Anda di halaman 1dari 37

Peninjauan konstruksi Pesawat Uap

RANCANG BANGUN KETEL


UAP

PEMBUATAN PESAWAT
PEMBANGKIT UAP
OLEH : ID. PUTU H
RANCANG BANGUN &
REKAYASA KETEL UAP
Ketel uap harus memenuhi hal-hal berikut ini
untuk disebut sebagi pesawat yang ideal, yaitu
bahwa ketel uap yang dirancang;
1. Harus sederhana konstruksinya, dikerjakan
oleh dan cara yang ahli professional yang
menggunakan material yang memerlukan
pemeliharaan murah.
2. Harus dibuat rancangan dan konstruksinya
untuk disesuaikan dengan sifat-sifat bahan.
3.Harus mempunyai ruang air dan uap yang
cukup memberikan uap yang bersih dan
sirkulasi air yang baik.
4.Harus mempunyai tungku yang dapat
memberikan hasil pembakaran yang effisien
dengan nilai pemindahan panas yang
maksimum.
5.Harus responsif terhadap kebutuhan dan
kelebihanbeban yang tiba-tiba.
6.Harus mudah dibersihkan dan diperbaiki
(reparasi).
7.Harus mempunyai faktor keamanan dan
memenuhi ketentuan-ketentuan standar.
8.Harus tahan terhadap gempa.
9.Harus mampu terhadap tekanan udara angin
HUBUNGANNYA DENGAN
PERATURAN YANG BERLAKU DI
INDONESIA.
1.MenurutUndang-Undang Uap baik ketel uap
tersebut dibuat diluar negeri maupun didalam
negeri wajib mendapat pengesahan dari
Depnaker dalam hal ini Direktorat Pembinaan
Norma Keselamatan, dan KesehatanPabrik
pembuat wajib mengajukan permohonan
pengesahan dengan melampirkan.
 Gambar-gambar calquer dari kontruksi ketel
uapnya.
 Gambar-gambar cetak konstruksi dari pesawat
uapnya.
 Sertifikat-sertifikat bahan (disahkan oleh pihak III).
 Sertifikat pengujian NDT (disahkan oleh pihak III).
 Surat keterangan uji padat.
 Sertifikat las (elektroda, juru las, operator las) .
Yang akhirnya pesawat uap yang akan dipakai
wajib mempunyai izin operasi dari Depnaker.
Menurut Surat Keputusan Menteri
Perindustrian No.09/M/SK/l/1988
B4T Bandung sebagai unit pelaksana teknis
Departemen Perindustrian yang berwenang
melaksanakan sertifikasi kepastian mutu.
Memenuhi ketentuan-ketentuan dalam Standar
Industri Indonesia atau standar yang diacu
misalnya International Organization
Standardization (ISO), American Society Of
Mechanical Engineer (ASME), American
Petroleum Institute (API), American National
Standards Institute (ANSI), British Standard (BS),
Deutsche Industrie Normung (DIN)
Pabrik pembuat akan diberi SURAT KETERANGAN
KEMAMPUAN FABRIKASI yang diterbitkan oleh
Badan Kepastian Mutu yang berkedudukan di
Bandung.
DPNKK melakukan pengawasannya atas dasar
keselamatan kerja dengan produk akhir izin pakai
bagi ketel uapnya dan pihak Badan KepastianMutu
atas dasar tingkat mutu dari hasil produknya sesuai
ketentuan dalam standar.
PENGENDALIAN MUTU
(QUALITY CONTROL)
Menjadikan kedua perkataan tersebut sebagai
dasar tolok ukur dalam menentukan langkah
pembuatan suatu pesawat pembangkit uap,
bejana tekan atau penukar panas dengan hasil
yang memenuhi standar serta terlaksananya
keselamatan dalam berproduksi (safe
production).
Untuk itu diperlukan suatu sistem pengendalian
mutu untuk dijadikan pedoman pelaksanaan
fabrikasi dan panduan bagi inspektur untuk
memantau pelaksanaannya.
Minimal sistem pengendalian mutu tersebut
harus memenuhi persyaratan antara lain
dapat menunjukkan hal-hal seperti ;
1.Kewenangan dan tanggung jawab personil
pengendalian mutu.
2.Organisasi.
3.Gambar, kalkulasi desain serta spesifikasi dan
konstruksi yang disyaratkan oleh standar.
4. Pengendalian bahan.
5. Program pengujian dan inspeksi.
6.Pembetulan ketidak sesuaian (non
comformities).
7.Pengelasan.
8.Uji tanpa merusak (UTR).
9.Perlakuan panas.
10.Kalibrasi alat-alat ukur dan uji.
11.Penyimpanan rekaman.
12.Formulir.
13.Personil pengendalian mutu.
• Sebagaimana diuraikan diatas, pengendalian
mutu ini (quality control) erat sekali
hubungannya dengan sertifikasi kepastian
mutu. Oleh karena itu beberapa hal yang perlu
diketahui oleh pemanufaktur dalam
pelaksanaan fabrikasinya antara lain :
1.Verifikasi desain dan spesifikasi.
2.Verifikasi program inspeksi dan pengujian.
3.Verifikasi prosedur fabrikasi.
4.Review jadwal pelaksanaan fabrikasi.
5. Review spesifikasi prosedur pengelasan dan
rekaman kualifikasi prosedur las.
6.Memeriksa pengendalian banan dan komponen
dari pemanufaktur lain.
7.Memeriksa alat-alat uji ukur, dan produksi.
8.Memeriksa ketrampilan personil UTR yang
berkualifikasi.
9.Memeriksa/inspeksi pelaksanaan fabrikasi.
10.Penyaksikan pengujian.
11.Pembetulan ketidak sesuaian.
12.Memeriksa laporan fabrikasi dan pengelasan
produksi serta laporan pengujian.
13.Persetujuan laporan data pemanufaktur.
14.Penerbitan sertifikat kepastian mutu.
Pengawasannya dilakukan oleh Badan
Kepastian Mutu (quality assurance)
Pemerintah yang berkedudukan di Bandung
yang juga berwenang menerbitkan sertifikat
kepastian mutu (certificate of conformities).
PENGAWASAN OLEH
DEPARTEMEN TENAGA KERJA
Sebagaimana tersebut didalam Undang-Undang
Uap, bahwa pesawat uap yang akan dioperasikan
dilarang dioperasikan sebelum mendapat izin
terlebih dahulu dari DepartemenTenaga Kerja.
Juga diatur tentang tata cara mendapatkan
pengesahan dari gambar-gambar rencana
pembuatan pesawat uap. Sebelum dimulai
pembuatannya dan tata cara untuk mendapatkan
izin pakai dari pesawat uap baik berupa ketel uap
maupun bejana uap.
Pengawasan terhadap pesawat-pesawat uap ini
dilakukan secara terus menerus baik pesawat uap
tersebut beroperasi maupun tidak
Bagi pesawat uap yang rusak dan direparasi
berlaku pula tata cara tersebut diatas, yang juga
tidak boleh dimulai reparasinya sebelum
mendapat persetujuan dari Departemen Tenaga
Kerja.
Bahwasanya apa yang menjadi perhatian dan
evaluasi oleh Departemen Tenaga Kerja
bekerjasama dengan pihak Badan Kepastian
Mutu (quality assurance) tetapi titik berat
ditekankan pada keselamatan kerja.
PENGELASAN
Suatu unit boiler yang dikonstruksi dengan las
fusi (fusion welding), pada prinsipnya harus
dipertimbangkah terhadap beberapa faktor
antara lain :
1.Pemenuhan terhadap persyaratan desain,
misalnya ;
 Sifat mekanis.
 Sifat metalurgi.
 Sifat fisis.
 Sifat chemis.
2.Kesederhanaan Konstruksi.
Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan
pengelasannya mudah dan resiko kegagalan
konstruksi las sedapat mungkin bisa
dihindarkan atau diperkecil.
3.Ekonomis
PERENCANAAN PENGELASAN.
Dalam merencanakan konstruksi las untuk
boiler, terutama bagian- bagian yang
mengalami tekanan kerja dan temperatur
yang tinggi harus dilakukan secara seksama.
Ada beberapa hal pokok yang penting untuk
dipertimbangkan antara lain;
1. DESAIN KAMPUH LAS
Dipertimbangkan terhadap dimensi material
yang di las, posisi pengelasan, proses las,
spesifikasi material, estimasi deformasi akibat
srinkage, resikodiskontinyuitas, dan lain lain.
2. PEMILIHAN LOGAM PENGISI (ELEKTRODA)
Dipertimbangkan terhadap, spesifikasi material, proses las,
posisi pengelasan, dimensi kampuh las, sifat mekanis yang
diperlukan, dan lain lain.
3.HEAT INPUT
Dipertimbangkan terhadap, spesifikasi material, jenis dan
ukuran elektroda, posisi pengelasan.
4.PERLAKUAN PANAS
Dipertimbangkan terhadap, spesifikasi material, dimensi.
5.TEKNIK PENGELASAN
Dipertimbangkan terhadap jenis material dan lain lain, semua
variable las ini dirangkum dalam suatu bentuk lembar kerja
yakni “Welding Procedure Specification” (WPS).
WPS ini sebelum diterapkan dalam pengelasan produk harus
dikualifikasi dahulu sesuai kode dan persyaratan desain.
WPS berkualifikasi inilah yang digunakan sebagai pedoman
pengelasan oleh juru/operator las.
INSPEKSI PENGELASAN
Secara umum inspeksi konstruksi las dilakukan
dengan cara uji rusak (destructive test) dan uji
tanpa merusak (non destructive test).
Yang termasuk uji rusak antara lain;
– Uji mekanis.
– Uji Makro.
– Uj i Mikro.
Yang termasuk uji tanpa rusak antara lain ;
– Uji visual.
– Uji penetrant.
– Uji partikel magnetik.
– Uji ultrasonik.
– Uji radiografi.
Uji Eddy Current, dan lain lain
JURU LAS DAN OPERATOR LAS
Juru/operator las yang melaksanakan
pekerjaan pengelasan pada ketel uap maupun
bagian-bagiannya harus berkualifikasi sesuai
dengan ketentuan atau kode yang berlaku.
Misalnya :
– Untuk pengelasan ketel uap Karus juru las
bersertifikat kelas I yang berkualifikasi sesuai
dengan permennaker No. PER.02/MEN/1982.
– Juru/operator las harus dikualifikasi sesuai dengan
jenis material, jenis elektroda, posisi pengelasan,
proses pengelasan, dan variabel lain yang
disyaratkan oleh spesifikasi/kode.
PERLAKUAN PANAS (HEAT
TREATMENT)
Dengan perlakuan panas disini dimaksudkan
adalah untuk menghilangkan atau tepatnya
mengurangi tegangan yang terjadi pada benda
yang dibuat, berupa tegangan-tegangan pada
saat :
• Giling (milling stress).
• Las (shrinkages).
• dan lain lain.
Perlakuan tersebut disebut pula sebagai
annealing atau stress relieving, meskipun ini
tidak dapat disamakan begitu saja, yang
memang dapat membingungkan.
SEBAB :
Stress relief adalah suatu bentuk relaksasi
internal dengan perubahan-perubahan tak
berarti dalam microstructure-nya, dan hanya
terjadi sedikit perubahan pada sifat-sifat
bahannya.
SEDANGKAN :
Annealing dilain pihak, menyebabkan perubahan-
perubahan yang besar baik microstructure
maupun sifat-sifat bahannya sebagai kelanjutan
dari stress relieving.
Perubahan-perubahan yang menyertai stress
relieving selama annealing adalah pelunakkan
(softening), mudah ditempa (mableabilizing) dan
pembentukkan susunan butir-butir (grains) yang
baru. Hingga perlakuan panas tersebut diatas
tidak dapat diidentikan satu sama lain. Terjadinya
perubahan-perubahan agaknya bisa dikatakan
berurutan.
PROSES PERLAKUAN PANAS
Tujuan perlakuan panas mempunyai 2 (dua)
maksud,yaitu :
1.Tegangan-tegangan las terutama pada
sambungan-sambungan las akan mencapai
sedemikian tingginya, sehingga perpaduan
dengan tekan kerja dari ketel uapnya akan
menimbulkan retakan, dengan kata lain
peledakan.
Dengan perlakuan panas maka tegangan kerut
(shrinkage tension) akan dikembalikan
sampai 5 a 6 kg/mm2.
2.Keadaan lainnya adalah bagian-bagian yang
dilas, yang mengalami pengerjaan secara
mekanis ketika membuang sebagian bahannya
karena penimbunan tegangan kerut dapat
berbentuk tidak stabil, benda kerja tersebut
akan sudah menunjukkan perubahan-
perubahan bentuk selama pengerjaannya
secara mekanik. Disini juga pembebasan
tegangan memberikan jawabannya.
Dengan demikian benda kerjanya dalam hal ini
ketel uapnya berupa drum dikenakan
ketentuan mendapatkan perlakuan panas
(heat treatment-annealing).Jadi harus
dipanaskan sampai suhu antara 600oC-650oC
didalam suatu tungku tertutup rapat.
Tentang hal ini berbagai perusahaan klasifikasi
menentukan persyaratan perlakuan panas
yang pada umumnya lebih kurang sama,
antara lain :
– Kecepatan pemanasan sampai 300°C tidak
terbatas.
– Kecepatan pemanasan dari 300°C-650°C
maksimum 150°C/jam.
– Tiap 25 mm ketebalan bahan/drum ditahan pada
suhu tersebut selama satu jam.
Pendinginan didalam tungku sampai suhu
300°C dengan kecepatan 200°C/jam.Setelah
dicapai suhu 300°C maka benda kerja boleh
didinginkan secara alami diluar tungku, lebih
baik dalam keadaan udara tenang/tidak
berangin.
Dapat ditambahkan disini bahwa selisih suhu
lebih kurang 100oC didalam tungku masih
dapat dibenarkan selama pemanasan.
Bila benda kerja (ketel uap atau drum) sudah
mencapai suhu, maka selisih suhu didalam
tungku dan juga diluar dan didalam bejana
(ketel uap atau drum) tidak boleh lebih dari
40° a 50°C.
Hal ini tentu perlu pengendalian pada tungkunya
dipasang 6(enam) batang pyrometer sedang
untuk pemanasannya dipergunakan 10 (sepuluh)
pembakar (burner) dan segala perubahan suhu
diketahui melalui alat perekam.
Dengan uraian diatas tentu timbul pertanyaan
apakah ketel uapnya (bejana, drum, dan
sebagainya) harus ditopang untuk mencegah
perlenturan atau pembengkokan atau perubahan
bentuknya. Problema ini adalah akibat berat
sendiri (benda kerja) dari drum yang jelas kita
dapatkan momen lengkung maksimum pada
garis duduknya, dengan harga moment :
.

Tegangan maksimum pada sisi luar pelat menjadi :

Untuk Baja :
J = 8 g/cm3 = 0.008 kg/cm3
Hingga :
Diketahui bahwa pelat ketel yang normal pada
suhu 650oC batas mulurnya kira-kira 600
Kg/Cm22. Bila dengan tegangan yang begitu
besar kita batasi keadaan misalnya dibawah
400 Kg/Cm2 maka sedikit sekali
kemungkinannya timbul perubahan bentuk
yang menetap.
Dengan demikian kiranya tidak perlu benda
kerja dibeci penopang.
SEKIAN