Anda di halaman 1dari 39

REFERAT

KEGAWATDARURATAN PARU
Oleh :
Nur Rohmat Maulana
Tasya Felicia Macellin

Pembimbing:
dr. Nur Indah S., Sp.P
SMF Ilmu Penyakit Paru
Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Malang
Pendahuluan
Kedaruratan paru atau pernafasan merupakan faktor yang diperhitung
an dalam
gawat darurat pasien, banyak kasus yang gagal bukan akibat penyakit
primernya, tetapi karena kegagalan fungsi pernafasan baik karena ga
ngguan
sentral maupun akibat infeksi.

Gawat paru adalah suatu keadaan pertukaran gas dalam paru tergan
ggu, yang bila tidak segera diatasi akan menyebabkan suatu keadaan
yang disebut gagal nafas akut

Beberapa penyakit yang termasuk kegawatan paru adalah Hemoptisis


, Pneumotoraks Ventil, dan Efusi Pleura
Kegawatdaruratan Paru

Suatu keadaan pertukaran gas


dalam paru terganggu, atau
suatu kegagalan paru dalam
sirkulasi CO2 dan O2

hiperkarbia hipoksemia
Kegawat Daruratan Paru

Hemoptisis Pneumotorak
Efusi Pleura
masif ventil
HEMOPTISIS
Definisi
Hemoptoe atau hemoptisis adalah batuk
dengan
sputum yang mengandung darah yang
berasal dari paru atau percabangan bronkus.
ETIOLOGI

• Idiopatik
• Sekunder

Penyebab tersering hemoptisis masif adalah infeksi


( terutama tuberkulosis) , bronkiektasis dan
keganasan
Infeksi  jaring
an parenkim 
pembuluh
Infeksidara
(TB,
h pecahjamur)
(aneuri
sma rassmusse
Kongesti alira n) Pembentukan jari
n darah vena ngan dan pembu-
pulmonalis 
Bronkiektasis luh darah baru yg
Keganasan
kapiler pecah rapuh  mudah
ruptur n pecah

Etiologi
Adanya kompr
Gangguan
Kelainan pad e-si yg menyeb
Vascular & abkan kerusaka
a faktor pemb
pembekuan
Trauma
n parenkim par
ekuan darah
darah u dan pembulu
h darah
Membran basal
Gangguan
is terganggu
Imun/Autoimun
Good pastures
syndrome
Klasifikasi

Klasifikasi didasarkan pada perkiraan jumlah


darah yang dibatukkan :

Pembagian berdasarkan jumlah darah


1. Hemoptisis masif : Hemoptisis masif yang keluar:
adalah ekspektorasi 600 ml darah dalam
24 sampai 48 jam + : batuk dengan perdarahan yang
hanya dalam garis-garis pada sputum
2 Hemoptisis nonmassif : < 100 ml/24 jam ++ : batuk dengan perdarahan 1-30ml
+++ : batuk dengan perdarahan 30-150 ml
++++ : batuk dengan perdarahan > 150 ml
GEJALA KLINIS DAN DIAGNOSIS

Untuk mengetahui penyebab batuk darah kita harus memastikan


bahwa perdarahan tersebut berasal dari saluran pernafasan
bawah, dan bukan berasal dari gastrointestinal
Keadaan Hemoptisis Hematemesis
Rasa tidak enak
Keluhan yg
ditenggorokan, ingin Mual, Stomach distress
muncul
batuk
Darah dibatukkan, Darah dimuntahkan
Onset dapat disertai dengan dapat disertai dengan
muntah batuk
Bentuk darah Berbuih Tidak Berbuih
Warna darah Merah segar Merah tua
Reaksi Alkalis (pH tinggi) Asam (pH rendah)

Riwayat penyakit Menderita kelainan Gangguan lambung,


dahulu paru kelainan hepar

Anemi Kadang-kadang Selalu


Warna tinja bisa
Tinja Warna tinja normal
berwarna hitam
ANAMNESIS

Hal-hal yang perlu ditanyakan dalam hal batuk


darah adalah:

• Jumlah dan warna darah yang dibatukkan.


• Lamanya perdarahan.
• Batuk yang diderita bersifat produktif atau tidak.
• Batuk terjadi sebelum atau sesudah perdarahan.
• Ada merasakan nyeri dada.
• Riwayat penyakit paru atau jantung terdahulu
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Nasofaring
Untuk mengetahui
perkiraan penyebab: Ditunjukkan untuk menc
 Auskultasi : ari sumber perdaraha
Ronchi, whezing lokal n dan pada hemoptisis
kemungkinan masif mema-stikan bahw
penyumbatan oleh : Ca, a saluran napas masih p
bekuan darah aten (terbuka).
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 LAB
 Foto Toraks
 Bronkoskopi
PENATALAKSANAAN

 Mencegah asfiksia
 Memperbaiki keadaan umum
 Menghentikan perdarahan
 Mengobati penyebab utama perdarahan
 Mengobati penyakit yang mendasarai
PENATALAKSANAAN

• Menunjang fungsi vital: tatalaksana hipotensi, anemia, dan


kolaps kardiovakuler  O2, cairan untuk hidrasi, transfusi darah.
• Mencegah obstruksi: kepala pasien kebawah utk mencegah aspirasi,
penghisapan darah, intubasi atau bahkan bronkoskopi
• Menghentikan perdarahan:
Pemasangan kateter balon oklusi utk tamponade perdarahan.
Penatalaksanaan
Terapi konservatif Terapi definitif

Pasien harus dalam keadaan posisi is Reseksi bedah segera pada tempat
tirahat, yakni posisi miring (lateral de perdarahan, dengan pertimbangan
cubitus). Kepala lebih rendah dan m 1. Terjadinya hemoptisis masif yang
iring ke sisi yang sakit untuk menceg mengancam kehidupan pasien
ah aspirasi darah ke paru yang seha 2. Kematian pada perdarahan yan
t atau posisi trendelenburg g masif menurun dari 70% menjad
i 18% dengan tindakan operasi
Pertimbangan lain:
Pemberian obat – obat penghenti p 1. batuk darah >600 cc / 24 jam da
erdarahan (obat – obat hemostasis), n perdarahan tidak berhenti
misalnya vit. K, ion kalsium, trombin, 2. batuk darah <600 cc / 24 jam da
Carbazochrome Na sulfonate (Adon n tetapi >250 cc / 24 jam jam dgn
a), asam traneksamat kadar Hb <10 g%, batuk darah tet
ap berlangsung
3. batuk darah <600 cc / 24 jam da
Pemberian cairan atau darah sesuai n tetapi >250 cc / 24 jam, Hb <10
dengan banyaknya perdarahan ya g%, 48 jam dengan perawatan k
ng terjadi & pemberian oksigen onservatif batuk darah tersebut ti
dak berhenti
KOMPLIKASI
• Asfiksia
• Renjatan syok hipovolemik
• Aspirasi
PROGNOSIS
Pada hemoptisis idiopatik prognosisnya baik
kecuali bila penderita mengalami hemoptisis
yang rekuren

pada hemoptisis sekunder ada beberapa faktor


yang menentukan prognosis :
• Tingkatan hemoptisis
• Penyakit yang mendasari
• Kecepatan tindakan
PNEUMOTHORAX
Pneumothorax

Suatu keadaan terdapatnya udara


atau gas di dalam pleura yang
menyebabkan kolapsnya paru yang
terkena
Pneumotoraks
spontan primer
Pneumotoraks
Spontan
Pneumotoraks PPOK, asma,
spontan kanker paru,
sekunder infeksi paru

Pneumotoraks Jejas dinding


traumatik dada,
non-iatrogenik barotrauma

Pneumotoraks Pneumotoraks
traumatik Parasintesis
traumatik
dada, biopsi
iatrogenik
Pneumotoraks pleura
aksidental
traumatik
Pneumotoraks iatrogenik
Tertutup Pneumotoraks Pengobatan TB sblm era
traumatik antibiotik, menilai
iatrogenik artifisial permukaan paru
Berdasarkan Pneumotoraks
fistul Terbuka

Pneumotoraks
Ventil
Pneumotoraks Ventil

Pneumotoraks dengan tekanan intrapleura yang positif dan makin lama makin
bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil.

Pada waktu inspirasi udara masuk melalui


trakea, bronkus serta percabangannya
dan selanjutnya terus menuju pleura
melalui fistel yang terbuka. Waktu ekspirasi
udara di dalam rongga pleura tidak
dapat keluar

Akibatnya tekanan di dalam rongga


pleura makin lama makin tinggi dan
melebihi tekanan atmosfer. Udara yang
terkumpul dalam rongga pleura ini dapat
menekan paru sehingga sering
menimbulkan gagal napas
Tanda Klinis

Sesak napas, didapatkan pada hampir


80-100% pasien. Mendadak dan memberat.
Penderita bernapas tersengal, pendek-pendek,
dengan mulut terbuka

Nyeri dada, yang didapatkan pada 75-90% pasien. Nyeri dir


asakan tajam pada sisi yang sakit, terasa berat, tertekan
dan terasa lebih nyeri pada gerak pernapasan

Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35% pasien, k


ulit mungkin tampak sianosis karena kadar oksigen
darah yang kurang, denyut jantung meningkat,
adanya defiasi trakhea
Pemeriksaan Fisik
Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit (hiperek
s-pansi dinding dada) Pada waktu respirasi, bagian yang
Inspeksi sakit gerakannya tertinggal. Trakea dan jantung terdoron
g ke sisi yang sehat

Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau
Palpasi melebar Iktus jantung terdorong ke sisi toraks yang sehat
Fremitus suara melemah atau menghilang pada sisi yang
sakit

Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani


Perkusi Batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat,
apabila tekanan intrapleura tinggi

Pada bagian yang sakit, suara napas melemah sampai


Auskltasi menghilang .Suara vokal melemah dan tidak menggetar s
erta bronkofoni negative
Pemeriksaan Penunjang
1. Foto Rontgen
Gambaran radiologis yang tampak pada foto rontgen kasus pneumotoraks
antara lain :

• Bagian pneumotoraks akan tampak lusen, rata dan paru yang kolaps akan
tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang-kadang paru yang kolaps
tidak membentuk garis, akan tetapi berbentuk lobuler sesuai dengan lobus
paru.

• Paru yang mengalami kolaps hanya tampak seperti massa radio opaque yang
berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan kolaps paru yang luas sekali.
Besar kolaps paru tidak selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang
dikeluhkan.

• Jantung dan trakea mungkin terdorong ke sisi yang sehat, spatium intercostals
melebar, diafragma mendatar dan tertekan ke bawah. Apabila ada
pendorongan jan-tung atau trakea ke arah paru yang sehat, kemungkinan
besar telah terjadi pneumotoraks ventil dengan tekanan intra pleura yang
tinggi
• Analsisis Gas Darah
Analisis gas darah arteri dapat memberikan gambaran hipoksemi meskipun
pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien dengan gagal
napas yang berat secara signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%.

• CT-Scan Thorax
CT-scan toraks lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema bullosa
dengan pneumotoraks, batas antara udara dengan cairan intra dan ekstrapulmo-
ner dan untuk membedakan antara pneumotoraks spontan primer dan seku-
nder
Penatalaksanaan

Menusukkan jarum melalui


dinding dada
Tindakan de
kompresi
Membuat hubungan dengan udar
Jarum abbocath
a luar melalui kontra ventil
Pipa water sealed drainase
(WSD)

Observasi Tindakan bedah,torakoskopi


dan Pemberi
an O2
EFUSI PLEURA
EFUSI PLEURA

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana


terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang
berlebihan di dalam rongga pleura, yang disebabkan
oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan
pengeluaran cairan pleura.
• Etiologi
Mekanisme sebagai berikut memainkan peran dalam pembentukan efusi pleura:
 Perubahan permeabilitas membran pleura (misalnya, radang, keganasan, emboli paru)
 Pengurangan tekanan onkotik intravaskular (misalnya, hipoalbuminemia, sirosis)
 Peningkatan permeabilitas kapiler atau gangguan pembuluh darah (misalnya, trauma, keganasan,
peradangan, infeksi, infark paru, obat hipersensitivitas, uremia, pankreatitis)
 Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler dalam sirkulasi sistemik dan / atau paru-paru (misalnya, gagal
jantung kongestif, sindrom vena kava superior)
 Penurunan drainase limfatik atau penyumbatan lengkap, termasuk obstruksi duktus toraks atau pecah
(misalnya, keganasan, trauma
 Peningkatan cairan peritoneal, dengan migrasi di diafragma melalui limfatik atau cacat struktural
(misalnya, sirosis, dialisis peritoneal)
 Perpindahan cairan dari edema paru ke pleura viseralPeningkatan tekanan onkotik di cairan pleura
yang persisiten menyebabkan adanaya akumulasi cairan di pleura
 Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberkulosis, pneumonia, virus, bronkiektasis,
abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura), karena tumor dan trauma
MANIFESTASI KLINIS

• Manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan oleh penyakit dasar


• Anamnesis
• Sesak nafas bila lokasi efusi luas. Sesak napas terjadi pada saat permulaan pleuritis
disebabkan karena nyeri dadanya dan apabila jumlah cairan efusinya meningkat,
terutama kalau cairannya penuh
• Rasa berat pada dada
• Batuk pada umumnya non produktif dan ringan, terutama apabila disertai dengan proses
tuberkulosis di parunya, Batuk berdarah pada karsinoma bronchus atau metastasis
• Demam subfebris pada TBC, dernarn menggigil pada empiema

pemeriksaan fisik didapatkan (pada sisi yang sakit)


• Dinding dada lebih cembung dan gerakan tertinggal
• Vokal fremitus menurun
• Perkusi dull sampal flat
• Bunyi pernafasan menruun sampai menghilang
Terapi
1. Obati penyakit yang mendasarinya

• Hemotoraks
Dikeluarkan melalui sebuah selang. Melalui selang tersebut bisa juga
dimasukkan obat untuk membantu memecahkan bekuan darah
(misalnya streptokinase dan streptodornase).
Jika perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan
melalui selang, maka perlu dilakukan tindakan pembedahan

• Kilotoraks
Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat antikanker untuk
tumor yang
menyumbat aliran getah bening.
Terapi
• Empiema
Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah.
Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa,
maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk
harus
diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar. Kadang perlu
dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluar dari pleura
(dekortikasi).
• Pleuritis TB.
Pengobatan dengan obat-obat antituberkulosis (Rimfapisin, INH,
Pirazinamid/Etambutol/Streptomisin) memakan waktu 6-12 bulan.
Pengobatan ini menyebabkan cairan efusi dapat diserap kembalai, tapi untuk
menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosentesis.
Umumnya cairan diresolusi dengan sempurna, tapi kadang-kdang dapat
diberikan kortikosteroid secara sistematik (Prednison 1 mg/kgBB selama 2
minggu, kemudian dosis diturunkan).
Terapi

2. Torakosentesis
keluarkan cairan seperlunya hingga sesak berkurang
(lega); jangan lebih 1-1,5 liter pada setiap kali
aspirasidengan waktu antara 20-30 menit.
Torakosentesis ulang dapat dilakukan pada hari
berikutnya.
Terapi

3. Chest tube
jika efusi yang akan dikeluarkan jumlahnya banyak,
lebih baik dipasang selang dada (chest tube),
sehingga cairan dapat dialirkan dengan lambat tapi
sempurna.
Selang dapat diklem selama beberapa jam sebelum 500
ml lainnya dikeluarkan. Drainase yang terlalu cepat akan
menyebabkan distres pada pasien dan edema paru.
Terapi

4. Pleurodesis
Pleurodesis dimaksudkan untuk menutup rongga pleura sehingga
akan mencegah penumpukan cairan pluera kembali.
Hal ini dipertimbangkan untuk efusi pleura yang rekuren seperti
pada efusi karena keganasan.
Sebelum dilakukan pleurodesis cairan dikeluarkan terlebih
dahulu melalui selang dada dan paru dalam keadaan
mengembang

5. Pengobatan pembedahan mungkin diperukan untuk :


Hematoraks terutama setelah trauma
Empiema
TERIMAKASIH