Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT


Muh. Isyraq Raihan
N 111 16 024
dr. Anastasia Christine
dr. Diah Mutiarasari, MPH
BAB I
PENDAHULUAN
• ISPA merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah di Indonesia karena
kasusnya masih cukup tinggi.
•ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan
kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang
terjadi.
• Setiap anak diperkirakan mengalami 3 – 6 episode ISPA setiap tahunnya. Setidaknya
40% - 60% dari kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh
kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20% - 30%.
LATAR BELAKANG

Menurut data UPTD Puskesmas Kawatuna kejadian ISPA masih menduduki


posisi paling pertama dari 10 penyakit yang tersering di Puskesmas
Kawatuna.[5]
BAB II
PERMASALAHAN
PENENTUAN PRIORITAS KASUS MENGGUNAKAN RUMUS HANLON
KUANTITATIF
No Masalaah Besar masalah Kegawat Kemungkinan Nilai
kesehatan Daruratan Diatasi

1 ISPA 4 2 4 10

2 Hipertensi 3 4 4 11

3 Diare 3 2 3 8

4 Gastritis 4 4 1 9

5 Pneumonia 4 3 1 8
• KRITERIA A : Besar masalah, dapat dilihat dari besarnya insidensi atau
prevalensi. Skor 1-10
Masalah Besar masalah Nilai
Kesehatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
X (Gastritis) V 5

Y (ISPA) V 8

Z (Hipertensi) V 5

• KRITERIA B : Kegawatan masalah (SKOR 1-5)


Masalah Kesehatan Keganasan Tingkat urgency Biaya yang Niilai
dikeluarkan

X (Gastritis) 2 3 3 8

Y (ISPA) 2 3 3 8

Z (Hipertensi) 2 3 3 8
KRITERIA D : PEARL factor

• KRITERIA C :kemudahan dalam penanggulangan


Sangat sulit Z Y X sangat mudah
1 2 3 4 5

• KRITERIA D : PEARL factor


Masalah P E A R L Hasil
kesehatan perkalian

X 1 1 1 1 1 1

Y 1 1 1 1 1 1

Z 1 1 1 1 1 1
Masalah A B C NPD D (PEARL) NPT Prioritas
kesehatan

Skabies 4 8 2 26 1 26 3

ISPA 8 7 3 64 1 64 1

Hipertensi 6 10 4 45 1 45 2
IDENTITAS PASIEN

NAMA : AN. J
UMUR : 8 TAHUN
JENIS KELAMIN : LAKI-LAKI
AGAMA : ISLAM
ALAMAT : LAGARUTU
TANGGAL PEMERIKSAAN : 24 AGUSTUS 2018
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien datang ke poli mtbs puskesmas dengan keluhan batuk


disertai demam. Batuk berlendir disertai dengan demam
dirasakan terutama pada malam hari dan dialami sejak 1 hari
sebelum ke puskesmas. Namun saat di Puskesmas pasien sudah
tidak demam. Menurut ibunya, demam turun setelah di berikan
DESKRIPSI obat paracetamol. Tidak ada riwayat kejang, tidak ada mual
ataupun muntah. Nafsu makan menurun. Buang air kecil lancar,
KASUS berwarna kuning dengan frekuensi 3-5 kali sehari. Buang air
besar biasa, berwarna kekuningan dengan konsistensi padat.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Ibu pasien menderita keluhan yang sama dengan pasien


DESKRIPSI KASUS
RIWAYAT SOSIAL DAN LINGKUNGAN

PASIEN MAKAN 1-2 KALI SEHARI. MENU MAKANAN PASIEN YAITU NASI, LAUK PAUK, DAN KADANG
TERDAPAT SAYUR. PORSI SEKALI MAKAN PASIEN YAITU SEPIRING NASI BERISI 1 SENDOK NASI, LAUK
YANG DIKONSUMSI BERUPA IKAN, TAHU ATAU TEMPE YANG DIGORENG. SAYURAN YANG BIASANYA
DIKONSUMSI OLEH PASIEN YAITU KELOR. PASIEN JARANG MENGKONSUMSI BUAH.
PASIEN MANDI 2 KALI SEHARI PAGI DAN SORE DI SUNGAI
PASIEN TINGGAL BERSAMA IBU, 3 ORANG KAKAK, 2 KAKAK IPAR, DAN 1 KEPONAKAN. KAKAK IPAR
PASIEN ADALAH PEROKOK AKTIF
DESKRIPSI KASUS
RIWAYAT SOSIAL DAN LINGKUNGAN

PASIEN TINGGAL DI KAWASAN YANG PADAT PENDUDUK. PASIEN TINGGAL DI RUMAH SEMI PERMANEN
BERLANTAI 1, BERUKURAN LUAS SEKITAR 6X10 M2. RUMAH TERDIRI DARI RUANG TAMU, SATU KAMAR
TIDUR, RUANG MAKAN SEKALIGUS DAPUR. LANTAI RUMAH TERBUAT DARI SEMEN, DINDING RUMAH SEMI
PERMANEN TERBUAT DARI BATAKO DAN PAPAN, PADA DAPUR TIDAK MEMILIKI PLAFON DAN ATAP
RUMAH TERBUAT DARI SENG. RUANG TAMU MEMILIKI VENTILASI BERUPA JENDELA DAN PENCAHAYAAN
YANG KURANG, DIMANA JENDELA PERMANEN YANG TERBUAT DARI KAYU.
RUMAH PASIEN TIDAK MEMILIKI KAMAR MANDI DAN SEPTIC TANK. TIDAK ADA SALURAN AIR LIMBAH
(GOT) DI SAMPING RUMAH YANG MENGALIR KE DEPAN RUMAH.
SAMPAH DI RUMAH DIKUMPULKAN DAN KEMUDIAN DIBAKAR DI DEPAN RUMAH.
SUMBER LISTRIK RUMAH YAITU PLN. SUMBER AIR DARI SUNGAI.
PEMERIKSAAN FISIK
Kondisi Umum : Sakit ringan Berat Bad8n : 22 Kg

Tingkat Kesadaran : Compos Mentis Tinggi Badan : 130 cm

Status Gizi : Gizi Baik

Tanda Vital

Nadi 88 kali/menit (kuatangkat, isi cukup, reguler)

Suhu 36,70C

Pernapasan 28 kali/menit
Kulit : Warna sawo matang, lapisan lemak di bawah kulit cukup.
Kepala : Normosefal, rambut berwarna hitam tipis dan tidak mengkilap, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus, pupil
bulat isokor (diameter 3 mm). terdapat sekret pada hidung, tidak terdapat pernapasan cuping hidung. Tidak ada
sekret pada telinga, bibir tidak sianosis.

Tenggorokan-Leher : Faring tidak hiperemis.


Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening.

Thoraks
Paru : Inspeksi : permukaan dada simetris, penggunaan
otot-otot bantu pernapasan (-).
Palpasi : massa (-), nyeri tekan (-) taktil fremitus kiri = kanan.
Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : bunyi napas brokovesikuler +/+,
wheezing (-/-), ronkhi (+/+)
Jantung : Inspeksi : iktus kordis tampak
Palpasi : iktus kordis teraba pada ICS V linea
midclavicula sinistra
Perkusi : pekak
Auskultasi : bunyi jantung I dan II murni, reguler,
bising jantung (-).
Abdomen : Inspeksi : permukaan datar, seirama gerak napas
Auskultasi : peristaltik kesan normal
Perkusi : timpani
Palpasi : massa (-), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba.
Ekstremitas
Atas : Akral hangat, edema (-)
Bawah : Akral hangat, edema (-)
DIAGNOSIS

• PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Tidak dilakukan pemeriksaan
penunjang
• DIAGNOSIS KERJA
• ISPA (bukan Pneumonia)
• DIAGNOSIS BANDING
• ISPA (Pneumonia)
PENATALAKSANAAN KASUS

NON MEDIKAMENTOSA
 Menghentikan Kebiasaan
Merokok, jika ada yang
merokok di dalam rumah
 Mengkonsumsi Makanan
MEDIKAMENTOSA Bergizi Secara Teratur
Untuk Membantu
PARACETAMOL SYRUP 3X1/2CTH Meningkatkan Daya
AMBROXOL 3 TAB Tahan Tubuh.
CTM 2 TAB 3X1PULV  Mengurangi Minum Yang
DEXAMETASONE 2 ½ TAB Dingin-dingin, Dan
Memperbanyak Minum
Air Putih Ataupun Sari
Buah Untuk Membantu
Mengencerkan Dahak.
 Istirahat Yang Cukup.
IDENTIFIKASI MASALAH

 Bagaimana masalah ISPA di Wilayah kerja Puskesmas Kawatuna?


 Faktor resiko apa saja yang mempengaruhi masalah ISPA di Wilayah
kerja Puskesmas Kawatuna?
 Bagaimana pelaksanaan program puskesmas terkait ISPA di Wilayah
kerja Puskesmas Kawatuna?
PEMBAHASAN KASUS

PARADIGMA HIDUP SEHAT


• FAKTOR GENETIK
• Berdasarkan teori ISPA bukanlah penyakit keturunan.
• FAKTOR PERILAKU
• Faktor perilaku yang mempengaruhi pada kasus ini yaitu kebiasaan
menghirup asap rokok yang dilakukan oleh kakak ipar pasien dan
kebiasaan anak main diluar rumah dan tidak mencuci tangan.
• FAKTOR LINGKUNGAN
• Faktor lingkungan yang mempengaruhi pasien dengan ISPA yakni
pasien merupakan seorang perokok pasif serta keadaan rumah yang
tidak sehat terutama masalah pencahayaan atau ventilasi udara
yang kurang baik dan tidak adanya plafon sehingga debu masuk
melalui celah kecil dari atap seng.
FAKTOR PELAYANAN KESEHATAN

• UKP Pasien

Apotik Poli MTBS/Anak


Memberikan (ukur TB, BB,Tanda

• UKM obat sesuai


resep dokter
Vital, anamnesis -
penatalaksanaan )

• Kesling Konseling

• Promkes memberikan
penyuluhan
terkait ISPA

Alur Pelayanan ISPA di Puskesmas Kawatuna


KESIMPULAN

KESIMPULAN
•ISPA masih menempati posisi teratas untuk Sepuluh Penyakit Terbanyak
di Puskesmas Kawatuna.
•ISPA merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian ASI
ekslusif, imunisasi lengkap, penerapan gaya hidup sehat, menghindari
paparan asap rokok maupun polusi, dan menjaga kebersihan rumah
agar tetap sehat.
•Kejadian penyakit ISPA pada kasus ini di pengaruhi faktor perilaku
dan faktor pelayanan kesehatan.
SARAN

1. PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG PENYEBARAN PENYAKIT ISPA HARUS


LEBIH DI TINGKATKAN.
2. MENGOPTIMALKAN SELURUH PROGRAM PUSKESMAS AGAR DAPAT TERWUJUD
MASYARAKAT YANG SEHAT DENGAN MENGUPAYAKAN TINDAKAN PREVENTIF.
3. KEPEDULIAN MASYARAKAT TENTANG RUMAH SEHAT DI PERLUKAN UNTUK
MENGURANGI PENYEBARAN PENYAKIT MENULAR.
4. BEKERJASAMA DENGAN BEBERAPA PIHAK TERKAIT AGAR DAPAT MEWUJUDKAN
RUMAH SEHAT DI SELURUH WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAWATUNA SECARA
BERTAHAP.
RUANG TAMU RUANG MAKAN
DAPUR

KAMAR TIDUR
KAMAR TIDUR
TERIMA KASIH