Anda di halaman 1dari 48

Nama Kelompok:

1. Arivianti Fajar D P, S.Kep


2. Dewi Yuliana, S.Kep
3. Hesti Damayanti, S.Kep
4. Hidayah Rizki R, S.Kep
5. Rahmawati Nur Fauzi, S.Kep
6. Muh. Haidar, S.Kep
7. Ikbal Dwi Cipta, S. Kep
Salah satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan
pelayanan dan asuhan keperawatan yang merupakan bagian dari
sistem pelayanan kesehatan dengan tujuan memelihara
kesehatan masyarakat seoptimal mungkin. Pelayanan
keperawatan memiliki kontribusi sangat besar terhadap citra
sebuah rumah sakit untuk melakukan evaluasi atas pelayanan
yang telah diberikan (Nursalam, 2011).

Model metode asuhan keperawatan profesional (MAKP) adalah suatu


kerangka kerja yang mendefinisikan empat unsur, yakni: standar,
proses keperawatan, pendidikan keperawata dan sistem MAKP. Definisi
tersebut berdasarkan prinsip-prinsip nilai yang di yakini dan akan
menentukan kualitas produksi atau jasa layanan keperawatan
(Nursalam, 2014).

Julianto (2014) menyatakan bahwa manajemen keperawatan


dapat didefinisikan sebagai suatu proses dari perencanaan,
pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan untuk
mencapai tujuan.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi pada tanggal
02 sampai dengan 05 April 2018, sistem pemberian asuhan
keperawatan yang diberikan kepada pasien di bangsal Arafah RSU
‘Aisyiyah Ponorogo adalah metode TIM Kombinasi. Metode TIM
kombinasi di bangsal Arafah dipimpin oleh satu orang kepala
ruang, 4 orang KaShift yang memimpin 8 perawat pelaksana.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan
Kashift didapatkan beberapa masalah di bangsal Arafah yaitu Pre-
Post conference belum optimal, kemudian berdasarkan observasi
selama 2 hari pre conference pada hari pertama terlaksana
sebesar 60%, dan hari kedua sebesar 60%, pelaksanaan
pendelagasian 100%, dan pelaksanaan ronde 0%.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
• Ruang Arafah RSU ‘Aisyiyah Popnorogo yang
berlangsung mulai tanggal 2- 21 april 2018.
Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran Stase Manajemen
Keperawatan di Bangsal Arafah RSU ‘Aisyiyah Ponorogo selama 21 hari
diharapkan mahasiswa mampu menerapkan konsep dan prinsip
manajemen keperawatan pada unit layanan kesehatan secara nyata
Tujuan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di Rumah
umum Sakit.

Mengidentifikasi kebutuhan dan masalah pelayanan kesehatan yang yang terkait


dengan manajemen keperawatan berdasarkan analisis situasi nyata di RSU
‘Aisyiyah Ponorogo.
Menetapkan prioritas kebutuhan dan masalah manajemen keperawatan
bersama pihak rumah sakit tempat praktek terkait dengan masalah baru yang
mungkin teridentifikasi maupun masalah lama yang akan dievaluasi.
Menyusun tujuan dan rencana alternatif pemenuhan kebutuhan dan
Tujuan penyelesaian masalah yang telah ditetapkan.
Mengusulkan alternatif pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah yang
khusus bersifat teknis operasional bagi RSU ‘Aisyiyah Ponorogo.
Melaksanakannya alternatif pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah
yang disepakati bersama unit terkait RSU ‘Aisyiyah Ponorogo.
Melaksanakan evaluasi pelaksanaan kegiatan pada aspek masukan, proses, hasil
dan dampak pada manajemen keperawatan.
Menyusun rencana tidak lanjut dari hasil yang dicapai berupa upaya
mempertahankan dan memperbaiki hasil melalui kerjasama dengan unit terkait
dengan RSU ‘Aisyiyah Ponorogo.
Metode pengumpulan data

Observasi

wawancara

Studi dokumentasi

Kuesioner
GAMBARAN UMUM

Nama : RSU ‘Aisyiyah Ponorogo


Pemilik : Pimpinan Pusat
Muhammadiyah RSUA PONOROGO
Pendiri : Pimpinan daerah Jumlah TT : 158 TT
‘Aisyiyah Ponorog Kelas 3 : 42 TT
Penyelenggara : Majelis kesehatan PDA Kelas 2 : 58 TT
Ponorogo Kelas 1 : 15 TT
Alamat : JL. Doktor. Sutomo Utama : 2 TT
Nomor. No.18-24 VIP : 21 TT
Kode/Telp/Faks : 63419/(0532)461560 VVIP : 2 TT
hunting Isolasi : 4 TT
Kelas/Tipe : Tipe C Perinatologi : 6 TT
Luas lahan : 6215 m2 ICU/IPI : 8 TT
Status Tanah : hak Milik
Luas Bangunan : 10500 m2
Luas lahan : 1400 m2
Kelas I : 2 ruangan kamar terdapat 1
bad, kipas angin, almari, kursi tunggu,
Ruang Arafah merupakan salah kamar mandi dalam, tabung gas,
satu ruang rawat inap yang standart infus, televisi.
dimiliki oleh RSU ‘Aisyiyah kelas II: 14 tempat tidur terdapat
Ponorogo. Ruang Arafah terdapat tabung gas, kipas angin,
merupakan bangsal kelas I, II dan jam dinding, almari. Dalam 1 ruang
III yang terdiri dari 7 ruangan A-G kamar ada 2 bad tempat tidur, 1 kipas
sejumlah 21 tempat tidur yang angin kecil, 1 lemari besi, 1 kursi
melayani pasien dengan kategori tunggu dan 1 tabung gas.
pelayanan umum, JKN, dan kelas III: 5 tempat tidur terdapat
asuransi lainnya. tabung oksigen, kipas angin, jam
dinding, lemari besi dalam satu
ruangan.

Ruang Arafah dipimpin oleh 1


orang kepala ruangan dengan
pendidikan D3 Keperawatan dan Ruang Arafah bukan merupakan
4 Ka Shif dengan pendidikan D3 ruang perawatan khusus,
keperawatan, di bantu oleh melainkan ruangan yang
orang perawat pelaksana menangani berbagi macam jenis
dengan pendidikan D3 penyakit, yang menangani
keperawatan. semua kasus kecuali penyakit
pada anak.
Pendekatan Aspek Manajemen Keperawatan
(Input, Proses, dan Output)

Karakteristik pasien yang dirawat disuatu ruangan


berpengaruh dalam pemberian pelayanan kesehatan. Semakin
banyak ragam kasus penyakit yang dirawat disatu ruangan
menuntut semakin banyak pula pengetahuan dan keterampilan
yang harus dimiliki oleh perawat. Demikian juga perangkat
lunak yang harus dimiliki ruangan seperti petunjuk teknis
standar asuhan keperawatan juga semakin banyak yang harus
disediakan.

Pasien yang dirawat di ruang Arafah


adalah pasien dengan berbagai kasus
penyakit dalam baik yang berat
maupun yang ringan. Persebaran
kasus penyakit di ruang Arofah di
sajikan dalam tabel berikut ini:
Instrumenal Input : 5M
(Man, Money, Method,
Material, Mechine)
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 3-4


April 2018 didapatkan hasil rata-rata jumlah
perawat yang dibutuhkan adalah 9 orang/hari
Hasil Temuan
Dapat diketahui bahwa kebijakan semua ruang
rawat inap termasuk kebijakan di ruang rawat inap
Arafah telah tercantum dalam SK Nomor:
RSU.A.165.09.2008.
Standar Asuhan Keperawatan (SAK) di Ruang
Rawat Inap Arafah RSU ‘Aisyiyah Ponorogo

Berdasarkan Ruang rawat inap Arafah menggunakan SAK yang


telah ditetapkan oleh RSU ‘Aisyiyah Ponorogo sesuai
Keputusan Direktur No. RSU.A.161.08.2007 yang terdiri dari
56 jenis asuhan keperawatan. Tipe SAK di ruang rawat inap
Arafah menggunakan TIM kombinasi. Akan tetapi, ada
beberapa jenis penyakit yang belum memiliki SAK spesifik
khususnya untuk 10 besar penyakit yang ada di ruang rawat
inap Arafah seperti CVA, dyspepsia, CKD, HIL.
Standar Prosedur Operasional (SPO) di Ruang
Rawat Inap Arafah RSU ‘Aisyiyah Ponorogo

Berdasarkann tabel 2.12 dapat diketahui bahwa dari


hasil studi dokumentasi di Ruang rawat inap Arafah
menggunakan acuan Standar Prosedur Operasional
(SPO) Keperawatan yang berisi 70 SPO mengingat
ruang rawat inap Arafah adalah ruang rawat inap
rawat inap yang menangani kasus semua penyakit
kecuali penyakit anak-anak, akan tetapi SPO yang
digunakan masih secara umum dan penerapannya
tidak spesifik pada kasus-kasus yang ada.
Tabel 2.13 Standar Peralatan Keperawatan Instalasi
Rawat Inap Ruang Arafah RSU ‘Aisyiyah Ponorogo pada
tahun 2018

Interpretasi:
Berdasarkan tabel 2.13 dapat diketahui bahwa di ruang rawat inap
Arafah sudah tersedia dan memenuhi standar dan dalam kondisi
baik serta pengelolaannyapun baik.
Intepretasi data:
Berdasarkan tabel 2.17, tindakan keperawatan yang dilakukan sudah
baik yaitu sebesar 89.9%. Presentase cukup dengan aspek yang dinilai
yaitu semua tindakan yang telah dilaksanakan dicatat ringkas dan jelas.
Berdasakan hasil wawancara dan observasi dibangsal bahwa
implementasi dilakukan di bangsal tetapi tidak dokumentasikan.
Perawat sudah melakukan intervensi dokumentasi langsung pada
evaluasi.
Tabel 2.21 Hasil kajian Organizing di Ruang Rawat Inap
Arafah RSU ‘Aisyiyah Ponorogo

Interpretasi Data :
Berdasarkan data diatas didapatkan hasil kajian organizing sudah
baik sebesar 87% tetapi masih ada beberapa aspek yang tidak
terpenuhi seperti pelaksanaan pre dan post conferance karena
waktu yang kurang efisien dan belum memenuhi waktunya untuk
dilakukanna pre dan post serta minimnya waktu.
actuating
Tabel 2.25 Pelaksanaan Timbang Terima Tugas Jaga (Operan) di
Ruang rawat Inap Arafah RSU ‘Aisyiyah Ponorogo (n=13)

Berdasarkan tabel 2.25 tentang pelaksanaan serah terima tugas


operan jaga didapatkan hasil sebesar 81% dalam kategori baik.
Serta ada beberapa data yang tidak sesuai karena setiap timbang
terima perawat tidak pernah menginformasikan pada pasaien
atau keluarga nama perawat dan tidak menjelaskan penanggung
jawab shift berikutnya.
Tabel 2.26 Pelaksanaan Pre Conference di Ruang Rawat Inap
Arafah RSU ‘Aisyiyah Ponorogo
Berdasarkan tabel 2.26 mengenai pelaksanaan pre conference
secara observasi pada perawat yang berjaga di shift pagi dan
siang didapatkan beberapa tahap kegiatan pre conference
yang dilaksanakan sesuai tahapan. Kegiatan ini dilakukan
bersamaan dengan proses timbang terima, hal ini membuat
beberapa perawat sulit membedakan proses timbang terima
dengan pelaksanaan pre conference sehingga pelaksanaan pre
conference terasa kurang maksimal.
Tabel 2.27 Pelaksanaan Post Conference di Ruang Rawat Inap
Arafah RSU ‘Aisyiyah Ponorogo

Berdasarkan tabel 2.27 tentang pelaksanaan post conference


secara observasi pada perawat yang berjaga di shift pagi dan
siang didapatkan hasil bahwa tidak pernah dilakukan
pelaksanaan post conference. Dimana perawat langsung
melaksanakan kegiatan operan jaga tanpa didahului oleh
pelaksanaan post conference.
UNSUR OUTPUT
1. Instrumen A
Berdasarkan hasil studi dokumentasi
terhadap 21 dokumen asuhan keperawatan
pasien maka nilai mutu asuhan keperawatan
dari instrumen sebanyak 95,2% yang berarti
dalam kategori baik.
Lanjutan
2. Instrumen B
Berdasarkan kuisioner di dapatkan hasil 71,3%
yang berarti bahwa pasien merasa puas
dengan pelayanan yang telah diberikan di
ruang rawat inap Arafah. Namun 28,7% pasien
merasa belum puas dengan pelayanan yang
ada di ruang rawat inap Arafah.
Lanjutan
3. Instumen C
Hasil observasi tindakan di ruang rawat inap
Arafah terhadap 2 tindakan keperawatan yang
dilakukan menunjukan nilai rata-rata 100%.
Hal ini menunjukan bahwa tindakan
keperawatan yang dilakukan diruang rawat
inap Arafah dikategorikan sudah mengacu
pada SOP yang sudah ditetapkan.
Lanjutan
Hasil Evaluasi
tentang hasil evaluasi total instrumen ABC
didapatkan hasil persentase 89,8 %. Hal ini
menunjukkan bahwa tindakan keperawatan
yang dilakukan di ruang rawat inap Arafah
dikategorikan baik dan sudah mengacu pada
SOP yang sudah ditentukan oleh Rumah Sakit
RSU ‘Aisyiyah Ponorogo.
Berdasarkan tabel 2.39 diatas didapatkan data
jawaban Ya sebanyak 84,6% dan tidak
sebanyak 15,4%. Dari data tersebut maka
dapat disimpulkan pencegahan infeksi di
ruang rawat inap Arafah baik. Selama
observasi dari 3hari didapatkan data bahwa
selang ifus dan abocat tidak pernah diganti
selama 3hari dikarenakan pasien tidak mau
karena sakit, dari biaya juga kurang efisien.
PRIORITAS MASALAH

1. SKP 1 Dan SKP 5


2. Ronde Keperawatan
3. MAKP pre dan post conference
4. Supervisi
5. Operan Jaga
TERIMAKASIH...

Anda mungkin juga menyukai