Anda di halaman 1dari 23

Laporan Kasus

Asma Bronkial Akut serangan


Berat

Disusun Oleh : dr. Maria Christiningrum

Pembimbing :
dr. Netty N, Sp.EM
dr. M. Wildan
Bahan Diskusi
5 Januari 2017

Nama : Tn. EP

Umur : 47 tahun

Pekerjaan :-

Alamat : Pacitan

Agama : Islam

Suku Bangsa : Indonesia


Keluhan Utama

• Sesak sejak dua hari SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang

• Sesak sejak dua hari SMRS. Sesak dirasakan


semakin memberat. Sebelumnya pasien
mengalami batuk berdahak selama lebih kurang
satu minggu. Sesak berulang sering dialami.
Sesak terakhir adalah 1 bulan yang lalu tetapi
tidak seberat keluhan yang dialami sekarang.
Tidak ada riwayat trauma dada sebelumnya.
Tidak disertai demam. Sesak tidak dipengaruhi
aktifitas. Tidak disertai dengan pembengkakan
pada kaki. Posisi tidur tidak mempengaruhi atau
memperbaiki keadaan sesak. Tidak disertai
keringat malam. Batuk disertai darah disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu

• Pasien sering mengalami sesak berulang


sebelumnya. Pasien memiliki riwayat Asma dan
dalam pengontrolan obat. Riwayat merokok (+).
Riwayat hipertensi (-). Riwayat DM (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

• Tidak diketahui

Riwayat Pengobatan

• Pasien rutin melakukan kontrol ke poli paru.


Kontrol terakhir adalah satu bulan yang lalu. Obat
yang didapatkan antara lain Azt, Ciprofloksasin,
Metil prednisolone, OBH, Loratadin, Beladona,
Seretide
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Kepala Thoraks Abdomen

• Kesadaran : • mata konjungtiva • Inspeksi : • Inspeksi :


Compos Mentis anemi (-/-) sclera Pergerakan dada Datar, supel
• Tampak Sakit ikterik(-/-) simetris, retraksi • Auskultasi :
Sedang • Leher : JVP 5+3 dada (+), Bising usus (+)
• Tanda-tanda vital : cmH2O pergerakan otot- normal
otot bantu • Palpasi
• Tekanan darah :
pernafasan (+) Nyeri tekan (-),
: 170/100
mmHg • Palpasi : massa (-), hepar
• Nadi • Perkusi : lien tidak teraba
: Hipersonor kiri dan • Perkusi :
106x/menit kanan Timpani seluruh
• Pernafasan • Auskultasi : lapang abdomen
: 32x/menit Jantung S1S2 • Ekstremitas :
reguler, murmur (-), Akral hangat,
• Suhu : 36,5 C
gallop (-) edema tungkai (-/-),
• Saturasi : <90%
• Paru suara nafas CRT <2 detik
vesikuler (-/-),
Rhonkhi (+/+),
Wheezing (+/+)
inspirasi ekspirasi
di seluruh lapang
paru.
Pemeriksaan Penunjang :

• DL, BGA, rontgen Thorax AP

Diagnosis :

• Asma Bronkial Akut serangan berat

Diagnosis Banding :

• PPOK, Pneumothoraks

Usulan Pemeriksaan Penunjang

• Spirometri, APE, Uji Faal Paru


Rencana Terapi
Non Medikamentosa

• Posisi ½ duduk
• O2 3 liter per menit
• Kontrol vital sign

Medikamentosa

• IVFD NS 0,9% 20 tetes per menit


• Injeksi Ranitidin 50 mg
• Injeksi Metilprednisolon 125 mg
• Nebulizer combivent dan ventolin
• Drip 2 gr MgSO4 dalam NS 100 cc selama 30
menit
Definisi Asma Bronkial

Asma adalah gangguan


inflamasi kronik saluran
napas yang melibatkan
banyak sel dan
elemennya.

Inflamasi kronik 
Episodik tersebut
peningkatan
berhubungan dengan
hiperesponsif jalan napas
obstruksi jalan napas
 gejala episodik
yang luas, bervariasi dan
(mengi, sesak napas,
seringkali bersifat
dada terasa berat dan
reversibel dengan atau
batuk-batuk terutama
tanpa pengobatan
malam dan atau dini hari)
Patofisiologi (1)
Pada asma terjadi keterbatasan aliran Pada asma terjadi keterbatasan
aliran udara berulang disebabkan perubahan struktur saluran napas
tersebut antara lain:

Bronkokonstriks edema saluran hiperresponsif airway


i, terjadi karena napas akibat saluran napas remodelling
alergen yang hipertrofi dan akibat proses merupakan
terikat IgE pada hiperplasi otot inflamasi, kondisi yang

Ketiga

Keempat
pertama

Kedua

sel mast polos saluran disfungsi dapat


menyebabkan napas. neuroregulasi meningkatkan
degranulasi dan dan perubahan obstruksi aliran
pengeluaran struktur saluran udara sehingga
mediator napas. menurunkan
inflamasikont respon terapi
raksi otot polos
bronkus,
sekresi mukus
dan
vasodilatasi.
Patofisiologi (2)
Patofisiologi (3)
Patofisiologi (4)
Epidemiologi
Asma merupakan penyakit kronik yang banyak diderita oleh anak dan dewasa baik di
negara maju maupun di negara berkembang. Sekitar 300 juta manusia di dunia
menderita asma dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta pada
tahun 2025
Diagnosis dan Klasifikasi
Bersifat episodik, seringkali

Hal lain yang perlu dipertimbangkan


reversibel dengan atau
Riwayat penyakit / gejala:

tanpa pengobatan Riwayat keluarga


(atopi)

dalam riwayat penyakit


Gejala berupa batuk , sesak
napas, rasa berat di dada
dan berdahak
Riwayat alergi / atopi
Gejala timbul/ memburuk
terutama malam/ dini hari
Penyakit lain yang
memberatkan
Diawali oleh faktor pencetus
yang bersifat individu
Perkembangan
penyakit dan
pengobatan
Respons terhadap
pemberian bronkodilator
Pemeriksaan Fisik

Gejala asma bervariasi


Kelainan pemeriksaan jasmani
sepanjang hari sehingga
yang paling sering ditemukan
pemeriksaan jasmani dapat
adalah mengi pada auskultasi.
normal.

Pada keadaan serangan,


kontraksi otot polos saluran
Pada sebagian penderita,
napas, edema dan hipersekresi
auskultasi dapat terdengar
dapat menyumbat saluran
normal walaupun pada
napas; maka sebagai
pengukuran objektif (faal paru)
kompensasi penderita bernapas
telah terdapat penyempitan jalan
pada volume paru yang lebih
napas.
besar untuk mengatasi
menutupnya saluran napas.

Walaupun demikian mengi dapat


Hal itu meningkatkan kerja
tidak terdengar (silent chest)
pernapasan dan menimbulkan
pada serangan yang sangat
tanda klinis berupa sesak napas,
berat, tetapi biasanya disertai
mengi dan hiperinflasi. Pada
gejala lain misalnya sianosis,
serangan ringan, mengi hanya
gelisah, sukar bicara, takikardi,
terdengar pada waktu ekspirasi
hiperinflasi dan penggunaan otot
paksa.
bantu napa
Pemeriksaan Penunjang Standar
Spirometri:

• Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan kapasiti vital paksa (KVP)
dilakukan dengan manuver ekspirasi paksa melalui prosedur yang standar. Pemeriksaan
itu sangat bergantung kepada kemampuan penderita sehingga dibutuhkan instruksi
operator yang jelas dan kooperasi penderita. Untuk mendapatkan nilai yang akurat,
diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang reproducible dan acceptable. Obstruksi jalan
napas diketahui dari nilai rasio VEP1/ KVP < 75% atau VEP1 < 80% nilai prediksi.
Arus Puncak Ekspirasi (APE):

• Nilai APE dapat diperoleh melalui pemeriksaan spirometri atau pemeriksaan yang lebih
sederhana yaitu dengan alat peak expiratory flow meter (PEF meter) yang relatif sangat
murah, mudah dibawa, terbuat dari plastik dan mungkin tersedia di berbagai tingkat
layanan kesehatan termasuk puskesmas ataupun instalasi gawat darurat. Alat PEF meter
relatif mudah digunakan/ dipahami baik oleh dokter maupun penderita, sebaiknya
digunakan penderita di rumah sehari-hari untuk memantau kondisi asmanya. Manuver
pemeriksaan APE dengan ekspirasi paksa membutuhkan koperasi penderita dan instruksi
yang jelas.

Uji Provokasi Bronkus

• Uji provokasi bronkus membantu menegakkan diagnosis asma. Pada penderita dengan
gejalA asma dan faal paru normal sebaiknya dilakukan uji provokasi bronkus.
Pemeriksaan uji provokasi bronkus mempunyai sensitiviti yang tinggi tetapi spesifisiti
rendah, artinya hasil negatif dapat menyingkirkan diagnosis asma persisten, tetapi hasil
positif tidak selalu berarti bahwa penderita tersebut asma. Hasil positif dapat terjadi pada
penyakit lain seperti rinitis alergik, berbagai gangguan dengan penyempitan jalan napas
seperti PPOK, bronkiektasis dan fibrosis kistik
Tujuan Penatalaksanaan Asma

1. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma

2. Mencegah eksaserbasi akut

3. Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin

4. Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise

5. Menghindari efek samping obat

6. Mencegah terjadi keterbatasan aliran udara (airflow limitation) ireversibel

7. Mencegah kematian karena asma


Penatalaksanaan Serangan Akut
Pengendalian dan Rencana Pengobatan
Jangka Panjang

Penatalaksanaan asma berguna untuk mengontrol penyakit. Asma


dikatakan terkontrol bila :

1. Gejala minimal (sebaiknya tidak ada), termasuk gejala malam

2. Tidak ada keterbatasan aktiviti termasuk exercise

3. Kebutuhan bronkodilator (agonis 2 kerja singkat) minimal (idealnya


tidak diperlukan)

4. Variasi harian APE kurang dari 20%

5. Nilai APE normal atau mendekati normal