Anda di halaman 1dari 9

Presentasi

Kelompok “Dara Sumut”


Tasya Arumdani 11010115120001 (10)
Sofi Eka Silalahi 1101015120011 (11)
Elizabeth F A Togatorop 11010115120016 (12)
Christine Natalia 11010115140346 (54)
TEORI PERIKATAN DASAR
SURAT BERHARGA

Terdapat 4 teori yang membahas tentang


perikatan antara penerbit dan pemegang
surat berharga (Zevenbergen, 1935:40-45)
Teori Kreasi atau
Penciptaan
(Creatief Theorie)

Teori Perjanjian TEORI PERIKATAN Teori Kepantasan


DASAR
(Overeenkomst Theorie) (Redelijkheidst Theorie)
SURAT BERHARGA

Teori Penunjukan
(Vertoning Theorie)
1. Teori kreasi atau penciptaan (Creatief Theorie)
Teori ini awalnya dikemukakan oleh Einert seorang Sarjana Hukum Jerman pada
tahun 1839, kemudian diteruskan oleh Kuntze dalam bukunya Die lehre von den
inhaberpapieren tahun 1857, menurut teori ini, yang menjadi dasar hukum mengikatnya
surat berharga antara penerbit dan pemegang adalah pada perbuatan “menandatangani”
surat berharga itu.
Namun pernyataan sepihak dengan tanda tangan saja tidak mungkin
menimbulkan perikatan.Untuk itu agar supaya timbulnya perikatan harus ada 2 pihak yang
mengadakan persetujuan, sebab tanpa persetujuan tidak akan mungkin ada kewajiban.
Dengan demikian, jika surat berharga itu jatuh ke tangan orang yang tidak
berhak dan tidak jujur, penerbit yang menandatangani tetap terikat untuk membayar.
Padahal pada pasal 1977 ayat (2) KUHPerdata telah menyebutkan seorang yang
kehilangan surat karena dicuri masih berhak menuntut kembali surat tersebut dari si
pencuri atau penemunya selama tenggang waktu 3 (tiga) tahun, kecuali pemegang
memperolehnya dari pasar umum.
2. Teori Kepantasan
(Redelijkheidst Theorie)
Teori ini pertama kali dikemukakan
seorang sarjana hukum Jerman bernama
Grunhut.
Menyatakan bahwa penerbit yang
menandatangani surat itu tetap terikat untuk
membayar kepada pemegang, meskipun
pemegang yang tidak jujur.
Namun teori ini masih berdasarkan pada
teori penciptaan, bahwa penandatanganan surat
berharga itu menimbulkan perikatan.
Karena pada prinsipnya pernyataan
sepihak tidak mungkin menimbulkan perikatan
jika tidak ada persetujuan dari pihak lainnya.
3. Teori Perjanjian (Overeenkomst Theorie)
Teori ini dikemukakan oleh seorang sarjana hukum asal Jerman
bernama Thoi, dalam bukunya Das Handelsrecht tahun 1987.
Menurut teori ini dasar hukum yang mengikatnya surat berharga
antara penerbit dan pemegang adalah surat perjanjian yang dibuat oleh kedua
belah pihak yaitu penerbit yang menandatangani dan pemegang pertama
yang menerima surat berharga itu.

Dalam perjanjian, disetujui bahwa pemegang pertama mengalihkan


surat itu kepada pemegang berikutnya, penerbit tetap terikat dan
bertanggungjawab untuk membayar.
Namun teori ini tidak memberikan penyelesaian yang memuaskan
jika surat berharga itu beredar secara tidak normal, misalnya hilang atau
dicuri.
4. Teori penunjukan
(Vertoning Theorie)
Teori ini dikemukakan oleh sarjana hukum terkenal,
yaitu Land dalam bukunyaBeginseleen van het Hedendaagsche
Wisselrecht tahun 1881, Wittenwall dalam bukunyaHet
Toonderpapier tahun 1893, dan Jerman oleh Rieser.
Menurut teori ini yang menjadi dasar hukum
mengikatnya surat berharga antara penerbit dan pemegang
yaitu perbuatan penunjukkan surat berharga itu kepada debitur.
Debitur yang pertama adalah penerbit, oleh siapa surat
berharga itu disuruh dipertunjukkan pada hari bayar, saat itulah
timbul perikatan dan penerbit selaku debitur wajib
membayarnya.
Namun teori ini tidak sesuai dengan fakta karena
pembayaran adalah pelaksanaan dari suatu perjanjian atau
perikatan, dengan demikian perikatan tersebut harus sudah ada
terlebih dahulu sebelum pelaksanaannya. Teori ini pun dikatakan
terlau jauh bertentangan dengan KUHD.
Didalam KUHD menentukan bahwa perikatan itu sudah ada sebelum hari bayar
dan sebelum menunjukkan surat berharga itu. Dalam Pasal 142 KUHD yang
menyatakan bahwa pemegang surat wesel bisa melaksanakan hak regresnya
kepada para endosan, penerbit dan para debitur wesel lainnya pada hari bayarnya
apabila terjadi nonpembayaran, bahkan sebelum hari pembayarannya. Hal ini
dapat dilihat dari :
1. Apabila akseptasi seluruh atau sebagiannya ditolak.
2. Dalam hal kepailitan tersangkut, baik tersangkut akseptan maupun bukan
akseptan, dan mulai saat berlakunya penundaan pembayaran yang diberikan
kepadanya.
3. Dalam hal pailitnya penerbit, surat wesel yang tidak diperoleh akseptasinya.