Anda di halaman 1dari 31

BBL resiko

tinggi
dengan
asfiksia
disusun oleh:
Maria N. T
Wiani I .H
Alma N.A
PENGERTIAN ASFIKSIA

)
Asfiksia pada bayi baru lahir (BBL) menurut
IDAI (Ikatatan Dokter Anak Indonesia) adalah
kegagalan nafas secara spontan dan teratur
pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir
(Prambudi, 2013)

Asfiksia neonatorum menurut who merupakan


kegagalan bernafas secara spontan dan teratur
segera setelah lahir
Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas
secara spontan dan teratur segera setelah lahir.
Seringkali bayi yang sebelumnya mengalami
gawat janin akan mengalami asfiksia sesudah
persalinan. Masalah ini mungkin berkaitan
dengan keadaan ibu, tali pusat, atau masalah
pada bayi selama atau sesudah persalinan
(Depkes RI, 2009).
Dengan demikian asfiksia adalah keadaan
dimana bayi tidak dapat segera bernapas
secara spontan dan teratur. Bayi dengan
riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya
akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan.
Masalah ini erat hubungannya dengan
gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali
pusat, atau masalah yang mempengarui
kesejahteraan bayi selama atau sesudah
persalinan.
Klasifikasi Afiksia
• Berdasarkan nilai APGAR (Appearance, Pulse,
Grimace, Activity, Respiration) asfiksia
diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:

1. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3


2. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai
APGAR 7-9
4. Bayi normal dengan nilai APGAR 10 (Ghai, 2010)
• Menurut Mochtar (2008), klasifikasi klinis
asfiksia dibagi dalam 2 macam, yaitu sebagai
berikut :
a. Asfiksia Livida yaitu asfiksia yang memiliki ciri
meliputi warna kulit kebiru-biruan, tonus otot
masih baik, reaksi rangsangan masih positif,
bunyi jantung reguler, prognosis lebih baik.
b. Asfiksia Pallida yakni asfiksia dengan ciri
meliputi warna kulit pucat, tonus otot sudah
kurang, tidak ada reaksi rangsangan, bunyi
jantung irreguler, prognosis jelek.
PEMERIKSAAN ASFIKSIA
Anamnesis

Gangguan/ kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas atau


menangis.
Pemeriksaan Fisik
Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan
dari anoksia atau hipoksia janin. Diagnosis anoksia atau hipoksia
janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya
tanda-tanda gawat janin.
Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu :
1. Denyut Jantung Janin
2. Mekonium Dalam Air Ketuban
3. Pemeriksaan pH Darah Janin
1. Denyut Jantung Janin

Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak


banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai ke
bawah 100 kali per menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak
teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.
2. Mekonium Dalam Air Ketuban
Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala
dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal
itu dapat dilakukan dengan mudah.

3. Pemeriksaan pH Darah Janin


Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks
dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh
darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis
menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2
hal itu dianggap sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin
disertai asfiksia
Skor APGAR
Dilakukan pemantauan nilai APGAR pada menit ke-1 dan menit
ke-5, bila nilai APGAR 5 menit masih kurang dari 7 penilaian
dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai
APGAR berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru
lahir dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai
resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila
bayi tidak menangis.
Pemeriksaan Penunjang
1. Foto polos dada
2. USG kepala
3. Laboratorium :
darah rutin,
analisa gas darah,
serum elektrolit
Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisa gas darah
2. Elektrolit darah
3. Gula darah
4. Baby gram (rontgen dada)
5. USG (kepala)
Nilai Darah Lengkap
Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :
• Hb (normal 15-19 gr%), biasanya pada bayi dengan asfiksia
Hb cenderung turun karena O2 dalam darah sedikit.
• Leukositnya lebih dari 10,3 x 10 gr/ct (normal 4,3-10,3 x 10
gr/ct) karena bayi preterm imunitas masih rendah sehingga
resiko tinggi.
• Trombosit (normal 350 x 10 gr/ct), Distrosfiks pada bayi
preterm dengan pos asfiksia cenderung turun karena sering
terjadi hipoglikemi
Analisa Gas Darah

Analisa dilakukan pada darah arteri, penting untuk mengetahui


adanya asidosis dan alkalosis respiratorik/metabolik. Hal ini
diketahui dengan tingkat saturasi SaO2 dan PaO2. Pemeriksaan ini
juga dilakukan untuk mengetahui oksigenasi, evaluasi tingkat
kemajuan terapi (Muttaqin, 2008).
Nilai Analisa Gas Darah
Pada Bayi Post Asfiksi

• pH (normal 7,36-7,44). Kadar pH cenderung turun terjadi


asidosis metabolik.
• pCO2 (normal 35 – 45 mmHg). Kadar pCO2 pada bayi
post asfiksia cenderung naik sering terjadi hiperapnea.
• pO2 (normal 75-100 mmHg). Kadar pO2 bayi post asfiksia
cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan secara umum pada bayi
baru lahir dengan asfiksia
1) Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh
penurunan suhu tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel
jaringan sehingga kebutuhan oksigen meningkat, perlu diperhatikan
untuk menjaga kehangatan suhu bayi baru lahir dengan:
a) Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.
b) Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar.
c) Bungkus bayi dengan kain kering.
Penatalaksanaan secara umum pada bayi
baru lahir dengan asfiksia
2) Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan
amnion, kepala bayi harus posisi lebih rendah sehingga memudahkan
keluarnya lendir.

3) Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan


Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua
telapak kaki bayi, menekan tendon achilles atau memberikan suntikan
vitamin K. Hal ini berfungsi memperbaiki ventilasi.
Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan
asfiksia, antara lain:
a. Asfiksi Ringan (Apgar score 7-10)
Caranya:
1. Bayi dibungkus dengan kain hangat.
2. Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung
kemudian mulut.
3. Bersihkan badan dan tali pusat.
4. Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke
dalam inkubator.
Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan
asfiksia, antara lain:
b. Asfiksia sedang (Apgar score 4-6)
Caranya:
1. Bersihkan jalan napas.
2. Berikan oksigen 2 liter per menit.
3. Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada
reaksi, bantu pernapasan dengan melalui masker (ambubag).
4. Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium
bikarbonat 7,5%sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc disuntikan
melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan, untuk mencegah
tekanan intra kranial meningkat.
Cara pelaksanaan resusitasi sesuai tingkatan
asfiksia, antara lain:
c. Asfiksia berat (Apgar skor 0-3)
Caranya:
1. Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.
2. Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
3. Bila tidak berhasil lakukan ETT.
4. Bersihkan jalan napas melalui ETT.
5. Apabila bayi sudah mulai benapas tetapi masih sianosis berikan
natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak
4cc.
PENCEGAHAN
Pencegahan secara Umum

Pencegahan terhadap asfiksia neonatorum adalah dengan menghilangkan


atau meminimalkan faktor risiko penyebab asfiksia. Derajat kesehatan wanita,
khususnya ibu hamil harus baik. Komplikasi saat kehamilan, persalinan dan
melahirkan harus dihindari. Upaya peningkatan derajat kesehatan ini tidak
mungkin dilakukan dengan satu intervensi saja karena penyebab rendahnya
derajat kesehatan wanita adalah akibat banyak faktor seperti kemiskinan,
pendidikan yang rendah, kepercayaan, adat istiadat dan lain sebagainya.
Untuk itu dibutuhkan kerjasama banyak pihak dan lintas sektoral yang saling
terkait.
PENCEGAHAN
Pencegahan saat persalinan

Pengawasan bayi yang seksama sewaktu memimpin partus adalah penting, juga kerja
sama yang baik dengan Bagian Ilmu Kesehatan Anak.

• Yang harus diperhatikan:


Hindari forceps tinggi, versi dan ekstraksi pada panggul sempit, sertapemberian
pituitarin dalam dosis tinggi.
Bila ibu anemis, perbaiki keadaan ini dan bila ada perdarahan berikan oksigen dan
darah segar.
Jangan berikan obat bius pada waktu yang tidak tepat, dan jangan menunggu lama
pada kala II