Anda di halaman 1dari 37

Merupakan trias

Preeklampsia
yang
terjadi 5-10%
mematikan
dari seluruh
bersama
kehamilan
perdarahan dan
infeksi

Penyebab
kematian 16%
di negara maju
dan 42% di
negara
berkembang
Edema

PREEKLAMPSIA

Hipertensi

(>140/90)

Proteinuria

(≥300mg/24 jam
dngn analisa urin)
DEFINISI

 HT dalam kehamilan vasospasme, proteinuria


dan trombositopenia
 Gejala nyeri kepala, nyeri epigastrium setelah 20
mgg

Hipertensi
gestasional

Hipertensi Kronik Preeklampsia

NHBPEP

Hipertensi Kronis
Superimposed Eklampsia
Preeklampsia
Sibai, 2002
Teori Kelainan
Vaskularisasi
Plasenta
Teori Iskemia
Plasenta,
Teori
Radikal bebas,
Defisiensi Gizi
Disfungsi
Endothel

PATOFISIOLOGI
PREEKLAMPSI
Teori
Defisiensi
A Teori
Intoleransi
Genetik Imunologik

Teori Adaptasi
Teori Inflamasi Kardiovaskuler
Metode Penelitian
Disfungsi plasenta dan disfungsi endothel
pada pathogenesis preeklampsia
 SEGERA RAWAT
 LAKUKAN PENILAIAN KLINIK

 JIKA PASIEN TIDAK BERNAFAS


 BEBASKAN JALAN NAFAS
 BERIKAN O2 DENGAN SUNGKUP
 LAKUKAN INTUBASI BILA PERLU

 JIKA PASIEN KEHILANGAN KESADARAN


 BEBASKAN JALAN NAFAS
 BARINGKAN PADA SATU SISI
 UKUR SUHU
 PERIKSA APAKAH ADA KAKU KUDUK
PENGELOLAAN UMUM
 JIKA PASIEN SYOK
 LIHAT PENGELOLAAN SYOK

 JIKA TERDAPAT PERDARAHAN


 LIHAT PENGELOLAAN PERDARAHAN

 JIKA PASIEN KEJANG


 BARINGKAN PADA SATU SISI, TEMPAT TIDUR
ARAH KEPALA DITINGGIKAN SEDIKIT UNTUK
MENCEGAH ASPIRASI
 BEBASKAN JALAN NAFAS
 PASANG SPATEL LIDAH
 FIKSASI
TEKANAN DARAH
MENINGKAT
( 140/90 mmHg)

NYERI KEPALA HIPERTENSI


GANGGUAN KRONIK
HAMIL
PENGLIHATAN
HIPERREFLEKSIA < 20 MG
PROTEINURIA
KOMA

KEJANG + EKLAMPSIA

HAMIL HIPERTENSI
> 20 MG GEST

KEJANG – PREEKLAMPSIA
RINGAN/BRT

PREEKLAMPSIA
SUPERIMPOSED
KEJANG
RIWAYAT KEJANG
DEMAM (-) EPILEPSI
KAKU KUDUK (-)

DEMAM MALARIA
NYERI KEPALA SEREBRAL
KAKU KUDUK (+) MENINGITIS
DISORIENTASI ENSEFALITIS
TEKANAN
DARAH TRISMUS
NORMAL SPASME OTOT TETANUS
MUKA

NYERI KEPALA
GANGGUAN
PENGLIHATAN MIGRAINE
MUNTAH
RIWAYAT GEJALA
SERUPA
 TEKANAN DARAH DIASTOLIK MERUPAKAN
INDIKATOR
 MENGUKUR TAHANAN PERIFER
 TIDAK TERPENGARUH KEADAAN EMOSI

 DIAGNOSIS HIPERTENSI BILA TEKANAN


DIASTOLIK  90 mmHg PADA DUA KALI
PENGUKURAN BERJARAK  1 JAM

 HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN


 HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN
 HIPERTENSI KRONIK
DIAGNOSIS TEKANAN DARAH TANDA LAIN
HIPERTENSI KENAIKAN DIASTOLIK PROTEINURIA (-)
15 mmHg ATAU  90 KEHAMILAN > 20 mg
mmHg DALAM 2
PENGUKURAN JARAK
1 JAM

PREEKLAMPSIA IDEM PROTEINURIA 1+


RINGAN

PREEKLAMPSIA TEKANAN DIASTOLIK PROTEINURIA 2+


BERAT > 110 mmHg OLIGURIA
HIPERREFLEKSIA
GANGG.PENGLIHATAN
NYERI EPIGASTRIUM
 LEBIH SERING PADA PRIMIGRAVIDA
 RISIKO MENINGKAT PADA
 MASSA PLASENTA BESAR (GEMELI, PENYAKIT
TROFOBLAS)
 HIDRAMNION
 DIABETES MELLITUS
 ISOIMUNISASI RHESUS
 FAKTOR HEREDITER
 MASALAH VASKULER
 HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN
 HIPERTENSI TANPA PROTEINURIA ATAU EDEMA
 PREEKLAMPSIA RINGAN
 PREEKLAMPSIA BERAT
 EKLAMPSIA
 HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN DAN
PREEKLAMPSIA RINGAN SERING TANPA
GEJALA
 PROGNOSIS LEBIH BURUK DENGAN
PROTEINURIA
 TEKANAN DARAH DIASTOLIK > 110 mmHg
 PROTEINURIA  2+
 OLIGURIA < 400 ml/24 JAM
 EDEMA PARU: NAFAS PENDEK, SIANOSIS, RONKHI
 NYERI EPIGASTRIUM/KUADRAN ATAS KANAN
 GANGGUAN PENGLIHATAN: SKOTOMA
 NYERI KEPALA HEBAT
 HIPERREFLEKSIA
 MATA: SPASME ARTERIOLER, EDEMA, ABLASIO
RETINA
 KOAGULASI: KOAGULASI INTRAVASKULER
DISSEMI-NATA, SINDROM HELLP
 PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT
 OTAK: EDEMA SEREBRI
 JANTUNG: GAGAL JANTUNG
 KEJANG DAPAT TERJADI TANPA
TERGANTUNG PADA BERAT
RINGANNYA HIPERTENSI
 SIFAT KEJANG TONIK-KLONIK
 KOMA TERJADI SETELAH KEJANG DAN
DAPAT BERLANGSUNG LAMA
 ISKEMIA UTEROPLASENTER
 SPASME ARTERIOLAR
 KEJANG DAN KOMA
 PENANGANAN TIDAK TEPAT
 PEMBATASAN KALORI, CAIRAN, DIIT
RENDAH GARAM TIDAK MENCEGAH
HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN
BAHKAN MEMBAHAYAKAN JANIN
 MANFAAT ASPIRIN, KALSIUM DLL.
BELUM TERBUKTI
 DETEKSI DINI DAN PENANGANAN
CEPAT-TEPAT
HIPERTENSI HAMIL TERMINASI
KARENA > 37 MG KEHAMILAN
KEHAMILAN
TANPA HAMIL PEMANTAUAN
PROTEINURIA < 37 MG TEKANAN
DARAH

MENINGKAT

PREEKLAMPSIA
 JIKA KEHAMILAN < 37 MINGGU
 RAWAT JALAN
 PEMANTAUAN TEKANAN DARAH, PROTEINURIA &
KONDISI JANIN TIAP MINGGU
 BILA KONDISI JANIN MEMBURUK / GANGGUAN PER-
TUMBUHAN JANIN  RAWAT DAN PERTIMBANGKAN
TERMINASI KEHAMILAN

 JIKA KEHAMILAN > 37 MINGGU


 TERMINASI KEHAMILAN
HAMIL TERMINASI
> 37 MG KEHAMILAN
PREEKLAMPSIA
RINGAN PEMANTAUAN
HAMIL TEKANAN DARAH,
< 37 MG PROTEINURIA,
REFLEKS, KONDISI
JANIN

KENAIKAN GANGGUAN KENAIKAN


PROTEINURIA PERTUMBUHAN TEKANAN
JANIN DARAH

PREEKLAMPSIA TERMINASI RAWAT INAP


KEHAMILAN
 JIKA KEHAMILAN < 37 MINGGU DAN
TIDAK TERJADI PERBAIKAN, LAKUKAN
PENILAIAN 2 KALI/MG RAWAT JALAN
 PEMANTAUAN TEKANAN DARAH 2X/HR,
PROTEINURIA 1X/HR & KONDISI JANIN
 BANYAK ISTIRAHAT
 DIIT BIASA
 TIDAK PERLU PENGOBATAN
 JIKA KEHAMILAN < 37 MINGGU DAN TIDAK MEMUNG-
KINKAN RAWAT JALAN, RAWAT DI RS
 PEMANTAUAN TEKANAN DARAH 2X/HR, PROTEINURIA 1X/HR &
KONDISI JANIN
 BANYAK ISTIRAHAT
 DIIT BIASA
 TIDAK PERLU PENGOBATAN
 TIDAK PERLU DIURETIK, KECUALI TERDAPAT EDEMA PARU,
DEKOMPENSASI KORDIS & GAGAL GINJAL AKUT
 PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT  PERTIMBANGKAN
TERMINASI
 PROTEINURIA  KELOLA SEBAGAI PREEKLAMPSIA BERAT
 TEKANAN DIASTOLIK TURUN SAMPAI NORMAL
 PASIEN DIPULANGKAN
 ISTIRAHAT & PERHATIKAN TANDA PREEKLAMPSIA BERAT
 TEKANAN DIASTOLIK NAIK  RAWAT
 JIKA KEHAMILAN > 37 MINGGU
PERTIMBANGKAN TERMINASI
KEHAMILAN
 SERVIKS MATANG  LAKUKAN INDUKSI
OKSITOSIN 5 IU / 500 ml DEKSTROSE 5% 10
TETES/MENIT ATAU PROSTAGLANDIN
 SERVIKS BELUM MATANG  PROSTA-
GLANDIN / MISOPROSTOL / KATETER
FOLEY / BEDAH CAESAR
KEJANG ANTI KONVULSAN
PREEKLAMPSIA
BERAT DAN
 ANTI KONVULSAN  ANTI HIPERTENSI 
EKLAMPSIA PASANG INFUS  KESEIMBANGAN CAIRAN
 PENGAWASAN  OBSERVASI TANDA
VITAL, REFLEKS, DJJ, EDEMA PARU, UJI
PEMBEKUAN DARAH

OLIGURIA PERSALINAN 12 GAWAT JANIN


SINDROM JAM (EKLAMPSIA)
HELLP / 24 JAM
(PREEKLAMPSIA)
KOMA

PARTUS BEDAH
RUJUK PERVAGINAM CAESAR
 PENGELOLAAN KEJANG
 ANTI KONVULSAN
 PERLENGKAPAN PENGELOLAAN KEJANG
 LINDUNGI DARI TRAUMA
 ASPIRASI MULUT DAN TENGGOROK
 BARINGKAN PADA SISI KIRI,
TRENDELENBURG
 O2 4-6 LITER/MEN
 PENGELOLAAN UMUM
 JIKA DIASTOLIK > 110 mmHg BERIKAN ANTI HIPERTENSI
SAMPAI DIASTOLIK ANTARA 90-100 mmHg
 PASANG INFUS RINGER LAKTAT
 UKUR KESEIMBANGAN CAIRAN
 KATETERISASI URIN
 JIKA JUMLAH URIN < 300 ML/JAM  PANTAU EDEMA
PARU
 PENGAWASAN
 OBSERVASI TANDA VITAL, REFLEKS & DJJ TIAP 1 JAM
 LAKUKAN UJI PEMBEKUAN DARAH
MAGNESIUM SULFAT UNTUK PREEKLAMPSIA DAN
EKLAMPSIA
Alternatif I Dosis MgSO4 4 g IV sebagai larutan 40% selama
awal 5 menit
Segera dilanjutkan dengan 15 ml MgSO4
(40%) 6 g dalam larutan Ringer Asetat /
Ringer Laktat selama 6 jam
Jika kejang berulang setelah 15 menit,
berikan MgSO4 (40%) 2 g IV selama 5
menit
Dosis Pemeliharaan MgSO4 1 g / jam melalui infus Ringer
Asetat / Ringer Laktat yang diberikan
sampai 24 jam postpartum
MAGNESIUM SULFAT UNTUK PREEKLAMPSIA DAN
EKLAMPSIA
Alternatif II Dosis awal MgSO4 4 g IV sebagai larutan 40% selama 5 menit
Dosis pemeliharaan Diikuti dengan MgSO4 (40%) 5 g IM dengan 1 ml
Lignokain (dalam semprit yang sama)
Pasien akan merasa agak panas pada saat pemberian
MgSO4
Sebelum pemberian Frekuensi pernafasan minimal 16 kali/menit
MgSO4 ulangan, Refleks patella (+)
lakukan pemeriksaan: Urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir
Frekuensi pernafasan < 16 kali/menit
Hentikan pemberian Refleks patella (-), bradipnea (<16 kali/menit)
MgSO4, jika: Urin < 30 ml/jam pada hari ke 2
Siapkan antidotum Jika terjadi henti nafas:
Bantu pernafasan dengan ventilator
Berikan Kalsium glukonas 1 g (20 ml dalam larutan
10%) IV perlahan-lahan sampai pernafasan mulai lagi
 Obat pilihan adalah Nifedipin, yang diberikan 5-10
mg oral yang dapat diulang sampai 8 kali/24 jam
 Jika respons tidak membaik setelah 10 menit,
berikan tambahan 5 mg Nifedipin sublingual.
 Labetolol 10 mg oral. Jika respons tidak membaik
setelah 10 menit, berikan lagi Labetolol 20 mg oral.
DOSIS AWAL DIASEPAM 10 MG IV SELAMA 2 MENIT

DOSIS DIASEPAM 40 MG / 500 ML RINGER LAKTAT


PEMELIHARAAN TIDAK MELEBIHI 100 MG/24 JAM
PEMBERIAN DIASEPAM 20 MG DALAM SEMPRIT 10 ml
MELALUI JIKA MASIH ADA KEJANG DOSIS
REKTUM TAMBAHAN 10 MG/JAM
DAPAT DIBERIKAN MELALUI KATETER URIN
KE DALAM REKTUM
 PREEKLAMPSIA BERAT  PERSALINAN DALAM 24 JAM
 EKLAMPSIA  PERSALINAN DALAM 12 JAM

 BILA DILAKUKAN BEDAH CAESAR


 TIDAK ADA KOAGULOPATI
 ANESTESIA TERPILIH ANESTESIA UMUM

 JIKA TIDAK TERSEDIA ANESTESI UMUM


 JANIN MATI
 BBLR
 LAKUKAN PERSALINAN PERVAGINAM

 JIKA PEMATANGAN SERVIKS BAIK  INDUKSI OKSITOSIN 5


IU / 500 ML DEKSTROSE 5% ATAU PROSTAGLANDIN
 OLIGURIA (<400 ML/24 JAM)
 SINDROM HELLP
(HEMOLYSIS, ELEVATED LIVER ENZYMES &
LOW PLATELETS)
 KOMA BERLANJUT > 24 JAM
SETELAH KEJANG
 ANTI KONVULSAN DITERUSKAN
SAMPAI 24 JAM POSTPARTUM /
KEJANG TERAKHIR
 ANTI HIPERTENSI JIKA TEKANAN
DIASTOLIK > 110 mmHg
 PEMANTAUAN JUMLAH URIN
 ANTI HIPERTENSI
HIPERTENSI  SUPERIMPOSED PREEKLAMPSIA
KRONIK ?  ISTIRAHAT  PEMANTAUAN
JANIN  OBSERVASI KOMPLIKASI

 PREEKLAMPSIA
 GANGGUAN PERTUMBUHAN
JANIN
 GAWAT JANIN

TERMINASI
KEHAMILAN
TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA