Anda di halaman 1dari 69

Basic Life Support

Tujuan Kursus
Memberikan pengetahuan dasar dalam
Penanganan pasien dengan metoda :
• Menilai kondisi pasien dengan cepat dan tepat
• Resusitasi dan stabilisasi pasien menurut prioritas yang
mengancam nyawa
• Evakuasi pasien sesuai dengan kebutuhan
Peraturan mengikuti Pelatihan
BLS
 Complishment
Nilai kelulusan untuk evaluasi tulis minimal 70,
evaluasi praktek minimal 70

 Menghadiri seluruh materi pelatihan baik


teori maupun praktek, jika terlambat lebih dari
15 menit pada saat teori dan praktek peserta
di nyatakan gugur
 Peserta mendapatkan remedial post test &
praktikum sebanyak 2 X

 Apabila peserta berhalangan hadir (izin,


sakit tanpa keterangan) maka
dinyatakan tidak lulus komplit/hanya attendent

 Menyerahkan biodata, dan pas photo 4 x 6 berwarna


pre test yang telah di selesaikan kepada
instruktur

 Peserta hadir 15 menit sebelum materi


dimulai yang telah di tentukan dan mengisi
daftar hadir
 Peserta wajib memakai tanda pengenal
dan alat komunikasi di silent

 Pakaian rapi, peserta memakai


sepatu, untuk wanita memakai celana
panjang pada saat pelatihan

Catatan : Keputusan selanjutnya dengan


SOS Profesional
Peraturan kelas
• HP / Mobile Phone Silent atau off
• No Sosmed Selama Teori maupun Praktek
• Makan dan Minum Ditempat yang telah di
sediakan
• Mengunakan seragam yang telah disepakati
• On Time
HUKUMAN ?
STRUKTUR KELAS
KETUA
BENDAHARA
SEKRETARIS
Pendahuluan

Sistem Pennggulangan Penderita Gawat


darurat Terpadu (SPGDT) adalah suatu
sistem penanggulangan gawat darurat
sehari-hari ataupun gawat darurat akibat
bencana yang terintegrasi dari beberapa
unsur/instansi seperti Ambulan Gawat
Darurat, Polisi, Pemadam Kebakaran,
Search And Rescue (SAR), Dinas
Kesehatan serta Rumah Sakit.
Tahapan SPGDT

a. Fase Pra Rumah Sakit


• Peran serta masayrakat pada fase ini
• Keberhasilan tergantung dari beberapa faktor :
 Kecepatan di temukannya korban
 Kecepatan minta tolong
 Kecepatan memberikan bantuan
 Kualitas / kemampuan penolong
Dalam memberikan pertologan,
ingat 3 S / A :

1. Self Safety / Aman diri


2. Scene Safety / Aman lingkungan
3. Patient Safety / Aman pasien
Fase Rumah Sakit

Koordinasi yang baik antara petugas


pra rumah sakit dengan petugas
rumah sakit, khususnya petugas unit
gawat darurat akan sangat membantu
pertolongan selanjutnya.
SKEMA PERJALANAN PASIEN GAWAT
DARURAT
Awam Khusus PERAWAT : (BTCLS, BNLS, BPLS, PPGD)
(Polisi, DOKTER : (ATLS, ACLS, ANLS, APLS)
Paramedic MANAJEMEN PENANGGULANGAN BENCANA
Petugas Pemadam
Kebakaran, (Emergency
Satpam, Palang Ambulance
Awam Merah) Service)
(BLS) (MFR & BTCLS) (PHTLS/PHCLS)_ Bangsal Perawatan
IGD ICU

Benca
na
Akses
Emergency
Pusat Rehabilitasi
Kesehatan
Telp. Number Masyarakat
?

Fase Pre-Hospital Fase Hospital


Pendahuluan

Resusitasi Jantung Paru (RJP)


merupakan gabungan penyelamatan
pernapasan (bantuan napas) dengan
kompresi dada luar.
RJP dilakukan ketika seorang korban
mengalami henti jantung dan henti
napas.
Kapan kita memulai RJP
Keputusan untuk melakukan RJP
diambil setelah kita mendapat hasil
dari pemeriksaan awal korban:
Tidak sadar,
Tidak ada napas, dan
Tidak ada denyut jantung.
Resusitasi Jantung Paru

• Sebelumnya urutan tindakan mulai dari :


 Airway
 Breathing
 Circulation

• Sekarang urutan tindakan, memprioritaskan


pada :
 Circulation
 Airway
 Breathing
Prosedur tindakan Resusitasi
Jantung Paru (RJP)

 Pastikan respon korban sambil melihat


pergerakan dada korban untuk mengetahui
korban bernafas atau tidak,
 Jika korban tidak berespon dan tidak
bernafas anda harus memanggil bantuan.
 Periksa nadi dibagian leher (nadi karotis)
maksimal 10 detik.
 Bila denyut nadi di leher tidak teraba
langsung berikan kompresi dada sebanyak 30
kali.
Cara melakukan RJP :

 Baringkan korban pada permukaan yang keras, dan datar.


 Berlutut disamping korban
 Letakkan satu pangkal telapak tangan penolong ditengah-tengah
dada korban.
 Letakkan tangan yang lainnya diatasnya kemudian kunci jari jari
tangan (pada anak-anak cukup satu tangan sedangkan pada bayi
menggunakan 2 jari).
 Lengan penolong tegak lurus dan jari-jari tangan tetap berada di
dada, tekan kebawah 2 inchi (orang dewasa), 1,5 inchi (anak-anak
dan bayi), kemudian lepaskan tekanan, tangan penolong tetap pada
posisinya.
 Ulangi penekanan sebanyak 30 kali dengan kecepatan pemompaan
100 - 120 kali dalam satu menit,
 Kemudian buka jalan nafas dengan Head Tilt Chin Lift selanjutnya
berikan 2 kali bantuan nafas.
 Setiap 2 menit periksa nadi dileher korban.
Circulation
 Cek nadi leher < 10 detik
Stop sumber perdarahan
Lakukan kompresi dada sebanyak 30
kali
Posisi Tangan
Airway – Jalan Nafas
Berikan Nafas Buatan
ALGORITMA RJP / BLS
Rasio kompresi ventilasi rekomendasi AHA, 2010 adalah
30 kompresi: 2 ventilasi untuk satu maupun dua penolong.
RJP pada anak - anak
 Ratio 30 : 2
 Gunakan 1 tangan
 Kedalaman kompresi 2 inchi
RJP pada bayi
 Ratio 30 : 2
 Gunakan 2 jari
 Kedalaman kompresi 1,5 inchi
RJP dihentikan bila :

Korban mulai bernapas normal.


Ada penolong yang lebih ahli datang
Kelelahan
Jika belum jangan menghentikan RJP
Pendahuluan

Recovery position adalah suatu posisi


yang diberikan kepada korban untuk
menjaga jalan nafas tetap terbuka.
Recovery position hanya dilakukan
pada korban yang berusia diatas 1
tahun.
Tujuan pemberian posisi
pemulihan (recovery position)
adalah:

Menjaga jalan napas korban tetap


terbuka dan bersih.
Mencegah aspirasi (masuknya
muntahan / benda asing ke dalam
mulut korban).
Cara melakukan recovery position
Tersedak / choking
Penanganan tersedak / Choking :

 Abdominal thrust ( Heimlich manuever )


• Pada orang dewasa sadar :

 Penolong harus berdiri di belakang korban,


 Lingkari pinggang korban dengan kedua lengan penolong,
 Kepalkan satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan kepalan
pada perut korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung
tulang dada.
 Pegang erat kepalan tangan dengan tangan lainnya.
 Tekan kepalan tangan ke perut dengan hentakan yang cepat ke
atas.
 Setiap hentakan harus terpisah dan gerakan yang jelas.


Penanganan tersedak :

 Abdominal thrust ( Heimlich manuever )


Pada orang dewasa tidak sadar :

 Korban ditidurkan pada posisi terlentang dengan muka ke


atas.
 Penolong berlutut di sisi paha korban.
 Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah
sedikit di atas pusar dan jauh di bawah ujung tulang dada,
 Tangan kedua diletakkan di atas tangan pertama.
 Penolong menekan ke arah perut dengan hentakan yang
cepat ke arah atas.
Abdominal thrust :
Mengatasi tersedak Pada bayi :
Jika bayi dalam keadaan bahaya, dimana tidak menangis, batuk atau
sulit bernafas, maka :

 Letakkan bayi diatas lengan anda dengan wajah mengahadap


kebawah, dengan posisi kepala lebih rendah.
 Lakukan 5 kali backblow menggunakan tumit tangan anda
 Periksa mulut bayi, bersihkan benda asing yang nampak.
 Jika benda asing tetap tidak keluar, balikkan tubuh bayi
menghadap keatas, dan lakukan chest thrust sebanyak 5 kali.
Penekanan dada menggunakan 2 jari pada tulang dada kemudian
periksa mulut bayi.
 Jika setelah 3 siklus benda asing tetap tidak keluar, panggil
bantuan medis. Tetap lakukan tidakan tersebut sampai bantuan
medis datang.
Mengatasi tersedak Pada
bayi :
Perdarahan

Sistem Sirkulasi, terdiri dari :


 Jantung  alat pompa utama, terletak di rongga dada
diantara paru-paru
 Pembuluh darah  Arteri (nadi), vena, kapiler
 Darah  membawa O2 keseluruh tubuh
Perdarahan

Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah.


Jenis perdarahan :

 Perdarahan arteri : memancar sesuai denyut jantung,


berwarna merah cerah.
 Perdarahan vena : mengalir, berwarna merah gelap.
 Perdarahan kapiler : merembes, berwarna merah cerah.
Pertolongan pada perdarahan

 Gunakan alat pelindung diri


 R – rest (istirahatkan anggota tubuh yang mengalami
perdarahan).
 E – elevated (tinggikan anggota tubuh yang luka lebih tinggi dari
posisi jantung).
 D – direct pressure (lakukan penekanan langsung pada sumber
perdarahan)
 Lakukan penekanan pada titik tekan
 Lakukan balut tekan menggunakan kassa
Menghentikan perdarahan

Direct pressusre
Elevated

Balut tekan
Luka
Luka adalah cedera pada jaringan kulit, syaraf dan
pembuluh darah

 Luka tembus
 Penanganan tutup luka seluruhnya menggunakan kassa
steril.
 Bila ada organ atau usus yang keluar, jangan memasukkan
organ yang sudah keluar, langsung tutup dengan kain yang
bersih dan lembab.
 Benda yang menancap
 Jangan mencabut benda yang masih menancap di anggota
tubuh.
 Benda yang masih menancap juga bisa sebagai tampon dan
memperlambat proses perdarahan.
 Tutup luka disekitar benda tersebut dan fiksasi benda
tersebut, kemudian bawa ke rumah sakit.
Luka amputasi
Pertolongan Pertama
 Gunakan alat pelindung diri
 Bersihkan daerah yang luka dengan air yang bersih
 Tutup bagian yang luka dengan kassa oklusif dan lakukan
bebat tekan atau pasang turniquet
 Cari potongan organ dan bersihkan
 Bungkus organ yang terpotong dengan kantong plastik dan
masukkan kedalam kantong atau wadah yang berisi es batu.
 Bawa ke rumah sakit segera bersama dengan penderita
Tanda dan gejala patah tulang :
 Deformity, atau perubahan,
 Rasa nyeri,
 Krepitasi,
 Memar atau perubahan warna,
 Pembengkakan,
 Gangguan fungsi
Penanganan di lokasi :

 Gunakan alat pelindung diri (APD)


 Pastikan airway dan breathing stabil
 Lepaskan pakaian pasien di bagian yang cedera,
 Periksa pulsasi, sensorik dan motorik bagian distal (ujung) dari
tulang yang patah sebelum dan sesudah pemasangan bidai.
 Luka terbuka harus ditutup dulu dengan kassa steril
 Pasang bidai dengan melewati 2 sendi dari tulang yang patah.
 Pasang padding / bantal secukupnya
Penanganan di lokasi :
 Pada patah tulang terbuka, jangan memasukkan ujung tulang
yang patah kedalam lagi. Tutup bagian tulang yang keluar
dengan kassa steril baru kemudian dipasang bidai.
 Bila ada cedera lain yang lebih serius dang mengancam
nyawa, bidai dipasang setelah pasien distabilkan
 Jika ragu - ragu ada tidaknya patah tulang, tetap pasang bidai
pada daerah ekstremitas yang dicurigai ada cedera.
 Segera bawa ke rumah sakit.
 Dislokasi
Dislokasi adalah cedera dimana ujung tulang keluar dari dalam
sendi tulang.
Penanganan di lokasai
 Tenangkan penderita
 Istirahatkan anggota tubuh yang sakit
 Imobilisasi dengan balutan dan mengganjal bagian yang
sakit
 Jangan melakukan reposisi.
 Korban segera dirujuk kerumah sakit dimana terdapat ahli
bedah tulang.
 Sprain dan Strain
 Sprain adalah cedera akibat tali sendi/ligamen regang
atau robek sebagian.
 Strain adalah cedera pada otot akibat otot/tendo
tertarik berlebihan (overexstended).

Tanda & Gejala


 Nyeri saat digerakkan atau saat ditekan (pada sprain
saat diam tetap nyeri)
 Bengkak
 Perubahan warna kulit/memar
Penanganan di lokasi
Segera lakukan:
 Tenangkan korban
 R – Rest  istirahatkan korban
 I – Ice  Kompres es
 C – Compression  Balutan bertekanan
 E – Elevation / ditinggikan
 Cedera kepala dan tulang belakang
Fungsi utama dari tulang kepala adalah melindungi otak,
sehingga tulang kepala (tengkorak) tidak mudah patah.

Tanda dan gejala Patah tulang tengkorak


 Nyeri pada tempat cedera
 Adanya luka robek atau hematom pada kulit kepala
 Adanya cekungan pada tulang tengkorak
 Memar dibelakang telinga
 Sakit kepala yang hebat
 Adanya darah atau cairan otak mengalir dari hidung atau
telinga
 Kejang
Penanganan di lokasi
 Gunakan Alat Pelindung Diri dan amankan lokasi kejadian
 Lakukan penanganan awal, cari keadaan yang mengancam
nyawa (ABC)
 Hentikan perdarahan yang ada
 Selalu curiga adanya cedera tulang leher. Lakukan immobilisasi
kepala dan leher pada posisi netral/segaris
 Pastikan oksigenasi tetap adekuat
 Jaga agar korban tidak bergerak
 Monitor tanda-tanda vital sampai bantuan medis tiba
 Segera bawa ke rumah sakit
Tanda dan gejala cedera tulang belakang
 Nyeri saat lengan atau tungkai digerakkan
 Hilangnya kontrol untuk buang air besar atau air kecil
 Kesulitan bernafas
 Priapismus (ereksi terus menerus)
 Mati rasa, kesemutan pada lengan atau tungkai yang cedera
 Kelumpuhan lengan atau tungkai
Penanganan di lokasi
 Gunakan Alat Pelindung Diri dan amankan lokasi kejadian
 Tentukan mekanisme cedera untuk mengetahui
kemungkinan bagian yang mengalami kerusakan/cedera
 Lakukan stabilisasi dengan melakukan immobilisasi pada
posisi netral-segaris dari kepala dan leher
 Pastikan oksigenasi tetap adekuat dengan tidak
mengerumuni korban
 Lakukan pemeriksaan fisik dan berikan perawatan sesuai
kebutuhan
 Monitor tanda-tanda vital sampai bantuan medis tiba
 Segera bawa kerumah sakit
Latar belakang
 Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), penderita mungkin
perlu penanganan lebih dan lanjut sehingga perlu dievakuasi.
 Di TKP yang berbahaya sangat penting untuk bertindak secara
cepat.
 Jika anda melakukan pengangkatan dan pemindahan dengan
cara yang tidak tepat, anda mungkin malah akan menambah
cedera pada penderita atau bahkan diri anda sendiri juga bisa
mengalami cedera.
Mekanik tubuh
Gunakan seluruh kemampuan tubuh anda sebagai alat untuk
mengangkat dan memindahkan serta mencegah cedera.

Ikuti peraturan dasar untuk mencegah cedera pada saat mengangkat


penderita :
 Rencanakan gerakan anda sebelum mengangkat penderita.
 Gunakan paha anda sebagai tumpuan untuk mengangkat, bukan
menggunakan punggung.
 Usahakan penderita sedekat mungkin dengan tubuh anda
 Gerakan tubuh sebagai satu kesatuan.
 Reposisi dan memindahkan dengan tahapan.
Memindahkan Penderita
Pemindahan segera hanya dilakukan bila :
 Ada bahaya kebakaran atau sesuatu yang akan menjadi
kebakaran
 Ada ledakan atau kemungkinan ledakan susulan
 Bangunan tidak stabil, mobil terguling, huru-hara, cuaca yang
berbahaya
 Menghambat akses untuk mencapai penderita lain
 Ketika penyelamatan tidak bisa dilakukan di TKP
Banyak teknik yang dapat dilakukan untuk memindahkan korban baik
menggunakan alat atapun tidak, seperti :
 Tarikan baju, tarikan dilakukan pada baju penderita di bagian
pundak.
 Tarikan selimut, penderita diletakkan diatas selimut kemudian
ditarik
 Tarikan bahu atau lengan, tarikan dilakukan dengan memegang
bahu atau pangkal lengan penderita.
 Tarikan pemadam kebakaran
 Membawa dengan digendong
Memindahkan korban dengan tarikan lengan, memindahkan korban
dengan tarikan selimut

Memindahkan korban dengan tarikan pemadam kebakaran, memindahkan


korban dengan menggendong
Alat Transportasi