Anda di halaman 1dari 28

CASE REPORT BEDAH

OPEN FRAKTUR DEPRESI PARIETAL


DEXTRA DENGAN CEREBRAL
CONTUSIO PARIETAL DEXTRA,
LASERASI DURA DAN CORTEX

Kurnia Sari, S.Ked 011084044

Penguji :
dr. Tommy Numberi, Sp.BS
LATAR BELAKANG
• Fraktur depres : Benturan energi tinggi pada area yang
kecil di kepala.
• Fragmen fraktur tulang kepala terdorong ke arah
intrakranial, dengan kedalaman bervariasi.
Fraktur depres tertutup = simple depressed fracture.
Fraktur depres terbuka = compound depressed fracture.
• Amerika : 44/ 100.000 orang / tahun
• Frekuensi : frontoparietal (75%)temporal (10%)occipital
(5%)tempat lainnya (10%).
• 75-90% fraktur depres terbuka.
• Kelompok usia yang paling umum 16-45 tahun
• Laki-laki >> perempuan
MANAJEMEN FRAKTUR DEPRES

 Fraktur depres terbuka harus dilakukan operasi


craniectomy debridement.
 Fragmen tulang kepala dapat dikembalikan
kembali :
• Luka relatif bersih, tidak terlalu kotor
• Waktu kurang dari 24 jam
Indikasi Operasi Elevasi Fraktur
Depres Pada Dewasa
 Fraktur depress > 8-10 mm
 Defisit neurologis
 Kebocoran cairan cerebrospinal → laserasi duramater.
 Fraktur depres terbuka → craniectomy debridement.
 Konservatif : fraktur depres regio sinus venosus dural,
terlebih jika pasien tidak mengalami defisit neurologis.
• Risiko yang lebih besar.
• Keahlian Ahli BedahSaraf.
Komplikasi
1. Edema Serebral
2. Herniasi Otak
3. Defisit neurologic dan psikologik
4. Infeksi sistemik (pneumoni, infeksi saluran
kemih, septicemia)
5. Infeksi bedah neuron (infeksi luka,
osteomielytis, meningitis, abses otak)
CASE REPORT
IDENTITAS PASIEN
•Nama : Tn. RN
•Umur : 16 tahun
•Tanggal Lahir : 05 September 2002
•Alamat : Perumnas III waena
•Jenis kelamin : Laki-laki
•Agama : Kristen Protestan
•Status pernikahan : Belum menikah
•Pendidikan : SMA
•Nomor RM : 20 22 10
•Tanggal MRS : 06 September 2018
•Tanggal KRS : 15 September 2018
Advance Trauma Life Support
PRIMARY SURVEY SECONDARY SURVEY
• Airway : Clear (+) suara tambahan • Keadaan Umum: tampak
(-), Trachea: di tengah (+) gelisah
• Breathing : RR 24 x/menit
• Kesadaran : Compos
▫ I: Gerak dada simetris (+), Retraksi otot nafas (-),
▫ jejas (-)
mentis
▫ P: nyeri tekan (-/-), krepitasi (-) • Vital sign
▫ P: sonor/sonor  TD : 120/70 mmHg
▫ A: vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
 Nadi : 68 x/menit
• Circulation : akral hangat (+) pucat (+)
 RR : 24 x/menit
kering (+), CRT ≤ 2 menit, HR: 98x/menit,
TD: 120/70; SB 37,2ºC  Suhu : 36,7ºC
• Disability : GCS E3V5M6, pupil OD/OS:
refleks cahaya (+) uk 2mm/2mm, kaku
kuduk (-)
• Exposure : luka robek di temporoparietal
kanan ukuran 20x10x5 cm, dasar jaringan,
perdarahan aktif (+).
Anamnesa
Dilakukan Alloanamnesis kepada ibu pasien
Keluhan Utama :
Kecelakaan tunggal jatuh dari sepeda motor

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke IGD RSUD Jayapura dengan keluhan post KLL
tunggal menggunakan sepeda motor sekitar jam 8 malam (± 16
jam) SMRS. Pasien posisi di bonceng olek saudara laki-laki
pasien, helm (-). Posisi jatuh pasien tidak diketahui secara pasti.
Setelah itu pasien pingsan sekitar 10 menit dan setelah sadar
pasien mengaku muntah (+) 3x, nyeri kepala (+), kejang (-),
tidak ada kelumpuhan anggota gerak, tidak ada perdarahan dari
telinga maupun hidung.
Pemeriksaan Fisik
Tanda - Tanda Vital • Perkusi: Abdomen
Tensi : 120/70 mmHg Sonor pada seluruh lapang • Inspeksi: datar, simetris,
Nadi : 68 x/menit paru tidak terlihat pelebaran
RR : 24 x/menit Batas Jantung: pembuluh darah vena,
Suhu : 36,7ºC • Atas: ICS 3 LPSS umbilicus tidak menonjol.
• Kanan: ICS 5 LSD • Auskultasi: Bising usus (+)
Status Generalis • Kiri: ICS 5 LMCS normal
Kulit : pucat • Auskultasi • Palpasi: hepar, lien, ginjal
Mata: CA (+/+), sklera ikterik (- Paru: VBS Ka=Ki, ronkhi tidak membesar, Nyeri
/-) raccoon eyes (-) (-/-), wheezing (-/-) tekan epigastrium (-)
Leher: KGB tidak membesar, JPV Jantung: • Perkusi: timpani pada
tidak meningkat BJ1 & BJ2 murni regular, seluruh lapang abdomen
pada katup mitral dan
Thorax trikuspid BJ1> BJ2, pada Ekstremitas
• Inspeksi: bentuk dan gerak katup aorta dan pulmonal Akral hangat (+), CRT < 2”,
simetris, iktus cordis tidak BJ2 > BJ1 udem (-/-),
terlihat, sela iga melebar (-) • Murmur (-), gallops (-)
• Palpasi:
Ekspansi dada: simetris
hemitoraks Ka=Ki
iktus cordis teraba di ICS 5
LMCS, pulsasi (+) vibrasi (-)
Status Lokalis
Regio temporoparietal dextra
:
•L :
 Luka robek ukuran 20x10x5
cm
 Dasar jaringan otak
 Perdarahan aktif (+)

• F : Krepitasi (-), Nyeri (+)


• M : ROM (+)
DIAGNOSA
KERJA

• CKR
▫ Suspect fraktur depressed
▫ Suspect fraktur linier
▫ Suspect kontusio serebri
▫ Suspect fraktur basis cranii
Pemeriksaan Penunjang
• CT-scan kepala tanpa kontras
Pemeriksaan Penunjang
• Laboratorium
DIAGNOSA PASTI

Open fraktur depresi parietal dextra dengan


cerebral contusio parietal dextra, dan laserasi
dura dan cortex

Dasar diagnosis:
• Anamnesis
• Pemeriksan Fisik
• Hasil CT-Scan
TATALAKSANA
Terapi Non-Operatif : Terapi Operatif :
• O2 nasal kanul 3 lpm dan head up 300
• Vulnus tutup kasa • Craniotomi
• IVFD RL 1500cc/24 jam
• Injeksi Ceftriaxone amp 2 x 1 g IV
• Injeksi Ranitidine amp 2 x 50 mg IV
• Injeksi Ketorolac amp 3 x 30 mg IV
• Injeksi Phenitoin amp 3 x 100 mg IV
• Injeksi Citicolin amp 2 x 500 mg IV
• Loading manitol 200 cc, dilanjutkan
125 cc/6 jam
• Chlorpromazine inj 1/2 x 25mg IV
(bila pasien gelisah saat CT scan)
• Pasang DC set
• Transfusi PRC III kolf
LAPORAN OPERASI
LAPORAN OPERASI Instruksi Post Operasi :
1. Pasien posisi supine dalam • Observasi KUVS
stadium general anestesi, • IVFD RL 28 tpm
dilakukan aseptik-antiseptik
• Injeksi Ceftriaxone 2 x 2 g
2. Tutup duk steril. Buka luka
• Injeksi Parasetamol 3 x 1 g
awal dilebarkan ke anterior
• Injeksi Ranitidin 2 x 50 mg
3. Di dapatkan laserasi dura dan
korteks akibat fragmen tulang • Injeksi Phenitoin 2 x 100 mg
4. Craniotomi dilanjutkan dura • Injeksi Kalnex 3 x 500 mg
graft dengan dura synthesis
5. Kontrol perdarahan
6. Pasang drain
7. Jahit luka lapis demi lapis
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Dari anamnesa Dari anamnesis didapatkan Pasien sempat tidak
didapatkan pasien pasien mengalami cedera sadarkan diri disebebkan
sempat tidak sadarkan kepala tumpul dimana karena batang otak
diri setelah terjatuh dari pasien mengalami mengalami akselerasi
motor. Hal ini dapat kecelakaan yaitu jatuh dari yaitu gerakan yang cepat
disebabkan karena sepeda motor . Dari dan mendadak kemudian
terganggunya fungsi anamnesis juga didapatkan teregang dan terjadi
otak yang dapat bahwa kemungkinan pasien blokade reversible pada
disebabkan oleh cedera mengalami cedera kepala lintasan retikularis
kepala. ringan-sedang karena asendens difus kemudian
pasien sempat tidak sadar otak tidak mendapat
dan tidak didapatkan input aferan
kelainan neurologis. mengakibatkan pingsan.
PEMBAHASAN
Pada pemeriksaan fisik di Fraktur tengkorak • Fraktur impresi atau
dapatkan KU tampak sakit diklasifikasikan menurut depressed merupakan
sedang, kesadaran CM, GCS keadaan luka: fraktur dengan tabula
E3V5M6, TD 120/70, N 68, • Fr. terbuka : dura
eksterna pada satu atau
RR 24, SB 36.7, SpO2 98%. rusak, dan
Kulit pucat, konjungtiva • Fr. tertutup : keadaan lebih tepi fraktur terletak
anemis, dan terdapat luka dura tidak rusak dibawah level anatomic
robek pada daerah kepala. Jaringan otak yang normal dari tabula interna
Tidak ada tanda kelemahan tampak menandakan tulang tengkorak
ekstremitas. robeknya dura. sekitarnya yang masih
utuh.
Status lokalis : Menurut gambaran
(Regio temporoparietal fraktur:
• Kebanyakan fraktur
dextra ) • Fr. Linear
L: Luka robek ukuran • Fr. Diastase depressed adalah fraktur
20x10x5 cm, dasar jaringan • Fr. Comminuted terbuka.
otak, perdarahan aktif (+) • Fr. Depresi
F: Krepitasi (-), Nyeri (+)
M: ROM (+)
PEMBAHASAN
Epidemiologi Etiopatofisiologi Manifestasi Klinis

• Fraktur depressed • Kecelakaan SPM, • 25% dari pasien dengan fr.


tersering terjadi pada tindakan kekerasan depressed tidak datang
frontoparietal (75%), dengan keluhan hilangnya
• Fraktur depressed
dan temporal (10%), kesadaran, dan 25%
biasanya terlokalisir
occipital (5%), dan pada satu tempat di lainnya hilang kesadaran
lainnya (10%). kepala. Ketika trauma dalam waktu kurang dari 1
• Fraktur depressed cukup besar, atau jam.
sering terjadi pada terkonsentrasi pada • Gejala : nyeri kepala, mual,
frontoparietal karena daerah sempit, tulang muntah.
tulang pada bagian terdesak ke bawah, • Pada pemeriksaan fisik
tersebut tipis dan sehingga terdapat fraktur yang
menghasilkan fraktur
cenderung terkena terbuka atau tertutup
depressed.
serangan dari dengan segmen tulang
penyerang yang lebih cekung
dibandingkan tulang
disekitarnya.
DIAGNOSIS
• Pemeriksaan neurologis, analisa lab darah,
dapat dilakukan pemeriksaan pencitraan.
• Pemeriksaan pencitraan yang dapat dilakukan
adalah X-ray, CT-scan dan MRI.
• Gold standar : CT-scan
CT-scan Kepala
• fraktur impresi multiple di daerah
parietooccipital kanan dengan bercak
perdarahan dan edema
• Tak tampak deviasi midline struktur,
• Kesan : open fracture impresi
multipel di parietooccipital kanan
dengan ICH di parietooccipital kanan
sampai cortical

Fraktur depressed dianggap


bermakna apabila tabula eksterna
segmen yang impresi (misalnya
kontusio serebri atau intraserebral
hematoma) masuk dibawah tabula
interna segmen tulang yang sehat (>
1 diploe).
TERAPI
Farmakoterapi Non farmakoterapi Pembahasan

• O2 nasal kanul 3 lpm dan head up 300 Craniotomi Terapi medikamentosa


• Vulnus tutup kasa pada penderita cedera
• IVFD RL 1500cc/24 jam kepala dilakukan untuk
• Injeksi Ceftriaxone amp 2 x 1 g IV
• Injeksi Ranitidine amp 2 x 50 mg IV
memberikan suasana yang
• Injeksi Ketorolac amp 3 x 30 mg IV optimal untuk kesembuhan.
• Injeksi Phenitoin amp 3 x 100 mg IV Hal-hal yang dilakukan
• Injeksi Citicolin amp 2 x 500 mg IV dalam terapi ini dapat
• Loading manitol 200 cc, dilanjutkan berupa pemberian cairan
125 cc/6 jam intravena, hiperventilasi,
• Chlorpromazine inj 1/2 x 25mg IV pemberian manitol, steroid,
(bila pasien gelisah saat CT scan)
• Pasang DC set
furosemid, barbitirat dan
• Transfusi PRC III kolf antikonvulsan. Pada
penanganan beberapa kasus
cedera kepala memerlukan
tindakan operatif.
INDIKASI OPERASI
PEMBAHASAN KASUS
Indikasi operasi pada fraktur • Fraktur depressed terbuka
depressed : • Terdapat contusio cerebri di daerah
• fraktur lebih dari 1 diploe atau parietal dextra
• terdapat lesi intrakranial dibawah
segmen yang impresi (misalnya
kontusio serebri atau intraserebral
hematoma)
• terdapat defisit neurologis yang
sesuai dengan daerah yang impresi
Komplikasi
1. Edema Serebral dimana terjadi peningkatan TIK karena ketidak
mampuan tengkorak utuh untuk membesar meskipun peningkatan
volume oleh pembengkakan otak diakibatkan dari trauma.
2. Herniasi Otak adalah perubahan posisi ke bawah atau lateral otak
melalui atau terhadap struktur kaku yang terjadi menimbulkan
iskemia, infark, kerusakan otak irreversible dan kematian.
3. Defisit neurologic dan psikologik
4. Infeksi sistemik (pneumoni, infeksi saluran kemih, septicemia)
5. Infeksi bedah neuron (infeksi luka, osteomielytis, meningitis, abses
otak)
Prognosis
Walaupan fraktur pada cranium memiliki potensi resiko tinggi untuk
cedera nervus cranialis, pembuluh darah, dan cedera langsung pada
otak, sebagian besar jenis fraktur adalah jenis fraktur linear pada anak-
anak dan tidak disertai dengan hematom epidural. Sebagian besar
fraktur, termasuk fraktur depresi tulang cranium tidak memerlukan
tindakan operasi.
TERIMA KASIH