Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN ENSEVALITIS


DEFINISI
 Ensefalitis adalah inflamasi pada jaringan otak
oleh berbagai macam mikroorganisme. (FKUI,
2000)
 Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai SSP
yang disebabkan oleh virus/ mikroorganisme
yang non purulen. (www.Blogger.com/nining'S
Web Blog)
 Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang
dapat disebabkan oleh bakteri, cacing, protozoa,
jamur recketsia atau virus. (Mansjoer, 2000)
 Ensefalitis adalah inflamasi jaringan otak dan
diagnosis pastinya hanya dibuat berdasarkan
pemeriksaan patologi anatomi jaringan otak ( komite
medik RSUD Dr. Sardjito, 2000)
 Ensefalitis merupakan infeksi intracranial dapat
melibatkan jaringan otak ( Doenges, 2000 )
 Ensefalitis / radang otak adalah infeksi yang terjadi
pada jaringan otak ( Damayanti, 2004 )
 Jadi dapat disimpulkan ensefalitis adalah inflamasi
pada jaringan otak yang mengenai SSP yang
disebabkan oleh mikroorganisme. Ensefalitis
berbeda dengan ensefalopati walaupun secara klinis
seringkali mirip. Ensefalopati disebabkan oleh bahan
non infeksi misalnya karena keracunan. Diagnosa
ensepalitis dapat ditegakkan hanya melalui
pemeriksaan mikroskopik jaringan otak.
ETIOLOGI
1. Virus
 Virus RNA terdiri dari campak, rubella pada bayi baru
lahir, enterovirus ( penyebab paling sering ), mumps
 Virus DNA terdiri dari herpes virus hominis, varissela
zooster, sitomegalovirus ( kongenital atau didapat ), virus
ebstein-Barr, variola
2. Non Viral
 Mikoplasma, toksoplasmolisis, TB, sifilis, jamur misalnya
kriptokokosis, trikinosis dan ekinokokus.
 Para dan pasca infeksi misal pada penyakit spesifik :
campak, rubella, influensa, hepatitis, pertusis
 Pemberian vaksin : vaksin pertusis, rabies, campak,
influenza
3. Penyebab lain
 Invansi langsung cairan serebro spinal selama punksi
lumbal
KLASIFIKASI
Klasifikasi menurut Robbun adalah :
1. Infeksi virus yang bersifat epidemik
 Golongan Enterovirus : Polimiyelitis, virus eoxsackie,
virus ECHO
 Golongan Virus ARBO : Western equine enchepalitis, st
louis enchepalitis, Eastern Equine enchepalitys,
Murray Valley enchepalitis, Russian spring summer
enchepalitis, Japanese B enchepalitis
2. Infeksi virus yang bersifat sporadik : rabies, herpes
simplek, herpes zooster, limfomagranuloma, mumps,
limpocityc choviomeningitis dan sejenios lain yang dianggap
disebabkan oleh virus tetapi belum jelas
3. Ensefalitis pasca infeksi : pasca morbili, pasca
varisiela, pasca rubella, pasca vaksinia, pasca
mononukleosis infeksious dan jenis – jenis infeksi traktus
respiratorius yang tidak spesifik
CARA PENULARAN

 Dari orang ke orang ( virus RNA dan DNA )


 Oleh antropoda

 Oleh mamalia ( rabies dan air liur berbagai


binatang, virus herpes simian dari air liur kera )
TANDA DAN GEJALA

 Suhu tubuh meningkat


 Fotofobia

 Sakit kepala

 Muntah-muntah

 Letargi

 Kadang disertai kaku kuduk (apabila infeksi


mengenai meningen)
 Anak tampak gelisah

 Adanya peubahan tingkah laku

 Gangguan penglihatan, pendengaran, bicara

 Kejang.
PATOFISIOLOGI
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit, saluran pernafasan,
atau saluran cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh virus
akan menyebar ke seluruh tubuh dengan berbagai cara,
yaitu:
 Setempat
Virus terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan
atau organ.
 Penyebaran hematogen primer
Virus masuk ke dalam darah kemudian menyebar ke
organ dan berkembang biak di organ tersebut.
 Penyebaran mealui saraf-saraf.
Virus berkembang biak di selaput lendir dan
menyebar melaui system saraf.
Masa prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai
dengan demam, sakit kepala,pusing, muntah, nyeri
tenggorokan, nyeri ekstrimitas, pucat.
MANIFESTASI KLINIS
 Temuan – temuan klinis pada enchepalitis ditentukan oleh :
 berat dan lokalisasi anatomis susunan syaraf yang
terlibat
 patogenitas agen yang menyerang
 kekebalan dan mekanisme-mekanisme reaktif lain
penderita
Masa prodomal berlangsung antara 1 - 4 hari ditandai dengan
: demam, sakit kepala, pusing, muntah nyeri tenggorokan,
malaise, nyeri ekstremitas, pucat, letargi. Tanda ensepalitis
yang berat ringanya tergantung dari distribusi dan luas lesi
pada neuron. Gejalanya berupa : gelisah, iritabel, screaming
attack, perubahan perilaku, gangguan kesadaran dan kejang,
kaku kuduk, koma, diplopia, delirium, konfusi, kadang
disertai tanda neurologia fokal berupa afasia, hemiparesis,
hemiplegia, ataksia dan paralisis saraf otak.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan
peningkatan tekanan intrakranial.

Tujuan :
 Pasien kembali pada keadaan status neurologis sebelum
sakit
 Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris

Kriteria hasil :
 Tanda-tanda vital dalam batas normal
 Rasa sakit kepala berkurang
 Kesadaran meningkat
 Tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan
intrakranial yang meningkat.
RENCANA TINDAKAN
INTERVENSI (1)RASIONAL
Pasien bed rest total dengan Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat
posisi tidur terlentang tanpa meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak
bantal
Monitor tanda-tanda status Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut
neurologis dengan GCS.

Monitor tanda-tanda vital Pada keadaan normal autoregulasi


seperti TD, Nadi, Suhu, mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik
Respirasi dan hati-hati pada berubah secara fluktuatif. Kegagalan autoregulasi
hipertensi sistolik akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral
yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan
sistolik dan diikuti oleh penurunan tekanan
diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat
menggambarkan perjalanan infeksi.
Monitor intake dan output Hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL
dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada
pasien yang tidak sadar serta nausea yang
menurunkan intake per oral
Bantu pasien untuk Aktifitas muntah atau batuk dapat
membatasi muntah, batuk. meningkatkan tekanan intrakranial dan
Anjurkan pasien untuk intraabdomen. Mengeluarkan napas sewaktu
mengeluarkan napas apabila bergerak atau merubah posisi dapat melindungi
bergerak atau berbalik di diri dari efek valsava
tempat tidur.

Kolaborasi : Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler


Berikan cairan perinfus dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan
dengan perhatian ketat. cairan dapat menurunkan edema cerebral

Monitor AGD bila Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan


diperlukan pemberian pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat
oksigen menyebabkan terjadinya iskhemik serebral

Berikan terapi sesuai advis Terapi yang diberikan dapat menurunkan


dokter seperti: Steroid, permeabilitas kapiler.
Aminofel, Antibiotika. Menurunkan edema serebri
Menurunkan metabolik sel / konsumsi dan
kejang.
II. Nyeri berhubungan dengan adanya iritasi
lapisan otak
Tujuan :
 Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa
sakit terkontrol

Kriteria evaluasi :
 Pasien dapat tidur dengan tenang

 Memverbalisasikan penurunan rasa sakit.


RENCANA TINDAKAN
INTERVENSI RASIONAL
Independent
Usahakan membuat Menurunkan reaksi terhadap rangsangan
lingkungan yang aman dan ekternal atau kesensitifan terhadap cahaya
tenang dan menganjurkan pasien untuk
beristirahat
Kompres dingin (es) pada Dapat menyebabkan vasokontriksi
kepala dan kain dingin pada pembuluh darah otak
mata
Lakukan latihan gerak aktif Dapat membantu relaksasi otot-otot yang
atau pasif sesuai kondisi tegang dan dapat menurunkan rasa sakit /
dengan lembut dan hati-hati disconfort

Kolaborasi : Mungkin diperlukan untuk menurunkan


Berikan obat analgesik rasa sakit. Catatan : Narkotika merupakan
kontraindikasi karena berdampak pada
status neurologis sehingga sukar untuk
dikaji.
III.Resiko injuri berhubungan dengan adanya
kejang, perubahan status mental dan penurunan
tingkat kesadaran

Tujuan:
 Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh
kejang dan penurunan kesadaran
RENCANA TINDAKAN
INTERVENSI RASIONAL
Independent :
Monitor kejang pada tangan, Gambaran tribalitas sistem saraf pusat
kaki, mulut dan otot-otot muka memerlukan evaluasi yang sesuai
lainnya dengan intervensi yang tepat untuk
mencegah terjadinya komplikasi.
Persiapkan lingkungan yang Melindungi pasien bila kejang terjadi
aman seperti batasan ranjang,
papan pengaman, dan alat
suction selalu berada dekat
pasien.
Pertahankan bedrest total selama Mengurangi resiko jatuh / terluka jika
fase akut vertigo, sincope, dan ataksia terjadi

Kolaborasi :
Berikan terapi sesuai advis Untuk mencegah atau mengurangi
dokter seperti; diazepam, kejang.
phenobarbital, dll. Catatan : Phenobarbital dapat
menyebabkan respiratorius depresi dan
sedasi.
IV. Gangguan mobilitas fisik berhubungan
dengan kerusakan neuromuskulaer, penurunan
kekuatan otot, penurunan kesadaran, kerusakan
persepsi/kognitif

Tujuan :
 Tidak terjadi kontraktur, footdrop, gangguan
integritas kulit, fungsi bowell dan bladder
optimal serta peningkatan kemampuan fisik
RENCANA TINDAKAN
Intervensi Rasional
Independen : Mengidentifikasi kerusakan fungsi dan
Review kemampuan fisik dan menentukan pilihan intervensi
kerusakan yang terjadi

Kaji tingkat imobilisasi, Kemungkinan tingkat ketergantungan (0)


gunakan skala hanya memerlukan bantuan minimal
ketergantungan dari 0 - 4 (1)Memerlukan bantuan moderate (3)
Memerlukan bantuan komplit dari perawat
(4)Klien yang memerlukan pengawasan
khusus karena resiko injury yang tinggi

Berikan perubahan posisi Perubahan posisi teratur dapat


yang teratur pada klien mendistribusikan berat badan secara
meneyluruh dan memfasilitasi peredaran
darah serta mencegah dekubitus
Pertahankan body aligment Mencegah terjadinya kontraktur atau foot
adekuat, berikan latihan drop serta dapat mempercepat
ROM pasif jika klien sudah pengembalian fungsi tubuh nantinya
bebas panas dan kejang

Berikan perawatan kulit Memfasilitasi sirkulasi dan mencegah


secara adekuat, lakukan gangguan integritas kulit
masasse, ganti pakaian klien
dengan bahan linen dan
pertahankan tempat tidur
dalam keadaan kering

Berikan perawatan mata, Melindungi mata dari kerusakan akibat


bersihkan mata dan tutup terbukanya mata terus menerus
dengan kapas yang basah
sesekali

Kaji adanya nyeri, Indikasi adanya kerusakan kulit


kemerahan, bengkak pada
area kulit
V. Kerusakan sensori persepsi berhubungan
dengan kerusakan penerima rangsang sensori,
transmisi sensori dan integrasi sensori

Tujuan :
 Kesadaran klien dan persepsi sensori membaik
RENCANA TINDAKAN
Intervensi Rasional
Evaluasi secara teratur perubahan Kerusakan area otak akan menyebabkan klien
orientasi klien, kemampuan mengalami gangguan persepsi sensori. Sejalan dengan
bicara, keadaan emosi serta proses proses peneymbuhan, lesi area otak akan mulai
berpikir klien. membaik sehingga perlu dievaluasi kemajuan klien

Kaji kemampuan menterjemahkan Informasi tersebut penting untuk menentukan tindak


rangsang sensori misalnya : lanjut bagi klien
respon terhadap sentuhan, panas
atau dingin, serta kesadaran
terhadap pergerakan tubuh.

Batasi suara-suara bising serta Menurunkan kecemasan, dan mencegah kebingungan


pertahankan lingkungan yang pada klien akibat rangsang sensori berlebihan
tenang
Tetap bicara dengan klien dengan Rangsang sensori tetap diberikan pada klien walaupun
suara yang tenang, gunakan kata- dalam keadaan tidak sadar untuk memacu kemampuan
kata yang sederhana dan singkat sensori persepsi klien
serta pertahankan kontak mata

Kolaborasi : Untuk dapat memberikan penanganan menyeluruh


Rujuk ke ahli fisioterapi atau pada klien
okupasi
PENATALAKSANAAN
 Penatalaksanaan secara umum tidak spesifik.
Tujuanya adalah mempertahankan fungsi organ
dengan mengusahakan jalan napas tetap terbuka,
pemberian makanan enteral atau parenteral, menjaga
keseimbangan cairan dan elektrolit, koreksi gangguan
asam basa darah. Atasi kejang, Bila terdapat tanda
peningkatan TIK dapat diberikan manitol 0,5-2
g/kgBB iv dalam periode 8 – 12 jam.
 Pada pasien dengan gangguan menelan, akumulasi
lendir pada tenggorok, paralisis pita suara dan otot
napas dilakukan drainase postural dan aspirassi
mekanis yang periodik. Pada ensefalitis herpes dapat
diberikan asiklovir 10 ng/kgBB/hari iv setiap 8 jam
selama 10 – 14 hari
PENGOBATAN
Pengobatan yang dilakukan bersifat non-
spesifik dan empiris yang bertujuan untuk
mempertahankan kehidupan serta menopang setiap
sistem organ yang terserang. Obat yang biasanya
digunakan adalah :
 Fenobarbital 5-8 mg/Kg BB/24 jam untuk mencegah
kejang
 Diazepam 0,1-0,2 mg/Kg BB jika kejang-kejang sering /
terus terjadi
 Deksametason 0,5 mg/Kg BB/24 jam untuk mengurangi
peradangan
 Manitol 1,5-2,0 g/Kg BB selama 30-60 menit
mengeluarkan oedema otak/PTIK
 Asiklovir 10 mg/kgBB/hari IV setiap 8 jam jika ada
ensefalitis herpes
TERIMA KASIH