Anda di halaman 1dari 45

GIZI PADA REMAJA

Oleh:
dr. Reni Zuraida, M.Si

Blok MBS
25 JUNI 2015
POPULASI REMAJA
 20% Populasi di dunia
adalah REMAJA
 85% diantaranya tinggal di
negara berkembang
(Garrow, James & Ralph,
2000)
 Di Indonesia, jumlah remaja
mencapai 41 juta jiwa dari
208,8 juta jiwa penduduk
(SUPAS, 2005)
BATASAN ISTILAH
 Remaja
Menurut Villaveija (1987) remaja didefinisikan sebagai
periode transisi dari masa anak-anak menuju dewasa
dengan karakter percepatan perubahan yang dramatis dari
aspek fisik, psikologis, biokimia, dan psikososial.
 Pubertas
Pubertas merupakan suatu periode dimana terjadi
peningkatan sekresi hormon, percepatan pertumbuhan dan
munculnya karakteristik seks sekunder.
 Growth Spurt
Growth spurt merupakan fase pertumbuhan yang sangat
cepat dari pertumbuhan remaja (Villaveija, 1987). Masa ini
berselang antara 18 – 24 bulan (Spear, 2004).
 Peak
Peak yaitu Puncak tertinggi dari masa growth spurt
pertumbuhan remaja (Villaveija, 1987).
Spear (2004) menamakan masa ini
sebagai peak height gain velocity.
Perkembangan
Psikoseksual
GENITAL STAGE  FREUD
 Ketertarikan seksual terhadap lawan jenis

 Belajar untuk membangun hubungan

emosional (cinta) dan me-manage


kebutuhan seksual melalui cara – cara yang
wajar secara sosial

back
KEMATANGAN SEKSUAL
PADA REMAJA
Jenis Ciri Seks Ciri Seks
Kelamin Primer Sekunder
Pria • Penis • Bulu halus (wajah &
• Testes ketiak)
• Kumis, janggut
• Jakun
• Perubahan suara
• Pubic Hair
Wanita • Ovaries • Payudara
• Uterus • Pubic Hair
• Clitoris
• Vagina
SEXUAL MATURITY RATING
(Tanner Stage)
Perkembangan genitalia pria

Perkembangan payudara

(Spear, 2004 dalam Mahan & Stump, 2004 )


PERCEPATAN PERTUMBUHAN
(GROWTH SPURT)

 Wanita mulai terlebih dahulu


(10 – 13 tahun) mengalami
puncaknya (peak) pada usia
12 – 13 tahun,
 Pria mulai pada usia 12 – 16 tahun
dan mengalami puncaknya (peak)
pada usia 15 – 16 tahun
 Tinggi optimum untuk wanita
dicapai pada usia 19 tahun
 Tinggi optimum untuk pria pada
usia 21 tahun
 Massa tulang pria dan wanita 
tetap terus meningkat hingga usia
25 tahun
Kecukupan Zat Gizi Selama
Masa Remaja

next
ENERGI
Angka Kecukupan Energi bagi Remaja Indonesia

BB TB Energi  Pertumbuhan,
Gol. Umur
(kg) (cm) (kkal)  Mendukung
Pria : proses
10 - 12 th 35 138 2050 kematangan,
13 – 15 th 48 155 2400  Mempertahankan
16 – 18 th 55 160 2600 kesehatan,
Wanita :  Menyokong
10 - 12 th 38 145 2050 tingkat aktivitas
fisik tubuh.
13 – 15 th 49 152 2350
16 – 18 th 50 155 2200
Sumber : WNPG, 2004
PROTEIN
Angka Kecukupan Protein bagi Remaja Indonesia
BB TB Protein  Pertumbuhan
Gol. Umur
(kg) (cm) (g)
 Sintesis jaringan
Pria : baru
10 - 12 th 35 138 50  Perbaikan
13 – 15 th 48 155 60 jaringan tubuh
16 – 18 th 55 160 65
Wanita :
10 - 12 th 38 145 50
13 – 15 th 49 152 57
16 – 18 th 50 155 55
Sumber : WNPG, 2004
Kalsium (Ca)
Angka Kecukupan Kalsium bagi Remaja Indonesia

BB TB Ca  Formasi tulang dan


Gol. Umur peningkatan massa
(kg) (cm) (mg)
tulang
Pria :
 Mencegah
10 - 12 th 35 138 1000
osteoporosis di usia
13 – 15 th 48 155 1000 lanjut
16 – 18 th 55 160 1000  Pada masa remaja
Wanita : peningkatan massa
tulang mencapai
10 - 12 th 38 145 1000 45%
13 – 15 th 49 152 1000
 Pembentukan massa
16 – 18 th 50 155 1000 tulang remaja wanita
mencapai 92% pada
Sumber : WNPG, 2004
usia 18 tahun
Besi (Fe)
Angka Kecukupan Besi bagi Remaja Indonesia

 Sintesa hemoglobin
BB TB Fe akibat peningkatan
Gol. Umur volume darah
(kg) (cm) (mg)
Pria :  Sintesa myoglobin
dibutuhkan untuk
10 - 12 th 35 138 13 pertumbuhan otot.
13 – 15 th 48 155 19  Untuk menutupi
16 – 18 th 55 160 13 kehilangan zat besi
akibat menstruasi tiap
Wanita : bulannya
10 - 12 th 38 145 20
13 – 15 th 49 152 26
16 – 18 th 50 155 26
Sumber : WNPG, 2004
Seng (Zn)
Angka Kecukupan Seng bagi Remaja Indonesia

BB TB Zn  Pertumbuhan dan
Gol. Umur
(kg) (cm) (mg) pematangan fungsi
seksual
Pria :
 Pembatasan
10 - 12 th 35 138 14,0 konsumsi terhadap
13 – 15 th 48 155 17,4 pangan sumber seng
(pangan hewani)
16 – 18 th 55 160 17,0 dapat mempengaruhi
Wanita : pertumbuhan fisik dan
perkembangan
10 - 12 th 38 145 12,6
karakteristik seks
13 – 15 th 49 152 15,4 sekunder
16 – 18 th 50 155 14,0
Sumber : WNPG, 2004
VITAMIN
Angka Kecukupan Vitamin Larut Air bagi Remaja Indonesia
Asam Ribo- Vit.B1 Piri-
BB TB Vit.C Thiamin Niasin
Gol. Umur Folat flavin 2 doksin
(kg) (cm) (ug) (mg) (mg) (mg) (mg) (mg) (mg)
Pria :
10 - 12 th 35 138 300 50 1,1 1,0 12 1,8 1,3
13 – 15 th 48 155 400 75 1,2 1,2 14 2,4 1,3
16 – 18 th 55 160 400 90 1,3 1,3 16 2,4 1,3
Wanita :
10 - 12 th 38 145 300 50 1,1 1,0 12 1,8 1,2
13 – 15 th 49 152 400 65 1,2 1,0 13 2,4 1,2
16 – 18 th 50 155 400 75 1,1 1,0 14 2,4 1,2
Sumber : WNPG, 2004

 Folat & Vit. B12  Hb sel darah merah (mencegah


anemia)
 Thiamin, Riboflavin & Niasin  metabolisme energi
VITAMIN
Angka Kecukupan Vitamin Larut Lemak bagi Remaja Indonesia

Vit. Vit.
BB TB Vit.E Vit.K
Gol. Umur A D
(kg) (cm) (RE) (ug) (mg) (mg)  Vitamin D 
pertumbuhan
Pria : tulang yang
10 - 12 th 35 138 600 5 11 35 relatif cepat.

13 – 15 th 48 155 600 5 15 55  Vit A & Vit E


sangat
16 – 18 th 55 160 600 5 15 55 diperlukan
Wanita : dalam
pertumbuhan
10 - 12 th 38 145 600 5 11 35 sel baru
13 – 15 th 49 152 600 5 15 55
16 – 18 thSumber
50 : 155
WNPG,600
2004 5 15 55
Air
Angka Kecukupan Air bagi Remaja Indonesia
BB TB Air
Gol. Umur
(kg) (cm) (L/hr)
Pria :
10 - 12 th 35 138 1,8  Jumlah air yang
13 – 15 th 48 155 2,1 dibutuhkan perhari setara
dengan jumlah yang hilang
16 – 18 th 55 160 2,2
melalui lambung, urin, feses
Wanita : dan keringat
10 - 12 th 38 145 1,9
13 – 15 th 49 152 2,1
16 – 18 th 50 155 2,1
Sumber : WNPG, 2004
Nutrien Utilization
Concern Pada Masa
Remaja

next
Nutrien Utilization Concern
Pada Masa Remaja

1. Remaja memiliki rasa kecemasan dan


stress yang tinggi  mempengaruhi
konsumsi makan dan status gizi
2. Perubahan sosiofisiologis  kebebasan,
body image, aktivitas olahraga
3. Drug usage (alkohol, tembakau, narkotika)
4. Kehamilan pada remaja
5. Penggunaan kontrasepsi oral (pil KB) 
metabolisme zat gizi khususnya folacin
dan piridoxine

next
Percentage of High School Students
Who Reported Episodic Heavy
Drinking,* by Sex** and
Race/Ethnicity,*** 2005
100
Percentage of High School
80
Students Who Reported Episodic
Heavy Drinking,* 1991 – 2005
100
60
Percent

80
40
25.5 27.5 29.9
23.5 25.3
60

Percent
20
11.1
40 31.3 32.6 33.4 31.5
30.0 29.9 28.3 1
0 25.5
Total Female Male White Black Hispanic
20
* Had  5 drinks of alcohol in a row (i.e., within a
couple of hours) on  1 of the 30 days preceding
the survey 0
1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005
** M > F
*** W > H > B * Had  5 drinks of alcohol in a row (i.e., within a
National Youth Risk Behavior Survey, 2005 couple of hours) on  1 of the 30 days preceding
the survey
1 Significant linear decrease and quadratic

change, P < .05

National Youth Risk Behavior Surveys, 1991 – 2005 back


Percentage of High School Students Who
Reported Lifetime Daily Cigarette Use,* by Sex
and Race/Ethnicity,** 2005
100

80

60
Percent

40

YOUTH
20 13.4 16.1 TOBACCO
13.5 13.3
10.4
5.2 PREVENTION :
0 • Celebrity
Total Female Male White Black Hispanic
Against
Smoking
* Ever smoked at least one cigarette every day for 30 days
** W > H > B
• Tobacco Free
National Youth Risk Behavior Survey, 2005 – CDC Sports
Initiatives back
KEHAMILAN PADA REMAJA

Remaja memiliki resiko melahirkan bayi BBLR


lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang
usianya lebih matang
back
SEKS BEBAS PADA REMAJA

Remaja Beresiko terkena PMS (Penyakit Menular Seksual)


KASUS HIV - AIDS
di INDONESIA
Percentage of High School Students
Who Ever Had Sexual Intercourse, by
Sex and Race/Ethnicity,* 2005
100

80
67.6

60
Percent

46.8 51.0
45.7 47.9 Pemicu :
43.0
40 Sex in Rock Lyrics
Sex in Movies
20 Sex in TV
Sex in Advertising
0
(Exp: Condoms)
Total Female Male White Black Hispanic

*B>H>W
National Youth Risk Behavior Survey, 2005 -- CDC
Perilaku Konsumsi Pangan
Remaja

next
10 Perilaku Konsumsi Pangan Remaja

1. Menghindari makanan (meal skipping)


terutama pada saat sarapan pagi (breakfast
skipping).
konsumsi Ca dan Vit C berkurang 40%, konsumsi Fe
dan Thiamin berkurang 10%. Energi yang diperoleh
dari snack mencapai 18% total energi (tdk sarapan) &
hanya sebesar 7% (sarapan).
2. Mengkonsumsi cemilan/jajanan (snack) dan
gula-gula (confectionery).
75% remaja mengkonsumsi cemilan. Cemilan tidak
selalu berasosiasi negatif dapat bermanfaat
bergantung pada jenis cemilan yang dikonsumsi
3. Menyukai makanan fast-food, take away or
carry-out food

next

-- Sumber : Guthrie, 1983 ; Villaveija, 1987; Truswell, 1999 dan Mahan & Stump,
2004 --
10 Perilaku Konsumsi Pangan Remaja

4. Pola makan non – tradisional


pola makan yang tidak biasa untuk menunjukkan
kebebasan mereka dan alasan lainnya, misal :
mengkonsumsi makanan organik, mencoba diet
lemak, dll
5. Mulai mengkonsumsi alkohol
Alkohol merupakan 3rd killer di AS. Kecelakaan akibat
konsumsi alkohol merupakan penyebab utama
kematian pada usia 15 – 24 tahun. Alcoholics di AS
mencapai > 13 juta jiwa
6. Mengkonsumsi soft drinks dan other fun
drinks
9% total kalori yang dikonsumsi pada pria dan 8%
pada wanita berasal dari konsumsi minuman ringan.
konsumsi minuman ringan dapat menurunkan
konsumsi susu hingga 40%
next

-- Sumber : Guthrie, 1983 ; Villaveija, 1987; Truswell, 1999 dan Mahan & Stump,
2004 --
10 Perilaku Konsumsi Pangan Remaja

7. Preferensi terhadap pangan tertentu


sangat bersifat subyektif dan berbeda antar budaya dan
jenis kelamin
8. Konsumsi energi yang tinggi
Terkadang dapat mencapai 4000 kkal. Biasanya terjadi
terutama pada masa peak height velocity pada wanita di
usia 12 tahun dan pada pria di usia 14 tahun
9. Level konsumsi yang rendah pada beberapa
jenis zat gizi
Defisiensi Besi umum terjadi pada wanita karena
menstruasi, pertumbuhan atau pembatasan terhadap
asupan zat gizi tertentu
10. Diet pada remaja (obesitas atau social dieting)
Obesitas mempengaruhi 10% dari perilaku diet remaja
wanita maupun pria
next

-- Sumber : Guthrie, 1983 ; Villaveija, 1987; Truswell, 1999 dan Mahan & Stump,
2004 --
Permasalahan Terkait Gizi dan
Beberapa Situasi Khusus “khas”
Remaja

next
SITUASI KHUSUS
 Vegetarian

 Obesitas

 Anorexia Nervosa

 Bulimia
Vegetarian
• Experimentation
Beberapa tipe vegetarian (Bender, 2002) :
• Environmental • Mengkonsumsi daging putih (seperti produk
Concern unggas dan ikan) tetapi menghindari daging
• Body weight merah (daging sapi)
concern • Pescetarians  Hanya mengkonsumsi ikan
• Ovo-lacto-vegetarians  Hanya mengkonsumsi
telur dan susu
• Lacto-vegetarians  Hanya mengkonsumsi susu
• Vegans  Tidak mengkonsumsi produk hewani
sama sekali

• Overly restricted Vegan could


lead to significant malnutrition
• Delayed growth spurt
back
Obesitas Pada Remaja

Aktif Tidak Aktif


6.0% 9.1%

Kurang
Aktif
84.9%

Aktif: latihan (exercise) setiap


hari selama 10 menit, total
kumulatif 150 menit/mingggu
Kurang Aktif: latihan (exercise)
setiap hari selama 10 menit,
total kumulatif <150
menit/mingggu

Sumber : Susenas, 2005


back
Percentage of High School Students Who Were
At Risk For Becoming Overweight,* by Sex and
Race/Ethnicity,** 2005
100

80

60
Percent

40

15.7 19.8
20 15.5 15.8 14.5 16.7

0
Total Female Male White Black Hispanic

* Students who were > 85th percentile but < 95th percentile for body mass index, by age and sex,
based on reference data
** B > W, H
National Youth Risk Behavior Survey, 2005
Percentage of High School Students Who Were
Overweight,* by Sex** and Race/Ethnicity,***
2005
100

80

60
Percent

40

20 13.1 16.0 16.0 16.8


10.0 11.8

0
Total Female Male White Black Hispanic
* Students who were > 95th percentile for body mass index, by age and sex, based on reference data
** M > F
*** B, H > W

National Youth Risk Behavior Survey, 2005


Tracking BMI-for-Age from Birth to 18 Years with
Percent of Overweight Children who Are Obese at Age 251

100 BMI < 85th BMI >=85th BMI >=95th


83
77
% obese as adults

80 75
69 67
60 52 55

40 36
26
16 17 19
20 15 12 11 10 9

0
Birth 1 to 3 3 to 6 6 to 10 10 to 15 15 to 18
Age of child (years)

Whitaker et al. NEJM: 1997;337:869-873


Anorexia Nervosa
 Pengingkaran diri dan
penolakan untuk makan.
 Penyebab utama adalah
permasalahan psikologis,
 Akibat langsung malnutrisi
 Solusi  psikiater dan
konsultan gizi untuk
manajemen gizi (Villaveija,
1987)

back
Bulimia
 Istilah lain : “Gorge & Purge”
 9 dari 10 penderita bulimia adalah wanita
(www.womenshealth.gov)
 Disebabkan permasalahan psikologis
(Villaveija, 1987). Adanya painful emotions, anger and
sadness can bring in binging
 Biasanya terjadi pada remaja wanita dengan kelas
sosial-ekonomi menengah hingga menengah ke atas
(Guthrie, 1983).
 Ditandai dengan konsumsi pangan dalam jumlah yang
banyak (unrealistic) & dikeluarkan secara paksa baik
dengan memuntahkannya maupun dengan bantuan
laxative.
 Difficult to treat, tetapi jika sindrom ini tidak dikontrol,
konsekuensi gizi yang diakibatkan akan bersifat parah
(severe) back
Percentage of High School Students Who Vomited or Took
Laxatives to Lose Weight or to Keep From Gaining Weight,* by
Sex** and Race/Ethnicity,*** 2005
100

80

60
Percent

40

20
4.5 6.2 4.4 5.4
2.8 3.4
0
Total Female Male White Black Hispanic
* During the 30 days preceding the survey
** F > M
*** H > B
National Youth Risk Behavior Survey, 2005 back
Percentage of High School Students Who Vomited or
Took Laxatives to Lose Weight or to Keep From
Gaining Weight,* 1995 – 2005

100

80

60
Percent

40

20
4.8 4.5 4.8 5.4 6.0 4.5
1

0
1995 1997 1999 2001 2003 2005
* During the 30 days preceding the survey
1 No significant change over time

back
National Youth Risk Behavior Surveys, 1995 – 2005
How Bulimia Affects Your Body

www.womenshealth.gov
Menu Untuk Remaja
Website Pemerintah yang memberikan
Contoh Menu Bagi Remaja

MyPyramid Blast Off


(http://www.MyPyramid.gov)
MyPyramid Tracker
(http://www.MyPyramidTracker.gov)

CONTOH DI USA

CDC
(The National Bone Health
Program)
(http://www.cdc.gov)
CONTOH DI
JEPANG

Sumber : MAFF, Japan


DAFTAR PUSTAKA
Bapenas, et.al. 2007. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RANPG) 2006 – 2010.
Bender, D.A. 2002. Introduction to Nutrition and Metabolism (3rd ed). Taylor & Francis, London.
Depkes. 2007. Profil Kesehatan Indonesia 2005. http://www.depkes.go.id.
Garrow, J.S, WPT James, A Ralph. 2000. Human Nutrition and Dietetics (10th ed). Churchill
Livingstone. London
Bandini, L.G., et al. 2004. Relation of body mass index and body fatness to energy expenditure :
longitudinal changes from preadolescence through adolescence. The American Journal of
Clinical Nutrition Vol 80. No. 5, 1262 – 1269 November 2004. http://www.ajcn.org
Guthrie. H.A. 1983. Introductory Nutrition. Mosby. Toronto, USA.
Hurlock, E.B, 1980. Developmental Psichology, A Life Span Approach (5th ed). McGraw-Hill. USA
Mandleco, B.L. 2002. Growth and Development Handbook : Newborn Through Adolescence.
Delmar Learning. USA.
National Youth Risk Behavior Survey, 2005. National, State & Local Data. Center for Disease
Control. http://www.cdc.gov/yrbs.
Santrock, J.W. 2002. Life Span Development (8th ed). McGraw-Hill. USA
Spear, B.A. 2004. Krause’s : Food Nutrition and Diet Therapy (11th ed). L.K. Mahan dan S.E. Stump
(Eds). Saunders, USA.
Truswell, A.S. 1999. ABC of Nutrition (3rd ed). BMJ. London.
Turner, J.S & D.B Helms. 1991. Life Span Development (4th ed). Holt, Rinehart and Winston. USA
Villaveija, GM., CVC Barba, OC Valdecanas, & AH Santos. 1987. Fundamentals in Applied and
Public Health Nutrition. The Nutritionist – Dietitians Associations of the Phillipines. Philipines.
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG). 2004. Ketahanan Pangan dan Gizi di Era Otonomi
Daerah dan Globalisasi. LIPI. Jakarta.