Anda di halaman 1dari 57

Case Report

KEHAMILAN EKTOPIK
TERGANGGU
Oleh :
Dita Thiasty Meliza
1310070100098

Preseptor :
dr. Helwi Nofira , Sp.OG(K)

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN OBSTETRI & GINEKOLOGI RSUD SOLOK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG
 DEFINISI

Kehamilan
ektopik suatu
Kehamilan kehamilan
ektopik dimana
terganggu pertumbuhan sel
telur yang telah
suatu kehamilan dibuahi tidak
ektopik yang tertanam
mengalami (implantasi)
ruptur pada dinding
endometrium
cavum uteri.
• Pars interstitialis (2%)
Tuba • Isthmus (25%)
Falopii • Ampulla (55%)
• Fimbriae (17%)

• Uterus
2,3 % • Ovarium
• Abdominal
lainnya • Intraligamenter
di : • Cervical
• Tanduk rahim rudimenter
Etiologi
Riwayat
infertilitas

Riwayat
Kontrasepsi
KET

Resiko
KET
Paparan
Diethylstil- Operasi
bestrol tuba
(DES)

Infeksi
pelvis
Etiologi
faktor pada tuba:

Faktor dalam • Endosalpingitis


dinding tuba • Lumen sempit, panjang dan berkelok

Faktor pada • Endometriosis


dinding tuba • Divertikel tuba

Faktor diluar • Perleketan perituba


dinding tuba • Tumor yang menekan dinding tuba

• Migrasi luar ovum


Faktor lain • Fertilisasi in vitro
Patofisiologi

Pada proses awal kehamilan, apabila embrio tidak bisa


mencapai endometrium untuk proses nidasi disebabkan karena beberapa
faktor, maka embrio dapat tumbuh di saluran tuba dan kemudian akan
mengalami beberapa proses seperti pada kehamilan pada umumnya.
Karena tuba bukan merupakan suatu media yang baik untuk
pertumbuhan embrio, maka pertumbuhan dapat mengalami beberapa
perubahan dalam bentuk berikut ini:
1. Hasil konsepsi mati dini dan
diresorbsi

Hasil Vaskularisasi
Mati Direabsorbsi
konsepsi kurang
2. Abortus ke dalam lumen tuba
Pelepasan vili
korialis

Robeknya
Hematokel
pseudokapsul
retrouterina.
ar

Berkumpul di
Perdarahan
kavum
dalam lumen
Douglasi

Mengalir ke Bengkak dan


rongga perut kebiru-biruan

Hematosalping
3. Ruptur dinding tuba

Lapisan Perdarahan
Penembusan
muskularis Peritonium cavum Syok
vili korialis
tuba abdominal
Trias klasik untuk
kehamilan ektopik adaakut
GEJALA KLINIS abdomen (NT, NL, DM) , Kolaps
amenore, dan perdarahan
pervaginam.

Takikardi Anemis Hipotensi

Nyeri bahu Cullen sign Nyeri goyang portio

Nyeri pada penekanan


cavum douglasi
Diagnosis
1. Anamnesis

Amenorea

Gejala
Perdarahan
kehamilan
pervaginam
muda

Nyeri perut
tenesmus
bawah
Diagnosis
2. Pemeriksaan umum

Penderita tampak
kesakitan dan
pucat

Syok : perdarahan
dalam rongga
perut
Diagnosis
3. Pemeriksaan Ginekologi

Nyeri gyang serviks.

Kavum Douglas menonjol dan nyeri

Uterus teraba sedikit membesar

Terasa tumor di samping uterus, batas sukar ditentukan.


Diagnosis
4. Pemeriksaan laboratorium

HB , HT, HCG B-HCH


leukosit urin serum
Diagnosis
5. Culdocentesis
Pemeriksaan untuk mengetahui apakah pada
cavum douglas ada darah yang menunjukkan hematokel
retrouterina.
7. USG
Diagnosis pasti apabila ditemukan kantong
gestasi di luar uterus yang didalamnya tampak
denyut jantung janin.

Uterus outlined in red, uterine lining in green,


Ultrasound showing uterus and tubal pregnancy ectopic pregnancy yellow. Fluid in uterus at blue
circle - sometimes called a "pseudosac".
8. Laparoskopi
Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu
diagnostik terakhir untuk kehamilan ektopik.

A right tubal ectopic pregnancy as seen at laparoscopy


The swollen right tube containing the ectopic pregnancy is on the right at E
The stump of the left tube is seen at L - this woman had a previous tubal
ligation
Diagnosis banding

Ruptur
korpus Salpingitis
luteum

Torsio kista
Abortus
ovarium

Mola
Appendisitis
hidatidosa
Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis

1. Metotrexate
• dosis tunggal : 50mg (im)
• dosis multipel : 1 mg/kgBb (im) hari ke-1,3,5&7 +
leukovorin 0,1 mg/kgBB (im) hari ke-2,4,6,8
2. Actinomycin (iv) dalam 5hari
3. Larutan glukosa hiperosmolar per laparoskopi
Penatalaksanaan
2. Penatalaksanaan bedah

Salpingostomi

Salpingotomi

Salpingektomi

Evakuasi fimbrae dan fimbraektomi


Komplikasi

Syok hipovolemik

Infeksi

Kehilangan organ reproduksi setelah operasi

Infertilitas

Fistula urinarius atau intestinal akibat komplikasi operasi


Prognosis

KET
berulang
Dubia ad
terjadi pada
bonam
10-20%
kasus.

85% wanita dengan


KET bisa
mendapatkan
kehamilan normal.
Laporan kasus

10/22/2018
IDENTITAS

Nama : Ny.W Nama suami : Tn. E


Umur : 29 tahun Umur : 35 tahun
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Tani
No MR : 159290
Alamat : Simanau
Tgl. Masuk : 27 November 2017
ANAMNESA

Keluhan Utama :
Seorang pasien umur 29 tahun datang ke
IGD RSUD Solok pada tanggal 27 November
2017 jam 15.00 WIB karena nyeri perut hebat
sejak 6 jam SMRS
ANAMNESA
Riwayat Penyakit Sekarang :
• Nyeri perut hebat bagian bawah sejak 6 jam SMRS, nyeri
tidak menjalar dan hilang timbul.
• Keluar darah dari kemaluan (+) berupa bercak membasahi
celana dalam, sedikit-sedikit, kehitaman.
• Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-)
• Keluar jaringan dari kemaluan (-)
• Tidak haid sejak 2 bulan yang lalu
• HPHT : 8 Oktober 2017 TP : 15 Juli 2018
• RHM : Mual (+), muntah (-), perdarahan (-)
• Riwayat keputihan (-), Riwayat trauma (-), Riwayat
demam (-)
Riwayat Penyakit Dahulu :
Tidak pernah menderita penyakit jantung, paru,
hati, ginjal, DM dan hipertensi

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada keluarga yang menderita penyakit
keturunan, menular dan kejiwaan

Riwayat Perkawinan : pasien telah menikah 1 kali


pada tahun 2002
Riwayat Menstruasi : Menarche umur 14 th, siklus
haid teratur 1 x 28 hari, lamanya 3-5 hari, banyaknya
2-3x ganti duk/hr, nyeri (-)
Riwayat Kehamilan/Abortus/Persalinan : 4/1/2
1. 2005, abortus, kuretase di RS
2. 2012, ♀, 2,6kg spontan, lahir di dukun, hidup.
3. 2016, ♂, 3kg, spontan, lahir di bidan, hidup.
4. Sekarang

Riwayat Kontrasepsi : Suntik, berhenti sejak 1 tahun


Riwayat Imunisasi : (-)
Riwayat pendidikan : SMP
Riwayat pekerjaan : IRT
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tinggi Badan : 155 cm
Berat Badan sebelum hamil : 50 Kg
Berat Badan saat hamil : 50 Kg
BMI : 20,8 (normoweight)
Status gizi : normal
Vital sign :
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 120x/menit
Nafas : 24x/menit
Temperatur : 36,80C
PEMERIKSAAN FISIK
Mata : Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik
Leher :
Inspeksi : JVP 5-2 cmH2O
Kelenjar tiroid : tidak tampak membesar
Palpasi : Kelenjar tiroid tidak teraba
membesar dan Kelenjar Getah
Bening tidak teraba membesar
PEMERIKSAAN FISIK
Toraks :
Cor :
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : reguler, bising (-)
Pulmo :
Inspeksi : bentuk dan pergerakan simetris kiri = kanan
Palpasi : Fremitus normal kiri = kanan
Perkusi : Sonor kiri = kanan
Auskultasi : Vesikuler normal +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen : Status Obstetricus
Genitalia : Status Obstetricus
Ekstremitas : Edema -/-, RF +/+, RP -/-
Abdomen
Inspeksi : perut tampak tidak membuncit, tegang,
sikatrik (-) striae (-)
Palpasi : TFU tidak teraba, NT(+), NL(+), DM (+) di
atas simpisis pubis
Perkusi : redup
Auskultasi : BU (+) N
Genitalia :

Inspeksi : V/U tenang PPV (+)

Inspekulo :

vagina : tumor (-), fluksus (+) tampak darah kehitaman tergenang


di fornik posteior

portio : multipara ukuran sebesar ibu jari kaki dewasa, nyeri


goyang (+), laserasi (-), tumor (-), OUE tertutup, fluksus(+)
tampak darah mengalir dari canalis servicalis

AP : lemas kiri dan kanan

CD : menonjol
Laboratorium : 27 November 2017
Hemoglobin : 10,7 g/dl
Hematokrit : 32,6 %
Leukosit : 8.140 mm3
Trombosit : 310.000 mm3
CT/BT : 3.30 / 1.30 menit
HBsAg : Negatif (-)
plano test : (+)
Pemeriksaan USG
Tanggal 27
November 2017 Hasil USG
kesan: terdapat cairan bebas di
daerah cavum douglas
Diagnosa :
Akut abdomen ec KET pada G4P2A1H2 gravid 7-8 minggu

Sikap :
Kontrol keadaan umum, tanda vital, kontraksi, PPV
Informed consent
IVFD RL 500cc
Pasang DC
Pasang oksigen
Injeksi ceftriaxon 1 gr
Konsul anastesi
Persiapan OK

Rencana : Laparatomi
Laporan Operasi Jam 19.00 WIB Dilakukan Salphingectomy:

•Pasien tidur terlentang di atas meja operasi dalam spinal anestesi

•Dilakukan tindakan asepsis dan antisepsis menggunakan betadine dan alcohol pada lapangan
operasi

•dipasang duk steril

•Dilakukan insisi pada linea mediana sampai menembus peritoneum

•tampak darah dan bekuan darah 300cc mengisi rongga peritoneum

•dilakukan identifikasi

•Didapatkan ruptur tuba pars isthmus sinistra

•uterus dan ovarium kanan dalam batas normal

•dilakukan salphingectomy sinistra

•sisa darah dan bekuan darah dibersihkan

•dinding abdomen ditutup lapis demi lapis

A/ P3A1H2 Post Laparatomi + Post Salphingectomy sinistra a.i KET ruptur tuba pars isthmus
sinistra
Instruksi/terapi post op:

• Kontrol KU, VS, PPV, dan kontraksi

• IVFD RL 500 cc

• tranfusi darah PRC 250 cc

• Injeksi ceftriaxon 2x1 gr (IV)

• Asam mefenamat 3x500 mg (po)

• SF 1x 300 mg (po)

• Vitamin C 3x50 mg (po)


KALA IV
Jam Waktu TD Nadi Suhu TFU PPV Kontraksi Kandung
ke uterus kemih
1 20.30 110/70 90x 36,10 tidak teraba - Baik -

20.45 110/70 89x 36,50 tidak teraba - Baik -

21.00 110/70 88x 37,10 tidak teraba - Baik -

21.15 110/70 89x 37,10 tidak teraba - Baik 100cc

2 21.45 120/80 85x 37,20 tidak teraba - Baik -

22.15 120/70 88x 37,20 tidak teraba - Baik -


FOLLOW UP
28 november 2017
Pukul 07.00 Wib
S:/Nyeri luka post OP (+) BAK (+) Pusing (-)
demam (-) BAB (-)
O:/ Ku : Sedang Nadi : 80x/menit
Kes : CMC Nafas : 22x/menit
TD : 110/70 mmHg Suhu : 36,7 o C
hasil lab : Hb: 11,0 gr/dL
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Abdomen :
Inspeksi : Perut tampak tidak membuncit, luka operasi
tertutup perban
Palpasi :TFU tidak teraba, kontraksi baik, NT(+), NL(-),DM(-
)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : BU (+) Normal
Genitalia : Inspeksi : V/U tenang, PPV (+)
A:/ P3A1H2 Post Laparatomi + Post Salphingectomy
sinistra a.i KET ruptur tuba pars isthmus sinistra
+ RH 1

P:/ Kontrol KU,VS, PPV


Mobilisasi bertahap
IVFD RL 500 cc
Injeksi ceftriaxon 2x1 gr (IV)
Asam mefenamat 3x500 mg (po)
SF 1x 300 mg (po)
Vitamin C 3x50 mg (po)
29 November 2017
Pukul 07.00 Wib
S:/Demam (-) ASI (-/-) BAK (+)
Nyeri luka post op (+) BAB (-)
O:/ Ku : Sedang Nadi : 76x/menit
Kes : CMC Nafas : 20x/menit
TD : 120/80 mmHg Suhu : 36,5 o C
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Abdomen :
Inspeksi : Perut tampak tidak membuncit, luka operasi
tertutup perban
Palpasi : TFU tidak teraba, NT(+), NL(-), DM(-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : BU (+) Normal
Genitalia ; Inspeksi : V/U tenang, PPV (-)
A:/ P3A1H2 Post Laparatomi + Post Salphingectomy sinistra a.i
KET ruptur tuba pars isthmus sinistra
+ RH 2

P:/ Kontrol KU,VS, PPV


Mobilisasi bertahap
Infus dan DC AFF
Cefadroxil 3x500 mg (po)
Asam mefenamat 3x500 mg (po)
SF 1x 300 mg (po)
Vitamin C 3x50 mg (po)
30 November 2017
Pukul 07.00 Wib
S:/Demam (-) ASI (-/-) BAK (+)
Nyeri luka post op (+) BAB (+)
O:/ Ku : Sedang Nadi : 78x/menit
Kes : CMC Nafas : 20x/menit
TD : 120/80 mmHg Suhu : 36,5 o C
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Abdomen :
Inspeksi : Perut tampak tidak membuncit, luka operasi
tertutup perban
Palpasi : TFU tidak teraba, NT(-), NL(-), DM(-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : BU (+) Normal
Genitalia ; Inspeksi : V/U tenang, PPV (-)
A:/ P3A1H2 Post Laparatomi + Post Salphingectomy sinistra a.i
KET ruptur tuba pars isthmus sinistra
+ RH 3

P:/ Kontrol KU,VS, PPV


Mobilisasi bertahap
Cefadroxil 3x500 mg (po)
Asam mefenamat 3x500 mg (po)
SF 1x 300 mg (po)
Vitamin C 3x50 mg (po)
Boleh pulang
 Analisa Kasus

Seorang pasien umur 26 tahun datang ke IGD RSUD SOLOK


pada tanggal 27 November 2017 jam 15.00 WIB dengan keluhan
nyeri perut hebat sejak 6 jam yang lalu SMRS, yang dirasakan hilang
timbul dan tidak menjalar. Nyeri dirasakan semakin lama semakin
hebat. Dari kemaluan pasien keluar bercak darah merah membasahi 1
helai celana dalam sejak 6 jam SMRS. Sebagai panduan untuk diskusi
pada target akademis komprehensif ilmiah maka kita akan membahas
beberapa pertanyaan referensi sebagai berikut:

•Apakah diagnosa pada pasien ini sudah benar?

•Apakah tatalaksana pada pasien ini sudah tepat?


Apakah diagnosa pada pasien ini sudah benar?
Dari anamnesa
pasien multipara datang ke IGD dengan keluhan
nyeri perut hebat sejak 6 jam SMRS, yang dirasakan
hilang timbul dan tidak menjalar. Nyeri dirasakan semakin
lama semakin hebat. Dari kemaluan pasien keluar bercak
darah merah membasahi 1 helai celana dalam sejak 6 jam
SMRS. Pasien tidak menstruasi sejak 2 bulan yang lalu,
pada tanggal 8 oktober 2017
Apakah diagnosa pada pasien ini sudah benar?
Dari pemeriksaan fisik
Abdomen nyeri tekan (+) nyeri lepas (+) defend
muscular (+). Genitalia V/U tenang, PPV (+), Inspekulo :
Vagina: dinding vagina licin, tumor (-), laserasi(-) . Portio :
tumor (-) laserasi (-), OUE tertutup, fluksus (+) perdarahan
aktif dari canalis servikalis, cavum douglas menonjol. VT
Bimanual: tumor (-), portio lunak, nyeri goyang portio (+),
cavum douglas menonjol, corpus uteri tidak membesar,
adnexa/Parametrium tegang.
Dari laboratorium
Hb: 10,7 gr%, Hematokrit: 32,6 %, Leukosit : 8.140
mm3, Trombosit : 310.000 mm3, HbsAg : negatif,
plano test (+)
Apakah diagnosa pada pasien ini sudah benar?

Dari pemeriksaan fisik

Abdomen nyeri tekan (+) nyeri lepas (+) defend muscular (+). Genitalia V/U
tenang, PPV (+)

Inspekulo :

Vagina: dinding vagina licin, tumor (-), laserasi(-) .

Portio : tumor (-) laserasi (-), OUE tertutup, fluksus (+) perdarahan aktif dari canalis
servikalis, cavum douglas menonjol, nyeri goyang portio (+), cavum douglas menonjol

corpus uteri tidak membesar

adnexa/Parametrium tegang.
Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang, pasien diagnosa dengan Akut
abdomen et causa KET pada G4P2A1H2 gravid 7-8
minggu. Kemudian dilakukan tindakan Laparatomi +
salphingektomi sinistra dengan diagnosa akhir P3A1H2
Post Laparatomi + Post Salphingectomy sinistra a.i
kehamilan etopic terganggu ruptur tuba pars isthmus
sinistra
Apakah tatalaksana pada pasien ini sudah tepat?

Pasien dilakukan tindakan Laparatomi +


salphingektomi. Indikasi dilakukan tindakan pada
pasien ini adalah karena kehamilan ektopik
terganggu.
Tujuan dilakukannya tindakan operatif ini
adalah untuk menghentikan perdarahan yang berasal
dari ruptur tuba untuk mencegah terjadinya anemia
yang bertambah berat pada pasien.
KESIMPULAN
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di
luar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik terjadi
apabila hasil konsepsi berimplantasi, tumbuh dan
berkembang di luar endometrium pada kehamilan normal.
Kehamilan ektopik ini merupakan sering terjadi di daerah
tuba falopi (98%), kehamilan ektopik juga dapat terjadi di
ovarium (indung telur), rongga abdomen (perut), atau
serviks (leher rahim).
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang
berbahaya bagi wanita karena dapat mengancam nyawa
apabila ruptur (pecah) dan menyebabkan perdarahan di
dalam. Keadaan gawat ini disebut dengan Kehamilan
Ektopik Terganggu (KET) dimana terjadi abortus maupun
ruptur tuba. Abortus dan ruptur tuba menimbulkan
perdarahan ke dalam kavum abdominalis yang bila cukup
banyak dapat menyebabkan hipotensi berat atau syok. Bila
tidak atau terlambat mendapat penanganan yang tepat
penderita akan meninggal akibat kehilangan darah yang
sangat banyak sehingga diperlukan penanganan yang tepat,
cepat dan adekuat.
DAFTAR PUSTAKA
• Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2002. Kehamilan
Ektopik. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta.

• Pedoman Diagnosis dan Terapi SMF Ilmu kebidanan dan Penyakit Kandungan, 2008. Edisi III.
Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo Surabaya.

• Prawiro, Sarwono, 2007. Ilmu Bedah Kebidanan. PT Bina Pustaka, Jakarta

• Sepilian,Vicken;EllenW. Ectopic Pregnancy. www.emedicine.com/health/topic3212.html

• Standar Tatalaksana Medis Rumah Sakit fatmawati. 2002. Kehamilan ektopik


Terganggu.Jakarta.

• Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Kehamilan Ektopik. Ilmu Kebidanan edisi ketiga. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta..hal 323-338.

• Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Gangguan Bersangkutan Dengan Konsepsi. Ilmu Kandungan


edisi kedua. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta..hal 250-260.

• Wiknjosastro, Hanifa. 2000. Kehamilan Ektopik. Ilmu Bedah Kebidanan edisi pertama.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta..hal 198-210.