Anda di halaman 1dari 17

FRAKTUR

SUPRAKONDILLER
HUMERUS
MUHAMMAD IZAG FALDI
PEMBIMBING : dr. Hendar Nugrahadi Priambodo, Sp. OT
LATAR BELAKANG

Fraktur suprakondiler humerus adalah fraktur yang terjadi pada 1/3


distal humerus tepat proksimal troklea dan capitulum humeri.

Sering terjadi pada anak-anak, sekitar 65% dari seuruh kasus patah
tulang lengan atas. Mayoritas pada usia 3-10 tahun, puncaknya usia 5
dan 7 tahun. Lebih sering terjadi pada laki-laki : perempuan = 3 : 2

Sebanyak 97,7 % adalah fraktur tipe ekstensi, 2,2% adalah fraktur


tipe fleksi.
Organ
jantung

Sistem
sirkulasi
Pembuluh
darah
Definisi
Fraktur
• Menurut Mansjore Arif et al fraktur adalah terputusnya
kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan
oleh rudapaksa.

Fraktur Suprakondiler humerus


• Fraktur suprakondiler humeri adalah fraktur yang terjadi
pada bagian sepertiga distal tulang humerus setinggi
kondilus humeri tepat proksimal troklea dan capitulum
humeri, yang melewati fossa olekrani. Garis frakturnya
berjalan melalui apeks coronoid di bagian anterior dan
fossa olecranon pada bagian posterior.
Riwayat rauma
tunggal seperti Kelemahan
Etiologi penekukan ,
penekan akibat
Tekanan yang
berulang - ulang
abnormal pada
tulang
jatuh dari ketiggian

Terjadi pada anak-


Anak-anak sekitar anak, yaitu sekitar anak laki-laki :
Epidemiologi 177,3 per 100.000
setiap tahunnya.
65% dari seluruh
kasus patah tulang
anak perempuan =
3:2.
lengan atas
• Menurut Gartland
Tipe Ekstensi • Tipe I Non displaced
(sering terjadi • Tipe II Displaced dengan cortex posterior
intact, sedikit terangulasi
pada 99% kasus) • Tipe II Displaced komplit, posteromedial
• Menurut Wilkins
• Tipe 1 : Undisplaced
Tipe • Tipe 2A : Cortex
posterior intact dan
Ekstensi terdapat angulasi aja
• Tipe 2B : Cortex
(sering posterior intact,
terdapat angulasi dan
terjadi rotasi
• Tipe 3A : Displace
pada 99% komplit, tidak ada
kontak cortical kortical
kasus) posteromedial
• Tipe 3B : Displace
komplit, tidak ada
kontak cortical
posteromedial
• Berdasarkan derajat displacement :
• Tipe I : undisplaced atau minimal
Tipe Fleksi (Jarang displaced
Terjadi) • Tipe II
hinge
: extended but have a posterior

• Tipe III : completely displaced.


Manifestasi Ciri-ciri adanya fraktur biasanya
Klinis ditandai dengan gejala :
• Bengkak (swelling) pada sendi siku
• Deformitas pada sendi siku
• Sakit (pain)
• Denyut nadi arteri Radialis yang
berkurang (pulsellessness)
• Pucat (pallor)
• Rasa semutan (paresthesia, baal)
• Kelumpuhan (paralisis)
ANAMNESIS
Biasanya pasien datang
dengan suatu trauma
(traumatik, fraktur), baik
yang hebat maupun trauma Pada pasien anak
ringan dan diikuti dengan yang masih sangat
ketidakmampuan untuk kecil sering terdapat
menggunakan anggota kesulitan untuk
gerak. Anamnesis harus mendapatkan
dilakukan dengan cermat, anamnesa, terutama
karena fraktur tidak jika tidak ada saksi
selamanya terjadi di yang melihat saat
daerah trauma dan terjadinya trauma.
mungkin fraktur terjadi Jika orang tua
pada daerah lain. Pasien pasien ada, biasanya
biasanya datang karena anamnesa mengenai
adanya nyeri, saat jatuh, jatuh
pembengkakan, gangguan setelah berjalan
fungsi anggota gerak, atau jatuh setelah
krepitasi atau datang belajar melangkah
dengan gejala-gejala lain. bisa didapatkan
PEMERIKSAAN FISIK
Cabang N.
Medianus  N.
N. Medianus (28 - Interosseus
Tipe Gangguan sirkulasi 60%)  tidak anterior 
Tipe fleksi perifer dan lesi pada dapat oposisi ibu ketidakmampuan
ekstensi saraf tepi jari dengan jari jari I dan II untuk
lain. melakukan fleksi
(pointing sign).
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Foto Rontgen Pemeriksaan dengan proyeksi


AP/LAT jelas dapatdilihat tipe
ekstensi / fleksi.
Tanda fraktur pada anak
biasanya adanya terlihat
pembengkakan (Fat Pad Sign)
Penatalaksanaan
Reposisi tertutup dan immobilisasi Reposisi Terbuka
Indikasi Operatif

Adanya kelumpuhan saraf


setelah reduksi
Fraktur yang tidak membaik
dengan reposisi tertutup
Fraktur dengan gangguan
vaskular
Komplikasi
1. Pembentukan lepuh kulit
2. Iskemik Volkmann

3. Mal union cubiti varus (Gunstock deformity)


Prognosis

Pasien yang mengalami cedera fraktur suprakondiler


humerus, sikunya mungkin tidak akan pernah menjadi
normal sehingga pasien harus diedukasi tentang keadaan
ini. Tujuan dari terapi fraktur suprakondiler humerus
adalah untuk memberikan siku nyaman yang fungsinya
mendekati keadaan senormal mungkin
TERIMAKASIH………