Anda di halaman 1dari 20

SESI 3

PARTISIPASI MASYARAKAT dalam PEMBANGUNAN

PW1118 – Pengembangan Masyarakat


Dwiana Novianti Tufail, ST., MT.

URBAN AND REGIONAL PLANNING, DEPARTMENT OF CIVIL ENGINEERING AND PLANNING, ITK 2017
OUTLINE . .
Pengertian Partisipasi

Lingkup Parstisipasi Masayarakat dalam Pembangunan

Bentuk-Bentuk Partisipasi

Tingkatan Partisipasi

Derajat Kesukarelaan Partisipasi

Syarat Tumbuhnya Partisipasi Masyarakat

Masalah-Masalah Partisipasi Masyarakat


Pengertian Partisipasi

Partisipasi ?
Tindakan untuk “mengambil bagian” dari kegiatan
dengan maksud untuk memperoleh manfaat.

(Webster, 1976)

Partisipasi merupakan keikutsertaan seseorang di dalam


kelompok sosial untuk mengambil bagian dari kegiatan
masyarakatnya, di luar pekerjaan atau profesinya sendiri.

(Theodorson, 1969)
Pengertian Partisipasi

Karakteristik dari proses Partisipasi, yaitu semakin


mantapnya jaringan sosial (social network) yang “baru”
yang membentuk suatu jaringan sosial bagi terwujudnya
suatu kegiatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu
yang diinginkan.

Partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan


komunikasi yang berkaitan dengan pembagian: kewenangan,
tanggung jawab, dan manfaat.

(Verhangen, 1979)
Pengertian Partisipasi

Tumbuhnya intraksi dan komunikasi tersebut , dilandasi oleh adanya


kesadaran, yaitu:

• Kondisi yang tidak memuaskan, dan harus diperbaiki.


• Kondisi tersebut dapat diperbaiki melalui kegiatan manusia atau
masyarakatnya sendiri.
• Kemampuannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat dilakukan.
• Adanya kepercayaan diri, bahwa ia dapat memberikan sumbangsih yang
bermanfaat bagi kegiatan yang bersangkutan.
Lingkup Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan

Partisipasi dalam Pengambilan Keputusan

Partisipasi dalam Pelaksanaan Kegiatan

Partisipasi dalam Pemantauan dan Evaluasi Pembangunan

Partisipasi dalam Pemanfaatan Hasil Pembangunan


Lingkup Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan

1. Partisipasi dalam Pengambilan Keputusan


Adanya forum yang memungkinkan masyarakat untuk berpartisipasi
langsung dalam proses pengambilan keputusan tentang program-program
pembangunan di wilayah setempat ataupun tingkat lokal.

2. Partisipasi dalam Pelaksanaan Kegiatan


Pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga kerja, uang
tunai, dan atau beragam bentuk kontribusi lainnya yang sepadan dengan
manfaat yang akan diterima oleh masing-masing warga masyarakat yang
bersangkutan.
Tak lupa juga partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan proyek
pembangunan yang telah diselesaikan.
Lingkup Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan

3. Partisipasi dalam Pemantauan dan Evaluasi Pembangunan


Selain untuk mencapai tujuan pembangunan, juga agar didapatkan umpan-balik
tentang masalah-masalah dan kendala yang muncul dalam pelaksanaan
pembangunan yang bersangkutan. Dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk
mengumpulkan informasi mengenai perkembangan kegiatan serta perilaku
aparat pembangunan.

4. Partisipasi dalam Pemanfaatan Hasil Pembangunan


Memahamkan masyarakat mengenai manfaat suatu kegiatan pembangunan,
agar masyarakat dapat mengoptimalkan pemanfaatan hasil pembangunan
tersebut. Pemanfaatan hasil pembangunan akan menstimulasi kemauan dan
kesukarelaan masyarakat untuk selalu berpartisipasi dalam setiap program
pembangunan yang akan datang.
Bentuk-Bentuk Partisipasi

Bentuk-Bentuk Kegiatan Partisipasi (Dusseldorp, 1981)

1. Menjadi anggota kelompok-kelompok masyarakat.


2. Melibatkan diri pada kegiatan diskusi kelompok
3. Melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan organisasi, untuk menggerakkan
partisipasi masyarakat yang lain.
4. Menggerakkan sumberdaya masyarakat.
5. Mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan.
6. Memanfaatkan hasil-hasil yang dicapai dari kegiatan masyarakatnya.
Bentuk-Bentuk Partisipasi

Ragam Partisipasi Masyarakat (Slamet, 1985)


+Ragam Partisipasi
Partisipasi yang Ditunjukkan
1 2 3 4 5
Memberikan input + + + - +
Menerima imbalan atas input yang diberikan + - + - -
Menikmati manfaat hasil + + - + -

Bentuk partisipasi nomor (2), seharusnya lebih banyak dikembangkan, dan model (1), hanya
diberikan pada masyarakat “lapis-bawah”.
Model partisipasi nomor (5), seharusnya tidak diterapkan pada masyarakat “lapis-bawah”. Di
samping itu, model (4) seahrusnya tidak boleh terjadi, meskipun dalam praktik, akan sulit dihindari.
Tingkatan Partisipasi
Wilcox (1988) mengemukakan adanya lima tingkatan partisipasi, yaitu:

1. Memberikan informasi
2. Konsultasi (Consultation): menawarkan pendapat, sebagai pendengar yang baik untuk
memeberikan umpan-balik, tetapi tidak terlibat dalam proses implementasi.
3. Pengambilan keputusan bersama (Deciding together): memberikan dukungan
terhadap ide, gagasan, pilihan-pilihan serta mengembangkan peluang yang diperlukan
guna pengambilan keputusan.
4. Bertindak bersama (Acting Together): tidak sekedar ikut dalam pengambilan
keputusan, tetapi juga terlibat dan menjalin kemitraan dalam pelaksanaan kegiatannya.
5. Memberikan dukungan (Supporting independent community interest): kelompok-
kelompok lokal menawarkan pendanaan, nasehat dan dukungan lain untuk
mengembangkan agenda kegiatan.
Derajat Kesukarelaan Partisipasi

Beberapa Jenjang Kesukarelaan (Dusseldorp, 1981)

3. Partisipasi tertekan
1. Partisipasi Spontan 2. Partisipasi Terinduksi
oleh kebiasaan

4. Partisipasi tertekan
5. Partisipasi tertekan
oleh alasan sosial-
oleh peraturan.
ekonomi
Syarat Tumbuhnya Partisipasi

Slamet (1985) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi


masyarakat dalam pembangunan, sangat ditentukan oleh tiga unsur
pokok, yaitu:

1. Adanya kesempatan yang diberikan kepada masyarakat untuk


berpartisipasi.
2. Adanya kemauan masyarakat untuk berpartisipasi.
3. Adanya kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi.
Syarat Tumbuhnya Partisipasi

1. Kesempatan untuk Berpartisipasi


Beberapa kesempatan yang dimaksud, antara lain:

• Kemauan politik dari penguasa untuk melibatkan masyarakat dalam


pembangunan, baik dalam pengambilan keputusan perencanaan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi, pemeliharaan, dan pemanfaatan pembangunan,
sejak di tingkat pusat sampai di jajaran birokrasi paling bawah.
• Kesempatan untuk memperoleh informasi pembangunan
• Kesempatan untuk memanfaatkan dan memobilisasi sumberdaya (alam dan
manusia) untuk pelaksanaan pembangunan.
• Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi yang tepat,
Syarat Tumbuhnya Partisipasi

2. Kemampuan untuk Berpartisipasi


Yang dimaksud dengan kemampuan, antara lain:

• Kemampuan untuk menemukan dan memahami kesempatan-kesempatan


untuk membangun, atau pengetahuan tentang peluan untuk membangun
(memperbaiki mutu hidupnya).
• Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan, yang dipengaruhi oleh tingkat
Pendidikan dan keterampilan yang dimiliki.
• Kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan
sumberdaya dan kesempatan (peluang) yang lain secara optimal.
Syarat Tumbuhnya Partisipasi

3. Kemauan untuk Berpartisipasi


Kemauan untuk berpartisipasi, utamanya ditentukan oleh sikap mental yang dimiliki
masyarakat, menyangkut:

• Sikap untuk meninggalkan nilai-nilai yang menghambat pembangunan.


• Sikap terhadap penguasa atau pelaksana pembangunan pada umumnya.
• Sikap untuk selalu ingin memperbaiki mutu hdup dan tidak cepat puas diri.
• Sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah, dan tercapainya tujuan
pembangunan.
• Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki
mutu hidupnya.
Syarat Tumbuhnya Partisipasi

Menurut Anda, upaya apa yang dapat dilakukan


untuk mendorong berkembangnya partisipasi
masyarakat dalam pembangunan ?
Masalah-Masalah Partisipasi Masyarakat
Soetrisno (1995) mengidentifikasi beberapa masalah kaitannya dengan
pengembangan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Belum dipahaminya makna sebenarnya tentang partisipasi oleh pihak


perencana dan pelaksana pembangunan

Sifat otoriter pemerintah, menyebabkan budaya “diam” pada masyarakat.

Banyaknya peraturan yang meredam keinginan masyarakat untuk


berpartisipasi.
Pertanyaan ?
Terima Kasih.