Anda di halaman 1dari 8

Presentasi kasus

Antimetropia

Oleh: Ronaldi Putra


Nim: 15.086
Latar belakang

 Mata adalah jendela kehidupan, dengan mata kita bisa melihat, mengerjakan
sesuatu dengan rapih. Penglihatan dikatakan baik apabila kita tidak memiliki
keluhan-keluhan yang mengganggu pada penglihatan kita. Tapi penulis
bingung kenapa jarang sekali orang yang merawat matanya, padahal ia selalu
merawat rambutnya, kulitnya, kukunya, dll. Kegiatan seperti membaca dekat
terlalu lama tanpa mengistirahatkan mata, main game yg sangat lama, jarang
mengonsumsi makanan yang bergizi. padahal ketika mata tak dijaga dengan
baik munculah berbagai macam kelainan pada matanya. Salah satunya adalah
kelainan refraksi. Ketika praktek, penulis menemukan pasien yang menderita
kelainan refraksi yang berbeda >0.75 ukurannya antara mata kanan dan kiri,
dan berbeda status refraksinya. Mata kanan astigmat hypermetropia dan mata
kiri astigmat myopia Maka penulis ingin membahas tentang
antimetropia(perbedaan status refraksi antara mata kanan dan kiri)
Proses pemeriksaan
 Biodata pasien
 Nama: Sulastri
 Umur: 48 tahun
 Pekerjaan: antar jemput anak sekolah
 I.Pemeriksaan Pendahuluan
 1.Anamnesa ( Wawancara Refraksi )
 > Keluhan utama: melihat jauh buram, mata gatal ketika membaca
 > Riwayat penyakit sekarang: tidak ada
 > Riwayat penyakit terdahulu yg berhubungan dengan sekarang: sakit maag
 > Riwayat pemakaian obat obatan: tidak ada
 > Riwayat penyakit dalam keluarga: ibu pakai kacamata, dan orang tua katarak
 II. Pemeriksaan Refraksi Objektif :
 Keratometri KOD : 46.68-44.46@90
 KOS : 46.23-44.70@90
III. Pemeriksaan Refraksi Subjektif
PD
AV AV
SPH CYL AXIS PRISM BASE ADD AV J Ja dek
SC CC
uh at

OD
6/30 +1.25 -2.25 90 - - 6/6 +2.00 1 64 62

OS
6/18 -1.00 -1.50 90 - - 6/6 +2.00 1 64 62
Pemeriksaan refraksi subjektif jauh

 1. posisikan pasien pada jarak 6 meter dan posisi chart 6/6 sejajar dengan mata
 2. tutup mata kiri pasien. Selama pemeriksaan amati, pastikan tidak terbuka dan tidak
menekan bola mata
 3. ketika pasien membaca optotype, pasien tak mampu membaca sampai baris 6/6,
melainkan hanya 6/30, diberi lensa plus visus maju, bvs: (+1.25) untuk OD dan visus 6/18,
diberi lensa plus visus mundur, diberi lensa minus visus maju, bvs: (-1.00) untuk OS.
 Gunakan pinhole, visus maju
 Lanjut pemeriksaan astigmat dengan menggunakan alat cross cyilinder, pasien melihat objek
lebih jelas ketika diperiksa dengan alat tersebut. Didapatkan OD-2.25D X 90 dan OS-1.50D X
90.
 Melihat chart, sampai visus 6/6
 Lakukan duochrome, objek sama hitam
 lakukan perhalus power cylinder, tidak perlu dikurangi karena pasien merasa sudah nyaman
 Lakukan penyeimbangan akomodasi, penglihatan pasien antara mata kanan dan kiri sudah
hampir sama
 Lakukan duke elder test. Diberikan +0.25 pada kedua mata, pasien merasa tidak nyaman.
 Catat hasil pemeriksaan jauh OD S +1.25 C-2.25 X90 dan OS S-1.00 C-1.50 X90
Pemeriksaan refraksi subjektif dekat

 Instruksikan pasien untuk memegang kartu pemeriksaan pada jarak +-40cm


 Ukuran power jauh dipasangkan pada mata pasien
 Tambahkan lensa plus berdasarkan table umur
 Minta pasien membaca sampai dengan baris terkecil
 Catat hasil pemeriksaan (J1)
 Ukuran kacamata: OD: S+1.25 C-2.25 X90
OS: S-1.00 C-1.50 X90
ADD: +2.00D
DV: R: 34
L: 35
 diagnose: 1. pasien menderita antimetropia
2. pasien menderita hypermetropia astigmat pada mata kanan
3. pasien menderita myopia astigmat pada mata kiri
Analisa kasus

 Kasus 1
 Identifikasi: 1. pasien mengeluh jika melihat jauh tak jelas,
2. pasien memicingkan matanya bila melihat jauh(lebih dominan
yang sebelah kiri), dengan tujuan agar melihat dengan jelas
3. perbedaan ukuran antara mata kanan dan kiri cukup besar, yaitu
2.00D
 Penyebab:
1. pasien menderita anisometropia, yaitu anisometropia congenital.
Terjadi Karena perbedaan pertumbuhan dari bolamata
2. pasien menderita kelainan refraksi “antimetropia astigmat”
 Akibatnya: penglihatan pasien tidak jelas, jika tak memakai kacamata koreksi
yang terbaik.
 Cara mengatasinya: berikan kacamata yang terbaik untuk pasien, salah satunya
adalah kacamata single vision.
kesimpulan
 Gangguan anisometropia yang tidak terkoreksi akan menimbulkan gangguan
penglihatan binokuler dengan adanya asthenopia atau sering dikenal dengan
kelelahan mata sebagai akibat dari akomodasi yang terus menerus
 Dari hasil refraksi pasien didapatkan data sebagai berikut:
OD: S+1.25 C-2.25 X90
OS: S-1.00 C-1.50 X90
ADD: +2.00D
AVODS: 6/6
PD: jauh: 64, dekat: 62
 Mata pasien susah untuk membaca, melihat jauh, dan memiliki ciri mengecilkan
mata untuk melihat jauh dengan jelas. Ternyata ketika dilakukan pemeriksaan
refraksi ditemukan pasien menderita kelainan antimetropia. Perbedaan mata
pasien antara yang kanan dan kiri adalah 2.00D. Penyebab dari antimetropia salah
satunya adalah karena anitimetropia congenital atau kelainan bolamata yang tak
sama bentuknya. Akibatnya pasien sulit untuk melihat baik dekat maupun jauh.
Jadi, solusinya adalah memberikan kacamata single vision.
 Saran: periksa mata setahun sekali untuk dewasa