Anda di halaman 1dari 32

Disusun oleh: Inez Talitha (1102013134)

Pembimbing: Dr. Harry Sugiarto, Sp.B, FICS, FINACS

Kepaniteraan Klinik Bedah


RS Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta
Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
20 November 2017 – 28 Januari 2018
 Hepar merupakan organ terbesar didalam tubuh, yang terletak di bagian
teratas dalam rongga abdomen di sebelah kanan di bawah diafragma.
 Berat rata- rata hepar sekitar 1.500 gr atau 2% berat badan orang dewasa
normal.
 Sirkulasi hepar
Hepar memiliki dua sumber suplai darah, saluran cerna dan limpa melalui
vena porta hepatika dan dari aorta melalui arteri hepatika. Volume total darah
yang melewati hepar setiap menitnya adalah 1.500 ml dan dialirkan melalui
vena hepatika kanan dan kiri, yang selanjutnya bermuara pada vena kava
inferior.
Cedera hepar, atau juga dikenal sebagai laserasi hepar
merupakan bentuk trauma pada hepar. Cedera hepar
dapat terjadi karena trauma tumpul seperti kecelakaan
lalu lintas atau penetrasi benda asing seperti pisau.
 Satu review dari the National Pediatric Trauma Registry oleh
Cooper et al melaporkan 8% dari total 25.301 pasien mengalami
trauma abdomen
 Cedera hepar berkontribusi terhadap 5% dari seluruh jenis
trauma, yang membuat cedera hepar menjadi cedera abdomen
yang paling banyak ditemukan
 Trauma tumpul akibat kecelakaan kendaraan
bermotor, jatuh dari ketinggian, dan cedera olahraga
 Trauma tajam akibat tusukkan pisau atau terkena
tembakkan
 Mekanisme yang menimbulkan kerusakan hepar pada trauma
tumpul adalah efek kompresi dan deselerasi. Trauma kompresi
pada hemithorax kanan dapat menjalar melalui diafragma, dan
menyebabkan kontusio pada puncak lobus kanan hepar.
Trauma deselerasi menghasilkan kekuatan yang dapat merobek
lobus hepar satu sama lain dan sering melibatkan vena cava
inferior dan vena-vena hepatik.
 Trauma tajam terjadi akibat tusukan senjata tajam atau oleh
peluru.
American Association for the Surgery of Trauma
Sumber: Sabiston Textbook of Surgery, 2012
 Gejala syok hipovolemik (cemas, berkeringat, pernapasan cepat, penurunan
kesadaran)
 Gejala hemobilia (nyeri perut kanan atas dan BAB hitam)
 The World Society of Emergency Surgery(WSES) mengklasifikasikan
pendekatan trauma hepar melalui klasifikasi AAST sebagai:
 Grade I: minor hepatic injury
 Grade II: moderate hepatic injury
 Grade III: severe hepatic injury
 Grade IV: severe hepatic injury
 Deskripsi kejadian mengenai mekanisme trauma
 Informasi klinis keadaan pasien pada perjalanannya ke rumah sakit
 Pada trauma tumpul terutama pada kecelakaan kendaraan bermotor dapat
ditanyakan:
 Kerusakan kendaraan
 Apakah ruang penumpang terganggu
 Apakah penumpang meninggal
 Apakah ada yang terlempar keluar dari kendaraan
 Peran alat bantu keselamatan seperti sabuk pengaman dan airbag
 Penggunaan alcohol atau obat-obatan
 Ada atau tidaknya trauma kepala atau saraf tulang belakang
 Apakah terdapat bukti permasalahan psikiatrik
 Kemudian, pada trauma tajam dapat ditanyakan:
 Jenis senjata atau benda yang dipakai
 Kisaran seberapa jauh luka itu terjadi
 Lokasi yang terkena
 Seberapa banyak luka yang ditimbulkan
 Posisi pasien saat kejadian
 Seberapa banyak kehilangan darah
 Karakteristik perdarahan (darah mengalir atau menyemprot)
 Penilaian primary survey dan secondary survey
 Inspeksi: periksa abdomen bagian depan dan belakang untuk
memperhatikan ada atau tidaknya goresan, robekan, luka, benda asing yang
sedang tertancap
 Palpasi: dapat ditemukan nyeri tekan, defans, nyeri lepas lokal atau umum,
krepitasi costae bagian bawah
 Perkusi: Dapat ditemukan nyeri ketok pada pasien dengan peritonitis
 Auskultasi: penuruna bising usus dan continuous bruit pada pasien dengan
trauma tajam abdomen
 LABORATORIUM
 Penilaian hemodinamik dengan nilai haemoglobin dan hematokrit yang
rendah untuk menandakan kehilangan darah yang merupakan indikasi
pemberian transfusi darah
 Pada pasien dengan trombositopenia dan perdarahan yang sedang
berlangsung dapat diberi transfusi platelet
 Merupakan pencitraan yang akurat untuk menentukan lokasi trauma hepar
 Kriteria CT scan pada trauma hepar berdasarkan grade American Association
for the Surgery adalah:

Grade 1:
Ditemukan
hematoma
subscapular dan
hematoma
parenkim kurang
dari 1 cm.
Grade 2:
Ditemukan hematoma subscapular sebesar 3 cm.
Grade 2:
Ditemukan kontusio parenkim.
Grade 3: Ditemukan hematom subscapular 4 cm dan
ditemukan hematoma dan laserasi parenkim pada lobus
dextra hepar. Cairan bebas ditemukan disekitar lien dan
lobus sinistra hepar yang diduga sebagai hemoperitoneum
Grade 4:
Ditemukan hematom subscapular sebesar 10 cm serta
bekuan darah.
Grade 4:
Ditemukan infark multisegmen
Grade 5:
Ditemukan trauma luas hepar
Grade 6:
Ditemukan hematoma disekitar ginjal dan vena
cava inferior.
Ditemukan bayangan
hyperechoic pada lateral kanan
hepar yang menunjukkan
hematoma subscapular.
Post embolization arteriogram
Penatalaksanaan non-operatif:

 Diindikasikan untuk pasien yang masuk grade I dan II


 Diindikasikan pada pasien dengan hemodinamis yang stabil
 Primary survey
 Memastikan patensi jalan napas, oksigenasi dan pemberian cairan
kristaloid pada syok hipovolemik
 Pemasangan kateter untuk pemantauan urine output
 Laparotomi merupakan insisi pembedahan menuju rongga abdomen.
Indikasi dilakukannya laparotomi:
 Terdapat tanda peritonitis
 Syok atau perdarahan tidak terkontrol
 Perburukan keadaan klinis saat observasi
Perihepatic packing
Kompresi manual periodic dengan laparotomy pad untuk menghentikan
perdarahan pada hepar
Parasat Pringle (Pringle Maneuver)
Menjepit vena porta hepatica dengan klem saat operasi
Hepatorraphy
Hepatorrhaphy adalah perbaikan hepar dengan cara operasi.
 Lobektomi
dilakukan jika ditemukan perdarahan massif yang tidak bisa ditangani setelah
dilakukannya maneuver pringle, perihepatic packing maupun hepatorraphy
 Transplantasi hepar
Transplantasi hepar dilakukan pada trauma hepar massif pada pasien dengan
mortalitas yang tinggi. Indikasi dilakukannya transplantasi antara lain
perdarahan yang tidak terkontrol setelah dilakukan pembedahan dan
kegagalan hati progresif atau akut setelah trauma hepar diterapi namun tidak
menemukan hasil yang baik. Transplantasi hepar dilakukan pada trauma
hepar grade VI.
 Kebocoran kandung empedu
 Formasi biloma
 Perdarahan berulang
 Abses intrahepar
 Kolesistitis akut dan kegagalan hepar
 Tergantung grade
 Pasien dengan greade III keatas dapat dikatakan trauma hepar serius. Angka
mortalitas 10%,
 pasien dengan cedera multiple, angka mortalitas menjadi 25 %
 Trauma hepar serius yang bersamaan dengan cedera vena parahepatic,
angka mortalitas diatas 50%