggi pemberian tanda pemasangan tersebut adalah 125 cm dari dasar
lantai tepat di atas satu atau kelompok alat pemadam api ringan yang
bersangkutan.
TANDA UNTUK MENYATAKAN TEMPAT ALAT PEMADAM API RINGAN
YANG DIPASANG PADA DINDING

1. Segi tiga sama sisi dengan warna dasar merah.


2. Ukuran sisi 35 cm.
3. Tinggi huruf 3 cm. berwarna putih.
4. Tinggi tanda panah 7,5 cm warna putih

TANDA UNTUK MENYATAKAN TEMPAT ALAT


PEMADAM YANG DIPASANG
PADA TIANG KOLOM
(3) Pemasangan dan penempatan alat pemadam api ringan harus sesuai
dengan jenis dan penggolongan kebakaran.

(4) Penempatan antara alat pemadam api yang satu dengn lainnya atau
kelompok satu dengan lainnya tidak boleh melebihi 15 meter, kecuali
ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.

(5) Semua tabung alat pemadam api ringan sebaiknya berwarna merah.

(6) Dilarang memasang dan menggunakan alat pemadam api ringan yang
didapati sudah berlubang-lubang atau cacat karena karat.

(7) Setiap alat pemadam api ringan harus dipasang (ditempatkan) menggantung
pada dinding dengan penguatan sengkang atau dengan kontruksi penguat
lainnya atau ditempatkan dalam lemari atau peti (box) yang tidak dikunci.
(8) Lemari atau peti (box) dapat dikunci dengan syarat bagian depannya harus
diberi kaca aman (safety glass) dengan tebal maximum 2 mm.

(9) Sengkang atau konstruksi penguat lainnya tidak boleh dikunci atau digembok
atau diikat mati.

(10) Ukuran panjang dan lebar bingkai kaca aman (safety glass) harus
disesuaikan dengan besarnya alat pemadam api ringan yang ada dalam
lemari atau peti (box) sehingga mudah dikeluarkan.
(11) Pemasangan alat pemadam api ringan harus sedemikian rupa sehingga
bagian paling atas (puncaknya) berada pada ketinggian 1,2 m dari
permukaan lantai kecuali jenis CO2 dan tepung kimia kering (dry chemical)
dapat ditempatkan lebih rendah dengan syarat, jarak antara dasar alat
pemadam api ringan tidak kurang dari 15 cm dari permukaan lantai.

(12) Alat pemadam api ringan tidak boleh dipasang dalam ruangan atau tempat
dimana suhu melebihi 49oC atau turun sampai 4oC kecuali apabila alat
pemadam api ringan tersebut dibuat khusus unutk suhu diluar batas tersebut.

(13) Alat pemadam api ringan yang ditempatkan di alam terbuka harus dilindungi
dengan tutup pengaman.
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per. 04/
MEN/ 1980 setiap APAR harus diperiksa 2 ( dua ) kali dalam setahun, yaitu:

(1) Pemeriksaan dalam jangka 6 ( enam ) bulan., pemeriksaan tersebut meliputi:

(a) Berisi atau tidaknya tabung, berkurang atau tidaknya tekanan dalam tabung,
rusak atau tidaknya segi pengaman cartridge atau tabung bertekanan
mekanik penembus segel.

(b) Bagian-bagian luar dari tabung tidak boleh cacat termasuk handel dan label
harus selalu dalam keadaan baik.

(c) Mulut pancar tidak boleh tersumbat dan pipa pancar yang terpasang tidak
boleh retak atau menunjukkkan tanda-tanda rusak.
(2) Pemeriksaan dalam jangka 12 bulan.
Untuk pemeriksaan dalam jangka 12 bulan sekali dilakukan seperti
(a) Isi alat pemadam api harus sampai batas permukaan yang telah ditentukan.
(b) Pipa pelepas isi yang berada dalam tabung dan saringan tidak boleh
tersumbat atau buntu.
(c) Ulir tutup kepala tidak boleh cacat atau rusak, dan saluran penyemprotan
tidak boleh tersumbat.
(d) Gelang tutup kepala harus masih dalam keadaan baik.
(e) Bagian dalam dari alat pemadam api tidak boleh berlubang atau cacat
karena karat.
(f) Tabung gas bertekanan harus terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya.
1. Untuk setiap alat pemadam api ringan dilakukan percobaan secara berkala
dengan jangka waktu tidak melebihi 5 (lima) tahun sekali dan harus kuat
menahan tekanan coba selama 30 (tiga puluh) detik.

2. Untuk alat pemadam api jenis busa dan cairan harus tahan terhadap tekanan
coba sebesar 20 kg per cm2.

3. Untuk alat pemadam api ringan jenis Carbon Dioxida (CO2) harus dilakukan
percobaan tekan dengan syarat:

a. percobaan tekan pertama satu setengah kali tekanan kerja;

b. percobaan tekan ulang satu setengah kali tekanan kerja;

c. jarak tidak boleh dari 10 tahun dan untuk percobaan kedua tidak lebih dari 10
tahun dan untuk percobaan tekan selanjutnya tidak boleh lebih dari 5 tahun.
Setiap tabung alat pemadam api ringan harus diisi kembali dengan cara:

a. Untuk asam soda, busa, bahan kimia, harus diisi setahun sekali;

b. Untuk jenis cairan busa yang dicampur lebih dahulu harus diisi 2 (dua) tahun
sekali;

c. Untuk jenis tabung gas hydrocarbon berhalogen(tepung kering), tabung harus diisi
3 (tiga tahun sekali, sedangkan jenis Iainnya diisi selambat-lambatnya 5 (lima)
tahun
Penggolongan Kelas-Kelas Kebakaran

1) Kelas A ( Jenis Apar Air, Busa, Kimia Kering)


Kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda padat selain logam yang
kebanyakan tidak dapat terbakar dengan sendirinya, misalnya kertas, kayu, plastik,
karet.

2) Kelas B ( Jenis Apar Busa, Kimia Kering, C02)


Kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda mudah terbakar berupa cairan,
misalnya bensin, solar, minyak tanah, spirtus, alkohol

3) Kelas C ( Jenis Apar Kimia Kering, CO2 )


Kebakaran pada instalasi listrik yang bertegangan,

4) Kelas D ( Jenis Apar dengan Natrium Cloride)


Kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda yang berupa benda logam,
seperti magnesium, Natrium ( sodium ), calsium, kalium (potasium)
MEDIA PEMADAMAN

1. Untuk Jenis Padat


- Pasir, tanah
- Karung goni, kain basah
- Selimut api ( Fire Blanket)
- Tepung

2. Untuk Jenis Cair


- Air
- Busa

3. Untuk Jenis Gas


- Gas Asam Arang
- Gas Zat Lemas
APAR

 Foam adalah kumpulan cairan yang berbentuk gelembung kecil yang


berisi gas , biasanya digunakan campuran natrium bicabornate
dengan aluminum sulfate, keduanya dilarutkan ke dalam air yang
hasilnya adalah busa yang volumenya dapat mencapai 10 x volume
campuran.

 Alat pemadam api ringan jenis foam merupakan sistem isolasi yaitu
mencegah agar oksigen tidak mendapatkesempatan untuk bereaksi
karena busa menyelimuti permukaan bahan yang terbakar.
 Spesifikasi APAR Foam ;
 Tabung dalam berisi larutan AL2SO4, tabung luar berisi larutan
NaHCO3
 Jarak semprotan 4 s/d 9 m
 Lama pemakaian 60 detik
 Tekanan yang dihasilkan 23 kg/cm2
 Busa yang dihasilkan 100 Ltr s/d 110 Ltr
 Tinggi tabung 605 mm
APAR CO2
 Digunakan untuk memadamkan kebakaran yang terjadi pada peralatan
listrik.
 Tabung berisi gas CO2 yang berbentuk cair bila dipancarkan CO2 tersebut
mengembang menjadi gas.
 Disimpan didalam tabung-tabung gas yang terbuat dari baja sehingga
mudah disiapkan pada ruangan-ruangan yang sempit.
 Digunakan berulang kali sesuai dengan kebutuhan.
 Merupakan gas yang tidak dapat mengalirkan arus listrik dan
tidakmenyebabkan karat.
 Dapat menurunkan kadar O2 12 % s/d 15 %
 Berat CO2 1.5 x berat udara
 APAR Tepung Kimia Kering
 Merupakan alat pemadam api yang sistem kerjanya menggunakan tabung gas
CO2.
 Type APAR tepung kimia kering antara lain :
 Type Cartridge (tabung gas bertekanan tinggi)
 Type Stored pressure
 Tepung kimia kering tidak berbahaya bagi manusia
 Sebagai pemisah O2 dari api benda yang terbakar
 Tidak menghantarkan arus lisrik
 Efektif digunakan diruangan terbuka.
 Dapat menyerap panas sekaligus mendinginkan
 APAR Jenis Halon
 Halon adalah suatu ikatan antara Methane dan Halogen.
 Bahan-bahan Halon antara lain bromine (Br), Chlorine
(CL), Fluorine (F), Yodium (Y), Astatine (At).
 Halon tidak mengahantar arus listrik dan efektif untuk
memadamkan kebakaran seperti pada cairan yang mudah
terbakar, sebagian besar material padat mudah terbakar
dan kebakaran listrik
 Halon yang biasa digunakan untuk pemadaman api adalah
:
 Halon 1301 ( Bromotriflouromethane )
 Halon 1211 ( Bromochlorodiflouromethane )
 Bahan Pengganti Halon 1301 antara lain : FM-200, water mist (Hi-fog)

 Bahan Pengganti Halon 1211 antara lain : dry chemical, CO2

Penggunaan Halon pada beberapa kegiatan khusus yang


disebut sebagai “Critical Use” Contoh critical use adalah
sektor penerbangan, yang memerlukan halon untuk
pengamanan di ruang kabin, ruang mesin dan ruang
kargo.
 AF 11 adalah media pemadam api pengganti Halon . AF 11
serbaguna & efektif memadamkan api jenis A ( material) , B
( bahan cair yang mudah terbakar) , C ( listrik) . Cocok
digunakan pada gedung perkantoran, hotel, industri.
Tersedia berbagai ukuran, dari Portable s/ d Trolley ukuran
50 kg.
 VULCAN AF 31

 VULCAN AF 31 adalah pemadam api
berkemampuan tinggi, berbahan dasar air, tidak
beracun dan aman bagi lingkungan. dapat
mencegah penyalaan kembali secara
bersamaan.
 AF 31 sangat efektif memadamkan api jenis
kelas A, B, C dan D ( api akibat logam dan
batubara) .
KLASIFIKASI TINGKAT BAHAYA HUNIAN:

1. TINGKAT BAHAYA RINGAN.


Tingkat bahaya ringan adalah suatu kondisi dimana jumlah barang-barang dapat
terbakar atau cairan mudah menyala terdapat dalam jumlah yang sedikit, serta
perkiraan ukuran kebakaran yang dapat terjadi adalah kecil. Yang dapat masuk
golongan ini adalah tempat ibadah, sekolah, museum, tempat tinggal,
teater, dan auditorium.

2. Tingkat Bahaya Sedang


Tingkat bahaya sedang adalah kondisi dimana jumlah barang-barang dapat
terbakar atau cairan mudah menyala terdapat dalam jumlah yang sedang, serta
perkiraan ukuran kebakaran yang dapat terjadi adalah sedang. Yang dapat masuk
golongan ini adalah antara lain : pabrik roti, pengolahan susu, pabrik elektronika,
dan pabrik gelas

3. Tingkat Bahaya Tinggi
Tingkat bahaya sedang adalah kondisi dimana jumlah barang-barang dapat
terbakar atau cairan mudah menyala terdapat dalam jumlah yang besar, serta
perkiraan ukuran kebakaran yang dapat terjadi adalah besar. Termasuk disini
adalah tempat perbaikan pesawat terbang, pemrosesan cairan mudah menyala,
pengecatan.
PENEMPATAN APAR BERDASARKAN JARAK JANGKUAN :

 Kelas Bahaya ringan jarak jangkau : 25 meter


 Kelas Bahaya sedang jarak jangkau : 20 meter
 Kelas bahaya tinggi jarak jangkau : 15 meter
Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001

Tingkat Bahaya*
Rendah Sedang Tinggi

Rating Minimum untuk setiap APAR 2-A 2-A 4-A

Maximum Luas Lantai per unit A 3000 ft2 1500 ft2 1000 ft2

Maximum Luas Lantai untuk APAR 11250 ft2 11250 ft2 11250 ft2

Maximum Jarak Tempuh ke APAR 75 ft 75 ft 75 ft


Rating Maximum Jarak Area yang dilindungi APAR ( ft2)
APAR tempuh (ft) Tingkat Bahaya
Rendah Sedang Tinggi
1A 75 3000 - -
2A 75 6000 3000 -
3A 75 9000 4500 3000
4A 75 11250 6000 4000
6A 75 11250 9000 6000
10 A 75 11250 11250 9000
20 A 75 11250 11250 11250
40 A 75 11250 11250 11250
Tingkat Bahaya Minimum Rating untuk setiap Maximum Jarak tempuh
APAR (feet )

Rendah 5-B 30
10- B 50

Sedang 10- B 30
20- B 50

Tinggi 40- B 30
80- B 50

Jarak tempuh maksimum Klas B adalah 50 ft (15,.25


m), lebih pendek dari Klas A karena kecepatan rambat
kebakaran lebih cepat dibandingakan Klas A
Estimasi & PenyebaranAPAR

Suatu bangunan dengan luas area 67500 ft2 (6271 m2 ) atau lebar 150 ft (45.7 m )dan
panjang 450 ft (137.2 m ). Berapa jumlah APAR yang dibutuhkan ?
Untuk estimasi jumlah APAR dapat digunakan maximum luas lantai untuk
APAR yaitu 11250 ft2 (1045 m2)
Jadi : 67500 / 11250 = 6

Untuk Estimasi jumlah APAR dengan menggunakan luas area yang


dilindungi APAR sebesar 6000 ft2
Jadi : 67500 / 6000 = 12
UNIT PENANGGULANGAN KEBAKARAN
DI TEMPAT KERJA
 Pembentukan unit penanggulangan kebakaran dengan
memperhatikan jumlah tenaga kerja dan atau klasifikasi
tingkat potensi bahaya kebakaran.

(1) Klasifikasi tingkat potensi bahaya kebakaran terdiri:


 a. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran ringan;
 b. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran ringan
sedang I;
 c. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran ringan
sedang II;
 d. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran ringan
sedang III dan;
 e. Klasifikasi tingkat risiko bahaya kebakaran berat.
 Unit penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud
dalam pasal 3 terdiri dari:
 a. Petugas peran kebakaran;
 b. Regu penanggulangan kebakaran;
 c. Koordinator unit penanggulangan kabakaran;
 d. Ahli K3 spesialis penaggulangan kebakaran sebagai
penaggungjawab teknis.
 (1) Petugas peran kebakaran sekurang-kurangnya
 2 (dua) orang untuk setiap jumlah tenaga kerja 25 (dua puluh lima)
orang.
 (2) Regu penanggulangan kebakaran dan ahli K3 spesialis
penanggulangan kebakaran ditetapkan untuk tempat kerja tingkat
risiko bahaya kebakaran ringan dan sedang I yang mempekerjakan
tenaga kerja 300 (tiga ratus) orang, atau lebih, atau setiap tempat
kerja tingkat risiko bahaya kebakaran sedang II, sedang III dan berat.
 (3) Koordinator unit penanggulangan kebakaran ditetapkan sebagai
berikut:
 a. Untuk tempat kerja tingkat risiko bahaya kebakaran ringan dan
sedang I, sekurang-kurangnya 1 (satu) orang untuk setiap jumlah
tenaga kerja 100 (seratus) orang;
 b. Untuk tempat kerja tingkat risiko bahaya kebakaran sedang II dan
sedang III dan berat, sekurang-kurangnya 1 (satu) orang untuk
setiap unit kerja.
 (1) Petugas peran kebakaran sebagaimana dimaksud pasal 5 huruf a
mempunyai tugas:
 a. mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang
dapat menimbulkan bahaya kebakaran;
 b. memadamkan kebakaran pada tahap awal;
 c. mengarahkan evakuasi orang dan barang;
 d. mengadakan koordinasi dengan instansi terkait;
 e. mengamankan lokasi kebakaran.
 Regu penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf b
 mempunyai tugas:
 a. mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menimbulkan
 bahaya kebakaran;
 b. melakukan pemeliharaan sarana proteksi kebakaran;
 c. memberikan penyuluhan tentang penanggulangan kebakaran pada tahap awal;
 d. membantu menyusun baku rencana tanggap darurat penanggulangan kebakaran;
 e. memadamkan kebakaran;
 f. mengarahkan evakuasi orang dan barang;
 g. mengadakan koordinasi dengan instansi terkait;
 h. memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan;
 i. mengamankan seluruh lokasi tempet kerja;
 j. melakukan koordinasi seluruh petugas peran kebakaran.
 (1) Koordinator unit penanggulangan kebakaran sebagaimana
mempunyai tugas:
 a. memimpin penanggulangan kebakaran sebelum mendapat
bantuan dari instansi yang berwenang;
 b. menyusun program kerja dan kegiatan tentang cara
penanggulangan kebakaran;
 c. mengusulkan anggaran, sarana dan fasilitas penanggulangan
kebakaran kepada pengurus.
 Ahli K3 mempunyai tugas:
 a. membantu mengawasi pelaksanaan peraturan perundang-undangan bidang
 penanggulangan kebakaran;
 b. memberikan laporan kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan
 peraturan perundangan yang berlaku;
 c. merahasiakan segala keterangan tentang rahasia perusahaan atau instansi yang
 didapat berhubungan dengan jabatannya;
 d. memimpin penanggulangan kebakaran sebelum mendapat bantuan dari instansi
 yang berwenang;
 e. menyusun program kerja atau kegiatan penanggulangan kebakaran;
 f. mengusulkan anggaran, sarana dan fasilitas penanggulangan kebakaran kepada
 pengurus;
 g. melakukan koordinasi dengan instansi terkait.
 PERENCANAAN SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN

 1. Setiap perencanaan tempat kerja harus mempertimbangkan syarat-syarat dan


ketentuan-ketentuan upaya penanggulangan kebakaran baik proteksi secara
pasif maupun aktif.

 − Proteksi kebakaran pasif adalah suatu teknik desain tempat kerja untuk
membatasi atau menghambat penyebaran api, panas dan gas baik secara
vertikal maupun horizontal dengan mengatur jarak antara bangunan,
memasang dinding pembatas yang tahan api, menutup setiap bukaan
dengan media yang tahan api atau dengan mekanisme tertentu;

 − Proteksi kebakaran aktif adalah penerapan suatu desain sistem atau instalasi
deteksi, alarm dan pemadan kebakaran pada suatu bagunan tempat kerja yang sesuai dan
handal sehingga pada bangunan tempat kerja tersebut mandiri dalam hal sarana untuk
menghadapi bahaya kebakaran.
 PEMASANGAN SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN
 1. Pelaksanaan pemasangan instalasi proteksi kebakaran harus
sesuai dengan gambar yang telah disyahkan dan dilaksanakan oleh
instalatir yang telah ditunjuk.
 2. Semua perlengkapan-perlengkapan instalasi yang dipasang harus
sesuai spesifikasi teknik yang telah disetujui.
 Setelah pekerjaan pemasangan instalasi selesai dilaksanakan harus
diadakan
 pemeriksaan dan pengujian setempat yang diikuti oleh semua pihak
yang terikat
 antara lain:
 − Kontraktor (Instalator);
 − Perencanaan (Konsultan);
 − Pemilik (Pemberi kerja);
 − Pengelola (Building Manager);
 − Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan (Spesialisasi
penanggulangan kebakaran).
SEKIAN
TERIMA KASIH