Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN KASUS

ULKUS KORNEA ULKUS KORNEA

Disusun Oleh

Syarifah Rizka Maulida

Pembimbing:

dr. Maria Ade Indriani, Sp.M


Pendahuluan
Pembentukan parut Kornea berfungsi sebagai
akibat ulserasi kornea membran pelindung dan
“jendela” yang dilalui berkas
penyebab utama cahaya menuju retina
kebutaan dan
ganguan penglihatan
di seluruh dunia

dapat dicegah

diagnosis penyebabnya
ditetapkan secara dini dan
diobati secara memadai
Anatomi Kornea

– Selaput bening mata yang tembus cahaya dan menutup


bola mata sebelah depan
– Penyusun lapisan kornea :
– Jaringan epitel
– Membran Bowman
– Stroma
– Membran Descement
– Endothel

Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah


limbus, humour aquous, dan air mata.
Ulkus Kornea
Hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea, yang ditandai
dengan adanya infiltrat supuratif disertai
defek kornea bergaung, dan diskontinuitas
jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel
sampai stroma

– Peradangan kornea yang diikuti kerusakan lapisan kornea, kerusakan


dimulai dari lapisan epitel
– Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh
adanya kolagenase oleh sel epitel baru dan sel radang
– Ulkus terbentuk oleh karena adanya infiltrat yaitu proses respon
imun yang menyebabkan akumulasi sel-sel atau cairan di bagian
kornea
Faktor Resiko

– Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi
air mata, sumbatan saluran lakrimal)
– Faktor eksternal, yaitu : luka pada kornea (erosio kornea), karena
trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka
– Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh : edema kornea
kronik, exposure-keratitis, keratitis neuroparalitik, keratitis
superfisialis virus
– Kelainan-kelainan sistemik, malnutrisi, alkoholisme, sindrom
Stevens-Jhonson, sindrom defisiensi imun
– Obat-obatan yang menurunkan mekaniseme imun
Etiologi

– Bakteri : streptokokus pneumoniae sedangkan bakteri lain menimbulkan


ulkus kornea melalui faktor-faktor pencetus
– Virus : herpes simplek, zooster, variola
– Jamur : golongan kandida, fusarium, aspergilus, sefalosporium
– Reaksi hipersensifitas : Reaksi terhadap stapilokokus (ulkus marginal), TBC
(keratokonjungtivitis flikten), alergen tak diketahui (ulkus cincin)
Patofisiologi

– Kornea adalah jaringan yang avaskuler, hal ini menyebabkan pertahanan


pada waktu peradangan tak dapat segera datang seperti pada jaringan lain
yang mengandung banyak vaskularisasi
– Dengan adanya defek atau trauma pada kornea, maka badan kornea,
wandering cells, dan sel-sel lain yang terdapat pada stroma kornea segera
bekerja sebagai makrofag, kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh
darah yang terdapat di limbus dan tampak sebagai injeksi di perikornea
Patofisiologi

– Proses selanjutnya adalah terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuklear, sel


plasma, leukosit polimorfonuklear, yang mengakibatkan timbulnya infiltrat
yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas tak jelas
dan permukaan tidak licin. Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel,
infiltrasi, peradangan dan terjadilah ulkus kornea
Klasifikasi

Klasifikasi ulkus kornea berdasarkan letaknya:


Ulkus Kornea Bakterialis
a. Ulkus kornea sentral :
- Ulkus kornea oleh bakteri
- Ulkus kornea oleh virus Ulkus Kornea Fungi
- Ulkus kornea oleh jamur

Ulkus Kornea Herpetik


b. Ulkus kornea Perifer :
- Ulkus Marginal
- Ulkus Mooren
- Ulkus cincin
Ulkus Marginal

Mooren's Ulcer
Manifestasi klinis
– Gejala Subjektif
– Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva
– Sekret mukopurulen
– Merasa ada benda asing di mata
– Pandangan kabur
– Mata berair
– Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
– Silau
– Nyeri
– Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada
perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel kornea.
– Gejala Objektif
– Injeksi siliar
– Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat
– Hipopion
Diagnosis

– Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti :


– Ketajaman penglihatan
– Tes refraksi
– Tes air mata
– Pemeriksaan slit-lamp
– Keratometri (pengukuran kornea)
– Respon reflek pupil
– Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.
– Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH)
Diagnosis Banding

– Keratitis
– Sikatrik kornea
– Ulkus Kornea ec supect bakteri
– Ulkus Kornea ec supect jamur
– Ulkus Kornea ec supect viral
Komplikasi

– Infeksi di bagian kornea yang lebih dalam


(Endophtalmitis, Panophtalmitis)
– Perforasi kornea (pembentukan lubang),
Descemetocele
Penatalaksanaan

– Penatalaksanaan ulkus kornea di rumah


– Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya
– Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang
– Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin
dan mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih
– Berikan analgetik jika nyeri
Medikamentosa

1. Sulfas atropine
2. Analgetik
3. Antibiotik
Untuk menghindari penjalaran ulkus
dapat dilakukan :

1. Kauterisasi
– Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan
murni trikloralasetat
– Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter
atau termophore. Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya
yang mengandung panas disentuhkan pada pinggir ulkus
sampai berwarna keputih-putihan.
2. Pengerokan epitel yang sakit
3. Keratoplasti
Pencegahan

– Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk


kedalam mata
– Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata
tidak bisa menutup sempurna, gunakan tetes mata agar
mata selalu dalam keadaan basah
– Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara
memakai dan merawat lensa tersebut
Prognosis

– Dubia ad malam
– komplikasi yang dapat terjadi berupa perforasi kornea, endopthalmitis,
panopthalmitis.
– Apabila sembuh maka akan menyebabkan terbentuknya sikatriks kornea
yang juga akan mengganggu penglihatan penderita
Laporan
Kasus
Identitas Pasien

– Nama : Ny. LM
– Umur : 56 tahun
– Jenis Kelamin : Perempuan
– Alamat : Dusun Tanjung Gundul
– Pekerjaan : Petani/Berkebun
– Tanggal pemeriksaan : 16 Mei 2018
– No RM : 15033116
Anamnesis

Keluhan utama
 Mata kiri nyeri dan tidak bisa melihat
Riwayat Penyakit Sekarang
 Pasien datang ke poli mata RSUD Abdul Aziz Singkawang karena keluhan
utama mata kiri tidak bisa melihat. Gangguan mata terjadi pertama kali
kurang lebih 19 hari yang lalu. Pasien mengaku tiba-tiba pandangan kabur
dan tidak bisa melihat dari mata kirinya serta terasa nyeri di mata kiri.
Sejak keluhan muncul beberapa belas hari yang lalu mata kiri mulai
bertambah merah dan bengkak juga muncul putih pada mata pasien dan
penglihatan mulai kabur. Saat datang, pasien mengeluhkan nyeri pada
mata kiri dan perih kadang juga berair. Saat mata kiri pasien nyeri, nyeri
merambat ke kepala bagian kiri. Pasien juga mengeluhkan penglihatannya
kabur dan silau, mual dan muntah disangkal pasien
Riwayat Penyakit Dahulu dan Pengobatan
– Riwayat trauma, pemakaian lensa kontak maupun
kemasukan benda asing sebelumnya disangkal.
Pasien juga mengatakan tidak pernah sakit mata
seperti ini sebelumnya. Pasien mengatakan tidak
memiliki riwayat tekanan darah tinggi tetapi
memiliki riwayat diabetes melitus yang terkontrol
dengan obat-obatan dari dokter.
Riwayat Keluarga
– Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang serupa
dengan pasien.
Riwayat Sosial
– Pasien sehari – hari merupakan seorang petani. Pendidikan
terakhir pasien adalah sekolah dasar
Pemeriksaan Fisik Umum

– Kesadaran : Compos Mentis


– Tekanan Darah : 120/70 mmHg
– Nadi : 80 x/menit
– Respirasi : 18 x/menit
– Temperatur axial : 36,5o C
Pemeriksaan Fisik Khusus
Okuli Dekstra (OD) Okuli Sinistra (OS)
Visus 6/12 1/∞
Pin Hole Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Refraksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Supra cilia
Madarosis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Palpebra superior
Edema Tidak ada Ada (+)
Hiperemi Tidak ada Ada (+)
Enteropion Tidak ada Tidak ada
Ekteropion Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada
Pemeriksaan Fisik Khusus

Pungtum lakrimalis
Sumbatan Tidak ada Tidak ada
Hiperemis Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada
Konjungtiva palpebra superior
Sekret Mata Tidak ada Ada (+) Berair
Hiperemi Tidak ada Ada
Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Benjolan Tidak ada Tidak ada
Lain-lain Tidak ada Tidak ada
Pemeriksaan Fisik Khusus

Konjungtiva bulbi
Kemosis Tidak ada Tidak ada
Hiperemi Tidak ada (+)
- Konjungtiva Tidak ada (+)
- Silier Tidak ada Tidak ada
Perdarahan di bawah konjungtiva Tidak ada Tidak ada
Pterigium Tidak ada Tidak ada
Pingueculae
Sklera
Arkus Senilis Tidak ada Tidak ada
Lain - lain Tidak ada Tidak ada
Pemeriksaan Fisik Khusus

Kornea
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Infiltrat Tidak ada Ada (+)
Ulkus Tidak ada Ada (+)
Keratik presifitat Tidak ada Tidak ada
Bilik Mata Depan
Kedalaman Normal Normal
Hypema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Tidak ada Ada (+)
Pemeriksaan Fisik Khusus

Iris / Pupil
Bentuk Bulat, regular Sulit dinilai
Refleks cahaya langsung (+) Sulit dievaluasi
Refleks cahaya tak langsung (-) Sulit dievaluasi

Lensa
Subluksasi Tidak ada Tidak ada
Dislokasi Tidak ada Tidak ada
Tes bayangan iris Tidak ada Tidak ada
Pemeriksaan Penunjang
Resume

– Perempuan 56 tahun datang dengan keluhan mata kiri terasa sangat nyeri
sejak kurang lebih 18 hari yang lalu. Pasien mengaku tiba-tiba pandangan
kabur dan tidak bisa melihat dari mata kirinya serta terasa nyeri di mata kiri.
Sejak keluhan muncul beberapa belas hari yang lalu mata kiri mulai
bertambah merah dan bengkak juga muncul putih pada mata pasien dan
penglihatan mulai kabur. Saat datang, pasien mengeluhkan nyeri pada mata
kiri dan perih kadang juga berair. Saat mata kiri pasien nyeri, nyeri merambat
ke kepala bagian kiri. Pasien juga mengeluhkan penglihatannya kabur dan
silau, mual dan muntah disangkal pasien. Dari pemeriksaan fisik ditemukan
visus OD 6/12, OS 1/∞. Pada Okular sinistra didapatkan injeksi konjunctiva
dan injeksi, kornea didapatkan udema kornea, ulkus di sentral kornea, bilik
mata depan tidak dapat dievaluasi, iris tidak dapat dievaluasi, reflek pupil (-),
dan lensa tidak dapat dievaluasi.
Pemeriksaan Lokal
OD Pemeriksaan OS
6/12 Visus 1/∞
Normal Palpebra Normal
Tenang Konjungtiva Injeksi konjungtiva (+),
Injeksi siliar (+), Sekret (+),
Jernih Kornea Edema kornea (+), Ulkus
(+), sentral batas tegas
Normal Bilik Mata Depan Keruh
Bulat, reguler Iris Sulit dievaluasi
Refleks (+) Pupil Sulit dievaluasi
Jernih Lensa Sulit dievaluasi
Jernih Vitreous Sulit dievaluasi
Reflek Funduskopi Refek fundus (-), detail
fundus (+) sulit dievaluasi
Dokumentasi Pemeriksaan

OS
OD
Diagnosis Banding
– OS Ulkus Kornea ec susp bakteri
– OS Ulkus Kornea ec susp jamur
– OS Ulkus Kornea ec susp viral

Diagnosis Kerja
– OS Ulkus kornea ec susp bakteri
Usulan Pemeriksaan
– Slitlamp
– Pengecatan gram / KOH / giemsa
Terapi
– bed rest, jaga higiene mata, nutrisi cukup
– Ofloxacin ed 6x1 tetes OS
– Cendo Lyters ed 6x1 tetes OS
– Atropin 1 % ed 3x1 tetes OS
– Natrium Diclofenac 2x50mg
– Ciprofloxacin tab 2 x 500 mg (habiskan dalam 7 hari)
– Kontrol 1 minggu

Prognosis
– Dubius ad malam
Pembahasan
Teori Kasus
-Keluhan utama penderita yaitu mata - Ulkus kornea menyebabkan nyeri
kiri nyeri sejak 19 hari yang lalu karena kornea memiliki banyak serabut
nyeri

- Berair, dan silau terutama pada siang - Peka terhadap cahaya (fotofobia)
hari dikarenakan kontraksi iris karena
peradangan dimana terjadi dilatasi
pembuluh iris yang merupakan refleks
akibat dari iritasi ujung saraf kornea dan
peningkatan pembentukan air mata

- Disertai dengan mata merah - Selain itu adanya mata merah dan
berair dikarenakan proses inflamasi
yang menyebabkan pelebaran
pembuluh darah
Teori Kasus
- Gangguan visus, hiperemi pada - Visus OS 1/∞, hiperemi (+), hipopion (+)
palpebra, gambaran hipopion pada bilik terdapat sekret mata tampak berair
mata depan dan tampak berair

- Edema pada kelopak disebabkan adanya - OS edema (+) pada palpebra superior,
peningkatan permeabilitas pembuluh tampak hiperemi konjungtiva dan silier
darah. Pelebaran pembuluh darah
dikarenakan adanya reaksi peradangan

-Adanya infiltrasi sel-sel radang pada


kornea dan gambaran ulkus - OS ulkus (+) bulat batas tegas

-
– Penatalaksanaan dari ulkus kornea pada pasien ini adalah tetes mata
antibiotik yang mengandung ciprofloxacin.
– Ciprofloxacin merupakan antibiotik spektrum luas yang aktif pada bakteri
gram positif dan negatif. Pemberian obat ini bertujuan untuk mengatasi
infeksi pada ulkus.
– Cendo Lyteers merupakan air mata buatan. Pemberian tetes ini bertujuan
untuk menjaga mata agar tetap lembab sehingga mencegah perlukaan yang
lebih dalam lagi. Atropin merupakan sikloplegik.
– Sikloplegik memiliki fungsi untuk mengistirahatkan otot badan siliaris
sehingga mata tidak mempunyai daya akomodsi untuk mencegah sinekia
posterior. Natrium diclofenac diberikan untuk mengatasi nyeri yang
dirasakan pasien.
Teori Kasus
- Prognosis buruk karena komplikasi yang - Dubia ad malam
dapat terjadi (perforasi kornea,
endopthalmitis, panopthalmitis). Apabila
sembuh akan terbentuk sikatriks kornea
yang juga akan mengganggu penglihatan
penderita.
Terimakasih