Anda di halaman 1dari 11

Oleh: Ilham Dwi Prasetyo

Latar Belakang
 Mata adalah jendela kehidupan, dengan mata kita bisa melihat,
mengerjakan sesuatu dengan rapih. Penglihatan dikatakan baik apabila
kita tidak memiliki keluhan-keluhan yang mengganggu pada
penglihatan kita. Kegiatan seperti membaca dekat terlalu lama tanpa
mengistirahatkan mata, main game yg sangat lama, jarang
mengonsumsi makanan yang bergizi akan menyebabkan munculnya
berbagai macam kelainan pada matanya. Salah satunya adalah kelainan
refraksi Myopia. Myopia adalah ketidak mampuan untuk melihat objek
pada jarak jauh dengan jelas. Myopia merupakan kelainan refraksi yang
banyak dijumpai. Mata dengan myopia simpleks mempunyai kelainan
refraksi kurang dari 6 dioptri, sedangkan mata dengan myopia
degeneratif mempunyai kelainan refraksi paaling sedikit 6 dioptri.
ANAMNESA REFRAKSI
DATA PASIEN :
 Nama : Bpk. Pujo Laksono
 Umur : 41Tahun
 Pekerjaan : Driver Ojek Online
 Alamat & No.Hp : Jl. Benda permai III Pamulang, 085213043078

Anamnesa ( Wawancara Refraksi )


 Keluhan utama : Buram untuk melihat jauh
 Riwayat penyakit sekarang : Pusing
 Riwayat penyakit terdahulu yg berhubungan dengan sekarang :Tidak ada
 Riwayat pemakaian obat obatan : Tidak ada
 Riwayat penyakit dalam keluarga : Tidak ada
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN REFRAKSI
 Pengukuran jarak pupil:
PUPIL DISTANCE (JARAK ANTAR PUPIL)
JAUH DEKAT
MONOKULER BINOKULER MONOKULER BINOKULER
OD OS ODS OD OS ODS
34 34 68 32 32 64

a) Tes tutup buka (Cover un Cover): EXO


b) Tes tutup buka berganti (Alternating): EXO
c) Pemeriksaan Pantulan Kornea (HirchbergTest): Pantulan cahaya pada kornea sebelah kiri sedikit
keluar.
d) NPC (Titik Terdekat Konvergensi): 8cm = 80mm.
e) AC (Amplitudo Konvergensi): 81,92
f) NPA (Titik Terdekat Akomodasi): R/ 130mm L/ 120mm
g) AA (Amplitudo Akomodasi): R/ 0,76D L/ 0,83D
h) Pemeriksaan Motilitas (Broad H Test): Mengikuti
i) Pemeriksaan Fungsi Pupil: Bereaksi
 PEMERIKSAAN REFRAKSI OBYEKTIF:
 Keratometri KOD : 44.25/44.75 @90
KOS : 43.00/44.25 @90
 Auto Refraktometer R : -4.50
L : -5.00 -0.75 x70
PD : 68
III. Pemeriksaan Refraksi Subjektif
PD
AV. SC SPH CYL AXIS PRISM BASE AV. CC ADD AV J
Jauh Dekat

OD +0.75
6/7.5 - - - - 6/6 +1.00 1 63 59

OS
6/12 -1.25 -0.25 90 - - 6/6 +1.00 1 63 59
Pemeriksaan Refraksi Subjektif Jauh
 Posisikan pasien pada jarak 6 meter dan posisi chart 6/6 sejajar dengan mata
 Tutup mata kiri pasien. Selama pemeriksaan amati, pastikan tidak terbuka dan tidak
menekan bola mata
 Ketika pasien membaca optotype, pasien tak mampu membaca sampai baris 6/6,
melainkan hanya 6/7.5, diberi lensa plus visus maju, bvs: (+0.75) untuk OD dan visus
6/12, diberi lensa plus visus mundur, diberi lensa minus visus maju, bvs: (-1.25) untuk
OS.
 Lanjut pemeriksaan astigmat menggunakan trial dan didapatkan mata sebelah kiri -
0.25x90
 Melihat chart, sampai visus 6/6
 Lakukan duochrome, objek sama hitam
 lakukan perhalus power cylinder, tidak perlu dikurangi karena pasien merasa sudah
nyaman
 Lakukan penyeimbangan akomodasi, penglihatan pasien antara mata kanan dan kiri sudah
hampir sama
 Lakukan duke elder test. Diberikan +0.25 pada kedua mata, pasien merasa tidak nyaman.
 Catat hasil pemeriksaan jauh OD S +0.75 dan OS S-1.25 C-0.25 X90
Pemeriksaan Refraksi Subjektif Dekat
 Instruksikan pasien untuk memegang kartu pemeriksaan pada jarak -+ 40cm
 Ukuran power jauh dipasangkan pada mata pasien
 Tambahkan lensa plus berdasarkan table umur
 Minta pasien membaca sampai dengan baris terkecil
 Catat hasil pemeriksaan (J1)
 Ukuran kacamata single vision: OD : S+0.75
OS : S-1.25 C-0.25 x90
ADD: +1.00D
DV: 63

Diagnosa :
1. Pasien menderita antimetropia
2. Pasien menderita hypermetropia pada mata kanan
3. Pasien menderita myopia astigmat pada mata kiri
Analisa Kasus
Identifikasi:
1. Pasien mengeluh jika melihat jauh tak jelas.
2. Pasien memicingkan matanya bila melihat jauh agar melihat lebih jelas.
(dominan mata kanan)
Penyebab:
Pasien menderita kelainan refraksi “antimetropia astigmat”.
Akibatnya:
Penglihatan pasien tidak jelas untuk lihat jauh.
Cara mengatasinya:
Berikan kacamata yang terbaik untuk pasien, salah satunya adalah kacamata
single vision (untuk jauh saja atau untuk baca saja). Tidak nyaman jika
menggunakan bifocal ataupun progressive.
Kesimpulan
 Gangguan anisometropia yang tidak terkoreksi akan menimbulkan gangguan penglihatan
binokuler dengan adanya asthenopia atau sering dikenal dengan kelelahan mata sebagai akibat
dari akomodasi yang terus menerus
 Dari hasil refraksi pasien didapatkan data sebagai berikut:
OD: S +0.75
OS: S -1.25 C-0.25 X90
ADD: +1.00D
PD: jauh: 63, dekat: 59
 Pasien susah untuk melihat jauh, dan memiliki ciri mengecilkan mata untuk melihat jauh
dengan jelas. Ternyata ketika dilakukan pemeriksaan refraksi ditemukan pasien menderita
kelainan antimetropia, yaitu perbedaan status refraksi antara mata kanan dan kiri (kanan
hypermetropia dan kiri myopia). Penyebab dari antimetropia salah satunya adalah karena
antimetropia congenital atau kelainan bolamata yang tak sama bentuknya. Akibatnya pasien
sulit untuk melihat jauh.
 Solusinya adalah memberikan kacamata dengan lensa single vision.
 Untuk melihat dekat masih bisa jika tidak menggunakan kacamata baca, karena jika dilihat
dari hasil refraksi masih terbantu dengan mata sebelah kiri. Tetapi lebih baik jika
menggunakan kacamata untuk baca.
 Saran: periksa mata setahun sekali untuk dewasa
SELESAI

TERIMA KASIH